
Sata kemudian memerintahkan binatangnya untuk segera turun dari tubuhnya. Dia lalu mengambil kantung besar yang ia geletakkan di tanah tadi. Dewa Ashima pun kini mengeluarkan sebuah benda yang sangat besar dan berkilauan dari dalam cincin penyimpanannya. Sata pun dibuat takjub karena melihat benda yang sudah tidak asing lagi baginya.
...***********...
"Wahhhh… apakah ini tungku obat tingkat langit, Guru?!" tanya Sata sambil memerhatikan benda berkilauan yang dikeluarkan gurunya.
"Haha! Benar, Nak. Ini tungku obat tingkat langit. Tungku ini pemberian dari sahabat dekatku." jawab Dewa Ashima sambil tersenyum.
"Hmm… jadi aku akan membuat pil pembangkit spirit dengan tungku obat tingkat langit ini, Guru?!" tanya Sata lagi dengan gembira.
"Iya iya, Nak. Kamu ini cerewed sekali." sahut Dewa Ashima.
"Sebelum membuat pil, ini aku juga akan mengeluarkan seratus buah botol obat untuk wadah pil yang sudah jadi nantinya. Kau bisa menjual pil-pil tersebut. Aku sarankan dengan harga delapan koin perak saja, agar nantinya laris di pasaran." lanjut Dewa Ashima menjelaskan.
"Hmm… kalau satu koin emas berapa buah koin perak guru?!" tanya Sata penasaran karena belum paham tentang seluk beluk dunia tengah.
"Satu koin emas berjumlah 20 koin perak. Ooh… Kau belum tau ya, tentang sistem jual beli di dunia tengah?!" Dewa Ashima berbalik menanyai Sata.
"I… itu… benar, Guru. Aku belum mengetahuinya." jawab Sata gugup.
"Baiklah, gurumu yang baik hati ini akan menjelaskannya." kata Dewa Ashima.
Di dunia tengah yang luas ini terdapat tiga jenis mata uang yang digunakan, yaitu koin perunggu, koin perak dan koin emas. Tiga puluh koin perunggu senilai satu koin perak. Dua puluh koin perak senilai satu koin emas.
Sedangkan, tingkatan Ahli Peracik di dunia tengah sama saja halnya dengan di dunia atas. Jumlahnya ada sepuluh tingkat dan masing-masing tingkatannya ada sembilan level.
Begitu pula dengan tingkatan jiwa, sama saja jumlahnya dengan dunia atas. Ada lima tingkatan jiwa seorang Ahli Peracik, mulai dari tingkat rendah, menengah, atas, langit dan surgawi. Masing-masing dari tingkatan terdapat sembilan level.
Perbedaan antara Ahli Peracik dunia tengah dan dunia atas adalah terletak pada energi petarung yang dimiliki seorang Ahli Peracik tersebut. Energi petarung Ahli Peracik di dunia atas lebih besar daripada energi petarung Ahli Peracik dunia tengah, sehingga kekuatan jiwanya akan lebih besar walau berada di tingkat yang sama. Hal ini disebabkan oleh lebih pekatnya energi petarung di dunia atas daripada dunia tengah.
"Nah begitulah yang ingin ku jelaskan padamu agar kau mengerti dan tidak banyak tanya lagi." tegas Dewa Ashima.
"Hehehe! Maafkan aku Guru. Aku kan tidak mengetahui tentang dunia tengah sama sekali." sahut Sata sambil tersenyum.
"Sekarang segeralah mulai pembuatan seratus pil pembangkit spirit." titah Dewa Ashima.
...**********...
Sata kemudian mengeluarkan semua bahan-bahan yang ia perlukan. Mulai dari 100 buah rumput bintang 100 buah akar ilalang, 100 buah rumput jalis, 100 buah akar daun shiso, 100 buah rumput wanwan dan 50 buah akar batra.
Dia lalu memasukkan sepuluh buah dari masing-masing keempat bahan dan lima buah akar batra ke dalam tungku obat yang ada dihadapannya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah api biru dari tangannya. Dihembuskanlah api tersebut ke bawah tungku obat hingga menjadi kobaran api yang sangat besar.
__ADS_1
"Wahhh… Api Bulan Biru?! Anak ini benar-benar hebat. Kenapa dia tidak menceritakan soal ini padaku?! Api bulan biru ini kalau tidak salah berada di peringkat ke lima dari api ajaib yang ada di dunia atas. Sungguh hebat sekali." gumam Dewa Ashima memerhatikan Sata dengan penuh kebanggaan.
Penyulingan obat kini telah dimulai. Sata mencampurkan satu per satu bahan dari sepuluh buah masing-masing empat bahan obat dan satu buah akar batra agar menghasilkan satu buah pil pembangkit spirit. Setelah tahap penyulingan obat, kemudian berlanjut ke tahap pemadatan obat, lalu ke tahap pembuatan obat dan hingga akhirnya jadilah satu buah pil pembangkit spirit.
Sata melakukan sepuluh kali penyulingan, hingga menghasilkan sepuluh butir pil pembangkit spirit. Kemudian ia masukkan pil pembangkit spirit yang sudah jadi ke dalam botol obat satu per satu.
Pembuatan seratus pil pembangkit spirit pun terus berlangsung sepanjang malam, hingga berakhirlah pembuatan pil tersebut ketika matahari sudah sedikit terlihat di sebelah timur. Tubuh Sata yang tinggi dan kurus itu terlihat seperti tidak merasakan lelah sama sekali. Ia justru terlihat bersemangat membuat pil demi pil dalam melatih kekuatan jiwanya ini.
