
Dikala hujan deras mulai berhenti turun dari langit, kami yang tengah berada di kedai makanan mencoba untuk berbincang-bincang sejenak.
Tujuanku bertanya mengenai semua hal yang membuat Vera sedih, bukanlah untuk mengetahui penyebab utama dalam hanyutan kesedihannya itu. Sebab aku telah mengetahui semua hal tersebut. Aku melakukan semua itu hanya untuk memberikan ketenangan dalam hatinya, serta mencoba untuk mengenalnya lebih jauh.
~ Mungkin bisa dikatakan, semua yang kulakukan ini hanya bentuk ucapan terimakasih yang dilakukan secara rahasia.
Setelah suasana menjadi tenang, Vera mencoba untuk mengungkapkan semua yang terjadi kepadaku. Dengan sebuah tisu dalam genggamannya, ia mulai berpikir jernih dan air matanya tidak lagi mengalir deras.
"A-Aku akan membocorkan semua yang terjadi. Lagipula, temanmu itu sedang tidak ada di tempat ini," ucap Vera sambil memperhatikan sekeliling.
Walaupun aku sudah mengetahui siapa yang dia maksudkan, namun aku berpura-pura untuk tidak mengetahuinya. Maka dari itu, aku bertanya kepadanya, "Temanku? Siapa itu? Apakah itu Ryan? Ataukah, Bayu?"
Vera berhenti sejenak, mulai mengambil napasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Setelah itu ia melanjutkan perkataannya, "Cih! Kau pikir aku ingin membicarakan Bayu? Itu tidak mungkin! Orang yang kumasukkan itu adalah dia… Ryan!"
"Ryan?! Lantas, apa hubunganmu dengannya?" ucapku dengan wajah berpura-pura terkejut, kemudian kembali melontarkan pertanyaan.
"A-Aku…"
Sontak, dirinya kembali berhenti berbicara, kemudian memegang perutnya dengan kedua tangannya. Pascanya, Vera kembali mengucapkan beberapa kalimat, "Kau pasti tahu apa yang ku maksud, bukan? Lagipula, aku tahu bahwa kau itu tidaklah bodoh."
"Ya, aku sudah tahu apa yang dimaksudkan. Lantas, apa yang perlu aku lakukan untukmu?" tanyaku memastikan.
"Karena Ryan tidak ingin bertanggung jawab, maka aku mohon kepadamu. Jadilah pacarku beberapa hari ini dan buatlah orang tuaku menerima semua yang terjadi…. A-Aku sungguh menyesal!!" Vera berkata demikian dengan air mata yang mulai mengalir lagi.
Tentunya, aku terkejut mendengar semua ucapan dari Vera. Sungguh hal yang tak terduga. Bagaimana bisa aku menjadi pacarnya hanya karena Ryan tidak ingin bertanggung jawab?
~ Lagipula…
Tujuan utamaku kembali ke masa lalu adalah membuat Elena bahagia. Namun sekarang, aku justru terjerat akan masalah yang dihadapi oleh orang yang tidak mencintaiku.
Mungkin apa yang diucapkan beberapa orang memanglah benar…
Bermain-main dengan waktu itu, sangat mengerikan-!!
Sejujurnya aku ingin menolak tawarannya. Namun, entah kenapa, hatiku tergerak akan belas kasih dan memutuskan untuk menjadi pacarnya dalam diam.
"B-Baiklah, aku hanya perlu meyakinkan orang tuamu, bukan?" tanyaku memastikan.
__ADS_1
"Ya, kau hanya perlu meyakinkan orang tuaku," jelasnya.
Pada akhirnya, aku menyetujui ajakannya dan mulai berpacaran dengannya. Sesungguhnya Vera adalah seseorang yang paling kusukai dahulu. Namun, entah kenapa sekarang aku tidak lagi menyukainya.
"Kalau begitu, mari kita pulang bersama!" ajakku sambil mengulurkan tangan kananku kepadanya.
"T-Tentu!" balasnya sambil menggandeng tanganku.
Pasca perbincangan yang cukup berat, kami memutuskan untuk membahas sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Tentunya, topik yang diambil mestilah topik yang sederhana. Mungkin, begitulah pikirku… Vera tiba-tiba saja menyela dengan berucap sesuatu mengenai Elena.
"Indra, maafkan aku. Aku tahu bahwa kau sudah berpacaran dengan Elena, tapi aku memang memerlukan semua ini untuk meredakan semua masalah yang terjadi."
