
"T-Tapi, itukan sedotan untuk pasangan?" Kirana sedikit terkejut.
Wajahnya menjadi merah merona, dengan rasa malu yang memenuhi dirinya. Kirana tak menyangka bahwa ia akan diperlakukan demikian. Hanya ada dua pilihan di dalam pikirannya. Menerimanya atau menolaknya. Jika aku adalah dirinya, aku akan menerimanya tanpa pikir panjang. Tapi, aku tahu akan perasaan gelisah yang dialami perempuan. Maka dari itu, aku tidak mewajibkan Kirana untuk menerimanya.
"Jika kau tidak mau, tidak apa. Kau tidak perlu berpikir terlalu keras. Cukup katakan kau mau atau tidak."
"K-Kalau begitu, aku akan meminumnya."
Pada akhirnya, ia menerimanya dan mengambil minuman itu dari tanganku dan menaruhnya di meja. Tanpa berpikir apa-apa lagi, ia meminumnya dengan wajahnya yang masih memerah.
"Aku juga haus, bolehkah aku meminumnya juga?" Diriku bertanya.
"E-Eh??" Kirana terkejut dengan perkataanku.
"Kenapa, bukankah sedotan itu terdapat dua cabang? Kita bisa minum bersama, bukan?"
"I-Itu memang benar. T-Tapi…"
Kirana berhenti berbicara dan kembali meminum jus jeruk itu, dengan ekspresi wajah malu-malu. Pada saat dirinya sedang berlaku demikian, aku memegang salah satu cabang sedotan yang satunya lagi.
Kemudian, aku berkata kepadanya, "Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Anggap saja aku ini adalah sahabatmu."
Setelah berkata demikian, aku mendekatkan sedotan itu ke bibirku, dan langsung meminumnya tanpa pikir panjang. Kami berdua minum secara bersamaan. Bukankah kejadian seperti ini akan membuat orang salah paham? Beberapa orang pasti menganggap kami adalah seorang sepasang kekasih. Namun, aku tidak berpikir demikian.
Teman-temanku menjadi sangat terkejut melihat itu. Mereka seakan tidak percaya bahwa seorang laki-laki yang polos akan menjadi seorang pria yang keren. Orang yang pada awalnya adalah orang cupu yang hanya mengandalkan imajinasi, kini bisa bertindak sesuai dengan imajinasi yang diciptakannya itu.
"Indra, aku tidak menyangka bahwa kau akan melakukan itu." Bayu terkejut.
"Benar, bukankah kau akan berperilaku aneh jika berada di dekat seorang gadis. Hanya memegang tangannya saja membuatmu girang setengah mati. Tapi sekarang, kau bisa minum bersama dengan seorang gadis tanpa berekspresi apa-apa. Apakah kau benar-benar Indra?" Ryan bertanya-tanya dengan perubahanku yang sangat drastis.
"Yah, memang apa masalahnya? Lagipula, gadis ini tidak menyukaiku. Aku tidak akan terlalu percaya diri. Lagipula, aku sudah mengurungkan niatku untuk mencintai gadis lain. Karena aku sudah memiliki janji dengan seseorang yang sangat istimewa dalam hidupku."
Sambil berkata demikian, aku mengingat janjiku dengan Elena yang pada saat itu ia berkata, 'Buatlah aku jatuh cinta kepadamu lagi supaya aku dapat menyatakan perasaanku dengan cepat!' Aku tidak akan pernah melupakan janji itu. Karena dialah yang telah mengubah hidupku menjadi lebih berarti.
__ADS_1
"Sekarang kau sudah menjadi dewasa ya, Indra." Bayu tersenyum tipis.
"Jadi, apakah kau tidak menyukai Vera lagi?" Ryan bertanya.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan olehnya, membuatku mengehela nafas panjang, "Huft…" Setelah itu, aku berkata kepadanya, "Aku tidak menyukainya lagi. Atau bisa kubilang, aku tidak akan pernah menyukainya lagi."
Vera yang mendengar itu, merasa tersinggung karena telah ditolak oleh seorang laki-laki yang tidak disukainya. Perasaannya seperti bercampur aduk. Vera terdiam sejenak sambil memandangi diriku yang sedang memberi tatapan tajam ke arahnya. Meski demikian, ia tak bisa berkata apapun. Dirinya seperti ditahan oleh sesuatu yang membuat bibirnya tidak dapat digerakkan.
