
Beberapa minggu kemudian, kampanye OSIS akan berlangsung sebentar lagi. Para kandidat mulai melakukan aksi mereka untuk menjadi yang teratas dan yang terbaik. Begitupula dengan aku dan Elena yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi kandidat terbaik.
Sebelum itu, kami membuat poster yang berisi visi misi kami. Namun, tidak ada dari kita yang dapat membuat poster secara digital.
"Jadi, bagaimana cara kita membuat poster?" Elena bertanya kebingungan.
"Sebentar, aku pikir-pikir dulu."
Pada saat itu, aku terpikirkan akan salah seorang siswa yang dulu pernah bekerja di perusahaanku. Kebetulan, dia bekerja pada bagian 'Biro Iklan'. Dia juga sangat pandai dalam menggambar dan mengoperasikan komputer. Mungkin, bakat yang terpendam itu harus kita keluarkan sekarang juga!
"Aku tahu satu orang siswa yang dapat membuatkan kita poster itu." ujarku.
"Hmm… siapa itu?"
"Ikutlah denganku, kau akan tahu setelah bertemu dengannya."
Kemudian, aku menggandeng tangannya, dan membawanya ke tempat dimana siswa tersebut berada. Elena terkejut saat aku menggandeng tangannya itu. Namun, aku tidak sadar dengan itu karena sedang fokus dengan kampanye OSIS ini, dan terus membawanya sambil berjalan cepat.
Sampailah kami di depan kelas dari siswa itu. Segeralah kami masuk dan mencari-cari keberadaannya. Dan, ada seorang siswa yang tak asing bagiku. Benar, itulah orangnya! Siswa yang dulu pernah bekerja denganku. Dia cukup mahir dalam pekerjaannya, sehingga membuat perusahaan berkembang dengan pesat. Dia juga cukup sopan dengan atasannya, aku penasaran bagaimana dirinya saat masa-masa sekolah.
Namanya, Harris Anderson. Dia cukup terkenal di perusahaan karena kecakapannya dalam komunikasi. Sikapnya yang sopan membuatnya terkenal di kalangan atasan-atasan sepertiku.
Segeralah kami menghampiri mejanya dan memastikan apakah dia memang Harris, "Hei, apakah kamu yang namanya Harris?" tanyaku.
"YA! Tentu saja itu aku! Memangnya, siapa kau sialan?!"
Sungguh terkejutlah diriku melihat apa yang ada di depanku. Seseorang yang dikenal baik dan sopan di kalangan atasan, justru memiliki masa lalu seperti preman. Tidak kusangka, dia bahkan memakai tindik di telinganya. Aku tidak sadar, bahwa dia memiliki bekas tindik saat wawancara kerja waktu itu.
"Tidak, aku hanya ingin kau membantu kami untuk memenangkan kampanye osis. Jika kita menang, kau bisa menjadi sekretaris." jelas diriku.
"HAH?! Kenapa aku harus membantumu? Lagipula, aku tidak ada niatan untuk masuk osis!"
"Ayolah, aku tahu kau sangat jago menggambar dan mempromosikan. Kau mungkin bisa membuat kami menang."
"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MAU, BR*NGSEK!" teriaknya kesal sambil memukul meja dan menatapku dengan tatapan tajam.
"Tenanglah. Memangnya kenapa kau tidak mau? Lagipula, jika kau menolak, aku akan tetap memaksamu untuk ikut."
__ADS_1
Saat itu juga, kemarahannya meluap-luap bagaikan gunung yang ingin meletus. Harris kemudian menarik kerahku dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Semua orang di kelas menjadi sangat ketakutan dengan itu. Bahkan, Elena sedikit mundur dari tempatnya dengan wajah yang gemetar. Dia juga sepertinya memberikan kode kepadaku untuk tidak berurusan dengannya.
Namun, aku tidak takut dengannya.
~ Karena, akulah bosnya!
"Tidak usah marah begitu dong, lebih baik kita masuk ke osis saja. Bukankah itu lebih baik." kataku sambil tersenyum tipis.
"SIALAN KAU!!!"
Harris mengambil ancang-ancang untuk memukul ke arah wajahku, dia tak dapat menahan amarahnya lagi. Dirinya memukul ke arahku, tepat ke arah wajah. Namun, sebelum pukulan itu sampai kepadaku, aku berhasil menahannya dengan satu tangan.
