Rewind Love

Rewind Love
CHAPTER 12 : PENYESALAN VERA?


__ADS_3

"E-Elena?!"


Aku yang baru terbangun dari tidurnya, tentu akan kebingungan akan situasi yang tengah terjadi disini. Diriku masih saja terbayang-bayang akan malapetaka yang menimpaku.


Vera-?!


Benarkah itu adalah dirimu?!


Lantas, mengapa kau membuatku kembali ke masa lalu lagi!! Padahal, aku sudah membuat Elena bahagia!


Tidak hanya memikirkan tentang hal tersebut, aku juga kembali teringat akan seekor burung berwarna putih yang bertengger pada jendela. Sebenarnya, burung apakah itu? Mengapa burung itu selalu muncul ketika aku akan mengulang waktu?


Namun, disaat aku tengah merenungkan semua itu. Lamunanku akhirnya tersadar, setelah tubuhku terasa sedikit panas pada bagian bahu serta leherku. Pada saat itu, aku melupakan sesuatu…


"Emm? Elena… kenapa sedari tadi kau masih memelukku?"


Elena ternyata juga tidak tersadar akan apa yang tengah dilakukannya sendiri. Tentunya, apa yang baru saja dilakukan olehnya, membuatnya sangat malu.


"E-Eh?! M-Maafkan aku, Indra!! Aku melupakannya! Mungkin, karena aku terlalu khawatir dengan kondisimu saat ini!" Elena berseru demikian sambil melepaskan pelukannya yang kemudian membuat ekspresi wajah memerah dengan kedua tangannya yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.


Melihatnya berlaku demikian, membuatku sedikit tersenyum. Entah kenapa, aku menjadi teringat akan masa-masa remajaku dahulu.


Yah, aku tidak tahu siapa yang membuatku dapat mengulang masa-masa remajaku. Namun yang pasti, mungkin aku akan sedikit berterima kasih kepadanya.


"K-Kenapa kau malah tersenyum begitu!!" Elena berucap demikian, masih dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


"Hahaha! Sudahlah, sepertinya matahari akan terbenam. Sebaiknya kita pulang ke rumah kita masing-masing," saranku.


"Baiklah!"


Pada akhirnya, kami memutuskan untuk pergi dari ruang kesehatan dan berjalan menyusuri lorong bersama-sama. Entah apa yang terjadi selanjutnya, aku akan terus berusaha untuk membuat Elena bahagia.


Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa diriku sangat ingin membuatnya bahagia. Tetapi, setiap kali aku berpikir, aku terbayang- akan wujud Elena yang membunuhku dengan pistolnya di bawah rembulan malam. Matanya itu benar-benar sangat memukau, seolah-olah dia membuatku menari-nari dalam kelamnya suasana malam yang mencekam.


Entahlah… mungkin aku hanya ingin melihat mata yang bersinar itu lagi!

__ADS_1


Namun lagi-lagi, lamunanku akhirnya dihentikan oleh lontaran pertanyaan dari Elana, yang selalu membuatku terkejut.


"Hmm-? Kenapa kau melamun, Indra?" Elena bertanya.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa sedikit pusing," balasku kepadanya sebagai alasan agar isi pikiranku tidaklah terungkap.


"Begitu ya! Aku terkejut setelah melihatmu tiba-tiba pingsan di gedung olahraga! Apakah kau sedang tidak enak badan hingga terjatuh tanpa alasan yang jelas?" Elena kembali melontarkan beberapa pertanyaan dengan wajah yang terlihat tengah berpikir.


"Eh?!"


Mendengar itu, tentunya membuatku terkejut disertai dengan rasa kebingungan. Pasca mendengarnya, aku segera membuka kancing dari pakaianku dan melihat apa yang ada di dalamnya, untuk memastikan kebenaran yang terjadi.


~ T-Tidak ada bekas luka?!


~ Bukankah pada saat itu, aku baru saja ditusuk oleh pisau?


"I-Indra! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membuka pakaianmu?!!" tegur Elena sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


"M-Maaf, aku hanya ingin memastikan sesuatu. Elena, bolehkan aku bertanya sesuatu?"


"Tentu saja, tanyakan saja semua hal kepadaku!"


"Jika di masa depan, kau menikah dengan seseorang yang bukan orang terdekatmu, apakah kau akan merasa senang?


