
Kemudian, Sata berlatih mengedalikan elemen api terlebih dahulu. Tak butuh waktu lama baginya untuk berlatih mengendalikan elemen api karena ia merupakan seorang Ahli Peracik. Lalu, Sata melanjutkan latihannya pada sebuah teknik yang diberikan oleh gurunya.ย
***
Sata meniru langkah-langkah dalam berlatih teknik 'Api Menari' yang terdapat dalam gulungan yang diberikan gurunya. Bola-bola api keluar dari kedua tangannya. Bola api tersebut membumbung tinggi vertikal sekitar setengah meter diatas tangannya. Kemudian, Sata lemparkan bola-bola api ditangannya pada sebuah pohon. Pohon itu pun terbakar habis tanpa sisa hanya dalam beberapa detik.
"Bagus, Nak! Kau berhasil mempelajari level pertama dari teknik 'Api Menari'," puji Dewa Ashima pada muridnya.
"Wah . . . benarkah, Guru? Syukurlah! Aku sebelumnya belum pernah belajar Ahli Bela Diri menggunakan elemen seperti ini karena di dunia atas tidak ada klasifikasi elemen bela diri. Aku pun berusaha mempelajarinya dengan sungguh-sungguh," ujar Sata dengan semangat.
"Hahaha! Teknik-teknik bela diri yang kau punya itu juga akan berguna, Nak. Teknik tersebut akan semakin hebat jika dikombinasikan dengan elemen ahli bela diri yang kau miliki," sahut Dewa Ashima sambil tersenyum.
"Lanjutkanlah latihannya hingga level ketiga! Untuk level empat dan lima nanti akan aku bimbing cara pelatihannya karena sedikit agak rumit daripada tiga level dibawahnya. Apa kau mengerti, Nak?" lanjut Dewa Ashima dengan tegas.
"Baik Guru aku mengerti!" jawab Sata dengan semangat.
Sata lalu melanjutkan latihannya. Udara disekitarnya menjadi semakin panas seiring level teknik 'Api Menari' yang dipelajarinya semakin meningkat. Dewa Ashima memerhatikan latihan ahli bela diri muridnya dari kejauhan dengan serius.
Satu per satu bola api kembali terbentuk di atas tangan Sata. Sata kini sedang mempelajari level kedua dari teknik 'Api Menari'. Bola api tersebut perlahan membentuk sebuah lingkaran api berdiameter kecil. Kemudian, Sata lemparkan api tersebut pada sebuah batu berukuran besar. Batu itu pun lalu terbakar habis tanpa sisa.
Pada saat mempelajari teknik level ketiga, cara pembentukan api sedikit berbeda. Pembentukan api pada teknik level ini menggunakan kedua kaki yang ditendang-tendangkan ke tanah, lalu perlahan muncul percikan-percikan api yang perlahan membentuk sebuah bola beukuran besar. Kemudian, Sata menendang bola tersebut ke arah udara. Bola api pun langsung meledak dan menimbulkan suara ledakan yang besar.
"Hebat, Nak! Sudah cukup latihannya! Ke depannya kau hanya perlu terus mengulanginya agar semakin mahir. Sekarang aku akan mulai menjelaskan tentang teknik 'Api Menari' level empat dan level lima. Apa kau sudah siap, Nak?" tanya Dewa Ashima pada muridnya.
"Siap, Guru!" sahut Sata dengan penuh semangat.
***
"Pada level keempat dan kelima ini, kita akan belajar menanamkan elemen api di dalam tanah. Hal ini sangat berguna untuk serangan jarak dekat, tidak seperti level satu sampai tiga yang berguna untuk serangan jarak jauh. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah fokuskan pikiranmu. Lalu, pijakkan kaki kananmu ke tanah, lalu alirkan elemen api yang ada ditubuhmu ke tanah melalui jiwamu, rasakanlah secara perlahan suhu di daerah sekitarmu naik walau elemen apinya tidak terlihat. Selanjutnya, ketika musuh datang menyerang, kau hentakkanlah kaki kananmu ke depan, lalu keluarlah lava panas yang melesak ke atas tanah bagaikan air mancur menari. Kau cobalah, Nak!" perintah Dewa Ashima.
