Rewind Love

Rewind Love
CHAPTER 16 : KENCAN PERTAMA


__ADS_3

Setelah kelas berakhir, tepatnya pada sore hari terik, aku memutuskan untuk menghampiri Vera yang tengah duduk di bangkunya. Dirinya sedang melamun dengan tatapan kosong yang terpapar jelas di matanya.


"Hmm? Ada apa denganmu, Vera?" tanyaku khawatir.


Setelah aku berkata demikian, tatapan kosong Vera kembali berwarna. Entah karena alasan apa, dirinya langsung memelukku dengan erat, sambil berkata, "Ternyata kau, Indra!"


Mendapati hal tersebut, tentu aku terkejut keheranan. Diriku mulai bertanya-tanya…


~ Apakah hal ini sangat lumrah ketika seseorang berpacaran?


Beberapa waktu kemudian, dia mulai melepaskan genggaman tangannya. Di saat itulah, aku mundur beberapa petak seraya berkata, "Kalau begitu, kapan kita akan bertemu dengan orang tuamu?"


Dengan tatapan tajam, aku menatap matanya dalam-dalam. Namun entah kenapa, dia masih dapat santai seperti biasanya. Terlebih lagi, dia seperti tidak memedulikan masalah yang terjadi padanya saat ini.


"Bagaimana dengan hari Minggu? Lagipula, besok adalah harinya, bukan?" saran Vera.


"B-Baiklah. Kalau begitu, aku akan pulang," ucapku sambil berbalik badan membelakangi dirinya.


"T-Tunggu dulu!!"


Terdengar, Vera seperti ingin menghentikanku. Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Maka dari itu, aku kembali padanya dan duduk di samping bangkunya, seraya bertanya, "Ada apa, Vera?"


"T-Tidak, karena besok adalah hari terakhir kita berpacaran, bagaimana kalau sore ini kita-"


Ucapannya itu terhenti sebab dirinya menutup wajahnya dengan kedua kaki yang terangkat di kursinya. Terlihat jelas wajahnya yang merah merona.


Dirinya mulai melanjutkan ucapannya kembali, namun kali ini dengan suara yang cukup kecil yang bahkan hampir tidak terdengar.


"Kita…. Pergi Berkencan?"


Kala itu, tak hanya wajahnya saja yang memerah. Entah kenapa, aku merasa malu mendengarnya. Dadaku terasa sesak dan jantungku berdetak begitu kencang.


Apakah ini yang dinamakan, jatuh cint-


Tidak-tidak, jantung berdetak itu pertanda bahwa aku hidup. Aku tidak dapat langsung menyimpulkan demikian. Seharusnya aku tetap berpikiran positif.

__ADS_1


Namun, dadaku benar-benar terasa sesak seperti berjuta-juta paku menusuk tubuhku dan mengikatku dalam jurang yang sangat dalam.


"K-Kencan? S-Sore ini juga?"


Sejujurnya aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Baru satu kali ini, ada seseorang yang mengajakku berkencan. Terlebih lagi, orang tersebut adalah gadis yang kusukai pada saat remaja dulu. Meski sekarang aku sudah membuang perasaan itu jauh-jauh. Namun yang menjadi pertanyaan disini adalah…


~ Apakah aku dapat membangun perasaan itu kembali?


Tidak!! Aku tidak dapat berpikir demikian!


Setelah semua yang terjadi, apakah aku benar-benar akan menyerah dan berpaling pada Vera?


Tentu, tidak!!


Jika aku berlaku demikian, apa arti semua usahaku ini?! Tetapi, jika aku pikir-pikirkan kembali, apakah semua yang kulakukan ini sia-sia? Apakah tujuanku yang sesungguhnya telah hangus dilahap api masalah?


Lagipula, Elena dengan mudah berpaling pada orang lain. Maka dari itu, sepertinya aku juga akan menyerah dari semua perjuanganku. Aku sudah lelah bermain-main dengan waktu.


Sekali saja!! Aku ingin merasa dihormati!! Apakah itu tidak bisa? Apa yang kulakukan pada sang waktu sehingga dia terus-menerus membuatku menderita?!


Huft… aku sudah lelah dengan hidup ini–


"Ada apa, Indra? Ayo kita pergi sekarang!" Vera berseru sambil memegang pundakku.


"T-Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing," balasku sambil mencoba untuk memegang kepalaku sendiri.


"Pusing? Apakah kita harus menunda kencan kita? Tetapi, tidak ada waktu lagi! Hari ini adalah hari terakhir kita dapat bersenang-senang sebagai sepasang kekasih! Bisakah kau menahan pusingmu, Indra! Ayolah, kesempatan ini hanya sekali seumur hidup!" bujuk Vera.


