Rewind Love

Rewind Love
CHAPTER 17 : PERMASALAHAN VERA


__ADS_3

Setelah menghabiskan makanan yang telah kamu beli, segeralah kami berjalan beriringan, sambil merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah kami memberikan hawa dingin kepada kami bersama. Aroma bunga dan suara riang anak-anak yang bermain bergema di sekitar, menciptakan suasana yang indah untuk momen-momen berharga.


Kami berbincang-bincang seraya bersenda gurau dengan antusias, berbagi cerita dan pengalaman yang kami miliki. Aku terpesona oleh kecerdasan dan kehangatan dalam setiap kata yang terucap melalui bibirnya. Percakapan kami mengalir dengan alami, menyatu dengan riuh suara taman bermain.


Vera berhasil melupakan semua masalahnya dan memfokuskan dirinya pada kencan kami. Senyuman yang dipancarkan olehnya, seolah mengatakan bahwa ia benar-benar menikmatinya.


Kami mencoba permainan-permainan dengan penuh semangat, saling mendukung dan mendorong perasaan kami satu sama lain. Rasanya seperti kami kembali menjadi anak-anak, melupakan dunia di sekitar kami dan hanya berfokus pada momen-momen bermain yang menyenangkan.


Beberapa permainan kami coba satu persatu, seperti salah satu permainan anak yang ingin dimainkan oleh Vera, yakni permainan memancing ikan dengan saringan plastik. Sepertinya dia sangat menginginkan untuk bermain permainan tersebut. Maka dari itu, aku memutuskan untuk bermain bersamanya.


Tingkahnya sangat menggemaskan! Aku tak percaya dapat melihat tingkah lucunya yang jarang sekali ditunjukkan olehnya. Entahlah, aku mungkin beruntung dapat melihatnya. Kelakuannya yang gagal dalam menangkap ikan-ikan kecil, membuatku tertawa tipis. Bahkan, aku tak sanggup menahannya lagi.


"K-Kenapa kau tertawa, Indra!" Vera berseru kesal.


"Hahaha, tidak apa-apa. Sepertinya permainan ini terlalu sulit-"


Namun, ketika aku berkata demikian. Seorang anak yang bersama dengan keluarganya, dapat menangkap begitu banyak ikan-ikan kecil.


"Mungkin kitanya saja yang kurang mahir dalam permainan ini," ucapku kepadanya sambil berjalan mundur beberapa langkah.


"Baiklah, kalau begitu, ayo kita cari permainan lain!" seru Vera memberi saran.


Dengan demikian, kami melanjutkan perjalanan mencari permainan-permainan yang lain.


Hingga pada akhirnya, matahari mulai berada di cakrawala, memberikan cahaya yang lembut. Waktu berlalu begitu cepat, dan aku tidak ingin momen ini berakhir. Namun, aku menyadari bahwa kami berdua harus pulang.


"Sepertinya kita harus segera pulang!" saranku kepadanya.


"Benar juga, ayo kita pulang!"


Segeralah aku meraih tangannya dan membawanya menuju keluar dari taman hiburan tersebut. Setelahnya, aku pergi mengambil sepeda dan mengantarnya pulang.


Dengan suasana hening yang sangat menenangkan, kami pergi menjauh dari taman hiburan tersebut.


Pada akhirnya, kami sampai di tempat dimana rumah Vera berada. Sejujurnya, rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Maka dari itu aku mengantarkannya dan segera pulang ke rumah. Hari yang begitu melelahkan, namun juga sangat menyenangkan.


Besok adalah hari dimana, aku akan menyelesaikan urusanku dengan Vera!


Keesokan harinya…


Sekarang adalah hari Minggu, hari dimana aku akan membantu Vera dalam menyelesaikan semua masalahnya itu.

__ADS_1


Dengan berpakaian serba rapi, aku melangkahkan kakiku menuju dunia luar. Yah, meski terdengar sangat puitis, namun yang aku maksudkan adalah aku berangkat menuju ke luar rumah. Kami memiliki janji untuk bertemu di taman yang ada di pusat kota, sebab rumahnya tak jauh dari sana. Sejujurnya, taman tersebut juga tidak jauh dari tempat tinggalku. Maka dari itu, aku dapat sampai di sana dengan cepat. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja untuk sampai.


Disana sudah terpapar jelas wajah dari seorang gadis yang tak asing bagiku. Sepertinya, aku terlambat datang lebih awal…


Untuk itu, aku perlu meminta maaf kepadanya, sebab mengharuskannya untuk menunggu.


"Yo, Vera! Apakah kau sudah menunggu lama?" tanyaku memastikan.


"T-Tidak juga. Kalau begitu, ayo kita pergi!" ajak Vera sambil menunjukkan jalan kemana kita akan pergi.


Diperjalanan menuju rumahnya, aku melihat awan gelap yang berkumpul di suatu tempat. Seperti menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan yang lebat.


Entah kenapa, aku merasa semua kejadian alam yang terjadi, pasti berhubungan dengan bencana yang akan aku alami. Huft… sejujurnya aku tidak ingin terlalu memedulikannya!


