Reinkarnasi Sang Dewa Bumi

Reinkarnasi Sang Dewa Bumi
BAB 16 - Menjual Pil Obat


__ADS_3

Dua bulan kemudian ….


Satu minggu lagi menuju Kompetisi Ahli Bela Diri kota Wangshi, Dewa Ashima tidak menyuruh Sata untuk berlatih. Namun, ia menyuruhnya untuk menjual Pil Pembangkit Spirit yang telah Sata buat. Setelah hampir tiga bulan menjalani pelatihan Ahli Bela Diri, Sata kini berada di tingkat menengah level lima. Hanya meningkat satu level saja dari tingkatan yang sebelumnya.


Sata pun kini menuju sebuah pasar tradisional di alun-alun kota Wangshi. Ia menyembunyikan identitasnya dengan menggunakan penutup muka kain hitam. Sesampainya di pasar tradisional, Sata langsung membuka kios dan meletakkan pil obat yang akan dijualnya di sebuah meja kayu.


"Sudahlah, Nak. Kau jangan gunakan penutup muka kain hitam itu lagi. Sudah saatnya semua orang mengetahui identitasmu," ucap Dewa Ashima yang tiba-tiba keluar dari dalam kalung Sata.


"Apakah boleh jika seperti itu, Guru?" tanya Sata.


"Tentu saja boleh, Nak! Cepat kau lepaskan dan berteriaklah sekencang-kencangnya bahwa kau menjual pil obat," perintah Dewa Ashima.


Kemudian, Sata membuka penutup muka kain hitamnya. Ia lalu meneriakkan barang dagangannya dengan harga yang murah, "Pil Pembangkit Spirit! Pil Pembangkit Spirit! Satu botol hanya delapan perak saja! Siapa mau beli! Saya jual delapan perak saja!" 


"Wah, semangat sekali kau, Nak," ucap Dewa Ashima. 


"Tentu saja, Guru. Masalah uang kan harus semangat," sahut Sata dengan semangat. 


Perlahan-lahan ada orang yang datang untuk membeli Pil Pembangkit Spirit milik Sata. Ia melayani pembelinya dengan sangat semangat. Para pembelinya ini rata-rata adalah bawahan dari keluarga kaya raya di kota Wangshi. Tiba-tiba ada seorang pembeli yang datang, tapi Sata merasa wajahnya tidak asing baginya.


"Saya beli Pil Pembangkit Spirit sejumlah sepuluh botol," ucap Pembeli tersebut. 


"Eh? Sata? Apakah ini kamu?" tanya pembeli tersebut. 


"Ya, ini saya, Tetua Hito. Tetua mau beli Pil Pembangkit Spirit untuk tuan muda, kan?" jawab Sata dengan ramah. 


Ternyata pembeli yang kini membeli pil milik Sata adalah Hito Himamura. Seorang Tetua Penjaga Aula Bela Diri sekaligus gurunya Shiro Himamura yang merupakan tuan muda dari keluarga Himamura. Pantas saja Sata merasa tidak asing dengan wajah pembeli yang satu ini.


"Saya dengar ada seorang Ahli Peracik tingkat enam yang berhasil lolos di Tes Elemen Ahli Bela Diri. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa pemuda tersebut berasal dari rakyat kalangan bahwa. Apakah . . . orang itu adalah Nak Sata?" tanya Tetua Hito secara tiba-tiba.


"Ya, itu benar saya sendiri. Em . . . tadi Tetua menginginkan sepuluh botol Pil Pembangkit Spirit, kan? Ini saya berikan seharga lima perak saja," sahut Sata dengan ramah.


"Eh? Jangan! Nak Sata kan sudah bersusah payah membuatnya. Saya akan tetap membayarnya seharga delapan perak. Nah, ini semua uangnya," ucap Tetua Hito sambil memberikan sekantung uang kepada Sata.

__ADS_1


***


Setelah mendapatkan pil obat, Tetua Hito pergi meninggalkan kios milik Sata. Kini, pil yang di jual oleh Sata tinggal tersisa dua puluh pil saja. Sata masih menunggu pembeli walau hari sudah menjelang sore dalam keadaan mengantuk. Tiba-tiba, ada seorang pemuda yang datang ke kios milik Sata. Ia pun memborong semua pil yang tersisa.


"Aku borong semuanya!" ucap Pemuda tersebut.


"Bangun bocah bau! Ada seseorang yang ingin membeli pilmu itu!" teriak Dewa Ashima di dekat telinga Sata.


"Eh? Ada apa? Oh, ya, silakan Tuan. Berapa botol pil yang anda perlukan?" ucap Sata sambil mengucek-ngucek matanya karena masih mengantuk.


"Aku borong semuanya! Apakah dari tadi kau tidak mendengarkanku? Keluarga mana yang mengutus bawahan bodoh sepertimu, hah? Di suruh jualan kau malah tertidur," sindir Pemuda tersebut dengan nada menghina.


Sata pun terkejut mendengar teriakan pemuda tersebut. Ia lalu melihat ke arah pemuda yang berniat membeli pilnya. Namun, betapa terkejutnya ia ternyata orang yang memborong semua pilnya adalah Tuan Muda Takeda.