"Kalau begitu, aku akan pulang duluan, karena hari sudah mulai gelap." ucapku.
"Ah! Aku juga akan pulang. Jus ini sudah habis, jadi aku juga akan pulang." Kirana menyaut setelah menghabiskan jus jeruk itu.
"Kalau begitu, apakah kau ingin ku antarkan?"
"Tidak perlu, sepertinya rumah kita jauh."
"Kalau begitu, aku akan mengantarkanmu sampai di depan taman."
"Baiklah."
"Hei, kau tahu. Sejujurnya aku sudah mengenalmu sejak lama, tadi aku hanya melupakan namamu saja. Aku telah mengenalmu sejak kau menyukai Vera. Oleh sebab itu, aku mengetahui beberapa sifatmu. Namun entah mengapa, hari ini kau terasa berbeda. Apakah terjadi sesuatu? Ceritakan saja kepada sahabatmu ini! Hahaha!" Kirana membuka pembicaraan.
"Baru dekat beberapa menit saja sudah dianggap sahabat. Kau orang yang menarik ya, Kirana. Jika kau ingin mendengar ceritaku, aku ingin kau mengingat cerita itu setiap hari, karena aku hanya tidak ingin suatu hari nanti keberadaanku akan terhapuskan."
"Sepertinya pembicaraan ini menjadi berat, ya. Kau tidak perlu menceritakan penderitaanmu saat ini juga. Suatu hari nanti, dimanapun kau berada, jika kau tak dapat menanggung penderitaan yang kau alami lagi, kau bisa datang dan berbicara kepadaku lagi. Mulai sekarang, kita adalah sahabat yang sesungguhnya!"
"Terima kasih, Kirana."
Setelah pembicaraan yang cukup panjang itu, kami sampai di taman yang telah kami janjikan tadi. Sebenarnya, taman ini tidak cukup jauh dari restoran itu. Sambil melihat matahari yang mulai terbenam, kami mulai berpamitan satu sama lain.
"Aku pulang dulu, ya!" Vera berpamitan sambil melambaikan salah satu tangannya.
"Baiklah."
__ADS_1
Sehabis berkata demikian, ia berlari membelakangi diriku. Sesudah kepergiannya itu, suasana kembali menjadi sepi. Kegelapan mulai menyelimuti diriku. Ah… Semua itu datang lagi! Perasaan suram yang kualami saat dewasa. Perasaan itu kembali lagi ke dalam diriku. Satu-satunya yang menyelamatkanku saat ini adalah cahaya matahari yang sebentar lagi akan terbenam.
"Indra?"
Namun, disaat aku berpikiran demikian. Seseorang memanggil namaku dengan suara yang lembut. Halusnya suara tersebut terdapat seperti lantunan musik yang indah. Seperti mendengar tetesan air hujan, serta derasnya aliran sungai yang menggema di telinga.
Disaat diriku berbalik ke tempat dimana suara tersebut berasal. Seorang gadis cantik menyambutku. Gadis yang sangat cantik layaknya seorang bidadari. Gadis itu tidak terasa asing bagiku. Benar, karena dialah~
"Elena? Kenapa kau ada di sini?" Diriku mulai bertanya kepadanya.
"Oh, aku baru saja membeli baju dari toko baju di dekat taman ini. Kau sendiri, sedang apa berada di sini?"
"Aku baru saja pergi dengan temanku untuk makanan di restoran yang baru dibuka itu." jelasku.
"Begitu, ya. Sepertinya matahari sudah mau terbenam. Apakah kau ingin melihat matahari terbenam bersamaku?"
"Tentu saja, kenapa tidak?"
Elena kemudian mengajakku untuk pergi ke tengah-tengah taman itu, karena disana adalah tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam.
Dengan hitungan ke-3… 2… 1… Matahari mulai terbenam di barat. Keelokan yang dipancarkan oleh cahaya mentari itu, membuat mataku berkaca-kaca.
"Indah sekali, ya." Elena menyanjung.
"Benar."
"Kalau begitu, sampai besok ya, Indra. Sepertinya aku sudah ditunggu oleh pelayanku."
"Baiklah, sampai besok!"
Elena pulang dengan diantar oleh pelayannya menggunakan mobil pribadi miliknya.
Suasana yang sepi lagi…
__ADS_1
~ BERSAMBUNG ~