"Baiklah, sepertinya pusingku sudah hilang," ucapku untuk membuatnya senang.


"Akhirnya!! Kalau begitu, ayo kita berangkat!" Vera berseru kegirangan sambil menarik tanganku dan mulai berjalan menuju luar kelas.


Disana kami mulai berlarian di lorong untuk bergegas menuju gedung belakang yang digunakan sebagai tempat parkir sepeda. Kebetulan, Vera hanya berjalan kaki pada saat ia menuju sekolah di pagi hari. Maka dari itu, mereka dapat berboncengan menggunakan sepedaku.


Sesampainya disana, aku segera mengeluarkan sepedaku dan duduk diatasnya. Vera juga berlaku demikian, ia segera duduk di bangku belakang. Sangat kebetulan sekali, aku memakai sepeda onthel yang terdapat bangku tambahan di belakangnya.

__ADS_1


Kami bersiap untuk berangkat menuju tempat kencan yang dimana kami belum memutuskannya. Sambil menggoes sepeda, aku bertanya padanya mengenai tempat yang ingin dia datangi.


"Vera, apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi? Seperti taman hiburan, bioskop, atau apapun itu?"


"Ah, seperti di sekitar tempat ini terdapat sebuah taman hiburan yang baru saja buka. Dan tempat itu akan buka sampai kira-kira jam sebelas malam," saran Vera.


"Baiklah, kita akan kesana! Pegangan yang erat, Vera!"


Pasca berucap demikian, aku mempercepat goesan sepeda untuk mempersingkat waktuku. Hembusan angin kencang mulai menerpa kami. Rambut Vera yang panjang menggelora, terkibas oleh angin tersebut. Deru angin juga mulai terdengar dari jauh dan mendekat ke arah kami. Selagi hal tersebut terjadi, aku segera mempercepat lagi ayunannya dan melaju secepat mungkin.


Setelah beberapa lama melalui tikungan-tikungan tajam, kami sampai di tempat dimana Vera teringin untuk datang menjumpainya.


"Huft… Akhirnya kita sampai!" legaku kelelahan setelah mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga.


Terpapar nama dari tempat yang sedang kami kunjungi di papan masuk yang terlihat sangat terang dan mengkilap. Tertulis disana… "Lagoon Land!!"


Sepertinya, tempat ini cukup bagus dan rapi. Segera kami membeli tiket masuk yang berharga sekitar dua puluh lima ribu. Untuk saat ini saja, aku akan membayar dua kali lipat sebagai bayaran untuk Vera. Sebab, kita sedang pergi berkencan, tentu aku yang harus membayarnya.


Pascanya, kami segera memasuki taman hiburan itu. Ternyata, di dalamnya terlihat lebih indah lagi. Tidak hanya wahananya, cahaya yang mengelilinginya juga sangat indah. Vera memilih waktu yang tepat untuk berkencan. Ternyata memang benar, kita bisa menyaksikan matahari terbenam bersama-sama.


Walaupun sejujurnya, aku sedikit khawatir dengan kondisi Vera yang mengandung. Apakah dia tidak merasakan sakit sedikitpun? Aku akan memperhatikannya lebih dekat, supaya ketika dia sakit, aku akan menolongnya dengan segara!


"Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan terlebih dahulu?" tanyaku.


Diriku bertanya demikian, sebab aku sedang melihat Vera yang melihat sesuatu dengan mata yang berbinar-binar. Ekspresi wajahnya benar-benar sangat imut. Aku tak tahan melihat hal tersebut.


"A-Aku ingin makan crepes itu!"


Sudah kuduga! Ternyata dia memang menginginkan sesuatu. Kalau begitu, aku akan menuruti permintaannya. Lagipula, aku membawa duit yang banyak hari ini.


"Baiklah, ayo kita beli. Kita bisa gunakan uangku terlebih dahulu," seruku sambil berjalan ke arah stan makanan crepes tersebut, diikuti dengan Vera yang berjalan tepat di belakang punggungku.


"Apa tidak apa-apa?" Vera bertanya memastikan.


"Tidak apa-apa, aku akan membayar semua biaya yang akan kau habiskan!" seruku sambil memberi senyuman padanya.

__ADS_1


Vera menganggukkan kepalanya sekali, kemudian tersenyum dengan sangat manis dan berkata kepadaku, "Seharusnya aku memilihmu sejak dulu, Indra!"


~ BERSAMBUNG ~


__ADS_2