
"Hei Vera, apakah kau menyukai Indra?" Bayu memulai pembicaraan.
Namun mendengar hal itu, aku sedikit tersinggung dan mulai berdiri dari tempat dudukku, seraya berkata, "Aku akan ke atas dulu untuk mencari udara segar."
Semua orang memperhatikan diriku yang berlaku demikian, karena tidak biasanya aku akan begitu. Biasanya aku akan merenung dengan pipi yang merah merona. Setelah aku berkata demikian, Bayu merasa bersalah karena ucapannya itu.
Bayu mulai berdiri dari tempatnya dan ingin menghampiri diriku yang sedang berjalan menuju tangga untuk ke atas.
Namun, Vera berkata kepada Bayu, "Halah, biarkan saja dia itu. Lebih baik kalau kita saling berbincang di sini, benar begitu bukan, Ryan?"
"Benar, biarkan saja dia. Dari tadi di sekolah, sikapnya sedikit aneh, jadi kita biarkan dia terlebih dahulu." Ryan memberi saran.
"B-Baiklah."
Bayu kembali ke tempat duduknya karena percaya dengan ucapan Ryan. Pada saat itu, tidak ada seorangpun yang ingin menjemputku dan menanyakan alasanku berlaku demikian.
Kecuali satu orang…??
"Aku akan pergi ke atas, sepertinya aku juga butuh udara segar."
Ternyata, gadis yang memesan jus jeruk tadi juga ingin pergi ke atas untuk mencari udara segar. Gadis itu merupakan teman masa kecil dari Vera. Ia sudah tahu tentang sifat Vera yang demikian. Ia sepertinya ingin menemuiku karena kasihan terhadap diriku yang telah diperlakukan oleh Vera seperti itu.
"Kau ingin bertemu dengan Indra? Sepertinya kau menyukai cowok jelek sepertinya. Hahahaha! Ups… maaf." ejek Vera.
"Diamlah, atau kubunuh kau!" balas gadis itu.
"Hahaha, tidak usah seram begitu. Jika kau memang suka dengannya, aku bisa membuat dia menyukaimu."
Namun gadis itu tidak berbicara apa-apa lagi, ia mengabaikannya dan berjalan menuju ke arah tangga untuk naik. Gadis itu mengambil permen lolipop kecil dari kantong bajunya, kemudian menikmatinya sambil berjalan menyusuri tangga nan panjang itu.
Diriku yang sedang memandangi langit sore yang indah, dikejutkan dengan seorang gadis cantik yang tiba-tiba mengikutiku kemari. Aku tidak terlalu paham dengan alasan mengapa ia pergi ke atas sini juga. Apakah ia juga ingin melihat langit sore yang penuh pesona ini?
Pada saat gadis itu berjalan ke arahku, aku membalikkan badanku sambil melihat ke arah matanya yang indah. Mata dari gadis itu membuatku terpesona akan kecantikannya. Ditambah dengan bulu mata yang lembut mengitari kelopak mata. Sungguh, matanya itu penuh dengan segala keindahan di alam semesta ini.
__ADS_1
Gadis itu memiliki rambut sebatas bahu, dengan dahi yang ditutupi oleh beberapa poni tipis lurus, dan tubuhnya yang ramping membuat kecantikan yang dipancarkan semakin bertambah. Permen yang ada di mulutnya itu membuatnya terlihat keren. Sungguh, kenapa dulu aku tidak menyukai gadis imut seperti dirinya. Aku bahkan belum pernah melihatnya secara langsung. Baru kali ini, aku dapat melihat rupa dari gadis itu.
Sambil mengambil permen lolipop itu dari mulutnya, ia bertanya kepadaku dengan tatapan tajam yang membuat jantungku berdetak kencang, "Jadi, apakah kau benar-benar menyukai Vera?"
"Sejujurnya aku tidak menyukainya lagi. Kau mungkin berpikir aku adalah orang yang berharap terlalu tinggi untuk mendapatkan gadis seperti Vera. Namun, aku sudah membuang diriku yang itu."
"Begitu, ya."
Gadis itu kemudian berjalan ke arahku sambil kembali memakan permen lolipopnya lagi. Ia memegang pagar penghalang dan bersandar di sana, sambil melihat langit sore yang indah nan cerah itu.
Sungguh pemandangan yang sangat agung! Percampuran antara indahnya latar belakang dengan pesona yang dipancarkan olehnya membuat semuanya sempurna! Dibarengi dengan angin sepoi-sepoi yang menghempaskan rambut cantiknya.
