Reinkarnasi Sang Dewa Bumi

Reinkarnasi Sang Dewa Bumi
BAB 18 - Insiden Buruk Di Tengah Pertandingan


__ADS_3

Setelah berhasil memenangkan pertarungan melawan Tuan Muda Hirotsu, pertarungan lainnya yang Sata hadapi pun berhasil ia menangkan. Setelah mengalami berbagai pertarungan yang cukup panjang selama satu hari, hari berikutnya adalah hari dimana babak perempat final dilaksanakan.


Pada babak perempat final kali ini, peserta yang lolos adalah Sata Yoshihara, Misaki Takeda, Shiro Himamura, Zadai Satoru. Pertandingan yang akan dilaksanakan hari ini ada Sata Yoshihara melawan Shiro Himamura. Lalu, Misaki Takeda melawan Zadai Satoru.


Elemen-elemen bela diri yang dimiliki keempat peserta di perempat final, yaitu Sata adalah Ahli Bela Diri elemen api, Shiro adalah Ahli Bela Diri elemen air, Misaki adalah Ahli Bela Diri elemen api, dan Zadai adalah Ahli Bela Diri elemen air.


***


Di babak perempat final kali ini, ternyata Sata akan melawan atasannya sendiri, yaitu Tuan Muda Himamura. Mereka berdua pun kini sudah bersiap di atas arena kompetisi. Tetua Yaguchi berdiri di pinggir arena sebagai wasit yang mengawasi jalannya pertandingan.


"Pertandingan sudah bisa dimulai!" teriak Tetua Yaguchi yang diiringi bunyi gong tanda dimulainya pertandingan.


Dungggggggg!


"Mohon bimbingannya Tuan Muda." Sata mengepalkan kedua tangannya lalu membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.


"Aku ingin melihat seberapa hebat kemampuanmu!" Tuan Muda Himamura lalu membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.


Kemudian, Sata pun memulai serangannya terlebih dahulu. " 'Teknik Api Menari level tiga' !" teriak Sata. Bola api besar pun menghampiri tempat Tuan Muda Himamura berdiri. Namun, ia berhasil menahannya menggunakan teknik elemen air miliknya.


" 'Teknik Benteng Air level tiga' !"


Tiba-tiba, sebuah gelombang air membentuk benteng yang kokoh di depan Tuan Muda Himamura terbentuk. Benteng air tersebut dapat menahan serangan Sata dengan ampuh. Tuan Muda Himamura pun lalu bersiap melancarkan serangan balasan kepada Sata.


" 'Teknik Badai Air level tiga' !" teriak Tuan Muda Himamura.


Gelombang air yang diiringi angin besar pun menghantam arena kompetisi. Sata pun berusaha melindungi dirinya menggunakan 'Teknik Tameng Jiwa'. Ia lalu mengeluarkan 'Teknik Langkah Kilat' dan menyerang Tuan Muda Himamura secara diam-diam.


"Teknik yang sama takkan mempan kepada orang lain yang sudah pernah melihatnya. 'Teknik Badai Air level tiga' !" Tuan Muda Himamura yang menyadari Sata yang hendak menyerangnya secara diam-diam lalu melancarkan serangan balasan untuknya.


Sata pun berhasil menghindari serangannya menggunakan 'Teknik Langkah Kilat'. "Pyuh . . . hampir saja. Ternyata keterampilan bela dirinya tidak bisa diremehkan. Sekarang aku harus benar-benar serius menghadapinya," batin Sata.


" 'Teknik Api Menari level empat' dan 'Api Abadi' level satu! Tertanamlah!" teriak Sata sambil menghentakkan kakinya ke tanah tetapi tidak menghasilkan serangan apa-apa.


Semua warga yang menyaksikan pertandingan merasa aneh karena teknik bela diri yang diucapkan Sata tidak mengeluarkan serangan apa pun. Tuan Muda Himamura pun merasa aneh, tetapi ia tetap waspada sambil menggunakan 'Teknik Benteng Air'. Tiba-tiba, Dewa Ashima berbicara kepada Sata dari dalam kalungnya.


