Reinkarnasi Sang Dewa Bumi

Reinkarnasi Sang Dewa Bumi
BAB 03 - Memulai Pelatihan Ahli Bela Diri


__ADS_3

"Apa kau ingin melihat ayahmu hidup susah selamanya, Nak?" tanya arwah Dewa Ashima yang tiba-tiba muncul di samping Sata.


"Eh? Siapa yang tiba-tiba berbicara? Haah! Kenapa anda mengikuti saya sampai kemari?" ucap Sata yang terkejut melihat arwah Dewa Ashima yang tiba-tiba telah berada disampingnya.


"A . . . apa sebenarnya yang anda inginkan sampai mengikuti saya hingga kediaman Himamura?" tanya Sata.


***


"Nak! Aku hanya menawarkan diri menjadi gurumu. Aku bukanlah orang yang memilih sembarang murid dan kau terpilih karena sesuai dengan kualifikasi untuk menjadi muridku," ucap arwah Dewa Ashima berterus terang.


"Aku sama sekali tidak tertarik! Sebaiknya anda cari saja orang lain!" teriak Sata sambil meninggalkan arwah Dewa Ashima.


"Ish ... Ish ... Ish . . . sungguh anak yang menyia-nyiakan guru hebat ini. Namun, aku tidak akan menyerah membuat anak ini bersedia menjadi muridku. Anak ini mempunyai kepribadian yang sangat baik sekali, walau sudah dijahati tapi tidak ada terbesit pun dalam hatinya untuk balas dendam karena merasa kehidupannya kini lebih baik dari sebelumnya. Sayang sekali jika bakat bela dirinya yang hebat dan kepribadian baiknya tidak menjadi seorang ahli bela diri," ucap arwah Dewa Ashima sambil melihat Sata yang berjalan pergi menjauh darinya.


***


Seharian ini, Sata terus diganggu oleh arwah Dewa Ashima yang selalu membujuknya untuk menjadi muridnya. Dewa Ashima terus mengganggu berbagai pekerjaan yang Sata lalukan, seperti mencabuti rumput, memotong kayu, memasak air di dapur, mengepel lantai, mencuci baju, dan lain sebagainya.


Hingga saat Sata akan tidur pun, arwah Dewa Ashima terus berbisik ditelinganya agar Sata menerima tawarannya untuk menjadi muridnya. "Nak! Apa kau benar-benar tidak bersedia menjadi murid Dewa Ashima yang hebat ini?" tanya arwah Dewa Ashima sambil berbisik ke telinga Sata.


"Aaahh! Apakah anda masih belum puas mengganggu saya seharian ini?" gerutu Sata sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Aku hanya menawarimu menjadi muridku. Kenapa kau sangat sulit sekali menerima tawaranku bocah bau?" ucap arwah Dewa Ashima dengan raut wajah kesal.


"Sudah aku bilang aku tidak mau! Ya tidak mau! Kenapa anda memaksa sekali?" teriak Sata dengan nada suara yang tinggi.


"Tenang dulu anak muda. Apa kau tidak ingin membuat kedua orangtuamu bahagia dengan hasil kerja kerasmu menjadi seorang ahli bela diri. Bukan hanya membuat mereka bahagia, tapi juga membuat mereka bangga atas hasil kerja kerasmu," ucap arwah Dewa Ashima dengan lembut agar Sata mau menerima tawarannya.


"Itu . . . benar juga. Aku bisa membuat ayah dan ibu bahagia. Eh? Tunggu dulu! Jangan berani-beraninya kau menghasutku!" ucap Sata dengan tegas.


"Hahahaha! Aku tidak menghasutmu, Nak. Sebenarnya keinginan terbesar dari pemilik tubuh asli yang sekarang dimasuki oleh jiwamu ini adalah membuat kedua orang tuanya bahagia dengan menjadi seorang Dewa Bela Diri dan dapat menegakkan keadilan serta mencegah segala tindakan kejahatan," ucap arwah Dewa Ashima menjelaskan dengan lemah lembut.


"Haa! Baiklah aku bersedia. Jika tak ada tubuh ini . . . mungkin aku akan menjadi arwah gentayangan yang berkeliaran kesana kemari seperti seseorang," sahut Sata dengan nada mengejek.


"Heh! Kurang asem kau bocah bau!" teriak arwah Dewa Ashima kesal.


"Namun . . . anda tahu dari siapa kalau itu adalah keinginannya Sata Yoshihara, Dewa?" tanya Sata penasaran.


"Anak ini suka sekali berteduh sebentar setelah mencari kayu bakar dibawah pohon besar di hutan itu, seperti yang kau lakukan tadi. Ia sering meluapkan berbagai keinginannya sambil menikmati udara yang sejuk dibawah pohon," jawab arwah Dewa Ashima.


"Baiklah mari kita mulai latihannya malam ini. Mari kita berlatih di hutan tempat kau mencari kayu bakar tadi," ajak arwah Dewa Ashima sambil membukakan pintu kamar Sata.

__ADS_1


"Eh? Tunggu Dulu! Siapa juga yang mau berlatih selarut ini. Setelah mengalami kematian yang tragis, aku belum tertidur satu jam pun hari ini," tolak Sata dengan enggan mengikuti arwah Dewa Ashima.


Plakkk!


"Aaa! Sakit Tuan Dewa!" ucap Sata sambil memegangi kepalanya.


"Kita sudah tidak punya waktu lagi bocah bau! Jika kau ingin menunjukkan kemampuanmu pada saat Kompetisi Ahli Bela Diri tiga bulan lagi, kita harus mulai berlatih dari sekarang!" seru arwah Dewa Ashima dengan nada suara tinggi setelah memukul kepala Sata.


