
"Indra, apakah gadis ini adalah pacarmu?"
"Tentu saja bukan. Dia adalah sahabatku." ucapku dengan jujur.
Tatapan Elena yang menyeramkan itu, kian menghilang. Kecantikannya kembali seperti semula. Awalnya aku berpikir bahwa Elena akan marah dan mulai mengancamku. Namun, sepertinya kekhawatiranku itu tidak benar adanya. Elena merupakan seorang gadis yang menyukaiku. Tidak mungkin jika dia berani melakukan itu kepadaku.
"Oh begitu ya, memangnya kalian ingin pergi kemana?" Elena bertanya.
"Kami akan pergi mencari makanan yang dirumorkan sangat enak itu!" Kirana menyela.
"Oh, aku tahu dimana letaknya!" Elena menjawab.
"Benarkah?"
"Ya, bagaimana kalau kita pergi bersama? Lebih ramai lebih asik bukan?" saran Elena kepada kita semua.
"Boleh saja. Kau tidak keberatan kan, Kirana?" tanyaku.
"Emm… baiklah. Sepertinya aku tidak keberatan dengan itu!" Kirana menjawab dengan ragu-ragu.
"Kalau begitu, ayo ikuti aku." kata Elena.
Percakapan itu berujung pada Elena yang mengikuti kami untuk pergi ke tempat yang diinginkan oleh Kirana. Sejujurnya aku tidak terlalu peduli dengan berapa banyak orang yang akan ikut. Dan, perkataan dari Elena juga ada benarnya. Bukankah semakin banyak orang yang ikut, akan semakin baik.
Namun entah kenapa, ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Kirana seperti tidak menyukainya. Yah, untuk saat ini akan aku biarkan terlebih dahulu.
Dengan mengikuti langkah Elena, kami sampai dengan cepat di tempat itu. Ramai sekali orang yang mengantri di tempat itu.
"Kalian duduk saja terlebih dahulu, biarkan aku yang membelinya." ucapku kepada mereka yang terlihat kelelahan.
"T-Terima kasih, Indra. Tapi, biarlah aku juga mengantri." kata Elena dengan terbata-bata.
"Benar, aku juga ingin mengantri." seru Kirana.
"Tidak perlu, kalian istirahatlah terlebih dahulu. Biarkan aku yang membelikan makanannya."
"Baiklah."
Pada akhirnya, mereka menyetujui tawaranku. Mereka segera mencari tempat duduk untuk beristirahat selagi menungguku membeli makanan yang enak itu.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, antrian tak kunjung sepi. Setelah menunggu beberapa lama, aku berhasil sampai di tempat pemesanan. Segeralah aku memesan makanan yang dikatakan enak itu. Ternyata makanan itu merupakan makanan yang menjadi ciri khas tempat itu. Makanan itu bahkan tertera di menu rekomendasi. Sepertinya, makanan itu rasanya memang sangat luar biasa.
Pedagang itu segera membuatkan makanan yang kupesan dengan cepat. Tak perlu menunggu lama, pesanku telah usai. Aku mengambil pesananku dan memberikan uang kepada pedagang itu.
Setelah itu, aku pergi ke tempat dimana Elena dan Kirana sedang menungguku. Sepertinya mereka sedang berbincang tentang sesuatu saat aku tidak ada. Yah, aku tidak boleh menanyakan apapun, mungkin itu adalah rahasia sesama perempuan.
"Hei, aku sudah membeli makanannya. Kalian ingin makan di sini atau makan di rumah?" diriku bertanya kepada mereka yang sedang berbincang satu sama lain.
"Eh, ternyata kau sudah selesai ya, Indra. Aku akan memakannya sekarang. Bagaimana denganmu, Elena?" Kirana menyaut.
"Aku juga akan makan di sini." balas Elena.
"Baiklah, ini makanan kalian." kataku sambil memberikan makanan itu kepada mereka.
Segeralah kami menyantap makanan kami masing-masing. Tiada pembicaraan yang terdengar pada saat kami sedang makan. Namun, Kirana tiba-tiba menanyakan rasa dari makanan itu kepadaku.
"Bagaimana rasanya, Indra? Apakah enak?"
"Lumayan juga."
"Kalau begitu, apakah kau mau jika suatu hari nanti kita pergi ke sini lagi?" Kirana bertanya.
