Rewind Love

Rewind Love
CHAPTER 08 : KAMPANYE OSIS


__ADS_3

Sudah saatnya kampanye OSIS berlangsung. Semua siswa berangsur-angsur untuk memilih ketua yang pantas. Walaupun beberapa dari mereka, sudah tentu memilih temannya sendiri. Untuk mengatasi hal itu, aku memiliki rencana yang sempurna untuk menaklukan hati para siswa. Namun, aku memerlukan bantuan dari Elena untuk melancarkan rencanaku.


Rencanaku adalah membuat Elena untuk menjadi seorang bintang yang dapat membuat para siswa-siswi menyukainya. Walaupun pada awalnya dia sudah dikenal banyak orang, aku hanya ingin membuatnya lebih terkenal lagi.


Dengan demikian, kami berkumpul untuk melaksanakan rencana tersebut. Sebelum itu, aku menanyakan kepada Harris apakah posternya telah dicetak atau belum.


"Harris, bagaimana dengan posternya? Apakah sudah kau print?" tanyaku memastikan.


"Sudah, semua sudah aku kerjakan. Kau bisa mengambil poster itu di ruang komputer." Harris menjawab.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengambilnya. Harris ikutlah denganku untuk menempelkan poster itu. Dan kau, Elena. Presentasikan tentang dirimu di depan para siswa, supaya wajahmu bisa lebih dikenali oleh siswa."


"Baik." balas mereka berdua.


Setelah perancangan tersebut usai, kami segera melakukan tugas kami masing-masing. Aku pergi bersama dengan Harris untuk mengambil poster yang berada di ruang komputer. Sementara Elena pergi ke tempat dimana para murid berkumpul. Ia diharuskan untuk memperkenalkan dirinya dan visi misinya jika ia terpilih sebagai ketua OSIS.


Kampanye perdebatan OSIS akan dilaksanakan siang nanti pada pukul 12.00, tepatnya pada tengah hari. Kampanye tersebut akan dilakukan di aula sekolah. Perdebatan antar visi dan misi para kandidat OSIS akan berlangsung sekitar 30 menitan. Jadi, aku harap Elena dapat melaluinya dengan baik.


Setelah aku sampai di depan ruang komputer, aku bertanya kepada Harris dimana tepatnya poster tersebut berada.


"Dimana poster itu, Harris?"


"Ah, disana!"


Setelah Harris berkata demikian, ia menunjuk ke arah tumpukan kertas yang berada di samping komputer tempat yang sama dimana aku menyalakan komputer untuknya pada waktu itu.


"Baiklah, akan aku lihat terlebih dahulu." ucapku sambil berjalan ke arah tumpukan kertas itu.


"Tentu saja!"


Sungguh terkejutlah diriku melihat betapa bagusnya poster yang dibuat olehnya. Ternyata bakat itu memang ada di dalam dirinya. Ia tahu dimana tempat meletakkan gambar dan tulisan yang baik dan benar. Kerapihannya juga sangat luar biasa. Dalam sekali pandang saja, aku dapat mengetahui isi dari poster tersebut. Sungguh luar biasa! Karyawanku yang satu ini memang bisa diandalkan!


"Sungguh luar biasa, Harris! Kau memang hebat dalam hal ini." sanjungku.


"Hahaha! Tentu saja! Tidak ada satupun pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan oleh Harris!"


"Kalau begitu, ayo kita sebarkan poster ini."


"Baiklah, ayo!"

__ADS_1


Setelah mengambil semua poster itu, kami segera berjalan menuju ke penjuru sekolah untuk membagi-bagikan poster. Jika kalian bertanya, mengapa perlu poster untuk kampanye itu, padahal kandidat lain tidak ada yang menggunakan poster. Maka, jawabannya sangatlah simpel! Poster itu mengandung wajah dari Elena. Hal itu bertujuan untuk seseorang yang belum mengenal siapapun dari kandidat OSIS.


Pertama-tama, kami menempelkan poster tersebut di setiap kelas. Kemudian, menuju ke papan pengumuman. Dan terakhir, di tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh para siswa.


Disaat kami sedang menempelkan poster-poster itu, Elena bertugas untuk menyebarkan informasi tentang dirinya di setiap kelas. Tidak sembarang orang dapat melakukan itu. Hanya orang-orang dengan kepercayaan diri yang tinggi saja yang dapat melakukan itu.