"Duar! Duar! Duar!"
Dewa Ashima mempraktikkan teknik 'Api Menari' level empat agar Sata dapat memahami setiap langkah-langkahnya. Lava panas pun tiba-tiba melesak keluar dari dalam tanah disertai suara ledakan yang menyebabkan udara di sekitar menjadi panas. Mata Sata berdecak kagum melihat lava panas yang keluar dari dalam tanah.
"Baik, Guru! Saya akan mencobanya," sahut Sata dengan semangat.
Kemudian, Sata mempraktikkan setiap langkah yang diajarkan gurunya. Tak butuh waktu lama untuk mempelajarinya karena jiwa Sata sudah berada di tingkat atas yang menyebabkan elemen apinya dengan sangat mudah keluar dari tanah. Dewa Ashima pun memandang muridnya dengan tatapan puas.
"Untuk tingkat yang kelima aku akan ajarkan lain kali. Sini kemarikan gulungannya! Aku rasa . . . sampai tingkat empat pun cukup jika kau mengikuti kompetisi kali ini," ucap Dewa Ashima secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Eh? Mengapa tidak sekarang saja, Guru!" keluh Sata.
"Kau jangan rakus, Bocah Bau! Sebaiknya kau sekarang belajar mengendalikan elemen apimu dengan teknik Ahli Bela Diri yang kau punya di dunia atas. Aku ingin lihat teknik hebat apa yang kau punya," titah Dewa Ashima.
"Baiklah, Guru! Aku akan mencoba menggabungkan teknik dari dunia atas yaitu teknik 'Langkah Kilat' dengan elemen api," jawab Sata dengan serius.
"Hoho! Cobalah, Nak. Aku ingin melihatnya," titah Dewa Ashima.
***
Kemudian, Sata melangkahkan kaki kanannya ke depan tubuhnya dan membuat sebuah pola setengah lingkaran. Tiba-tiba, tubuh Sata menghilang dan hanya tinggalah elemen apinya yang berkobar di atas garis yang ia buat. Di dunia atas, teknik ini biasanya digunakan untuk melarikan diri dari serangan musuh yang lebih kuat ataupun untuk menyerang musuh secara tiba-tiba. Namun, seberapa jauh pengguna teknik ini dapat melarikan diri ditentukan oleh tingkatan Ahli Bela Diri penggunanya.
Teknik 'Langkah Kilat' ini adalah teknik untuk memindahkan tubuh pengguna teknik dengan udara kosong di atas pola yang telah dibuat. Namun, karena Dewa Ashima memerintahkan Sata menggabungkannya dengan elemen api, maka muncullah api di atas pola tersebut, sedangkan keberadaan Sata menghilang entah kemana.
"Guru, aku di sebelah sini!" teriak Sata yang berada di samping Neko.
"Hoho! Kau berhasil, Nak. Mungkin latihan hari ini cukup sampai di sini saja. Kau harus segera pulang ke rumahmu untuk kembali membantu ibu dan ayahmu," ucap Dewa Ashima.
"Baiklah, Guru! Aku akan segera pulang," dahut Sata.
"Guru . . . bolehkah aku mau bertanya satu hal," lanjut Sata tiba-tiba.
"Aku rasa . . . jika membawa Neko dan Buraku di luar akan menimbulkan banyak perhatian dari ahli-ahli hebat. Aku pikir . . . lebih baik Neko dan Buraku aku sembunyikan di cincin penyimpanan ini. Namun, apakah mereka tidak akan memakan pil di dalam cincin penyimpanan ini?" tanya Sata.
"Tentu saja tidak, Tuan. Kami para binatang buas tidak menyukai pil obat, melainkan tanaman obatnya secara langsung," jawab Buraku secara tiba-tiba.
"Haha! Tuh, Buraku sudah menjawabnya. Aku tidak perlu menjawabnya lagi," sahut Dewa Ashima sambil tertawa.