"Aaa! Hoaaam! Baiklah mari kita berlatih," ucap Sata sambil menguap.


***


Arwah Dewa Ashima berjalan terlebih dahulu, kemudian Sata mengikutinya dari belakang dengan hati-hati agar tidak diketahui penjaga keluarga Himamura karena keluar rumah larut malam. Setelah sampai di hutan, arwah Dewa Ashima menjelaskan berbagai peraturan ahli bela diri di dunia tengah.


Di daratan dunia tengah yang luas ini, terdapat lima elemen dari ahli bela diri. Kelima elemen tersebut dibagi lagi berdasarkan yang paling umum sampai yang paling langka, yaitu tanah, air, api, angin dan petir. Dari masing-masing lima elemen tersebut, terbagi lagi menjadi delapan tingkatan yang jumlah per tingkatannya ada sembilan level.


Delapan tingkatan tersebut yaitu tingkat dasar, tingkat menengah, tingkat tinggi, tingkat master, tingkat guru, tingkat raja, tingkat kaisar dan yang terakhir adalah tingkat dewa. Sedangkan untuk menentukan elemen yang dimiliki setiap individu, harus di tes menggunakan alat yang bernama 'Batu Bulan'.


Warna-warna di batu bulan terbagi menjadi lima bagian sesuai elemen yang ada, yaitu warna coklat berarti elemen tanah, warna biru berarti elemen air, warna merah berarti elemen api, warna hijau berarti elemen angin dan warna perak berarti elemen petir.


"Wah . . m pengetahuan Tuan Dewa benar-benar hebat," ucap Sata sambil matanya berdecak kagum.


"Nah, sekarang kita akan melatih terlebih dahulu kekuatan fisik dan jiwamu untuk menentukan elemen apa yang dapat kau latih saat menjadi ahli bela diri," ucap arwah Dewa Ashima sambil memberikan beberapa gulungan kertas usang pada Sata.


"Hmm . . . darimana datangnya gulungan kertas ini, Guru?" tanya Sata sambil melihat isi gulungan tersebut.


"Itu dari cincin penyimpananku. Sudah kau tak perlu banyak tanya lagi bocah bau! Sekarang segeralah kau push up sembari mengangkat batu itu, Nak. Lakukanlah latihan fisik seperti yang ada di gulungan tersebut!" perintah arwah Dewa Ashima sambil menunjuk sebuah batu besar.


"Eh? Baiklah Guru. Tapi . . . batu ini terlalu .โ€ฆ" ucap Sata mengeluh.


Kemudian, arwah Dewa Ashima hanya menatap Sata dengan sorotan mata tajam sebagai balasan dari ucapan keluhan Sata. Akhirnya Sata memulai pelatihan fisiknya. Lalu, Arwah Dewa Ashima mengangkatkan sebuah batu besar untuknya, batu tersebut kemudian di taruh di atas punggung Sata. Secara perlahan Sata melakukan push up dengan beban batu besar yang ada di atas punggungnya.


"Kenapa sangat lambat? Percepat gerakanmu!" teriak arwah Dewa Ashima dengan nada suara tinggi.


"Aih! Dewa tua ini kenapa tak tau seberapa berat penderitaanku yang mengangkat batu besar ini. Fisik dari tubuh ini masih sangat lemah tak seperti fisikku di kehidupan yang sebelumnya," gerutu Sata dalam hatinya.


"Fokus! Singkirkan gangguan yang ada dipikiranmu! Gerakanmu kini jadi semakin melambat dari yang tadi," perintah arwah Dewa Ashima sembari berteriak.


"Lah? Kenapa Dewa tua ini tahu aku sedang memikirkan hal lain?" ucap Sata dalam hatinya.


"Ba . . . ik . . . Gu . . . ru ...." ucap Sata sambil napasnya terengah-engah.

__ADS_1


"Percepat lagi! Hitung sampai dua ratus lima puluh kali! Sebelum selesai jangan harap bisa istirahat!" perintah arwah arwah Dewa Ashima dengan tegas.


"Baik guru!" ucap Sata kembali bersemangat agar latihannya segera selesai.


"Dua ratus empat puluh delapan . . . dua ratus empat puluh sembilan . . . dua . . . ra . . . tus . . . lima puluh. Ah! Akhirnya selesai," ucap Sata sambil melemparkan batu besar yang ada dipunggunggnya dengan kegirangan.


"Selanjutnya, berdiri di atas batu yang kau lempar barusan sambil kaki kiri berjinjit dan kaki kanan di angkat ke atas lutut kaki kiri. Cepat laksanakan!" perintah arwah Dewa Ashima dengan tegas.


"Tapi . . . Guru . . . aku baru saja selesai berlatih." ucap Sata mengeluh.


"Cepat! Kita tidak ada waktu lagi sebelum Tes Elemen Ahli Bela Diri di gelar satu minggu lagi di Balai Kota Wangshi. Kita harus segera meningkatkan fisik tubuh Sata yang sangat lemah ini!" ucap arwah Dewa Ashima.


"Baiklah Guru," ucap Sata sambil berjalan pelan mengambil batu besar yang telah dilemparnya.


***


Wuuuusssssssshhh!


Tiba-tiba, ada sekelebat bayangan putih yang melintas di atas kepala Sata. "Siapa itu?" teriak Sata sambil menengok ke atas.


"Ada apa Sata?" tanya arwah Dewa Ashima kebingungan melihat tingkah Sata.


Wusssssshhhhh!


"Siapa itu? Cepat Keluar!" teriak Sata sambil memerhatikan sekelilingnya.


***


BERSAMBUNG.....



โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2