"Wahhh… sungguh hebat sekali, Nak. Kau telah berhasil mengumpulkan seratus buah pil obat." ucap Dewa Ashima bangga melihat muridnya berhasil.
"Terima kasih banyak, Guru. Membuat pil tingkat satu adalah hal mudah bagiku karena bahan-bahannya juga bertebaran di hutan. Jika aku disuruh membuat pil tingkat tinggi, aku yang miskin ini kemungkinan besar tidak akan sanggup membuatnya walau kekuatanku cukup." sahut Sata tetap rendah diri.
"Hahaha! Itu benar, Nak. Makanya aku menyuruhmu menjual pil agar kau bisa punya banyak uang. Memproduksi pil tingkat rendah dulu sebanyak-banyaknya, itu pun akan sangat menguntungkanmu." ucap Dewa Ashima sambil tersenyum.
"Nah ini aku berikan satu buah cincin penyimpanan berkapasitas 100.000.000 barang untuk menyimpan pil-pil buatanmu ini. Kau juga bisa menyimpan uangmu nanti di dalam sini. Lalu, Tungku Obat Tingkat Langit ini aku berikan padamu sebagai hadiah karena kau telah resmi menjadi muridku." kata Dewa Ashima sambil memberikan sebuah cincin pada Sata.
"Apa?! Benarkah tungku ini untukku, Guru?!" tanya Sata kegirangan.
"Iya, Nak. Kau simpanlah dalam cincin penyimpanan itu." jawab Dewa Ashima dengan lembut.
"Woahhh… terima kasih banyak Guru." ucap Sata sambil menerima cincin tersebut dengan senang hati, lalu dipakaikan di jari manis tangan sebelah kirinya.
"Lalu, agar aku bisa terus berada disisimu dan tidak mengangetkanmu karena tiba-tiba muncul, aku akan masuk ke dalam kalung yang ada dilehermu itu." sahut Dewa Ashima secara tiba-tiba sambil menunjuk kalung yang ada di leher Sata.
"Aaahhh… kalung ini. Entah kenapa kalung ini terbawa padaku walau telah terlahir kembali. Kata Kakek Ahli Peracik yang mengurusku, kalung ini adalah peninggalan orangtua yang membuangku." ucap Sata sambil memegangi kalung dilehernya.
"Yaa… kalung itu merupakan kalung identitas dari Klan Shima. Kau harus benar-benar menyembunyikannya di kemudian hari karena takutnya ada yang mengenali kalung tersebut." kata Dewa Ashima memperingatkan Sata.
"Baiklah Guru, aku akan lakukan sesuai instruksimu. Hmm… apa mungkin… yang menyebabkan aku bisa terlahir kembali juga kalung ini, Guru?!" tanya Sata tiba-tiba.
"Itu… kemungkinan besar seperti itu, Nak." jawab Dewa Ashima.
"Aku sekarang akan segera masuk ke dalam kalungmu. Kau cepatlah pulang karena hari sudah mau menjelang pagi." ucap Dewa Ashima.
"Hoaaaammm! Aku mengantuk Guru, semalamam tidak tidur sama sekali. Neko kemarilah, berubahlah jadi besar agar aku bisa tertidur nyenyak dibulumu yang lembut itu." sahut Sata sambil menguap dan melambaikan tangannya ke arah Neko yang terlihat sedang tertidur pulas.
"Plakkkkk!"
Tiba-tiba Dewa Ashima memukul Sata, "Sekarang bukanlah waktu untuk tidur, bocah bau! Di kediaman Himamura masih banyak pekerjaan yang menantimu. Segeralah pulang jika tidak ingin orangtuamu dimarahi oleh Tuan Muda Himamura!" teriak Dewa Ashima dengan tegas.
"Aaahhh! Baiklah Guru. Aku akan pulang sekarang. Kemarilah Neko dan Buraku." ucap Sata sambil melambaikan tangannya pada Neko dan ular hitam besar yang telah menjadi kecil.
__ADS_1
Ular hitam kecil dan Neko pun kemudian bangun dari tidurnya, lalu melompat meghampiri Sata.
"Siapa itu Buraku?!" tanya Dewa Ashima.
"Itu nama ular piton hitam ini, Guru." jawab Sata sambil memperlihatkan ular hitam dipergelangan tangan kirinya.
"Ooohh begitu. Baiklah aku akan masuk ke dalam kalungmu sekarang." sahut arwah Dewa Ashima yang kemudian masuk ke dalam kalung Sata.
"Wusssssssshhh!"
Sebuah asap putih pekat tiba-tiba memasuki kalung yang ada di leher Sata.
"Guru! Apa benar anda berada di dalam sini?!" tanya Sata penasaran sambil memegangi kalungnya.
"Iya bocah bau! Cepatlah segera pulang!" teriak Dewa Ashima dari dalam kalung.
...********...
Sata kemudian bergegas pulang dari hutan ke kediaman Himamura sambil membawa kantung besar yang kini telah kosong kembali karena bahan-bahan obat telah habis tanpa sisa.
Dalam perjalanan pulangnya, tiba-tiba Sata ditabrak oleh seorang wanita berpakaian merah yang mengenakan cadar.
"Brukkkkk!"
Mereka berdua pun terjatuh. Sata kemudian berusaha membantu wanita bercadar tersebut berdiri. Namun, wanita bercadar itu malah menepis tangan Sata yang berusaha membantunya.
...***********...
BERSAMBUNG.....
● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏
● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏
● Klik FAVORIT ❤
● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆
TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏
__ADS_1