
Saat ini, tepatnya di tengah-tengah aula. Para siswa mulai dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas, telah berkumpul untuk mendengarkan debat para anggota OSIS dan memilih ketua OSIS yang berikutnya.
Semua murid sedang berbincang satu sama lain. Membuat tempat itu menjadi penuh dengan suara mereka.
Hingga pada akhirnya, seseorang datang dengan gagahnya ditengah-tengah semua murid itu, dan berjalan menuju mimbar. Seorang pria dengan mengenakan setelan jas hitam menghadap ke arah para murid itu.
Dengan berdiri tegak di sana, ia berkata kepada muridnya, "Selamat pagi semuanya! Pada siang yang cerah ini kita akan mengadakan debat antar kandidat osis! Setelah itu dilanjutkan dengan pemilihan ketua serta wakil osis yang baru! Sekarang, mari kita panggil semua kandidat ketua osis untuk maju ke depan!"
Semua kandidat ketua osis segera maju ke mimbar untuk melakukan debat tersebut. Elena pun berlaku demikian. Ia maju ke mimbar bersamaan dengan kandidat yang lain.
Berbeda denganku, aku sedang berjalan-jalan untuk mencari angin segar. Yah, meskipun ini dilarang, namun aku melakukan ini hanya untuk bertemu dengan satu orang.
Kami memutuskan untuk bertemu di lapangan basket tertutup yang ada jauh di belakang sekolah.
Akhirnya, aku sampai di sana sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
"Akhirnya kau sampai, Indra."
Jika kalian bertanya siapa yang itu, maka kalian tidak akan asing dengannya. Dialah orang yang memiliki masalah namun tidak ingin diungkapkan.
"Cepat beritahu apa yang kau mau, Vera!"
"T-Tidak, aku hanya ingin meminta maaf padamu. A-Aku… Minta maaf-"
Belum selesai mengucapkan apa yang ingin dia katakan, dia merengek minta ampun kepadaku sambil menggenggam kakiku erat-erat. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa dia terus menerus meminta maaf kepadaku.
"Hei, ada apa denganmu?" tanyaku kebingungan.
"Andaikan saja aku lebih menyukaimu daripada Ryan, hal ini tidak akan terjadi!!" ucapnya sambil terus menerus mengeluarkan air mata.
"Ryan? Ada masalah apa kau dengan Ryan? Apakah dia selingkuh darimu?" tanyaku memastikan.
"T-Tidak, bukan itu."
"Lalu, apa?"
"Mungkin aku sudah berhubungan dengannya terlalu jauh. Setelah aku mengeceknya, terjadilah demikian. Aku menyesal sudah memilihnya sebagai pacarku! Maafkan aku, Indra! Tolong bantu aku! Dia tidak ingin bertanggung jawab dengan ini!"
"Maksudmu?!"
"Benar, apa yang kau pikirkan itu benar!"
"Sial, baiklah kau tenang dulu!"
__ADS_1
Sambil berkata demikian, aku memegang pundaknya dan menenangkannya. Ternyata, hal itu yang ingin ia beritahukan kepadaku. Pantas saja ia tidak bisa membicarakannya di depan orang banyak.
"Kalau begitu, aku-"
Disaat aku sedang membantunya berdiri, aku melihat banyak burung gagak bertengger dengan tiang-tiang dekat lapangan itu. Gagak itu seolah-olah menatapku dengan tatapan yang mengerikan.
~ Tunggu, apakah akan terjadi hal buruk kepadaku? Sepertinya tidak juga, aku harus berpikir positif mengenai hal ini.
Baru saja membantunya berdiri, tatapan dari Vera menjadi kosong, seolah-olah sedang melihat seseorang ada di belakangku.
"Ada apa, Vera? Apakah ada sesu-"
Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, lagi-lagi aku tidak bisa bernafas.
~ Ada apa ini? Apa yang terjadi denganku?
"Jadi kau memberitahukan itu kepada Indra ya… BUKANKAH SUDAH KUBILANG UNTUK MERAHASIAKANNYA!!" teriak orang itu.
"M-Maafkan aku!" teriak Vera ketakutan.
Aku memutuskan untuk memutar balikkan badanku untuk melihat siapa orang itu. Namun, aku sedikit kesusahan dengan itu karena terdapat sesuatu yang mengganjal di jantungku.
"Ryan? Kau kah itu?" tanyaku memastikan.