"Hentikan serangnmu itu, Nak! Itu akan menghancurkan alun-alun dan bangunan disekitarnya." Dewa Ashima memperingatkan Sata.


"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi, Guru?" Sata sangat terkejut mendengar ucapan gurunya.


Arwah Dewa Ashima pun keluar dari kalung Sata, "Cepat hentikan! Api ajaib itu sangat berbahaya, apalagi ini api ajaib peringkat lima di dunia atas. Jika kamu menggabungkan teknik bela diri elemen apimu dengan api ajaib itu akan membuat sebuah ledakan yang besar karena struktur api tersebut bertolak belakang. Apa kamu juga ingin membunuh semua manusia disini?" Dewa Ashima memperingatkan Sata dengan panik karena merasa api dari dalam tanah sudah akan meledak keluar.

__ADS_1


"Aku kan belum menghentakkan api tersebut agar keluar dari tanah Guru. Bukankah masih bisa dikembalikan lagi ke dalam tubuhku?" tanya Sata dengan suara pelan.


"Tidak bisa, Nak. Elemen Api dan Api Ajaib itu berbeda. Jika kau mengembalikan lagi ke dalam tubuhmu secara paksa, aku takut nadi spiritmu akan terluka dan akibatnya kau tidak bisa lagi menjalani pelatihan Ahli Bela Diri," jawab Dewa Ashima.


***


Kemudian, Sata berlari ke tengah alun-alun. Ia menerobos paksa Formasi Perlindungan yang dibuat oleh ketiga tetua. Tetua Yaguchi menghentikan Sata karena ia tiba-tiba meninggalkan arena kompetisi.


"Nak! Jika kamu meninggalkan arena kompetisi di tengah-tengah pertarungan, maka kamu akan di diskualifikasi," ucap Tetua Yaguchi sambil menepuk pundak Sata.


"Ini gawat, Tetua! Saya mohon anda menyingkir terlebih dahulu," sahut Sata sambil menepis tangan Tetua Yaguchi.


"Kurang ajar kamu bocah! Sungguh tidak tahu sopan santun kepada Tetua Yaguchi yang merupakan utusan dari kerajaan," teriak Walikota tiba-tiba sambil menghampiri Tetua Yaguchi.


"Sudahlah, Takeda. Kita lihat terlebih dahulu apa yang akan dilakukan anak ini." Tetua Yaguchi menenangkan Walikota yang sedang marah.


Sata lalu menekankan kedua telapak tangannya ke atas permukaan tanah sambil duduk sila. Mulutnya komat-kamit merapalkan sebuah mantra teknik bela diri. Tiba-tiba, tanah di sekitar alun-alun bergoyang. Semua warga pun terlempar beberapa meter dari alun-alun. Hanya Sata sendiri yang kini berada di tengah alun-alun.


"Apa yang sedang bocah itu lakukan!"


"Apakah dia bermaksud mencelakai kita semua?" Warga pun silih bergantian mencela tindakan yang Sata lakukan.


Sebuah bola cahaya raksasa tiba-tiba muncul di tengah alun-alun. Bola cahaya itu berada tepat di depan Sata yang kini sedang duduk di tengah alun-alun. Tiba-tiba, sebuah api besar muncul dari dalam tanah. Api itu pun lalu meledak sambil mengeluarkan suara ledakan yang sangat besar.


Semua warga yang menyaksikan kejadian tersebut sangat terkejut atas apa yang sudah terjadi. Begitu pula Walikota, para tetua, dan para peserta kompetisi. Mereka semua dibuat terdiam beberapa saat setelah menyaksikan kejadian ledakan yang sangat dahsyat.


"Jika aku tidak menahan ledakan barusan, mungkin semua orang di arena ini akan mati, terkecuali orang-orang di atas Ahli Bela Diri tingkat menengah. Untung saja aku masih sempat menahan ledakannya," batin Sata.