Untuk saat ini, aku akan menyiapkan jiwa dan ragaku untuk bertemu dengan orang tuanya. Padahal yang seharusnya melakukan ini adalah Ryan, tetapi justru aku yang terkena imbasnya. Meski sedikit kesal dengan itu, aku tetap akan membantunya.


Dengan demikian, setelah beberapa lama berjalan menyusuri gang sempit, kami sampai tepat di depan rumahnya.


Dag… Dig… Dug…


Mungkin suara dan getaran itulah yang membuatku gugup. Jujur, jika diingat-ingat, aku tidak pernah pergi ke rumah seorang gadis yang bukan merupakan keluargaku. Entahlah, mungkin aku akan mencoba untuk tenang.


"Baiklah, ayo kita masuk. Orang tuaku sepertinya sudah menunggu di ruang tamu," ajaknya sambil menggandeng tangan kananku, menyeretku masuk ke dalam.


Pintu mulai dibukakan olehnya, membuat suasana menegangkan meningkat begitu drastis.


Terlihat seorang pria dan seorang wanita tengah duduk termenung di sofa dengan wajah mereka yang pucat bagai tak punya kehidupan. Sepertinya mereka telah berada di titik tertinggi kekecewaan sebagai seorang orang tua yang baik.


"P-Permisi pa-"


Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, pria itu membantahnya dengan memotong pembicaraanku dengan berkata, "Cepat duduk!" dengan nada yang cukup tegas.


Jantungku berdetak semakin keras, seolah-olah aku tak dapat menahannya. Sungguh, aku merasa sangat tidak nyaman. Meski aku sudah menyiapkan mentalku, aku masih tidak dapat melakukannya!


Tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku, aku segera duduk di sofa yang berada tepat dihadapan mereka. Tatapan matanya benar-benar menusuk tepat pada sasaran.


"Langsung ke intinya saja. Mengapa kamu membuat anakku mengandung?!" tanya sang ayah dengan wajah muram.


"Yah, aku juga tidak tahu," balasku spontan.


"JAWAB DENGAN BENAR! BAPAK DENGAR DARINYA, KAU YANG MEMAKSA ANAKKU UNTUK MELAKUKANNYA!!" teriak sang ayah dengan sangat keras sampai-sampai memukul meja.

__ADS_1


Hentakan yang begitu kasar, membuatku tubuhku bergetar ketakutan. Keringat mulai mengalir dari rambut hingga membasahi sekujur tubuhku. Tekanan yang sangat luar biasa! Aku bahkan tidak tahu ingin menjawab apa.


"T-Tidak…"


Mungkin, hanya itu saja yang dapat dilontarkan mulutku. Seolah, semua tekanan itu membuatku terikat oleh rantai besi yang sangat kuat.


Beberapa detik setelah, sebelum aku sempat menjelaskan semua kejadian yang terjadi. Sang ayah bangkit berdiri dari sofanya dan berjalan mendekat ke arahku.


Tanpa peringatan, ia melancarkan pukulannya dengan satu kepalan tangan hingga aku terpental jatuh.


"DASAR KAU INI!!"


Tak sampai disitu saja, aku bahkan dipukuli secara terus menerus menggunakan tongkat kayu yang sudah disediakan olehnya.


"Mas, udah mas, kasihan anak orang!" sahut sang ibu, berbelas kasih.


"DIA INI SUDAH MEMBUAT ANAK KITA MENGANDUNG! TENTU AKU HARUS MENGHABISINYA!" serunya kesal.


"Pa, udah pa!" Vera menyaut.


"AH!! DIAM!! KELUAR DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA! DAN JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI DI SINI LAGI!!"


Usai perbincangan yang memanas itu, aku diusir dari rumahnya. Dengan perasaan kecewa, disertai dengan beberapa bercak darah yang terkucur dari dalam tubuhku, aku berjalan menyusuri lorong bertujuan untuk kembali ke rumah.


Hujan mulai turun deras. Angin bertiup kencang hingga menerpa beberapa kain yang ada di rumah-rumah. Kabut mulai menutupi sebagian wilayah.


Padahal aku hanya ingin membantu menyelesaikan masalahnya, kenapa aku justru yang terkena imbasnya!


Sialan kau– Ryan!!


Disaat aku sedang berjalan tanpa arah, sebab kabut sangat tebal hingga menutupi pandanganku. Aku hanya dapat memprediksi arah gerakku.


Hingga tanpa sadar, aku berada di tengah jalan raya tempat dimana kendaraan melaju dengan kencang. Benar saja, sebuah truk melaju kencang tepat dihadapanku. Tak kuasa untuk berlari menghindarinya, aku justru mengenai bagian tengah dari truk tersebut dan terpental jauh.


Darah mulai mengalir dari dalam tubuhku. Aku hanya dapat menunggu kematianku disaat truk tersebut melarikan diri setelah menabrakku. Huft… benar-benar hari yang sial!


Mungkin ini saatnya, aku mengakhiri hidupku…


~ BERSAMBUNG ~


"Jadi kau ada di sini, papa!"

__ADS_1


"Eh-?! K-Kirana?!!"


~ ??BERSAMBUNG?? ~


__ADS_2