"Indra, aku minta maaf. Aku terpaksa harus menghilangkanmu dari dunia ini. Karena, aku tidak ingin ada masalah tentang ini! Aku tahu, kau pasti akan menyebarkan informasi itu, dan mengadukan kepada orangtuaku! Jadi, aku memutuskan untuk membunuhmu!"
Perlahan-lahan, mulai keluar darah dari dadaku menuju tubuhku. Tatapanku mulai berkabut.
"Kenapa kau menusukku? Bukankah kita sahabat?" tanyaku.
"Sahabat?! Aku berteman denganmu hanya karena ingin mendekati Vera!"
"A-Apa?"
Tubuhku sudah tidak kuat menahannya. Aku mulai terjatuh ke lantai dengan sebuah pisau yang masih tertancap di jantungku. Pandanganku mulai kabur. Tiada sepatah katapun yang bisa ku ucapkan saat ini. Aku tidak tahan lagi, staminaku sudah habis. Bisa-bisa, aku mati disini.
~ Apakah ini adalah takdirku?
"Ayo kita pergi, Vera. Kau harus dihukum karena ingin mengumbarkan itu kepada orang." Ryan mengancam.
"B-Baik."
Merekapun meninggalkanku terbaring dengan berlumur darah sendirian. Namun, sebelum ia sampai di pintu keluar, ia berbalik badan, dan berteriak padaku, "Hei Indra. Jika dunia lain itu ada, dan aku masih menyukai Ryan, buatlah aku menyukaimu lebih dari siapapun! Tolong, selamatkanlah aku!"
__ADS_1
"Diamlah!" Ryan membentak sambil menyeretnya menuju keluar lapangan itu.
Huft… Apakah ini adalah akhir dari kehidupanku? Ternyata, rumor mengenai burung gagak yang membawa kesialan itu memang benar adanya. Jika aku melihat burung gagak lagi, aku harus berhati-hati.
Sepertinya, aku masih punya sedikit tenaga untuk berjalan ke luar gedung basket ini. Segeralah aku mencoba untuk berdiri dengan kedua kakiku sebagai penopang utama.
Berhasil?!
Dengan demikian, aku berjalan menuju ke luar gedung itu dengan berjalan secara perlahan. Setelah sampai di pintu depan, aku mengerahkan segala tenagaku untuk berteriak, "ELENA! SEPERTINYA AKU GAGAL MENEPATI JANJIKU!"
Setelah berkata demikian, aku jatuh tersungkur ke tanah.
Sementara itu, Elena yang sedang berdebat dengan kandidat ketua yang lain, tiba-tiba merasakan sesuatu yang janggal setelah melihat beberapa burung gagak melintas melalui jendela. Dia segera meminta izin untuk pergi ke kamar mandi selama beberapa menit.
Tidak membuang-buang waktu, ia segera mencari diriku di seluruh penjuru sekolah. Hingga ia berhasil menemukanmu terdampar lemas di depan gedung basket.
"INDRA?!"
Dengan tubuh yang gemetar, ia berlari mendekat ke arahku. Walaupun ia takut untuk mendekat ke arahku, ia tetap berusaha melawan rasa takutnya. Sepertinya, ia memang orang yang sangat peduli denganku.
"Apa yang terjadi, Indra? Hei, jawab aku!!"
Tepat setelah berkata demikian, ia membantuku berdiri dengan salah satu tanganku ditopangkan ke bahunya.
Pada saat itu, aku masih memiliki sedikit tenaga untuk bernafas dan berjalan.
"E-Elena, kau kah itu?" tanyaku.
"Indra? Apa yang terjadi denganmu?"
"Sepertinya, aku telah ditusuk oleh seseorang."
"Siapa itu?" tanyanya penasaran.
"Teman terdekatku, Ryan."
Setelah aku berkata demikian, ia menjadi sangat kesal dan berniat untuk membalaskan dendamku. Tatapannya menjadi sangat tajam, seolah-olah menyimpan dendam yang luar biasa.
"Tenanglah, mungkin aku akan menunggumu di alam baka sana. Tolong, jaga tubuhku sampai kapanpun itu." ucapku sambil tersenyum tipis.
Sesudah itu, hujan deras turun membasahi kami semua. Hujan yang disertai sambaran petir yang amat kencang itu membuat suasana semakin mencekam.
Namun, pada saat itu, aku sudah tidak bernafas lagi. Hidupku telah berakhir dengan tragis. Diriku yang telah tiada ini, hanya dapat berkata.
__ADS_1
Selamat tinggal, Elena!
~ BERSAMBUNG ~