***


Setelah ledakan api hilang dari dalam bola cahaya, bola cahaya tersebut pun lalu menghilang dari pandangan semua orang. Sata pun kembali berdiri dari tempat duduknya. Ia lalu memberi hormat kepada Walikota dan Tetua Yaguchi.


Sata tiba-tiba membungkukkan badannya di hadapan orang nomor satu di kota Wangshi tersebut, "Saya mohon maaf atas kelalaian yang telah saya lakukan Walikota," ucapnya.


"Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan bocah? Apa kau sengaja mau mencari perhatian!" teriak Walikota.


"Hoho! Jangan marah dulu Takeda! Sepertinya tadi Sata berusaha menggabungkan teknik Ahli Bela Diri dan Ahli Peracik. Betul atau tidak, Nak?" tanya Tetua Yaguchi dengan lembut.


"Itu . . . benar Tetua. Saya . . . benar-benar mohon maaf," jawab Sata sambil menundukkan kepalanya karena menyadari kesalahannya.


"Kamu .... Haah! Kamu aku diskualifikasi dari Kompetisi Ahli Bela Diri ini," ucap Walikota sambil menahan emosinya.

__ADS_1


"Tenang dulu, Takeda! Sata sudah memperbaiki kesalahannya, bukannya masih ada kesempatan untuk melanjutkan pertandingan?" saran Tetua Yaguchi.


Tiba-tiba, Tetua Yamahasa menghampiri tempat di mana Walikota berdiri. "Saya setuju dengan pendapat anda, Walikota. Sebaiknya Sata di diskulialifikasi saja dari kompetisi ini," sahut Tetua Yamahasa.


"Ya betul itu! Diskualifikasi saja Sata dari kompetisi ini!" teriak salah satu warga.


"Benar itu diskualifikasi saja! Dia sudah berani-beraninya mau mencelakai kita semua!" timpal warga lainnya.


"Jangan diskulifikasi Sata!" teriak seseorang secara tiba-tiba dari atas arena kompetisi.


Semua warga pun menengok ke arah asal dari suara tersebut. Mereka tak menyangka Tuan Muda Himamura akan membela Sata. "Jika tadi Sata tidak segera memperbaiki kesalahannya dan membuat Formasi Perlindungan, mungkin kalian semua yang berada di arena ini akan mati kecuali Ahli Bela Diri yang sudah berada di tingkat atas dan seterusnya. Apa kalian mau mendiskualifikasinya?" teriak Tuan Muda Himamura dengan berani.


"Eh? Sebenarnya apa yang direncanakan Tuan Muda membela Sata terang-terangan seperti itu," batin Tetua Atsushima yang melihat tuan mudanya membela Sata.


Semua orang pun terdiam setelah mendengar ucapan Tuan Muda Himamura. Tetua Yaguchi pun setuju pada ucapannya, "Betul apa yang dikatakan oleh Tuan Muda Himamura. Sata tidak boleh di diskualifikasi," tegas Tetua Yaguchi.


"Itu .... Haah! Baiklah jika itu keputusan yang Tetua Yaguchi putuskan. Saya rasa hal yang anda katakan ada benarnya juga," sahut Walikota menyetujui keputusan Tetua Yaguchi.


"Aku tidak ingin berdebat dengan Tetua Yaguchi. Dia merupakan orang terhormat yang harus dihormati setiap keputusannya," batin Walikota.


"Kalau begitu mari kita lanjutkan pertandingan antara Tuan Muda Himamura dan Sata Yoshihara," ucap Tetua Yaguchi.


"Saya mengakui kekalahan saya, Tetua. Lalu, Sata yang akan maju ke babak final esok hari," sahut Tuan Muda Himamura.


Sata sangat terkejut mendengar ucapan Tuan Muda Himamura yang tiba-tiba seperti itu. Semua orang yang menyaksikan kompetisi pun sontak memerhatikan Tuan Muda Himamura. Mereka menatapnya dengan tatapan kebingungan.


***


BERSAMBUNG.....



โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2