Rewind Love

Rewind Love
CHAPTER 10 : MASA LALU YANG BERUBAH


__ADS_3

Saat ini, aku hanya dapat mendengar suara air dengan disertai suara ombak yang secara tipis menggema di telingaku.


Pada saat aku membuka mataku secara perlahan, terlihat sebuah tempat kosong yang amat gelap. Aku seperti tenggelam di dalamnya. Dimana semakin aku berada di dasar, semakin gelap lagi semua yang ada di sana. Hanya terdapat sebuah cahaya yang memantul dari atas sana.


Huft… Sepertinya aku telah gagal dalam menepati janjiku terhadapnya.


Hahahaha, aku ini memang seorang pecundang! Mungkin sifatku yang seperti ini yang membuatku tidak dapat menarik perhatian satu orang gadispun.


Apakah aku akan menyerah dengan semudah ini?


Tidak, ini bukan diriku! Aku harus bisa bangun kembali dan menyelamatkan mereka!


"Kumohon! Kumohon! Biarkanlah aku kembali!"


Disaat aku berpikir demikian, secarik cahaya putih menghampiriku dari atas sana turun menuju dasar. Cahaya itu tidak asing bagiku. Dialah cahaya yang menyinariku hingga aku dapat kembali ke masa lampau. Cahaya itu membuatku dapat melayang-layang, seakan-akan seperti sedang berenang di lautan dalam.


"Kau? Sebenarnya kau ini apa?"


Namun, tiada satupun suara yang terdengar dari cahaya itu.


Tanpa peringatan, cahaya itu menjadi sangat terang hingga membuat pandanganku menjadi kilauan putih. Aku tidak dapat melihat apa yang ada di sekitarku!


"Akh!"


Setelah cahaya itu hilang, aku terbangun di sebuah tempat yang penuh dengan selang di sekitar tubuhku, juga alat-alat elektronik yang hanya digunakan oleh para medis kepada pasiennya.


T-Tunggu, aku berada di rumah sakit? Tubuhku kembali seperti saat aku dewasa.


Apakah semua itu hanya mimpi belaka?


Disaat aku melihat sekeliling, seorang perawat melintasi ruanganku dan terkejut setelah melihatku terbangun dari tidur. Perawat itu segera memanggil dokter yang merawatku selama ini.


Saat ini, banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada diriku sendiri. Tetapi, dari semua pertanyaan itu, aku mengambil kesimpulan. Bahwa semua yang telah kualami, hanyalah mimpi belaka. Walaupun aku tidak dapat membuktikan hal itu, aku percaya bahwa semua itu tidaklah nyata. Lagipula, perjalan waktu itu adalah hal yang mustahil bukan?


Tiba-tiba, seorang dokter datang ke ruanganku sambil berlari terengah-engah.


"Sepertinya kau sudah sadar ya!" ucap dokter itu.


"..."

__ADS_1


Aku tidak mengucapkan sepatah katapun kepadanya, karena aku masih bingung dengan apa yang sedang terjadi sebenarnya.


"Kau telah tertidur selama satu bulan, namun pada akhirnya, kau sudah selamat ya! Aku telah berhasil mengeluarkan peluru yang ada di jantungmu. Sungguh sebuah keajaiban karena kau masih bisa selamat setelah jantungmu terkena tembak. Sebenarnya, pusat kehidupanmu itu ada di mana sih?" jelas dokter itu.


Setelah mendengar penjelasannya, aku semakin yakin bahwa apa yang kualami hanya sebuah mimpi.


"Dok, bagaimana dengan perusahaanku?" tanyaku memastikan.


"Oh, perusahaanmu sedang dijalani oleh wakilmu dan berjalan dengan baik."


"Begitu, sedang dijalani oleh wakilku? Dia itu orang yang bernama Rena, bukan?" tanyaku.


"Rena? Siapa itu? Bukankah wakil dari perusahaanmu adalah dia yang bernama Harris?"


"A-Apa? Harris?! Tapi, diakan baru melamar kerja beberapa bulan ini?"


"Hmm… menurut dokumen, dia telah bersama denganmu selama beberapa tahun. Bagaimana kau bisa melupakannya?"


"T-Tunggu dulu!!"


Pada saat itu, pikiranku menjadi kacau. Seakan-akan, mimpi itu bukanlah sekedar mimpi biasa.


