Reinkarnasi Sang Dewa Bumi

Reinkarnasi Sang Dewa Bumi
BAB 07 - Binatang Buas Semi Menengah-Atas


__ADS_3

Saat akan mencari bahan terakhir sekaligus bahan terpenting yaitu akar batra, ia malah mendapati bahan penting tersebut dijaga oleh sesosok ular hitam yang sangat besar dan panjang yang tengah tertidur sambil menjaga bahan tersebut.


Sata sangat terkejut, ada bahan yang ternyata dijaga oleh binatang buas. Yang lebih mengejutkan lagi ternyata binatang buas berwujud ular tersebut berada di tingkat semi menengah-atas. Hal ini berarti kekuatannya sedikit lebih unggul daripada Sata. Neko pun berniat turun dari pundak Sata untuk melawan ular tersebut.


Tiba-tiba, Sata melarang Neko turun. Sata masih punya cara untuk membuat ular tersebut takluk tanpa harus berkelahi dengannya.


...***************...


"Sangat repot jika harus bertarung dengan binatang buas seperti ular yang terkenal licik. Sebenarnya bukan itu alasanku tak ingin membiarkan Neko bertarung dengannya. Tapi… aku begitu takut ketika melihat binatang melata seperti ular ini. Daripada berlama-lama untuk sebuah pertarungan, lebih baik kita selesaikan saja dengan cara yang singkat." batin Sata sambil melihat dari kejauhan ular yang tengah tidur dengan ekspresi merinding ketakutan.


Sata kemudian mengendap-ngendap ke sisi ular yang sedang tidur melingkar. Ia menggunakan ilmu peringan tubuhnya agar tak menimbulkan suara apa pun. Sata lalu memotong akar batra menggunakan belati yang dibawanya.


Setelah mendapatkan akar batra, Sata bergegas pergi tanpa menimbulkan suara sedikitpun dari langkahnya. Neko lalu mengikuti Sata dari belakang.


...**************...


Sata pun akhirnya telah kembali ke tempat biasanya ia berlatih. Dia membawa begitu banyak bahan-bahan pil obat di sebuah kantung besar yang ia bawa. Nampak arwah Dewa Ashima sedang menunggunya di bawah pohon besar tempat mereka pertama kali bertemu.


"Guru! Aku sudah mengumpulkan semua bahannya." ucap Sata sambil menurunkan kantung yang sangat menggembung besar dari punggungnya.


"Sepertinya kau membawa sesuatu yang lebih menarik lagi, Nak." sahut Dewa Ashima sambil melihat ke arah belakang Sata.


"Eh?! Apa maksud Guru?!" tanya Sata yang kebingungan.


"Wahhh… ular hitam ini rupanya tengah terluka berat hingga tingkat kekuatannya menurun menjadi tingkat semi menengah-atas. Sungguh merupakan binatang buas yang sangat hebat karena kekuatan aslinya bahkan lebih tinggi dari Neko yang merupakan harimau putih tingkat atas level tiga." ucap Dewa Ashima sambil memerhatikan ular hitam besar yang meliak-liuk di belakang tempat Sata berdiri.


"Apa?! Ular hitam?!" tanya Sata dengan terkejut sambil melirik ke arah belakang tempat ia berdiri.


"Aaa! Ular! Ular! Ular itu Guru!" teriak Sata sambil berlari lalu bersembunyi di belakang gurunya.


"Hahaha! Ada apa denganmu, Nak?! Apa kau takut dengan ular ini?!" gurau Dewa Ashima pada Sata sambil menunjuk-nunjuk ular yang tengah meliak-liuk.


"Guru aku tidak menyerangnya sama sekali. Kenapa dia malah kemari?! Hushhh! Hussshhh! Pergi sana!" ucap Sata sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke arah bawah.


"Dia sepertinya ingin menjadi pengikutmu juga, Sata." sahut Dewa Ashima secara tiba-tiba.


"Apa?! Haaa! Aku tidak mau!!! Sudah cukup hanya Neko saja yang aku pelihara. Memangnya aku pawang binatang apa?!" bantah Sata sambil berteriak.