Karena tertarik dengan kesempurnaan itu, aku mendekat ke arahnya dan bersandar di pagar penghalang yang bertepatan berada di sebelahnya.
"Hei, aku lupa siapa namamu. Bisakah aku mengetahui siapa namamu?" Gadis itu bertanya.
"Indra Christian. Itulah namaku. Kalau boleh tahu, siapa namamu?"
"Namaku Amanda Kirana. Kau boleh memanggilku Kirana, walaupun banyak yang memanggilku dengan nama, Amanda."
"T-Terima kasih." Kirana terkejut sambil melihat ke arahku pula, dirinya kemudian melanjutkan perkataannya, "Sejujurnya aku kemari hanya ingin memberitahukan dirimu tentang sifat buruknya itu. Jika aku adalah dirimu, aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya itu. Tapi, kamu sepertinya sudah mengetahuinya."
"Ya, aku sudah tahu. Aku sudah mengalami banyak penderitaan yang diakibatkan oleh para gadis yang aku cintai. Penghianatan, perselingkuhan, dan masih banyak lagi. Tiada yang peduli dengan diriku. Dan, baru kali ini aku melihat seorang gadis yang berbicara tulus serta peduli kepadaku."
Kirana sedikit terkejut dengan apa yang telah didengarnya itu. Semua perkataanku membuat dirinya tersentuh akan belas kasihan.
"Tidak apa-apa, lagipula, aku memang ingin membalas dendam kepada Vera." seru Kirana.
"Hmm… kenapa begitu?"
"Kau tahu, aku telah menyukai Ryan sejak dulu. Namun, Vera dengan mudah merebutnya dariku. Kini, aku berambisi untuk membalaskan dendam ku kepada mereka berdua."
"Kalau begitu, aku akan membantumu untuk membalaskan dendammu. Dengan begitu, hubungan kita akan saling menguntungkan."
__ADS_1
"Baiklah. Aku setuju."
Setelah perbincangan itu selesai, kedua tangan kami saling bergandengan. Sungguh tak terbayangkan olehku, betapa lembutnya tangan dari Kirana. Bagaimana orang seperti dirinya bisa kalah dengan gadis pelacur seperti Vera itu. Sepertinya, Ryan tidak bisa membedakan mana yang seorang monster dan mana yang seorang malaikat.
"Sepertinya, kita sudah harus ke bawah. Minuman kita pasti sudah sampai." Kirana memberi saran.
"Benar juga. Ayo kita pergi."
Segeralah kami bergegas menuju ke bawah untuk bertemu dengan teman-teman kami lagi. Anak tangga demi anak tangga kami lalui bersama. Baru kali ini aku bisa merasakan bagaimana rasanya jika di dekat perempuan yang cantik.
Pada saat kami sampai, mereka telah menyantap makanan mereka masing-masing. Mereka semua terdiam karena sedang makan. Tidak ada seorangpun yang membuka topik pembicaraan.
"Akhirnya kau kembali, Indra! Kupikir kau marah dengan perkataanku." Bayu berteriak kegirangan.
"Tidak usah dipikirkan, lanjutkan saja makanmu itu, aku akan minum jus jeruk ini dulu." ucapku membalasnya.
"Baiklah."
Bayu segera melanjutkan menyantap makanan yang telah ia pesan itu. Tiada lagi kegelisahan di dalam hatinya. Ia telah meminta maaf dengan tulus kepadaku.
Kupikir semua akan damai-damai saja karena tidak ada suara bising dari mereka semua. Namun, seketika…
"Akh!"
"Aduh, maaf ya. Jus jerukmu jadi tumpah. Sepertinya kau harus minum dengan Indra deh." Vera menanggapi minuman yang tumpah pada pakaian Kirana.
Terlihat api kemarahan mulai menyelimuti Kirana. Entah seberapa besar tingkat kesabarannya, tapi yang pasti orang itu masih bisa bersabar dengan tingkah laku yang diperbuat oleh teman masa kecilnya itu.
"T-Tidak apa-apa." balasnya sambil menahan amarah.
Aku segera mengambil sedotan bercabang dua yang tergeletak di meja dan menaruhnya di jus jerukku, kemudian menghampiri Kirana sambil mengatakan, "Minumlah ini bersamaku, aku tidak keberatan."
"T-Tapi, itukan sedotan untuk pasangan?"
__ADS_1
~ BERSAMBUNG ~