Setelah semua kegiatan itu selesai dilakukan, kami berkumpul di kantin pada jam istirahat untuk membicarakan sesuatu sebelum debat kampanye itu berlangsung. Kami memesan makanan kami masing-masing dan duduk bersama di dekat jendela.


"Jadi, bagaimana dengan poster itu, apakah sudah ditempel dimana-mana?" Elena memulai pembicaraan dengan pertanyaan kecil.


"Yah, sudah kami lakukan dengan baik." jawabku.


"Begitu, posternya bagus juga. Ternyata kemampuanmu jauh berbeda dari sikapmu ya." Elena menyindir Harris.


"Hei nona, aku tidak peduli dengan tanggapanmu, tapi terima kasih untuk pujiannya." Harris menjawab.


"Bagaimana denganmu, Elena? Apakah kau berhasil memperkenalkan dirimu ke semua siswa?" tanyaku.


"Tentu saja."


Disaat kami sedang berbincang antara satu dengan yang lain. Tiga orang gadis datang kepada kami. Salah satu dari mereka berkata, "Indra, bisakah kami duduk di sini juga?"


"Ah, maksudmu Vera dan Teresa? Memangnya kenapa? Lagipula, Vera ingin meminta maaf kepadamu." Kirana membisik kembali.


"Meminta maaf? Untuk hal apa?"


"Entahlah, dia bilang dia ingin meminta maaf kepadamu."


Selagi kami saling berbisik, Vera dan Teresa berjalan ke arah Elena dan memohon izin untuk diperbolehkan duduk di tempat itu. Elena pun mengizinkan dan membiarkan mereka untuk duduk disampingnya. Berbeda dengan Kirana, dirinya justru langsung duduk disebelahku tanpa perizinan apapun.


Suasana menjadi sangat canggung setelah kedatangan mereka semua. Tiada suara yang terdengar dari kami semua.


"I-Indra! Ada sesuatu yang harus aku ucapkan kepadamu!" Vera berteriak.


"Eh? Tentu, katakan saja."


"S-Sebenarnya, aku- aku- emm… Maaf sepertinya tidak jadi!"


"Lah?! Aku tidak paham apa yang kau inginkan ini."

__ADS_1


"M-Maaf!!"


Setelah berkata demikian, ia pergi meninggalkan kami dan berlari tanpa arah tujuan yang jelas. Orang itu sudah pasti merahasiakan sesuatu dariku. Entah apa itu, tapi sepertinya berhubungan denganku dan temanku.


"Jadi, kalian tidak akan mengejarnya?" tanyaku kepada teman-teman dari Vera.


"Hmm… aku malas mengejarnya." Kirana membalas.


"Sejujurnya, aku juga agak risih dengannya. Dia tidak ingin menceritakan masalahnya kepadaku." Teresa menyaut.


"Hmm.. kira-kira, apa masalahnya ya sampai-sampai dia tidak ingin berbicara kepada para sahabatnya." tanyaku.


"Entahlah."


"Sudahlah, mari kita kembali ke topik!" Elena berseru.


"Kalian sedang membicarakan apa?" Kirana bertanya.


"Kami sedang membicarakan tentang debat kampanye nanti. Elena merupakan salah satu kandidatnya!" ucapku menjelaskan.


"Begitu ya."


Namun, disaat kami ingin kembali membahas tentang itu, suara bel sekolah berbunyi. Itu menandakan bahwa kami harus masuk ke dalam kelas. Debat kampanye itu akan dilaksanakan setelah dua jam pelajaran dari istirahat ini.


Kring… Kring…


"Sepertinya kita kehabisan waktu. Intinya, berjuanglah, Elena!" ucapku menyemangatinya.


"Tentu, terimakasih Indra!"


"Aku tidak terlalu ingin terlibat. Tapi, semangatlah siapapun namamu itu!" seru Harris.


Elena tersenyum tipis sambil berkata, "Setidaknya ingatlah namamu, dasar bocah! Tapi, terimakasih telah membantuku!"


Dengan demikian, ia meninggalkan kami, dan berjalan duluan menuju kelas. Kami segera bergegas menuju ke dalam kelas sebelum guru yang mengajar pada saat itu, telah sampai di kelas.


Kami belajar seperti biasanya, hingga jam pelajaran kedua berakhir. Beberapa jam itu berlalu dengan sangat cepat. Hingga tibalah waktunya untuk debat kampanye dari para kandidat OSIS.


Kau pasti berhasil, Elena!

__ADS_1


~ BERSAMBUNG ~


__ADS_2