Rewind Love

Rewind Love
CHAPTER 00 : PROLOG


__ADS_3

Pada masa ini, tak ada lagi waktu untuk menyesal. Semua yang telah terjadi, akan terbawa oleh arus waktu. Seakan-akan, semua kenangan itu akan hilang ditelan samudra.


Jika bisa, apakah aku bisa kembali ke waktu itu?


Harapan yang aku lantunkan setiap hari, membuatku semakin depresi. Karena semua itu hanyalah khayalan diriku semata. Tiada yang lebih indah dari bualan yang telah kubuat semasa hidupku.


Aku salah menanggapi semua itu. Aku percaya bahwa apa yang telah aku impikan akan menjadi suatu kenyataan yang indah.


Tetapi, realita justru berbanding terbalik dengan semua khayalan itu.


Hidupku kini telah hancur. Aku hanya dapat memandangi bintang-bintang malam seorang diri. Tanpa seseorang berada disisiku menemaniku hingga akhir hayat.


Jika saja, waktu itu aku tidak berharap kepada seorang gadis terlalu berlebihan, mungkin aku masih bisa melalui percintaan remaja yang romantis.


Namaku Indra Christian. Seorang pria kantoran yang berusia 37 tahun.


Meski demikian, tiada seorangpun yang ingin menikah denganku. Bahkan sejak remaja, tiada satupun siswi yang ingin menerimaku. Sungguh malang nasibku ini.


Walaupun aku tidak akan bisa dicintai oleh seorang wanita pun, namun aku cukup baik dalam pekerjaan yang aku jalankan setiap harinya. Orang-orang masih menghormati diriku.


Karena diriku merupakan seorang bos dari perusahaan terkenal. Gaji yang telah diterima olehku setiap bulannya dapat melebihi 100 juta rupiah!


Sekarang ini, aku baru saja pulang dari pekerjaanku dan bergegas untuk menuju ke rumah yang tidak jauh dari kantor tempat dimana diriku bekerja.


Dengan membawa beberapa perlengkapan yang telah dipersiapkan, diriku pergi dari kantor itu kira-kira pukul 23.50 malam.


Baru saja keluar dari gedung perkantoran, aku melihat jalanan yang sepi. Tiada satu kendaraan pun disana. Aku pulang dengan perasaan hampa yang menghantuiku.


Tiba-tiba, aku melihat seorang polisi wanita mendekat ke arahku sambil melambaikan tangan kanannya. Setiap orang pasti akan berpikir bahwa aku akan ditangkap olehnya. Begitupun dengan diriku yang berpikir demikian.


Namun, setelah wanita itu menghampiriku, ia membuka topinya sambil menunduk hormat kepadaku. Selagi berlaku demikian, wanita itu berkata kepadaku, "Bukankah kau, Indra? Kita dulu pernah satu sekolah!"


"Benar, aku Indra. Tapi, siapa kau? Apakah aku mengenalmu?"


"Hmm… mungkin tidak. Tapi aku mengenalmu!"


"Begitu, jadi ada urusan apa?" tanyaku kebingungan.


"Tidak ada urusan apapun, aku hanya kebetulan melihatmu. Kalau begitu, mau ke taman di dekat sini? Kebetulan, taman itu buka selama dua puluh empat jam!"


"T-Tentu."


Setelah perbincangan hangat yang terjadi, kami segera berjalan menuju taman yang tidak jauh dari tempat pertemuan kami. Hanya beberapa meter saja, kami dapat sampai dengan cepat.

__ADS_1


Saat kamu masuk ke dalam taman itu, tidak ada seorangpun yang ada di sana. Suasana di taman itu cukup mencekam dengan disertai lolongan serigala yang cukup mengerikan.


"Jadi, kenapa kau membawaku kemari?" ucapku membuka pembicaraan.


"Kau tahu, besok aku akan menikah dengan seorang pria."


"Oke? Lalu, aku harus bagaimana?"


"T-Tidak."


Sesaat, aku kebingungan dengan pertanyaan yang ia lontarkan itu. Dan, setelah melihatnya mengeluarkan air mata, aku jadi sedikit khawatir dengan kondisinya. Maka dari itu, aku memutuskan untuk bertanya tentang hal itu lebih lanjut.


"Apakah kau akan menikah dengan pria yang tidak kau cintai?" tanyaku memastikan.


Gadis itu mengangguk sambil berkata, "Iya."


"Apakah kau ingin aku membantumu untuk membatalkan pernikahanmu."


"Pernikahan itu tidak bisa dibatalkan. Orang tuaku sudah menjodohkanku dengannya, dan aku tidak bisa membantah perkataannya." keluh gadis itu.


