
Kemudian Sata terus melanjutkan latihan fisiknya sepanjang malam, sebelum jadwal latihannya besok malam yaitu pelatihan jiwa.
...************...
Setelah latihannya selesai, Sata pun pulang ke kediaman keluarga Himamura dengan mengendap-ngendap karena takut ketahuan oleh penjaga keamanan. Tidak lupa ia juga membawa Neko yang sampai pulang terus duduk di atas kepalanya.
Sesampainya di kamarnya, Sata menyuruh Neko turun tapi Neko tak kunjung mau turun. Tatapannya menjelaskan ia tak mau turun karena melihat kamar Sata yang kotor dan berantakan.
"Apa kamu tidak mau turun juga binatang kecil?!" tanya Sata sambil berusaha menurunkan Neko dari atas kepalanya.
"Hhhhhhhh hhhhhhhh!" Neko menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau mengikuti perintah Sata yang menyuruhnya untuk turun dari kepalanya.
"Aissshhh! Turun gak kau! Kalau gak turun ku kasih makan kau pakai tikus busuk." gerutu Sata dengan kesal sambil berusaha menurunkan Neko dari atas kepalanya secara paksa.
Tiba-tiba Neko malah menggigit tangan Sata. Kemudian tangannya pun mengeluarkan darah. Darah Sata pun menetes ke lantai. Neko kemudian bergegas turun dan menjilati darah Sata yang bercucuran.
"Apa binatang ini tidak akan tiba-tiba memakanku ketika tertidur lelap karena tertarik dengan darahku?! batin Sata merasa sedikit takut.
"Tentu saja hal itu tidak akan terjadi muridku!" Dewa Ashima yang tiba-tiba muncul di samping Sata.
Sata pun sangat terkejut sampai melompat. Ia kemudian marah-marah pada gurunya.
"Guru jika muridmu ini mati karena serangan jantung apa kau akan puas?! teriak Sata dengan marah.
"Syutttt… Nak! Semua orang sudah tertidur. Jika kau berteriak seperti itu, takutnya mereka akan terbangun." ucap Dewa Ashima berbisik pelan.
"Haaahhh! Aku hanya kaget Guru tiba-tiba datang seperti itu. Harusnya Guru mengetuk pintu terlebih dahulu." sahut Sata sambil menghela nafas karena masih terkejut.
"Hahaha… mana ada arwah gentayangan yang masuk mengetuk pintu dulu?! Benar tidak?!" canda Dewa Ashima.
"Ya… Ya… Baiklah. Terserah Guru saja. Tapi lain kali jangan mengejutkanku lagi. Sudahlah aku mau tidur." ucap Sata sambil menghampiri tempat tidurnya.
"Yaa… Baiklah, Nak. Selamat malam." jawab Dewa Ashima.
"Selamat malam juga Guru." sahut Sata yang kemudian terlelap tidur.
Neko yang sedari tadi menjilati darah Sata yang bercucuran di lantai pun kini ia melompat ke tempat tidur Sata dan ikut tidur bersamanya.
"Haaahhh… semoga perjuangan latihanmu berhasil, Nak. Aku harap kau akan menjadi ahli bela diri yang disegani banyak orang. Aku pun akan pergi dengan tenang ketika melihatmu sudah benar-benar berada di puncak." gumam Dewa Ashima sambil memerhatikan Sata yang sudah tertidur pulas.
...************...
Keesokan harinya, ada seorang wanita paruh baya datang menghampiri kamar Sata. Wanita paruh baya itu pun kemudian mengetuk pintu.
"Tokkk tokkk tokkkk!"
__ADS_1
"Sata cepat bangun, Nak! Hari sudah siang ini. Cepat bantu Ibu belanja ke pasar." ucap wanita paruh baya itu yang ternyata merupakan ibunya Sata.
Ibu Sata tidak mendengar suara sama sekali dari dalam kamar anaknya. Ia kemudian memasuki kamar Sata dan mendapati Sata masih tertidur lelap dengan seekor kucing putih yang berada di sampingnya.
"Eh?! Apa Sata memelihara seekor kucing?! perasaan kemarin belum ada kucing putih ini?!" gumam ibunya Sata.
Tiba-tiba arwah Dewa Ashima muncul dan berbisik di dekat telinga Sata, "Bocah bau ibumu telah datang. Mau sampai kapan kamu tidur begitu?!" ucap Dewa Ashima ysng kemudian menghilang.
"Ibu... Ibu siapa itu?! Dimana?! Dimana?!" tanya Sata sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya.
"Plakkk!"
Ibunya Sata memukul kepala Sata dengan kencang. Sata pun kini akhirnya benar-benar telah terbangun karena pukulan dari ibunya yang keras.
"Eh?! Ada Ibu… Mau apa Bu kemari?!" tanya Sata sambil cengengesan.
"Ada apa ada apa?! Cepat bangun dan cuci muka dulu terus makan! Nanti setelah itu bantu ibu berbelanja di pasar." jawab ibunya Sata dengan tegas.
Kemudian, Sata bangun dari tempat tidurnya. Lalu mencuci muka dan makan. Sata mencoba memberi makan Neko dengan sayuran hijau karena tidak dapat membeli daging yang harganya mahal. Tanpa diduga, Neko sangat menyukai sayuran hijau tersebut.
Sata yang memerhatikan tingkah Neko pun sangat terkejut. Ia tidak menyangka Neko yang berwujud seperti kucing kecil ini malah suka dengan sayuran hijau.