Pasca Elena mendengar apa baru saja kulontarkan, ia terkejut sambil menampilkan senyum tipis di wajahnya. Elena melihat ke arahku dengan tatapan yang aneh sambil berkata dengan suara kecil, "Tentu tidak. Aku akan menikah dengan seseorang yang selalu ada untukku."


Apa yang baru saja dikatakan olehnya, membuatku terpana hanya dikarenakan kata-katanya yang sangat memukau itu. Ternyata, aku masih belum dapat membahagiakan Elena. Memang seharusnya, aku tidak menetap di masa depan. Seharusnya aku berterima kasih kepadanya…


~ Terimakasih karena telah membuatku kembali ke masa lalu, Vera!


Sejak saat itu, aku selalu menyalahkan mu karena telah membunuhku di waktu yang tidak tepat. Namun ternyata, keputusanmu itu memang benar. Aku belum menyelesaikan tugasku untuk membuat Elena bahagia.


Kau melakukan tugas yang baik, Vera! Akan ku putuskan, mulai hari ini aku akan membantumu, Vera!


"Terimakasih untuk jawabanmu, Elena! Kalau begitu, ayo kita pulang!" ujarku.

__ADS_1


Selama kami berbincang-bincang, kami tidak menyadari bahwa sekarang kami telah berada di depan gerbang sekolah. Tentunya, kami harus berpisah untuk sementara waktu dan akan bertemu kembali esok hari.


"Sampai jumpa besok, Indra!!" seru Elena sambil melambaikan tangannya kepadaku.


"Baiklah!"


Dengan demikian, kami pergi menuju rumah kami masing-masing. Dengan keheningan sore yang membuat suasana menjadi begitu senyap, aku berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Disaat demikian, entah kenapa aku rindu akan masa remajaku. Selalu saja- aku terbayang-bayang akan masa-masa yang telah ku buang sia-sia. Hanya karena seorang perempuan yang tidak menyukai diriku, aku bahkan tidak memiliki seorang istri karenanya.


Ditengah perjalanan, aku melihat seorang gadis yang tidak asing bagiku, tengah duduk termenung di sebuah kedai makanan yang berada di pinggir jalan.


"V-Vera?! Bukankah dia itu Vera?!" gumamku sambil melihat gadis yang berada di kedai makanan tersebut.


Dikala itu juga, hujan mulai turun dari langit. Tentunya, aku perlu untuk berteduh di suatu tempat supaya pakaianku tidak basah. Namun, hanya terdapat kedai makanan tersebut yang terbuka lebar.


Diriku memutuskan untuk pergi ke tempat itu, untuk berteduh sekaligus membeli beberapa makanan yang ada di sana. Sebab, aku merasakan lapar yang sedikit mengguncang perut.


Sesampainya di tempat itu, aku segera memanggil Vera, untuk menanyakan apakah aku boleh duduk di sampingnya. Namun sebelumnya, aku perlu memastikan bahwa orang tersebut benarlah Vera.


"Emm… Vera? Apakah itu benar kau?" tanyaku dengan suara kecil.


Gadis itu segera membalikkan badannya secara perlahan-lahan. Ternyata, gadis itu benarlah Vera. Namun entah kenapa, terdapat bekas air mata di pipinya, serta matanya yang memerah dengan kumpulan tisu yang basah akibat air terkumpul di sampingnya.


"Eh?! I-Indra!"


Setelah menyadari kehadiranku, Vera segera menyeka air matanya dengan jari telunjuknya dan mencoba untuk menahan derasnya air mata yang turun.


"Ada apa denganmu, Vera?" tanyaku memastikan.


"T-Tidak, aku hanya…."


Ucapannya itu terpotong seolah ia tidak ingin memberitahukan apa yang terjadi pada dirinya. Jika dipikir-pikir kembali, dalam garis waktu yang sekarang tengah berlangsung, Vera tidak memberitahukan kepada diriku bahwa dirinya tengah mengandung. Maka dari itu, ia masih saja ragu ketika ingin mengungkapkannya padaku.


"Kau tenanglah dahulu, aku ingin memesan makanan terlebih dahulu!" ucapku mengalihkan perhatian.


Pada saat itu juga, aku pergi darinya dan memesan makanan berupa sebuah nasi yang digoreng. Setelahnya, aku kembali ke tempat dimana Vera berada. Dirinya terlihat lebih tenang dari yang sebelumnya.

__ADS_1


"Baiklah, karena kau sudah tenang, aku ingin tahu mengapa kau sedih! Bisakah kau memberitahukannya kepadaku?"


~ BERSAMBUNG ~


__ADS_2