Reinkarnasi Sang Dewa Bumi

Reinkarnasi Sang Dewa Bumi
BAB 14 - Ahli Bela Diri Lima Elemen


__ADS_3

Sata telah melakukan Tes Elemen Ahli Bela Diri. Namun, semua batu bulan elemen ahli bela diri bercahaya sangat terang. Para warga yang menyaksikan kejadian tersebut merasa kecewa dengan pencapaian Sata yang mereka rasa adalah wakil mereka. Para warga pun silih berganti bertukar ucapan selepas kejadian tersebut.


Semua warga yang tadinya sangat berisik kini tiba-tiba menjadi senyap tak bersuara karena Tetua Yaguchi menyuruh mereka diam. Tetua Yaguchi senang perintahnya masih sangat dihormati oleh warga kota Wangshi. Ia kemudian maju ke depan panggung untuk menjelaskan kejadian yang dialami Sata.


...***********...


"Akan saya mulai pembicaraan mengenai kejadian barusan. Insiden yang dialami anak ini memang langka dan jarang terjadi. Di tahun-tahun sebelumnya, belum pernah ada yang bisa membuat kelima batu bulan bercahaya sangat terang. Penjelasan yang beredar secara umum mengenai kejadian tersebut memang mengatakan bahwa Ahli Bela Diri yang mempunyai kelima elemen tidak bisa menjadi Ahli Bela Diri dikarenakan elemen-elemen tersebut akan saling berbentrokan dalam tubuhnya.


Namun, saya pernah membaca buku yang mengisahkan seorang Dewa dari dunia atas yang mempunyai lima elemen. Bukan kisah itu saja, zaman dahulu leluhur kita di dunia tengah, pernah ada seorang Ahli Bela Diri yang mempunyai tiga elemen, bahkan tingkatan ahli bela dirinya mencapai tingkat kaisar level sembilan, satu tahap lagi menuju tingkat dewa. Namun, leluhur tersebut malah meninggal dalam insiden tragis lima ratus tahun yang lalu. Sungguh buku sejarah yang memilukan hati untuk dibaca. 


Aaahhh! Mohon maaf saya malah membicarakan sebuah kisah tragis. Ehmmmz! Jadi, kesimpulan dari ucapan saya ini adalah bukan tidak mungkin seorang Ahli Bela Diri mempelajari kelima elemen, asalkan metode latihan yang digunakan sangat tepat, baik sesuai dengan fisik ahli bela diri itu sendiri maupun kekuatan jiwa dari ahli bela diri tersebut." ucap Tetua Yaguchi menjelaskan secara panjang lebar. 


"Wahhh …. Jika ahli bela diri tiga elemen saja bisa mencapai tingkat kaisar apalagi lima elemen pasti tidak menutup kemungkinan bisa mencapai tingkat dewa dan menggemparkan dunia tengah nantinya." 


"Benar itu! Sungguh hebat sekali anak ini." 


"Siapa tadi yang mencelanya karena mempunyai lima elemen, hah?! Katakan!" semua warga kembali ribut lagi setelah mendengar ucapan Tetua Yaguchi.


Di tengah keramaian, Tuan Muda Misaki terlihat wajahnya semakin dipenuhi kebencian. Ia kini benar-benar membenci Sata karena selalu dipuji-puji oleh warga kota. Kedua tangannya pun tanpa sadar telah mengepal. Sorot matanya terus memerhatikan Sata yang berada di atas panggung dengan penuh amarah. 


"Aaahhh! Ada aura kebencian yang menatapku. Oh?! Itu anak yang kemarin menghinaku. Ternyata dia adalah Tuan Muda dari Keluarga Takeda. Pantas saja dia begitu sombong. Sifatnya sangat berbeda jauh dengan Tuan Muda Himamura. Walau dia terlihat membenciku, tapi dia tetap bersikap tenang tidak terprovokasi jika aku tak memulai masalah terlebih dahulu." batin Sata sambil memerhatikan Tuan Muda Misaki yang melihatnya dengan tatapan penuh amarah dari kejauhan.