"Kalau begitu, siapa pria yang kau cintai itu?"


Gadis itu menghela nafasnya sejenak, kemudian menghadap ke arahku, sambil memegang suatu benda di kantongnya.


Segeralah gadis itu mengeluarkan benda di kantongnya itu, dan menodongkannya kepadaku.


Sebuah Pistol?!


Gadis itu tersenyum dengan indah dibawah rembulan yang terang, sambil berkata kepadaku, "Kaulah orang yang kucintai! Bahkan sejak dulu saat kita masih bersekolah!"


Mendengar itu, hatiku berdegup sangat kencang. Dibawah bintang-bintang nan indah, karena pada akhirnya ada seorang wanita yang menyatakan perasaannya kepadaku. Wanita itu terlihat sangat cantik dan berkilau dibawah rembulan malam ini. Pandanganku tidak dapat teralihkan oleh kecantikan yang dipancarkannya.


"Oke, tetapi kenapa kau-"


Saat ingin berbicara, aku tidak dapat bernafas dengan benar. Seolah-olah, terdapat sebuah benda yang tersangkut di jantungku. Dan, pada saat aku melihat pistol yang dipegang oleh wanita itu, ternyata ia telah menarik pelatuknya.


Disaat aku melihat pakaianku, semua itu telah berlumur dengan darah. Keseimbanganku rapuh, membuat diriku terjatuh ke tanah.


"Maafkan aku, karena aku tidak memiliki cukup waktu. Mereka telah tiba, para polisi yang akan menangkapku."


Begitu dirinya berkata demikian, para polisi mulai memegang tangannya dari belakang dan memborgolnya.


Aku mencoba untuk bertanya alasan mengapa dirinya menembak diriku, "Kenapa, kau-"

__ADS_1


Namun, wanita itu hanya menangis sambil tersenyum dan berkata kepadaku, "Selamatkanlah aku! Aku percaya dengan adanya reinkarnasi. Maka dari itu, buatlah aku jatuh cinta kepadamu lagi supaya aku dapat menyatakan perasaanku dengan cepat!"


Setelah berkata demikian, wanita itu meninggalkanku sendirian di kegelapan malam bersama beberapa polisi yang sedang mencoba menghubungi ambulans.


Ah… Apakah aku akan mati?!


Tidakkah aku dapat merasakan kenikmatan percintaan remaja sekali saja?


Reinkarnasi?


Jika hal itu memang ada, tolonglah! Biarkan diriku hidup sekali lagi! Biarkan aku bertemu dengan wanita itu lagi!


Dan… Biarkanlah diriku untuk BALAS DENDAM kepada gadis yang telah mengkhianati diriku!!!


Sebelum aku menutup mataku rapat-rapat, aku melihat seekor burung berwarna putih terang melintas di sekitarku. Burung yang cantik itu memiliki sayap yang seindah malaikat.


Setelah itu, muncul sebuah cahaya putih yang sangat terang. Terangnya membuat mataku tak dapat melihatnya dengan jelas. Cahaya putih itu semakin lama semakin terang, hingga membuat pandanganku kabur.


Setelah cukup lama, saat cahaya itu tidak ada lagi dihadapanku. Aku mencoba untuk membuka mataku. Terbangunlah diriku di sebuah ruangan yang tidak asing bagiku.


Seorang pria dewasa sedang berdiri di hadapanku. Pria itu terlihat sangat kesal dan seperti ingin meluapkan emosinya.


"Hei kau!! Berani sekali kau tidur di saat pelajaran Bapak!" kesal guru itu.


Akhirnya, mataku terbuka dengan lebar. Melihat teman-teman lamaku membuatku nostalgia. Seakan-akan, aku ingin bertemu dengan mereka dan bermain dengan mereka kembali.


"Hei, apa kau tidak dengar! Keluar dari kelas ini!" teriaknya.


"M-Maaf, Pak!"


Setelah itu, aku pergi berjalan menuju ke luar kelas dengan disertai tawa dari teman-temanku.


"Sialan, mereka itu memang ada-ada saja." Sambil berpikir demikian, air mata mulai mengalir dari mataku, mengingat wajah dari teman-temanku.


Rasa senang mulai muncul dari dalam diriku, seolah-olah ingin meledak seperti sebuah gunung. Aku bahkan sampai melompat-lompat di luar kelas.


Apakah aku kembali ke masa lalu?!


Saat sedang kegirangan akan itu, seorang gadis rupawan melintas di sampingku. Seorang gadis yang sangat anggun dan elegan.


"Bukankah gadis itu adalah wanita yang menyatakan perasaannya kepadaku?"


~ BERSAMBUNG ~

__ADS_1


__ADS_2