"Nih semua uangnya! Cepat bungkuskan semua pilnya! Aku sudah tidak punya waktu untuk berlama-lama di pasar ini!" perintah Tuan Muda Takeda sambil melemparkan uang kepada Sata.


Kemudian, Sata memberikan dua puluh pil yang tersisa. Tuan Muda Takeda pun lalu pergi meninggalkan kios milik Sata. "Dia begitu sombong! Tapi . . . ya, pantas saja karena dia adalah Tuan Muda terkaya sekota Wangshi," ucap Sata sambil memerhatikan Tuan Muda Takeda yang telah pergi meninggalkan kiosnya.


"Hoho! Apakah kau ingin membalas kesombongannya saat Kompetisi Ahli Bela Diri nanti?" tanya Dewa Ashima tiba-tiba.


"Hoho! Aku benar-benar bangga padamu, Nak. Kau benar-benar besar hati. Kau akan sangat pantas jika menjadi Dewa Bumi selanjutnya," puji Dewa Ashima.


"Aku sudah tidak berminat untuk menjadi Dewa Bumi lagi, Guru. Jika aku nantinya bisa menjadi pemimpin ketiga dunia pun, aku akan membawa dunia tengah sebagai tempat asalku dan membuat sejarah baru," sahut Sata dengan penuh keyakinan.


"Haha! Aku suka semangatmu itu, Nak. Kau hanya perlu mengulangi beberapa latihanmu di seminggu terakhir sebelum Kompetisi Ahli Bela Diri agar teknik bela dirimu semakin kuat," saran Dewa Ashima.


"Aku akan mengingat saran anda, Guru! Sekarang sebaiknya aku segera pulang ke rumah. Tadi pagi aku pergi tanpa pamit kepada ayah dan ibu. Mereka berdua pasti sangat khawatir," ucap Sata sambil membereskan kiosnya dan bersiap untuk pulang ke kediaman keluarga Himamura.


"Hmm . . . aku rasa semua pembeli sama sekali tidak mengenaliku sebagai Ahli Peracik tingkat enam yang memenangkan tes. Terkecuali hanya Tetua Hito saja yang mengenaliku," pikir Sata sambil berjalan untuk pulang ke kediaman keluarga Himamura.


"Aku rasa juga seperti itu, Nak. Em . . . sebaiknya ketika kompetisi nanti kau sembunyikan dulu identitasmu. Lalu, ketika kau sampai di arena kompetisi, kau bukalah penutup muka yang selalu kau pakai secara terang-terangan di hadapan banyak orang. Hoho! Sepertinya itu akan sangat menarik," ucap Dewa Ashima sambil tertawa.


***

__ADS_1


Seminggu kemudian ....


Hari Kompetisi Ahli Bela Diri yang diadakan selama satu tahun sekali pun di gelar di Kota Wangshi. Kompetisi ini diadakan di alun-alun kota Wangshi. Terdapat arena khusus di alun-alun untuk Kompetisi Ahli Bela Diri.


Kompetisi ini pun disaksikan secara langsung oleh Walikota kota Wangshi. Ia merupakan seorang Walikota sekaligus Kepala Keluarga Takeda. Tentunya hari ini ia juga datang sebagai ayah yang mendukung putranya untuk memenangkan Kompetisi Ahli Bela Diri kali ini.


Tiba-tiba, semua warga bersorak ramai karena kedatangan seorang pemuda yang menggunakan penutup muka kain hitam. Pemuda tersebut ialah Sata. Seorang Ahli Peracik tingkat enam yang lolos dalam Tes Elemen Ahli Bela Diri. Para warga bersorak ramai dikarenakan Sata berasal dari rakyat kalangan bawah seperti mereka.


Sata kini masih menyamar dan belum menunjukkan identitas aslinya. Walikota yang melihat kejadian ini pun, maju ke depan arena kompetisi untuk menyuruh semua warga diam. "Harap tenang, semuanya! Kompetisi masih belum dimulai. Saya harap para warga bisa tetap bersikap tertib hingga Kompetisi Ahli Bela Diri dimulai sampai dengan berakhirnya acara ini," ucap Walikota.


"Lalu, saya harap kau bersedia membuka penutup mukamu itu, Nak!" pinta Walikota sambil menunjuk ke arah Sata.


"Mari kita lihat bocah dari keluarga mana yang berani mengaku sebagai Ahli Peracik tingkat enam dan membuat keributan seperti ini," batin Walikota.


"Baik Walikota! Saya akan segera membukanya," sahut Sata sambil membungkukkan badannya.


Kemudian, Sata membuka penutup mukanya. Betapa terkejutnya semua warga yang melihat wajah di balik penutup muka tersebut. Tiba-tiba, Tuan Muda dari keluarga Himamura maju ke depan karena merasa orang yang mengaku sebagai Ahli Peracik tingkat enam tersebut wajahnya terasa tidak asing baginya.


"Sata? Apakah benar itu adalah kamu?" tanya Tuan Muda Himamura sambil maju dari tengah-tengah kerumunan warga.


***


BERSAMBUNG.....



● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏


● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏


● Klik FAVORIT ❤


● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆

__ADS_1


TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏


__ADS_2