"Apakah acara Tes Elemen Ahli Bela Diri ini sudah bisa ditutup para Tetua?!" tiba-tiba Tetua Yaguchi bertanya sambil melihat ke arah tiga tetua yang memandu jalannya tes.


"Tapi… Tetua Yaguchi, sepertinya…" jawab Tetua Yamahasa, tapi ucapannya terpotong oleh Tetua Atsushima.


"Agaknya… karena masalah sudah selesai acara ini sudah bisa diakhiri." jawab Tetua Matsushima tiba-tiba.


Tetua Yamahasa menatap Tetua Atsushima dengan kesal. Tetua Atsushima tetap bersikap tenang dan menghiraukan tatapannya. Tiga tetua yang memandu jalannya tes kemudian berjalan serentak ke depan panggung dipimpin oleh Tetua Yamahasa.


"Perhatian! Perhatian! Tes Elemen Ahli Bela Diri tahun ini telah resmi ditutup." ucap ketiga tetua, lalu selanjutnya diakhiri bunyi dentuman yang menandakan tes telah berakhir. 


"Dunggggggg!" 


Sata kemudian meninggalkan alun-alun dengan cara terbang menggunakan teknik bela diri dari dunia atas, yaitu ilmu peringan tubuh. Ia lalu mengucapkan terima kasih pada Tetua Yaguchi yang telah membelanya didepan semua warga sambil terbang. Semua warga yang menyaksikan Sata tiba-tiba terbang tinggi menatapnya dengan penuh kekaguman. Tetua Yaguchi hanya tersenyum menatapnya sebagai balasan ucapan terima kasih dari Sata.

__ADS_1


"Hoho… aku yakin di masa depan kau akan menggemparkan dunia tengah ini, Nak." batin Tetua Yaguchi sambil menatap Sata yang terbang di udara.


...*********...


Sata terbang melewati bangunan-bangunan menuju ke hutan tempat biasanya ia berlatih. Ia kemudian turun ke bawah pohon besar. Dia tiba-tiba menyenderkan dirinya ke pohon dan berniat untuk tidur siang. Neko dan Buraku pun turun dari tubuh majikannya karena melihat majikannya sangat kelelahan. Dewa Ashima yang mengetahui kejadian tersebut segera keluar dari dalam kalungnya Sata. 


"Wusssssshhhh!" tiba-tiba sebuah asap putih melesak keluar dari dalam kalung Sata. Hal tersebut menandakan arwah Dewa Ashima telah keluar.


"Bangun bocah bau! Apa kamu masih sempat berpikir untuk tidur siang?! Segeralah bangun dan berlatih!" teriak Dewa Ashima untuk membangunkan Sata.


Walau mendengar suara teriakan yang sangat kencang, Sata tidak kunjung bangun dari tidurnya. Ia terlihat semakin pulas dalam tidurnya karena merasa sangat lelah. Dewa Ashima hanya menghela napas melihat muridnya tidur semakin pulas.


"Hahhh… ya sudah. Biarkan dia tidur sebentar. Wajar anak ini kelelahan, hari ini energi petarungnya sudah sangat banyak sekali digunakan, mulai dari meracik pil untuk tes, pertarungan dengan Ketua Osamu dan bolak-balik diperjalanan. Dalam tingkatan ahli bela dirinya yang masih rendah ini, itu sudah terbilang sangat menakjubkan." gumam Dewa Ashima sambil memerhatikan Sata yang tengah tertidur.


Tidak terasa sudah satu jam setengah setelah Sata tertidur, tapi ia tak kunjung bangun juga. Dewa Ashima kini menatapnya dengan kesal. Ia tidak ingin menyia-nyiakan suaranya untuk berteriak karena teriakan tidak membuat muridnya itu bangun. 


"Buraku kemarilah!" ucap Dewa Ashima tiba-tiba.


"Itu… ada apa, Tuan Dewa?!" tanya Buraku si ular hitam kecil peliharaan Sata.


"Ba… baiklah, Tuan Dewa." jawab Buraku ragu.


Buraku kemudian berubah menjadi ular yang sangat besar. Ia lalu melakukan instruksi sesuai dengan yang Dewa Ashima perintahkan. Sata pun lalu menepuk kakinya karena merasa ada sesuatu yang memegang kakinya. Ia kemudian mengelap pipinya karena merasa ada air yang dipercikan ke wajahnya. 