"Kalau begitu . . . kalian akan memakan tanaman obat yang ku simpan?" tanya Sata lagi.
"Tidak, Tuan. Kita tidak berani!" tolak Buraku sambil menggelengkan kepalanya. Neko pun ikut menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia takkan mamakan tanaman obat milik tuannya.
"Hmm . . . apakah kamu tahu asal Neko itu darimana, Buraku?" Sata bertanya lagi.
"Itu . . . biasanya habitat harimau putih terdapat di hutan binatang buas dekat Perguruan Ryusei di Kekaisaran Nagayama," jawab Neko ragu.
"Kenapa kau menjawab dengan ragu-ragu seperti itu?" Sata bertanya lagi.
"Aku . . . tidak terlalu tahu, Tuan. Sebelumnya aku jarang keluar dari hutan Kosakabe. Baru kali ini aku pergi sangat jauh meninggalkan kelompokku," ucap Buraku.
__ADS_1
"Sudah-sudah! Sebaiknya kalian segera pulang!" perintah Dewa Ashima.
"Aku pun akan segera masuk ke dalam kalungmu itu. Oh, aku ada satu hal yang lupa aku beritahu padamu, Nak. Jika kau takut Neko dan Buraku akan memakan pil dan tanaman obatmu, sebaiknya mereka juga tinggal di dalam kalungmu saja agar aku tidak kesepian. Sebenarnya, di dalam kalungmu itu terdapat sebuah dunia pararel yang sangat luas. Jadi, tidak masalah andai kata kau mau membuat kerajaan binatang buas pun disana," jelas Dewa Ashima.
"Woah . . . apakah aku dan kelompokku bisa tinggal disana, Tuan? Aku ingin mencari tempat berlindung yang aman untukku dan kelompokku," pinta Buraku tiba-tiba.
"Tidak boleh! Satu ular saja aku takut apalagi satu kelompok. Lagi pula, nantinya akan berapa banyak darah yang aku keluarkan untuk mengikat kontrak dengan kelompokmu itu," tolak Sata dengan tegas.
"Itu menguntungkan bagimu, Nak. Kau akan mempunyai sebuah pasukan binatang buas yang hebat. Apalagi piton hitam ini jenis binatang buas yang sangat langka," saran Dewa Ashima.
"Itu . . . aku bisa memikirkannya nanti," jawab Sata ragu.
***
Kemudian, Dewa Ashima, Neko, dan Buraku pun masuk ke dalam kalungnya Sata. Sata lalu bergegas pulang ke rumahnya karena waktu sudah menjelang malam. Di perjalanan pulang, Sata tiba-tiba dihentikan oleh seorang gadis yang memakai cadar merah. Gadis bercadar itu menghadang Sata dan menghalangi jalannya.
"Apa maumu?" tanya Sata singkat.
"Walau pun pakaianmu itu terlihat usang, tapi aku tahu kau adalah seorang Ahli Bela Diri yang hebat. Jadi, mari kita bertarung!" ajak Wanita bercadar itu secara tiba-tiba.
"Dug!"
Wanita bercadar itu tiba-tiba menendang Sata. Namun, Sata berhasil menghindarinya. "Saya tidak punya waktu untuk meladenimu, Nona. Saya masih banyak pekerjaan di rumah. Saya permisi dulu," ucap Sata sambil menggunakan teknik 'Langkah Kilat' untuk melarikan diri. Tubuh Sata pun lalu menghilang dari pandangan wanita bercadar itu.
"Sial! Lagi-lagi dia melarikan diri! Awas saja ketika kita bertemu kembali," gerutu Wanita bercadar itu kesal.
***
BERSAMBUNG.....
โ LIKE๐ dan tambahkan KOMENTAR๐ฉ agar author rajin update setiap harinya๐
โ Mohon kritik dan sarannya semua reader๐
โ Klik FAVORIT โค
โ VOTE novel ini โโโโโ
__ADS_1
TERIMA KASIH.....๐๐๐