
Dari kejauhan, ibunya Sata sudah selesai melakukan belanjanya dan sedang berjalan ke arah Sata berdiri.
"Sata ayo kita segera pulang!" ucap Ibu Sata sambil menepuk pundak kiri Sata.
Tiba-tiba, Neko yang sedari tadi hanya diam saja di atas pundak sebelah kiri Sata, kini sedang melirik kantong belanjaan yang dipenuhi dengan sayuran segar dengan sangat tajam. Matanya yang sangat tajam dan bersinar itu, seolah-olah sudah ingin memakan semua sayuran dalam kantong belanjaan tersebut.
...**********...
Neko pun melompat dari pundak Sata. Sebelum ia menerkam belanjaan ibunya, Sata menghentikan tingkahnya dengan cara mencubit bulu di bagian punggungnya.
"Hhhhhh! Hhhhhhh!" Neko meronta-ronta meminta agar diturunkan.
"Diam kucing nakal! Kalau tidak diam, aku buang kamu ke hutan agar dimakan ular berbisa." ucap Sata sambil memelototi Neko.
"Hhhhhhhh!" Neko pun kemudian memalingkan mukanya dari tatapan Sata.
"Sudah Sata, jangan ribut! Kalau kucing kecil kamu mau makan sayur, nanti sesampainya di rumah Ibu kasih dia. Toh harga sayuran hijau tidak semahal daging." sahut Ibu Sata dengan lembut.
Neko pun melompat ke pundak ibunya Sata sambil mengelus-ngeluskan dirinya ke pipi ibunya Sata. Neko seperti mengetahui betul mana majikan yang memperlakukannya dengan baik.
"Heyyy! Turun kamu dari pundak ibuku!" perintah Sata sambil menunjuk-nunjuk Neko yang berada di atas pundak ibunya.
"Sudah Sata, tidak apa-apa. Mari kita pulang." ajak Ibu Sata dengan lembut.
Sata dan ibunya pun pulang ke kediaman Himamura. Sata kemudian meletakkan dua karung kentang dan belanjaan yang dibawa ibunya di dapur. Ibunya Sata kemudian memberi makan Neko di luar dapur menggunakan sayur sisa makan malam kemarin.
Neko lalu memakan sayuran hijau tersebut dengan lahap. Ibu Sata menatap Neko dengan tatapan keheranan. Ia merasa tidak ada kucing yang selama ini dia lihat sangat menyukai sayuran.
"Sata! Darimana kamu dapat kucing yang suka makan sayur ini?!" tanya Ibu Sata di luar dapur.
Sata lalu menghampiri ibunya, "Ituuuu... Anu… Ya jelas Sata menemukannya, Bu. Kucing itu sendirian dijalanan saat Sata pulang dari hutan selepas mencari kayu bakar. Karena kasihan, Sata pun membawanya kemari. Sata juga tak menyangka kucing ini menyukai sayuran." jawab Sata dengan gugup karena yang ia ucapkan tidak sepenuhnya benar.
"Hmmm… Awas kalau kamu bohong, ya! Ibu merasa kucing ini aneh. Apa dia itu binatang buas yang ada di hutan?!" tanya Ibu Sata sambil menatap Sata dengan tajam.
"Aaahhh! Mana mungkin, Bu. Sata kan tidak menjadi ahli bela diri. Mana mungkin bisa menangkap bisa menangkap binatang kuat tersebut." jawab Sata dengan gugup.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu! Asal kamu tahu ya Sata, di Kerajaan Yotsuhima ini tidak ada seorang pun rakyat kalangan bawah yang bisa menjadi ahli bela diri. Yang menjual pil obat di pasar tadi pun itu adalah bawahan-bawahan dari keluarga kaya.
Intinya hanya semua orang kalangan ataslah yang berhak menjadi ahli bela diri di negara ini. Peraturan ini sudah berlaku sejak sepuluh tahun terakhir. Yang meciptakan peraturan baru ini adalah Putra Mahkota, sejak Raja Kerajaan Yotsuhima sudah tidak bisa lagi mengurus pemerintahan karena sakit-sakitan." ucap Ibu Sata berbicara panjang lebar.
Sata sangat terkejut mendengar perkataan ibunya, "Itu namanya diskriminasi, Bu! Mana bisa hanya orang kalangan atas yang belajar bela diri sedangkan kalangan bawah tidak. Masa hanya mereka yang merasakan hidup enak, sedangkan kalangan bawah terus dijadikan budak seperti ini?!" sahut Sata dengan kesal.
"Husshhh! Jangan berbicara seperti itu! Nanti takutnya ada yang mendengar ucapanmu. Kita ini hanya rakyat kecil yang bisa menuruti perintah dari pemimpin negara tanpa bisa berbuat apa-apa karena tidak punya kekuasan.
Tapi… para petinggi kerajaan ini membuat suatu syarat, walau rakyat kalangan bawah pun bisa menjadi ahli bela diri, asalkan sang ahli bela diri juga merupakan seorang Ahli Peracik tingkat enam. Yaahhh… sudahlah kamu gak akan bisa jadi Ahli Peracik. Itu syarat yang sangat mustahil bagi rakyat kalangan bawah seperti kita. Sudah kamu lanjutkan saja pekerjaanmu yang lain!!!" setelah menasehati Sata, ibunya Sata kemudian pergi meninggalkan Sata untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Haahhh! Peraturan macam apa itu?! Siapa yang membuatnya?! Pantas saja tubuh Sata ini sangat lemah. Pantas juga pemilik tubuh ini ingin menjadi orang kuat dan membela keadilan. Yaa… karena diskriminasi di kerajaan ini sungguh tak masuk akal.