"Bagaimana, apakah kau ingin bergabung dengan osis?" dirimu bertanya ulang untuk memastikan keinginannya.
"Kau hebat juga ya, bocah. Baiklah, aku akan membantumu untuk saat ini, namun jika kampanye ini telah usai, bertarunglah denganku! Jika kau menang, aku akan bergabung dengan kalian. Namun, jika kau kalah, aku akan menghabisimu sampai hancur!"
"Tentu saja." jawabku sambil tersenyum tipis.
Pada akhirnya Harris menyetujui untuk bergabung sementara dengan kami. Dan, dia mulai mengikuti kami menuju ruang komputer untuk membuat poster yang akan digunakan untuk memperkenalkan kandidat kita. Harris tidak terlalu banyak berbicara saat perjalanan, ia hanya berdiam diri sambil berjalan dengan kedua tangan berada di kantong celananya.
Hingga pada akhirnya, kami sampai di depan ruang komputer. Disana kami mencoba untuk meyakinkan Harris bahwa dirinya mempunyai bakat untuk membuat poster sederhana.
"Kau hanya perlu membuat poster." jawabku.
"Tapi, aku tidak bisa. Menyalakan komputer saja aku tidak bisa."
"Kau pasti bisa, hanya butuh percikan kecil supaya kau mahir dalam membuat poster. Kalau begitu, aku akan menghidupkan komputer ini terlebih dahulu."
Setelah berkata demikian, aku menyala komputer tersebut. Sambil menunggu komputer tersebut menyala, kami berjalan kesana-kemari tanpa melakukan aktivitas apapun. Elena kemudian menghampiriku seperti ingin menanyakan akan sesuatu.
"Kenapa kau merekrut orang sepertinya?" tanya Elena.
"Yah, kau akan tahu nanti."
"Baiklah, kau harus hati-hati dengannya."
"Tentu saja."
__ADS_1
Saat perbincangan singkat itu selesai, aku berjalan kembali menuju ke tempat dimana komputer tersebut sedang dinyalakan. Kebetulan, komputer tersebut telah berhasil dihidupkan.
"Hei Harris, kemarilah!" panggilku.
"Tunggu sebentar."
Harris langsung berjalan menuju ke arah komputer tersebut. Harris sedikit tertarik dengan alat yang bernama komputer itu. Dia seperti belum pernah menyentuh komputer. Mungkin, dia selalu membolos saat pelajaran informatika berlangsung.
"Benda apa ini? Keren juga."
"Kau tidak tahu apa ini?" Elena menyaut.
"Tidak. Tunggu dulu- siapa kau? Bukankah tadi hanya ada kita berdua ya, Indra?"
"Sepertinya kau tidak melihatnya, namanya Elena. Dialah calon ketua osis periode ini." jelas diriku.
"Begitu."
Setelah itu, aku sedikit mengotak-atik komputer tersebut untuk masuk ke dalam aplikasi pembuatan poster. Disana banyak sekali contoh-contoh poster yang dapat digunakan. Aku menjelaskan tentang beberapa fitur dari aplikasi itu dan langkah kerjanya kepada Harris. Kupikir, dia dapat mengikutinya dengan baik.
"Oh begitu doang, sepertinya mudah!" ucap Harris dengan begitu percaya diri.
"Kalau begitu, tolong buatkan kami poster, kami akan pergi dulu. Saat jam istirahat telah usai, kau boleh masuk ke kelas dan melanjutkannya nanti."
"Baiklah!"
Setelah berkata demikian, aku dan Elena pergi untuk berlatih mengkampanyekan semua perkataan yang akan diucapkan pada saat kampanye OSIS berlangsung. Kami pergi ke tempat dimana tiada satupun orang yang lalu-lalang. Di sana, kami berlatih hingga istirahat berakhir.
"Sepertinya kau sudah bisa. Kalau begitu, ayo kembali ke kelas." saranku.
"Tentu."
Pada akhirnya, kami kembali ke kelas kami masing-masing. Semua persiapan itu berakhir dengan lancar. Tiada halangan bagi kami untuk memenangkan kampanye itu.
~ Sekarang, hanya tinggal bergantung pada Harris yang sedang berjuang untuk membuat poster.
Entah hasilnya akan baik atau buruk, kita tidak tahu. Namun, aku percaya kepadanya. Karena dialah orang yang dapat membuat perusahaanku berdiri tegak.
__ADS_1
Berjuanglah, Harris!
~ BERSAMBUNG ~