Namun, Sata masih belum kunjung bangun juga walau Buraku sudah berusaha membangunkannya sesuai instruksi Dewa Ashima. Buraku kemudian melepaskan lilitan tubuhnya dari kaki Sata. Lalu, ia tiba-tiba mendekatkan kepalanya pada telinga Sata dan mendesis dengan sangat keras dekat telinganya. Sata pun terbangun dari tidurnya hingga melompat-lompat. 


"Aaaa! Ular! Ada ular!" teriaknya sambil bangun kemudian melompat berdiri dan berlarian kesana kemari karena panik.


"Hahahahahaha! Akhirnya kau bangun juga bocah bau." teriak Dewa Ashima sambil tertawa karena menyaksikan muridnya yang berlarian kesana kemari karena takut pada ular.


"Ular! Ular besar! Aku harus membakarnya." teriak Sata sambil mengeluarkan api ajaib dari tangannya. 


Dewa Ashima tiba-tiba berlari menghampirinya dan menghentikan tindakan sembrono muridnya itu, "Apa kau ingin membakar ular peliraanmu sendiri?!" teriak Dewa Ashima pada Sata sambil memegang tangannya dengan sangat kuat. 


"Eh?! Apakah itu… Buraku?!" tanya Sata sambil melihat ke arah Buraku seperti orang yang linglung. 

__ADS_1


"Plakkkkk! Bangun makanya bocah bau! Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk tidur, tapi kau malah tertidur sangat lama." Dewa Ashima tiba-tiba menampar pantat Sata sambil marah-marah. 


"Aaaa… ampun, Guru! Ya aku akan segera bangun." teriak Sata karena merasa kesakitan sambil mengucek-ngucek matanya. 


"Baguslah! Mari kita lakukan latihan pertama menggunakan kekuatan elemenmu." ucap Dewa Ashima dengan tegas.


"Eh?! Tapi… elemenku kan ada lima. Apa kita akan melatihnya secara bersamaan?!" tanya Sata pada gurunya.


"Tentu saja tidak bocah bau! Aku sarankan kau berlatih menggunakan elemen api terlebih dahulu. Hal itu akan sangat cocok mengingat kemampuan ahli peracikmu yang sangat hebat dalam mengendalikan api ajaib." jawab Dewa Ashima. 


"Itu… apakah dewa dan ahli bela diri yang mempunyai lima elemen yang tadi diceritakan oleh Tetua Yaguchi adalah guru dan musuh guru?!" Sata tiba-tiba bertanya mengenai kisah yang diceritakan Tetua Yaguchi saat Tes Elemen Ahli Bela Diri tadi. 


"Ya... begitulah, Nak. Cerita itu memang benar." jawab Dewa Ashima singkat.


"Nah sekarang mari kita berlatih elemen api. Kau akan memulai pelatihamu dengan teknik 'Api menari'. Teknik ini terbagi menjadi lima level. Jika kau bisa mempelajarinya sampai level tiga saja sudah sangat bagus. Aku sarankan belajarlah terlebih dahulu mengendalikan elemen api dengan cara mengeluarkannya dari kedua tanganmu secara bergantian. Warna dari elemen api adalah api berwarna merah, tidak seperti api ajaib milikmu yang berwarna biru. " ucap Dewa Ashima sambil melemparkan sebuah gulungan kertas usang berukuran besar pada Sata.


"Baik Guru! Siap laksanakan! Saya akan segera memulai latihannya." sahut Sata dengan penuh semangat sambil memegang gulungan pemberian gurunya.


...*********...


Kemudian, Sata berlatih mengedalikan elemen api terlebih dahulu. Tak butuh waktu lama baginya untuk berlatih mengendalikan elemen api karena ia merupakan seorang Ahli Peracik. Lalu, Sata melanjutkan latihannya pada sebuah teknik yang diberikan oleh gurunya. 


...**********...


BERSAMBUNG.....



● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏


● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏


● Klik FAVORIT ❤


● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆

__ADS_1


TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏


__ADS_2