Ular hitam besar itu kemudian meliak-liuk semakin mendekati tempat Sata yang tengah duduk bersembunyi di belakang arwah Dewa Ashima.


"Guru apa kau tak berniat menyingkirkan ular besar itu?!" tanya Sata sambil teriak ketakutan.


"Hahaha! Itu tak apa, Nak. Ular ini tak ada niatan membunuh sama sekali. Ia hanya ingin mendekatimu." jawab Dewa Ashima sambil tertawa.


...***********...


Tiba-tiba, Sata melompat ke atas pohon sambil memerhatikan ular hitam tersebut dengan raut wajah ketakutan. Neko pun malah ikut melompat ke atas pohon bersama Sata. Ular hitam besar itu akhirnya berhenti meliak-liuk tepat di bawah pohon.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan kucing nakal?! Seharusnya kau melindungiku, bukan malah ikut bersembunyi bersamaku." teriak Sata dengan kesal.


"Hhhhhhhhhh!" Neko malah memalingkan mukanya dari Sata yang tengah marah-marah.


"Haaaa! Kalian ini pantas dijadikan majikan dan peliharannya karena kepribadian yang sama." Dewa Ashima menghela nafas sambil melihat muridnya yang bertengkar dengan hewan peliharaannya.


"Apa keinginanmu?! Cepat katakan!!!" ucap Dewa Ashima sambil menatap ular hitam besar dengan tajam.


"Tolong bawa saya, Tuan." sahut ular hitam besar itu secara tiba-tiba.


Sata sangat syok mendengar ular hitam besar tersebut tiba-tiba berbicara, "Guru! Itu bukaaaannn…suara ular itu kan?!" tanya Sata dengan raut wajah kebingungan.


Dewa Ashima pun menjawab pertanyaan Sata dengan tenang. Ia sebenarnya telah mengetahui bahwa ular tersebut memang bisa berbicara, mengingat tingkat asli kekuatannya yang lebih kuat dari Neko.


"Dia Ular Piton Hitam Tingkat Atas Level Tujuh. Wajar dia bisa berbicara seperti manusia." jawab Dewa Ashima.


"Jadi... Binatang buas tingkat atas dari level berapa yang bisa bicara seperti manusia?! tanya Sata penasaran.


"Binatang buas tingkat atas level enam hingga seterusnya. Tapi… dari mana asalmu?!" sahut Dewa Ashima sambil memerhatikan ular hitam besar dihadapannya.


"Saya berasal dari hutan Kosakabe. Sebuah hutan di kota Kosakabe yang berada di ujung Kekaisaran Nagayama ini." jawab ular besar itu dengan lancar seperti layaknya manusia yang berbicara.


"Apa aku tidak salah lihat?! Ular itu benar-benar menjawab pertanyaan demi pertanyaan guru dengan lancar." teriak Sata dengan raut wajah kebingungan.


"Diam dulu kau, Nak! Sini turun dan bantu aku sembuhkan luka ular ini!" ucap Dewa Ashima sambil menengok ke atas pohon yang dinaiki Sata.


"Hmmm… kota Kosakabe di Kekaisaran Nagayama itu tempat yang sangat jauh. Sedangkan disini adalah kota Wangshi di Kerajaan Nakajima." ucap Dewa Ashima melanjutkan.


"Tidak mau! Aku tidak akan membawamu! Tingkat kekuatanku sekarang masih rendah. Jika suatu saat bertemu dengan orang yang mengejarmu. Mungkin aku akan tewas." bantah Sata dengan keras.


"Hahaha… kau tidak mau membawanya karena takut dengan binatang melata kan, bocah bau?!" tanya Dewa Ashima dengan nada mengejek.


"Aaa… aku tidak takut, Guru! Haha! Siapa yang takut dengan ular?! Aku ini seorang pria pemberani." jawab Sata dengan percaya diri.


"Kalau kau mengakui dirimu sebagai pemberani, bawalah ular besar ini bersamamu. Kau itu juga seorang alkemis tingkat tinggi dan seorang ahli bela diri tingkat menengah. Kau akan bisa melawan orang itu, tapi.. dengan cara kabur-kaburan bersembunyi sambil terus menyerang." ucap Dewa Ashima menjelaskan.


