
Selang beberapa lama, bel istirahat mulai berbunyi nyaring dengan suara yang terdengar hingga seluruh penjuru sekolah. Ocehan dari guru yang tengah memarahi salah seorang dari para siswa yang tak memakai pakaian lengkap, kini telah berhenti.
Diriku bergegas keluar kelas untuk mencari keberadaan Elena. Sebab, aku masih tidak mengerti alasan mengapa ia mengabaikanku.
Namun, seseorang menghentikanku dari arah belakang dengan cara memegang bahuku.
Siapakah itu-?!
"Indra, ayo kita ke kantin bersama!" tegurnya.
~ Ah, ternyata dia adalah Bayu. Namun, sepertinya yang menegurku tidak hanya dirinya, melainkan masih terdapat satu orang lagi. Benar, Ryan juga bersama dengannya. Wajahnya yang sok tampan itu, membuatku kesal hingga berkeinginan untuk memukulnya. Meski demikian, aku tetap menerima ajakan dari Bayu.
"Baiklah, ayo kita pergi!" balasku.
Dengan demikian, aku sejenak melupakan apa yang terjadi pada Elena. Entah kenapa, sesuatu di dalam diriku membuatku menerima ajakannya. Sejujurnya aku tidak terlalu memedulikannya, lagipula aku sedang merasa lapar.
Kami mulai berjalan menuju kantin dengan berjalan bersama-sama. Dalam perjalanan, kami berbincang-bincang dengan suasana yang cukup baik.
"Indra, sepertinya orang yang kau sukai telah menjadi milik Ryan. Hahaha! Yang sabar ya, Indra!" ejeknya memulai perbincangan.
"Hahaha! Sepertinya begitu. Lagipula, aku tidak terlalu memedulikannya. Karena aku sudah memiliki perempuan yang benar-benar sangat aku cintai!" balasku dengan tawa palsu andalanku.
Secara tiba-tiba, Ryan berhenti berjalan dan menyela ucapanku. "Indra, jadi kau benar-benar tidak menyukai Vera lagi?"
"Ya, tentu saja! Kau boleh mengambilnya!" sindirku dengan senyum tipis terlukis di wajah.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya. Lagipula aku tidak terlalu menyukainya. Dia memang menjadi milikku, tapi dalam artian lain."
Meski dirinya berkata demikian, aku tidak terlalu mempercayai ucapannya. Sebab, semua yang dikatakan oleh Vera sangat berbanding terbalik dengan perkataannya. 'Artian lain', yang kau maksudkan pasti mengarah pada Vera yang mengandung.
Setelah ucapannya terakhir yang dilontarkan oleh Ryan, kami kembali berjalan menuju kantin. Dalam keramaian siswa yang lalu-lalang, tak sengaja diriku lagi-lagi menabrak bahu dari seseorang.
Berbeda dengan yang sebelumnya, saat ini aku menabrak seorang laki-laki yang tengah membawa kumpulan buku dengan mata yang tertutup oleh kacamata. Akibat dari tabrakan itu, kumpulan buku yang dipegang olehnya, jatuh berserakan di lantai.
Terasa tak asing bagiku, ternyata orang tersebut satu kelas denganku. Dia adalah siswa yang pintar dan berwawasan tinggi. Walaupun ia tidak dekat dengan seorang gadis, namun perlakuannya itu patut diberi apresiasi.
"M-Maafkan aku, aku tidak melihatmu!" serunya meminta maaf kepadaku sambil menundukkan kepalanya.
"Ah, tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf!" ucapku merasa bersalah.
__ADS_1
Selagi berkata demikian, aku membantunya mengumpulkan buku-buku yang berserakan. Begitupula dengan Bayu yang juga mencoba untuk membantunya. Terkecuali dengan Ryan yang hanya menaruh kedua tangan di saku celananya. Bahkan dirinya tidak memiliki inisiatif untuk menolong sesamanya.
"T-Terima kasih telah menolongku!" ucapnya lagi-lagi memberi hormat.
"Jangan dipedulikan… Ngomong-ngomong, namamu Rizal, bukan?" tanyaku memastikan.
"Benar, itu memang namaku! Kalau kau, Indra, bukan?"
"Ya!"
Secara tiba-tiba, ia mulai berjalan menuju arah belakang punggungku, untuk pergi ke suatu tempat. Seraya berlaku demikian, Rizal berucap kepada kami, "Aku ada urusan penting, sampai jumpa di kelas!"
"Ya, tentu saja!" balasku.
