Rewind Love

Rewind Love
CHAPTER 01 : MASA REMAJA


__ADS_3

Sebenarnya, aku teringat akan kejadian itu. Semua terasa tidak asing bagiku. Saat dimana gadis itu melintasi diriku yang berada di luar kelas akibat hukuman dari guru.


Dahulu sekali, aku pernah mengalaminya. Dan pada saat gadis itu melewatiku, hatiku terasa sedikit ganjal. Mungkin pada saat itu, aku yang melakukan perjalanan waktu mencoba untuk memberitahukan pikiranku di masa lalu.


Ternyata memang benar, bahwa waktu itu selalu terhubung. Entah kapanpun itu dan dimanapun itu, waktu akan terus mengalir bagaikan ombak di laut.


Kring… kring… kring…


Tak terasa, jam pelajaran telah berakhir. Kini aku dapat kembali masuk ke dalam kelas. Para guru mulai keluar dari kelas, disertai dengan gerombolan siswa yang keluar satu per satu untuk menuju kantin.


Tanpa pikir panjang, aku masuk ke dalam kelas dengan percaya diri. Tak sabar aku melihat wajah teman-temanku di masa remaja ini.


Hingga pada akhirnya, aku pun berjalan ke arah mereka dengan santainya. Pada saat itu, mereka sedang mengobrol satu sama lain.


Disaat aku sudah berada di dekat mereka, pandangan mereka langsung berpaling ke arahku.


"Hahaha! Kenapa kau bisa ketiduran!" sindir salah seorang dari mereka.


Namanya Bayu Darmawan. Umurnya sama denganku saat ini. Tingginya sedikit lebih tinggi dari diriku. Memiliki sikap yang baik, namun selalu terlihat konyol di depan orang. Dia adalah teman baikku selama ini.


"Tadi malam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak."


"Hahaha, bilang saja kau bosan dengan pelajaran!"


"Yah, sebenarnya aku memang tidak niat belajar sih."


"Benarkan! Aku sudah tahu sifatmu!"


Disaat kamu sedang berbincang bersama, seseorang menyela pembicaraan kami. Dengan paras tampan dan gagah, ia datang ke tengah-tengah kami.


"Hei, kalian sedang membicarakan apa?" laki-laki itu bertanya.


Dia adalah salah satu dari temanku. Namanya Ryan Mahendra. Seseorang yang lahir dari keluarga kaya dan kedudukan yang tinggi. Entah kenapa, dirinya justru bergaul dengan kami yang hanya seorang warga biasa.


"Tidak, kami hanya membicarakan Indra yang dimarahi oleh guru tadi. Hahaha, aku masih saja tidak bisa berhenti tertawa!" Bayu tertawa sambil memukul-mukul meja dengan keras.

__ADS_1


"Oh begitu, aku juga tadi hampir tertawa. Lagian, kenapa kau tidur saat pelajaran guru killer sih?" Ryan bertanya.


"Yah, tadi malam aku tidak bisa tidur nyenyak!"


"Hahaha, kau pasti memikirkan dia bukan?" Bayu mengejek.


"Dia?!"


Dari perkataannya itu, membuatku berpikir sejenak. Memikirkan orang yang disebut, 'dia' itu. Tiada seorangpun yang terbayang di pikiranku pada saat ini. Hanya karena perkataan itu, aku jadi berpikir terlalu keras.


~ Siapa?! Siapa dia itu?!


Ucapannya menggema di pikiranku, seolah-olah membuatku terbawa oleh arus angin yang kencang. Aku masih tidak mengerti. Lagi pula aku telah melupakan semua orang yang kucintai dulu. Jadi, tidak ada seorangpun yang terpikirkan olehku saat ini. Daripada kebingungan menyelimuti diriku semakin dalam, aku mencoba untuk bertanya mengenai hal itu.


"Emm… ngomong-ngomong, dia itu siapa?"


Semua temanku terkejut mendengar itu. Mereka tak percaya dengan apa yang didengarnya. Teman-temanku hanya menganggap hal itu sebagai lelucon belaka. Karena, tidak mungkin seseorang mudah melupakan orang yang dicintainya.


"Kau pasti bercanda, kan? Kau tidak mungkin melupakan dia!" bantah Bayu.