Mendengarnya, aku menjadi sangat terkejut hingga mulutku mulai menganga lebar. Pikiranku menjadi kosong seolah-olah terperangkap di dalam ucapannya.
"P-Pacaran? Aku bahkan belum pernah berpacaran! Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu?" tanyaku dengan wajah yang memerah.
"Hahaha! Ekspresimu lucu sekali! Andai saja waktu itu aku tidak memilih Ryan dan berpaling kepadamu, apakah semua masalah ini tidak akan terjadi. Lagipula dari dulu kau memang orang yang baik, Indra!" ucapnya dengan tawa tipis yang terpancar jelas melalui wajahnya.
Entah kenapa, masa remajaku yang saat ini sangat berbeda dengan masa remajaku dahulu disaat aku belum melompati waktu.
~ Mungkin, aku sudah terlalu banyak bermain-main dengan waktu.
Pada akhirnya, setelah kami sampai di persimpangan jalan, disaat itulah kami harus berpisah untuk sementara waktu.
Dengan disertai angin kencang yang menerpa rambut Vera, membuat suasana cukup kelam dengan kondisi cuaca yang tidak panas dan tidak dingin.
"Selamat tinggal, Indra! Dan terimakasih telah ingin menjadi pacarku untuk sementara waktu!" ucapnya dengan suara nyaring.
"Tentu saja!" balasku, mulai membalikkan badan.
Sore yang sepi, kini telah tiba…
Entah kenapa, suasana menjadi sangat mencekam, diiringi dengan suara jangkrik yang menggema di setiap ujung jalan. Tak ada kendaraan yang lalu-lalang. Benar-benar tempat yang sepi.
Sampai pada akhirnya, dikala diriku tengah berjalan dalam sunyinya suasana itu, seseorang memegang pundakku dengan erat. Tentunya, kejadian itu membuatku sangat merinding. Dengan keberanian yang aku kumpulkan secara spontan, aku mulai membalikkan badanku dengan mata yang sedikit tertutup.
"Dor!!" seru orang tersebut membuatku terkejut.
__ADS_1
"K-Kirana?! Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku kebingungan.
Ternyata, dia adalah sahabatku yang ada di sekolah.
Amanda Kirana…
Sesungguhnya, aku tidak mengetahui asal-usul dari bocah ini. Namun yang pasti, aku merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dirinya. Seolah-olah, aura yang dipancarkan olehnya sama dengan diriku.
"Hmm? Kau tanya 'kenapa'? Tentu saja karena rumahku berada di sekitar sini. Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau ada di sini?" Kirana bertanya.
"Tentu saja aku ingin pulang!"
Pada saat itu aku teringat bahwa rumahnya memang berada di dekat rumahku. Untuk itu, aku memutuskan untuk berjalan bersama dengannya.
Dengan demikian, kami berjalan bersama-sama melewati suasana yang kelam itu. Bersamanya, entah kenapa aku merasa sedikit tenang. Mungkin itu adalah kekuatan persahabatan.
"Jadi, apakah dengan berpacaranan dengan Vera, kau sudah bahagia?" sela Kirana.
"Eh?!"
T-Tunggu… Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku sedang berpacaran dengan Vera? Apakah dia memata-matai kami?
Tetapi, sejak kapan dia mengetahuinya?
"Kau pasti terkejut, bukan? Tenanglah, aku tidak memata-matai kalian. Kebetulan aku lewat di depan kedai makanan dimana kalian mengobrol. Dan aku sempat mendengar perbincangan kalian. Itu sebabnya aku dapat mengetahuinya!" jelasnya dengan senyum tipis di wajahnya.
"T-Ternyata begitu… bisakah kau merahasiakannya kepada orang-orang?" saranku kepadanya untuk tidak menyebarluaskan masalah itu.
"Baiklah-baiklah, kau tenang saja! Kita ini sahabat, bukan?" ucapnya.
Ucapannya itu benar-benar membuatku tenang. Lagipula, mengapa aku tidak percaya kepada Kirana? Bukankah dia adalah sahabat terbaikku, selain orang itu… Bayu?
"Kau benar, baiklah aku akan percaya kepadamu! Mari kita pulang!" saranku karena hari sudah mulai gelap.
Suasana mencekam sore itu, tidaklah terlalu menyeramkan ketika kita bersama dengan seorang teman yang satu pemikiran dengan kita.
Semoga saja aku bisa menjalani hari esok dengan baik!! Masalah Vera akan kuselesaikan dengan baik! Kemudian aku dapat berfokus kembali pada Elena yang membutuhkanku.
__ADS_1
~ BERSAMBUNG ~