Diriku benar-benar melintasi waktu!


"Dok, apakah kau ingat siapa orang yang menembakkan peluru kepadaku? Jika kau tahu, apakah kau bisa memberitahukan dimana dirinya sekarang?" tanyaku kebingungan.


"Aku tidak tahu secara mendetail, tapi orang yang menembakmu adalah seorang pria dengan tinggi badan sedikit lebih tinggi darimu. Dan, dari apa yang kudengar, dia merupakan pewaris dari seorang konglomerat!"


"S-Seorang pria?!"


Lagi-lagi, semua perkataannya menghantuiku. Semua ini tidak ada hubungannya dengan diriku yang saat itu ditembak dengan pistol oleh Elena.


Apakah masa lalu telah berubah?


Bagaimana bisa? Dan, siapa pria itu?


Dari semua yang aku ketahui, di masa ini, aku tidak memiliki satu orang kenalan yang benci akan diriku. Namun, kenapa justru seorang pria yang menembakku? Apakah semua informasi mengenai Elena telah dirahasiakan? Tapi, sepertinya itu tidak mungkin terjadi, bukan?


"Ada apa? Sepertinya kau terlihat kebingungan?" Dokter itu bertanya.

__ADS_1


"Iya, kepalaku masih sedikit pusing. Oh iya dok, apakah di rumah sakit ini pernah ada pasien bernama Vera Ilona?"


Aku bertanya demikian untuk mencoba mencari tahu apakah dia pernah berada di rumah sakit itu atau tidak.


"Vera Ilona? Tunggu sebentar ya."


Setelah berkata demikian, dia menyuruh seorang perawat untuk mencari data mengenai Vera Ilona. Perawat itu bergegas menuju ke ruang informasi untuk mencari hal itu.


Sambil menunggu, aku bertanya kepada dokter itu. "Dokter, apakah dokter percaya bahwa seseorang bisa kembali ke masa lampau?"


"Hmm… sepertinya itu tidak mungkin. Kecuali, jika kau melalui lubang cacing. Mungkin kau bisa ke masa depan atau masa lalu. Walaupun aku tidak tahu pasti mengenai hal itu."


"Begitu ya, jadi jika kita masih berada di bumi, kita tidak bisa melakukan perjalanan waktu."


"Aku juga tidak pasti, karena itu para peneliti sekarang sedang melakukan penelitian mengenai hal tersebut. Tetapi, kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang perjalanan waktu?" tanya dokter itu kebingungan.


"Baiklah. Terimakasih atas jawabannya, Dok!"


"Sama-sama."


Setelah percakapan singkat itu, kami menunggu perawat yang sedang mencari informasi mengenai Vera. Sejujurnya, kepalaku masih terasa pusing karena semua yang telah terjadi ini. Sambil menunggu sang perawat datang menghampiriku, aku memejamkan mata sebentar untuk menghilangkan semua pikiran yang menghantuiku saat ini.


Hingga pada akhirnya, perawat ini datang ke ruanganku dengan nafas yang terengah-engah, seperti baru saja berlari dengan sepenuh tenaga. Ia seperti terburu-buru untuk memberitahukan sesuatu kepadaku.


"Ada! Pasien bernama Vera Ilona pernah dirawat di rumah sakit ini!" seru perawat itu.


"Eh? Benarkah itu? Bisakah aku mengetahui hal itu lebih lanjut?" tanyaku.


"Tentu saja, karena kau baru saja bangun. Biarkan aku yang membacakan berkas yang tertera!"


"Aku mengerti."


Perawat itu segera menghampiriku sambil membawa selembar kertas di tangan kanannya. Ia mendekat ke arahku dan duduk di kursi yang berada di sekitar tempat tidur itu.


Kemudian, ia membaca apa yang tertera di kertas tersebut dengan suara lantang tanpa keraguan sedikitpun. Walaupun sebelumnya, ia sedikit ragu untuk mengatakan semua yang tertera di selembar kertas itu.


"Vera Ilona. Dia pernah dirawat di rumah sakit ini pada usia delapan belas tahun. Dia dirawat karena telah mengandung di usia dini. Para dokter telah berusaha semampunya. Namun, semua itu gagal-


Pasien ini dinyatakan meninggal setelah beberapa bulan menjalani operasi."

__ADS_1


"M-Meninggal?!"


~ BERSAMBUNG ~


__ADS_2