Gadis rupawan nan imut itu, tidak asing bagiku. Diriku seperti ditarik oleh sesuatu menuju ke masa-masa kelam. Terlintas di pikiranku untuk tidak berurusan dengan gadis itu. Seperti takdir yang memaksakan kehendakku untuk menjauhi gadis yang cantik nan mempesona itu.


Beberapa lama kemudian, setelah gadis itu saling bertegur sapa dengan Ryan. Ia pergi meninggalkan kami semua sambil melambaikan tangannya.


"Itulah yang kumaksudkan! Dia adalah orang yang kamu sukai, bukan?" Bayu menyela.


Setelah mendengar perkataan barusan, aku teringat akan sesuatu yang membuatku sedikit trauma akan percintaan di masa remaja. Gadis itu adalah salah satu orang yang pernah aku sukai pada masa-masa remaja.


Vera Ilona adalah nama dari gadis itu. Gadis dengan paras cantik dan rambut panjang yang memesona itu merupakan anak dari keturunan luar negeri. Maka dari itu, tiada seorangpun yang tidak menyukai gadis itu.


"Ah, aku ingat! Tapi kau tahu… sekarang aku sudah tidak menyukainya lagi." ucapku memberitahu.


"EH?!"


Teman-temanku terkejut mendengarku berbicara demikian. Lagi-lagi, mereka menganggap itu sebagai lelucon belaka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kepalaku pasti terbentuk akan sesuatu yang membuatku melupakan gadis itu.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin! Padahal kemarin kau sangat senang karena bisa memegang tangannya!" Bayu mengejek.


"Eh? Apakah aku pernah begitu?"


~ Sialan, ternyata diriku di masa lalu sungguh memalukan sekali!


Tidak disangka, aku dulu pernah berlaku demikian. Hanya karena berpegangan tangan dengan seorang gadis, aku sampai terlalu girang. Sungguh masa-masa yang memalukan untuk diulangi kembali.


"Tapi sungguh, aku tidak akan pernah menyukai gadis itu lagi." ungkapku.


Sambil berkata demikian, aku meninggalkan mereka dan berjalan menuju ke luar kelas untuk mencari udara segar.


Namun, pada saat berada di pintu kelas. Aku sedikit mendengar percakapan dari beberapa gadis yang sedang makan siang di depan kelas. Dari semua gadis itu, terdapat Vera di kelompok itu. Sepertinya mereka sedang membicarakan seseorang.


"Hei, kemarin kau berpegangan tangan dengan Indra bukan? Sepertinya dia terlalu menyukaimu? Apakah kau juga menyukai dirinya?" tanya salah seorang dari mereka.


"Hahaha! Aku menyukai seorang sepertinya? Itu tidak mungkin! Kalian ini membuatku tertawa saja!" Vera menjawab.


Jika kalian berpikir aku tersinggung dengan itu, maka kalian salah. Entah mengapa, aku tidak merasakan apa-apa dari perbincangan mereka. Mungkin, hatiku sudah menjadi batu karena semua yang telah aku lewati selama ini.


~ Karena dari awal, aku memang sudah sendirian.


Selagi aku mendengar percakapan mereka, seorang gadis lewat di hadapanku dan menuju ke arah kelas sebelah.


Gadis itu adalah gadis yang waktu itu!? Sepertinya, aku harus menghampirinya dan menanyakan namanya. Pada saat itu, dia berkata bahwa dia mempercayai reinkarnasi. Mungkin, dia mengetahui sesuatu tentang itu!


"Hei, bukankah dia adalah gadis yang paling terkenal di sekolah ini?"


Para siswa dan siswi mulai terkagum-kagum dengan kecantikan dan aura yang dipancarkan oleh gadis itu. Bahkan, cara berjalannya saja berbeda jauh dengan kita. Bisa dibilang, dia seperti seorang model!


Tanpa pikir panjang, aku berjalan ke arahnya dan mendekatinya seraya bertanya, "Kau! Bisakah kau memberitahukan namamu?"


Gadis itu tersenyum tipis kepadaku, sambil berkata dengan suara yang selembut alunan musik, "Tentu saja, namaku Elena Christine!"


~ BERSAMBUNG ~

__ADS_1


__ADS_2