Dengan demikian, kami segera melanjutkan perjalanan kami menuju kantin sekolah. Ramai siswa yang berbondong-bondong melaju ke kantin. Itu adalah hal biasa bagi kami. Sebab, banyak murid yang tidak membawa bekal dari rumah.
Sejujurnya, aku dibawakan bekal oleh adikku. Walaupun perilakunya demikian, sepertinya dia tetap peduli padaku. Namun meski demikian, aku memutuskan untuk memakai makanan tersebut setelah istirahat kedua, tepatnya pada tengah hari bolong.
Sesampainya di kantin sekolah, kami membeli beberapa makanan ringan yang cukup membuat perut kenyang.
Pada saat menyantap makanan tersebut, aku menjadi teringat akan Elena yang seperti marah kepadaku. Untuk itu aku memutuskan untuk pergi lebih dahulu daripada mereka.
~ Tunggulah aku, Elena!!
Dengan berlarian di lorong kelas, diriku menjadi perhatian siswa ramai. Meski demikian, aku tidak peduli.
Dimana kau?
Dimana kau berada, Elena?!
Disaat aku tengah berlarian dengan arah tujuan yang tak jelas, disaat itulah aku tengah melihat Elena sedang berbincang-bincang dengan seseorang.
Seseorang yang baru saja bertemu denganku!
"Rizal?!"
Dengan cepat aku menghampiri mereka berdua yang tengah bercanda ria bersama. Spontan aku mengucapkan, "Elena!!"
Namun, reaksinya begitu dingin, Elena langsung mengalihkan perhatiannya dan berbicara kepada Rizal, "Mari kita pergi ke perpus, Rizal!"
__ADS_1
"B-Baiklah!" balasnya.
Pada akhirnya, mereka meninggalkanku sendirian… Sepertinya aku sudah melakukan kesalahan yang begitu besar!
Menyesal? Sepertinya itu sudah terlambat!
Kukira hari ini akan berjalan dengan lancar, serta akan ada hal baik yang terjadi. Namun yang terjadi justru sebaliknya…
Sudahlah, aku sudah kehilangan tujuan hidupku lagi…
Apakah aku benar-benar akan menyerah? Apakah semua ini adalah akhirnya?
Belum, aku belum menyelesaikan urusanku dengan Vera. Mungkin, dengan menyelesaikannya, aku bisa kembali ke masa depan dan jalur waktu kembali normal.
Mungkin, ini adalah balasan dari waktu karena aku telah bermain-main dengannya. Sungguh, jika saja aku tidak kembali ke masa lalu, mungkin semua itu tidak akan terjadi!
Siapa?! Siapa sebenarnya orang yang membuatku kembali ke masa lalu?!!
Aku ingin mengetahui semua itu… Suatu saat nanti, aku pasti akan mengetahuinya! Untuk saat ini, aku akan menyelesaikan masalah Vera terlebih dahulu.
Dengan demikian, aku mulai berjalan kembali menuju kelas dalam raut wajah sedih.
Mungkin, mereka akan berpikir, "Hanya karena masalah cinta, kau berpikir untuk mengakhiri hidupmu?", atau sejenisnya.
Namun, semua yang terjadi padaku, tidak hanya berfokus pada cinta belaka. Andaikan mereka tahu, bahwa melakukan perjalanan waktu secara terus-menerus terlebih lagi harus berbolak-balik ke masa depan dan ke masa lalu, itu sangat melelahkan.
Setelah beberapa berjalan, tepat pada saat aku memasuki kelas, bel istirahat usai telah berbunyi. Para siswa mulai masuk kelas satu per satu. Tak terkecuali dengan mereka yang baru saja berada di kantin.
Pasca semua kejadian itu terjadi, aku baru menyadari… bahwa melakukan perjalanan waktu, itu sangat mengerikan!
Mungkin seharusnya aku tetap berada di masa depan dan membuat lini waktu berjalan normal. Namun, setelah pertemuanku dengan Elena, aku kembali ke masa lalu.
Sebenarnya, apa yang menyebabkan semua itu?
Untuk saat ini, mungkin tidak ada yang dapat memberikanku sebuah jawaban…
Setelah beberapa lama berlalu, guru mulai memasuki ruang kelas. Seorang pria yang terlihat sangat galak. Dia merupakan guru biologi kami. Meski wajahnya seram, aku tahu bahwa guru itu tidak bermaksud buruk.
Sepertinya, aku akan berpikir cara untuk menyelesaikan masalah Vera terlebih dahulu!!
__ADS_1
~ BERSAMBUNG ~