"Ini sangat bagus karena makanannya tidak terlalu mahal." gumam Sata sambil tersenyum sangat senang.
...************...
"Akhirnya binatang ini tidak duduk lagi di atas kepalaku." batin Sata merasa sangat senang karena akhirnya Neko semakin menjadi penurut.
Mereka berdua pun akhirnya sampai di depan pintu masuk pasar.
"Sata tolong kamu beli kentang mentah sebanyak dua karung, dan ini adalah uangnya! Nanti kita bertemu lagi ditempat ini!" perintah Ibu Sata sambil menyodorkan uang berbentuk logam emas pada Sata.
"Jadi... ini adalah alat jual beli di negara ini?! gumam Sata sambil memerhatikan koin di tangannya.
"Sata, cepat kamu kerjakan perintah Ibu barusan!!!" ucap ibunya Sata dengan lantang.
"Baa… baik Bu…" jawab Sata sambil menunduk karena takut membuat ibunya marah lagi.
Kemudian, Sata berjalan mencari tempat pedagang yang menjual kentang. Ia mencari kesana kemari hingga akhirnya menemukan pedagang kentang. Ia lalu membeli dua karung kentang dan membayarnya. Sata pun berjalan kembali ke arah pintu masuk pasar sambil membawa dua karung yang diamgkat di atas tangan bahu kanannya.
Tiba-tiba, Sata mendengar seorang pedagang berteriak, "Pil pembangkit spirit! Pil pembangkit spirit! Dengan koin sepuluh perak saja, anda sekalian dapat mendapatkan satu butir pil pembangkit spirit ini." ucap pedagang obat yang mempromosikan dagangannya.
"Apa?! Kenapa sebutir pil tingkat satu saja bisa semahal itu?!" tanya Sata yang terkejut.
"Itu tidaklah mahal bocah bau!" ucap Dewa Ashima yang lagi-lagi tiba-tiba muncul tanpa sepengetahuan Sata.
__ADS_1
"Haaahhh… sudah berapa kali aku peringatkan pada Guru agar tidak muncul secara tiba-tiba." ucap Sata dengan kesal.
"Hehehe… maafkan gurumu ini, Nak. Tapi, pil pembangkit spirit itu memang bagus, walau hanya sekedar pil tingkat satu. Manfaat pil itu untuk menguatkan otot-otot agar semakin kuat. Sehingga, hanya perlu setengah usaha saja untuk meningkatkan kekuatan fisik agar semakin kuat." sahut Dewa Ashima menjelaskan.
"Haahh! Aku pun bisa membuat pil tingkat satu itu. Walau keterampilan bela diriku menurun drastis, tapi kekuatan jiwaku masih berada di ranah atas. Sangat mudah untuk membuat pil tersebut." ucap Sata sambil membanggakan kemampuannya.
"Kalau begitu… kau bisa membuat seratus pil pembangkit spirit untuk latihanmu, Nak." sahut Dewa Ashima secara tiba-tiba.
"Eh?! Apa?! Seratus?! Tapi… itu terlalu banyak guru. Lalu… bahan untuk membuat pil ini memang sangat mudah di dapat, tapi harus mencari ke hutan. Terus… kalau jumlahnya sampai seratus pil, kemungkinan akan memakan waktu lama mencari bahan-bahannya. Lalu…" bantah Sata dengan berbagai alasan.
Sebelum Sata mengucapkan lagi berbagai alasannya, Dewa Ashima terlebih dahulu memotong ucapannya.
"Tidak perlu banyak alasan! Lakukan saja sesuai yang aku perintahkan!" ucap Dewa Ashima dengan tegas.
"Ituuuu… Tapiiii... Bagaimana dengan kuali obatnya Guru?!" tanya Sata dengan gugup.
"Hal itu serahkan saja pada Guru ini. Sudah jangan berbicara denganku lagi! Orang-orang mulai menatapmu dengan tatapan aneh karena kau berbicara dengan udara kosong." jawab Dewa Ashima yang kemudian menghilang dari pandangan Sata.
Sata hanya menghela nafas melihat gurunya yang tiba-tiba menghilang. Ia kemudian memperhatikan orang-orang disekitarnya yang kata gurunya menatap Sata dengan tatapan aneh.
"Hahhh… Ini gara-gara Guru tua itu! Selalu saja datang tanpa diundang dan pulang tanpa diantar." gerutu Sata sambil memerhatikan orang-orang disekitarnya.
"Aku mendengar semua ucapanmu, Nak... Nantikan saja hukumanmu karena telah berani menghina gurumu ini." ucap Dewa Ashima yang hanya berbisik ditelinga Sata, namun tidak menunjukkan keberadaannya.
Sata hanya menghiraukan bisikan di telinganya. Ia kemudian berjalan ke arah pintu masuk pasar. Dari kejauhan ibunya Sata sudah selesai melakukan belanjanya dan sedang berjalan ke arah Sata berdiri.
"Sata ayo kita segera pulang!" ucap Ibu Sata sambil menepuk pundak kiri Sata.
Tiba-tiba, Neko yang sedari tadi hanya diam saja di atas pundak sebelah kiri Sata, kini sedang melirik kantong belanjaan yang dipenuhi dengan sayuran segar dengan sangat tajam. Matanya yang sangat tajam dan bersinar itu, seolah-olah sudah ingin memakan semua sayuran dalam kantong belanjaan tersebut.
...**********...
BERSAMBUNG.....
● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏
● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏
● Klik FAVORIT ❤
● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆
TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏
__ADS_1