Tapi, anakmu ini akan menjadi ahli bela diri sekaligus ahli peracik yang terkenal, Bu. Tunggu saja sampai ibu dan ayah melihat Sata berhasil. Dengan kekuatan jiwaku yang sekarang, setidaknya aku adalah Ahli Peracik tingkat delapan. Itu sudah lebih cukup dari syarat yang telah ditentukan." ucap Sata sambil mengepalkan tangannya.
...*************...
Tiba waktunya di malam hari, Sata pun kembali mengendap-ngendap dengan hati-hati agar bisa keluar dari kediaman Himamura. Ia tak lupa membawa sebuah kantung besar di punggungnya dan sebilah belati yang dikaitkan dipinggangnya untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuat pil pembangkit spirit.
Dia lalu melompat dari atap ke atap hingga akhirnya berhasil keluar dari gerbang depan. Neko pun mengikutinya walau hanya duduk diam saja di atas kepala Sata.
Neko kemudian turun dari kepala Sata. Ia tiba-tiba berubah menjadi harimau yang sangat besar berwarna putih. Sata sangat syok melihat Neko yang tiba-tiba berubah. Ia pun terdiam beberapa saat sambil memperhatikan Neko.
Tiba-tiba ekor Neko melingkari tubuh Sata. Kemudian meletakkan Sata di atas punggungnya. Neko lalu berlari dengan sangat kencang sampai tidak bisa terlihat oleh siapa pun. Orang lewat yang melihatnya hanya akan mengira itu adalah sebuah angin kencang yang tiba-tiba melewati mereka.
...**********...
Dalam beberapa detik saja mereka berdua akhirnya sampai di hutan. Padahal biasanya perlu berjalan sekitar sepuluh menit untuk sampai ke hutan. Sata merasa sangat pusing karena dibawa berlari kencang oleh Neko. Ia kemudian turun dari punggung Neko dengan sempoyongan. Neko pun kemudian berubah kembali menjadi kucing putih kecil biasa.
"Hahaha… Kenapa kau, Nak?!" tanya Dewa Ashima sambil tertawa.
"Aku tidak apa-apa, Guru." sahut Sata sambil duduk di bawah pohon karena merasa pusing.
"Hahaha… tidak apa-apa kok raut wajahnya seperti itu. Bagaimana kehebatan dari binatang buas harimau putih tingkat atas ini?! Sangat hebat kan?!" tanya Dewa Ashima lagi pada Sata.
"Yaa… sungguh hebat. Sampai aku merasa ingin muntah karena di ajak berlari di malam hari. Harusnya dia mendengarkan intruksiku terlebih dahulu bukan asal bertindak sendiri." sahut Sata dengan kesal.
__ADS_1
"Hahaha… kau masih perlu banyak melatih kucing kecilmu ini, Sata." ucap Dewa Ashima sambil tertawa.
"Haaa! Baiklah Guru, nanti jika senggang aku akan melatih Neko." ucap Sata.
"Lalu, apakah sekarang aku harus mencari bahan-bahan untuk membuat pil pembangkit spirit?!" tanya Sata sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Tahun depan, Nak! Ya tentulah sekarang! Cepat sana cari! Bawa juga Neko bersamamu. Binatang buas di pedalaman hutan ini sangat sensitif saat malam hari. Dengan tingkat bela dirimu yang sekarang mungkin kau hanya akan bisa mengalahkan yang tingkat menengah ke bawah. Namun, jika kau bertemu tingkat atas biarlah itu menjadi urusan Neko.
Tapi… jarang juga sih di hutan ini ada binatang buas tingkat atas, palingan pemimpin binatang buas tertingginya hanya sampai tingkat menengah. Jadi, darimana sebenarnya Neko ini berasal?! Tapi ya sudahlah. Cepat sana cari bahan-bahannya! Namun, tetaplah selalu waspada dan berhati-hati." Dewa Ashima memperingatkan Sata tentang situasi di hutan pada malam hari.
...**********...
Sata kemudian berjalan menyusuri pedalaman hutan untuk mencari bahan-bahan pembuat pil pembangkit spirit. Bahan-bahan tersebut ada enam jenis, yaitu rumput bintang, akar ilalang, rumput jalis, akar daun shiso, rumput wanwan dan akar batra.
Neko juga ikut bersamanya dengan duduk di atas pundak Sata. Setiap Sata melewati suatu tempat, selalu saja binatang buas di tempat tersebut diam tidak menggangu. Kemungkinan besar hal tersebut dikarenakan ketakutan akan aura kuat dari Neko.
Sata pun merasa puas dengan membawa Neko bersamanya. Ia kemudian memetik satu persatu bahan yang diperlukan untuk membuat pil pembangkit spirit. Saat akan mencari bahan terakhir sekaligus bahan terpenting yaitu akar batra, ia malah mendapati bahan penting tersebut dijaga oleh sesosok ular hitam yang sangat besar dan panjang yang tengah tertidur melingkar sambil menjaga bahan tersebut.
Sata sangat terkejut, ada bahan yang ternyata dijaga oleh binatang buas. Yang lebih mengejutkan lagi ternyata binatang buas berwujud ular tersebut berada di tingkat semi menengah-atas. Hal ini berarti kekuatannya sedikit lebih unggul daripada Sata. Neko pun berniat turun dari pundak Sata untuk melawan ular tersebut.
Tiba-tiba, Sata melarang Neko turun. Sata masih punya cara untuk membuat ular tersebut takluk tanpa harus berkelahi dengannya.
...***************...
BERSAMBUNG.....
● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏
● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏
● Klik FAVORIT ❤
● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆
__ADS_1
TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