"Akuuu… tidak mau kewalahan hingga harus bertarung seperti itu, Guru!" tolak Sata dengan keras.


"Tolong saya, Tuan. Saya akan menyembunyikan aura saya dan berubah menjadi sesosok ular yang sangat kecil." ucap ular hitam besar itu kembali memohon.


"Ayolah Sata. Dimana hati nuranimu itu, Nak?! Bawalah ular ini bersamamu. Lalu, sekarang.. cepatlah turun!!! Kau masih belum menyelesaikan tugasmu untuk membuat seratus buah pil pembangkit spirit." teriak Dewa Ashima dengan keras.


...*************...


Sata dan Neko akhirnya melompat turun dari atas pohon, setelah Dewa Ashima memintanya untuk turun dengan raut wajah agak kesal. Sata lalu berdiri di belakang Dewa Ashima. Ia masih takut melihat ular hitam yang sangat besar dihadapannya.


"Hihihihihi" Neko menertawai Sata yang ketakutan.

__ADS_1


"Kau... cepat diam, sebelum aku berikan pada ular ini untuk makan malamnya." ucap Sata sambil menatap Neko dengan tajam.


Neko kemudian tak berkata apa-apa dan melompat ke atas kepala Sata.


"Binatang ini… Hufft! Huffft! Sabarrr… Sata sabar…" ucap Sata sambil mengatur nafasnya.


"Kau cepat teteskan darahmu untuk mengikat kontrak dengan ular ini, Nak!" perintah Dewa Ashima.


"Haaahh! Baiklah, Guru." jawab Sata sambil menghela nafasnya.


Sata pun perlahan mendekati ular tersebut. Ia lalu mengiris sedikit di bagian ujung jari kirinya menunggunakan belati. Meneteslah darah Sata pada ular hitam besar dan kontrak antara majikan dan budak kini telah terbentuk.


"Tapi… kau ini jantan kan?!" tanya Sata secara tiba-tiba pada ular hitam besar itu.


"Saya betina, Tuanku." jawab ular hitam besar itu.


"Apa?!" teriak Sata dengan raut wajah terkejut.


"Sssshhh! Maaf Tuanku. Saya tidak bermaksud membohongi anda saya ini seekor jantan bukan betina." ucap ular besar itu yang kini perlahan mengecil, lalu merayap ke tubuh Sata dan melingkar di pergelangan tangannya.


"Ini... Haaah! Ya sudahlah." Sata menghela nafas melihat sekarang dirinya kini digerumuti dua binatang buas. Satu di atas kepalanya dan satunya lagi melingkar di tangannya.


"Hahaha! Sungguh hebat kau, Nak. Dengan tingkatan bela dirimu yang sekarang kau sudah mempunyai dua binatang buas tingkat lanjut." ucap Dewa Ashima dengan bangga.


"Aku beritahu sekali lagi. Jenis kelamin ular ini memanglah jantan. Karena hanya binatang buas berjenis kelamin jantanlah yang bisa berbicara seperti manusia." lanjut Dewa Ashima menjelaskan.


"Haaahhh?! Kenapa Guru tidak bilang hal itu dari tadi?!" tanya Sata sambil berteriak.


"Kau tidak bertanya, ya.. aku tidak akan menjawab apa-apa." jawab Dewa Ashima dengan cuek.


"Haaah! Sudahlah! Sekarang cepat kau suruh binatangmu itu untuk turun dari tubuhmu dan segeralah membuat seratus pil pembangkit spirit." ucap Dewa Ashima dengan tegas.


...**********...


Sata kemudian memerintahkan binatangnya untuk segera turun dari tubuhnya. Dia lalu mengambil kantung besar yang ia geletakkan di tanah tadi. Dewa Ashima pun kini mengeluarkan sebuah benda yang sangat besar dan berkilauan dari dalam cincin penyimpanannya. Sata pun dibuat takjub karena melihat benda yang sudah tidak asing lagi baginya.


...***********...


BERSAMBUNG.....



● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏


● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏


● Klik FAVORIT ❤

__ADS_1


● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆


TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏


__ADS_2