Disaat aku sedang berbicara dengan Kirana, Elena menyaut, dan bertanya kepadaku.
"Kalau begitu aku juga akan ikut!" serunya.
"Eh, kenapa begitu?" Kirana bertanya kebingungan.
"Yah, tidak apa-apa bukan? Memangnya kau keberatan dengan itu?"
"A-Aku tidak keberatan sih."
"Kalau begitu, kapan-kapan kita pergi bersama lagi."
"Tentu saja."
Setelah percakapan itu berakhir, kami melanjutkan menyantap makanan kami yang belum habis. Ternyata benar! Makanan ini sangat enak. Tidak ada satupun makanan yang dapat menandingi kenikmatannya. Sepertinya aku akan datang ke sini lagi. Walaupun antriannya sangat ramai, aku bisa bersabar demi mendapatkan makanan yang nikmat ini.
Beberapa lama kemudian, setelah kami menghabiskan makanan itu. Kami segera beranjak dari tempat itu dan mulai berjalan kembali menuju ke sekolah. Disana kami berpamitan satu sama lain, karena hari sudah akan berakhir.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan pergi dulu!" Kirana bersorak dari kejauhan.
"Baiklah."
Tersisa diriku dengan Elena yang berjalan menyusuri jalan di seberang sekolah. Rumah kami masih satu jalur dari sekolah. Maka dari itu, kami berjalan bersama menuju ke rumah masing-masing.
Sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang melintas, serta memandangi beberapa orang yang lalu-lalang, kami berbincang mengenai keseharian kami saat berada di sekolah. Kebetulan, kelas kami berbeda, dan jarak antara kelasku dan kelasnya sangat jauh. Maka dari itu, sedikit sulit untuk menemuinya pada saat berada di sekolah.
Kami berbincang tentang rancangan kami sebagai calon ketua serta wakil OSIS untuk kedepannya. Yah, mungkin aku yang dulu tidak akan bisa menjawab semua pertanyaannya.
~ Berbeda dengan sekarang, aku merupakan mantan dari seorang pria kaya yang memiliki banyak cabang perusahaan. Jadi, aku tahu bagaimana caranya untuk memenangkan pemilihan itu, dengan program yang sesuai untuk para siswa, serta menarik para perhatian siswa.
"Jadi, bagaimana cara kita memenangkan kampanye itu?" Elena membuka pembicaraan.
"Hmm… sepertinya kita harus membuat program yang menarik bagi para siswa."
"Apakah kau sudah tahu program apa saja yang akan kita lakukan selama satu tahun kedepan?"
"Tentu saja, aku sudah merencanakannya."
"Eh?! Benarkah itu? Aku sangat terkejut."
"Ya, semua itu sudah kurencanakan. Kau tidak perlu khawatir dengan semua program yang akan kita lakukan. Untuk saat itu, kau fokuslah dalam menjadi bintang di sekolah ini. Dengan begitu, menarik perhatian siswa tidaklah terlalu sulit." jelasku.
"Wow, seperti yang kuduga, kau adalah pria yang hebat ya, Indra!" sanjung Elena sambil tersenyum tipis kepadaku.
Senyumannya itu sama seperti pada saat pertama kali kami bertemu. Senyuman indah itu datang lagi tepat pada waktunya. Dimana senyuman itu tepat disaat matahari bersinar terang menyinari dirinya. Seperti pada saat itu! Ia tersenyum disaat rembulan malam yang indah itu tepat menyinari dirinya. Mungkin itu adalah ciri-khas dari senyumannya.
"T-Tidak juga."
Melihatnya tersenyum demikian, wajahku memerah. Tidak ada seorangpun yang dapat bertahan dari senyuman itu. Semua pria yang melihatnya, akan terpana dengan kecantikan dan keanggunannya.
"Baiklah, aku akan belok ke kanan. Sepertinya, kita akan berpisah disini." Elena menyaut.
Disaat aku sedang melamun memandangi dirinya, kami sudah sampai di persimpangan jalan antara rumahku dan rumahnya. Dengan begitu, kami akan berpisah di situ.
"Baiklah, sampai jumpa."
Sungguh, gadis yang tidak bisa ditebak…
__ADS_1
~ BERSAMBUNG ~