
Di tengah hiruk pikuk kota Gangnam di malam hari. Rong Yan yang berada di sebuah klub malam tengah duduk dengan tidak nyaman. Meski ia memaksa untuk nyaman, namun ia benar – benar tidak terbiasa dengan hal ini. Bukan karena dia mau mencoba munafik, namun memang sepanjang hidupnya ia tidak pernah mendatangi tempat – tempat seperti ini.
Jika bukan karena tunangannya Wong Feng meminta ia untuk datang ia tentu tidak akan datang. Mengingat esok adalah hari bahagianya yaitu hari dimana ia akan menikah dengan tunangannya itu, tentu hati Rong Yan berdebar karenanya.
Di dalam ruangan privat itu ia hanya duduk dan melihat orang – orang di sekitarnya. Ia tahu mereka adalah teman Wong Feng, meski begitu dirinya tidak terlalu mengenal mereka.
Sebelumnya ,, sepupunya yang bernama Rong Sen menelfonnya dan mengatakan bahwa dia diminta untuk mengantar Rong Yan ke tempat tersebut. Setelah datang ke tempat ini pun, ia hanya melihat Wong Feng sebentar, dan Wong Feng serta sepupunya Rong Sen pun pamit dan mengatakan ada sesuatu yang harus diurus. Jadi meminta dirinya untuk menunggu di tempat itu.
Awal mula Rong Yan berencana untuk ikut mereka berdua, karena bagaimana pun ia merasa sangat tidak nyaman di kelilingi oleh orang yang tidak terlalu ia kenal, dan juga bau alkohol dimana – mana, namun gagasan tersebut di tolak mentah – mentah oleh Wong Feng.
Wong Feng menjelaskan bahwa ini adalah keperluan bisnis. Sedangkan Rong Sen yang memang sekertarisnya perlu hadir untuk membahas kerja sama ini.
“Jadilah penurut oke? Aku akan segera kembali. Kau baik – baik disini. Aku akan menjemputmu setelah kita selesai dengan pekerjaan kita”, ucap Wong Feng mengelus puncak kepala Rong Yan sembari mengecup dahi Rong Yan.
Rong Sen pun berkata sembari memegang tangan Rong Yan “Kau duduk baik disini, dan tunggu kami. Ingat, jangan buat ulah. Esok adalah hari pernikahan kalian. Lagi pula ini adalah kesempatan yang jarang di temukan, jadi kita benar – benar tidak dapat menolak keinginan klien ini. Tempat pertemuan kami masih di gedung ini, jadi tidak akan terjadi apa -apa. Kau mengerti?”, ucapnya meyakinkan Rong Yan.
Rong Yan pun hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. “Baiklah, kalian segeralah kembali. Aku akan tetap disini menunggu kalian”, ucapnya dengan tersenyum.
Hingga sampai saat ini. Waktu tengah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Berkali – kali Rong Yan mencoba menghubungi tunangannya dan sepupunya. Namun aneh nya tidak ada dari mereka yang mengangkat satupun.
Ia merasa mulai resah. Bau alkohol, asap rokok dan juga perlakuan para lelaki yang membawa pasangan mereka masing – masing begitu vulgar di depan matanya. Tidak hanya itu, beberapa dari mereka menatap penuh nafsu kepada Rong Yan meski di samping mereka tengah duduk seorang wanita cantik…
“Halo nona, boleh aku duduk di sampingmu?”, ucap salah satu pria yang mendatanginya. Pria itu tampak berusia 30 tahun, memakai pakaian casual namun terlihat dari pakaiannya bahwa ia dari kalangan yang berkuasa.
__ADS_1
Awalnya Rong Yan berniat menolak, namun melihat mata panas yang ada di mata pria tersebut, Rong Yan pun mengurungkan niatnya dan mau tidak mau mempersilahkan pria tersebut. Rong Yan tidak ingin jika penolakannya malah justru menjadi pemicu pria tersebut untuk berbuat nekat.
“Silahkan”, ucapnya lirih.
“Terimakasih. ... Ngmong – ngmong kau... Tunangannya Wong Feng bukan?”, tanyanya.
Rong Yan pun menjawab sekedarnya “Kau benar”.
“Aku melihat Wong Feng keluar bersama wanita cantik. Mengapa kau tidak mengikuti mereka?”, tanyanya kembali sembari meneguk minuman yang ada di gelasnya.
“Dia ada urusan dengan sepupuku. Urusan pekerjaan, mungkin sebentar lagi ia akan kembali”, ucap Rong Yan dengan maksud lain.
Ia ingin mengatakan jika jangan melakukan macam – macam, karena tunangannya akan segera kembali.
Mengerti makna di balik kata – kata tersebut pria tersebut pun terkekeh pelan.
“Nona,, apakah kau sangat mempercayai kekasihmu itu?”, tanyanya kembali.
“Tentu. Apa ada alasan untukku meragukannya? Bahkan besok adalah hari pernikahan kami”, ucapnya dengan nada tidak senang.
“Ahahahhahahaha...ahahahha..ahahahha....”, pria tersebut tertawa semakin kencang.
Rong Yan semakin mengerutkan keningnya. Ia benar – benar merasa bahwa pria di depannya ini memang telah mabuk sehingga berkelakuan seperti ini.
__ADS_1
“Mungkin anda memang terlalu mabuk. Apakah perlu saya memanggilkan pelayan?”, tanya Rong Yan.
Pria tersebut berhenti, dan menatap lekat – lekat wajah Rong Yan. Agak lama ia menatap, seperti mempertimbangkan sesuatu.
“Tuan, apa anda baik – baik saja?”, ucap Rong Yan memastikan bahwa pria di hadapannya memang benar – benar masih sadar.
“Aku baik – baik saja. Lagi pula aku tidak akan mabuk hanya dengan 1 gelas anggur ini.” Jawabnya sembari mengalihkan pandangan.
Beberapa saat kemudian ia pun kembali menatap Rong Yan yang berada di samping dan berkata “406, pergilah kesana”, sembari memberikan sebuah kunci kepada Rong Yan.
Rong Yan mengira bahwa pria itu ingin bertindak kurang ajar, dan mencoba untuk merayunya. Namun belum sempat ia memberikan jawaban kepada pria tersebut kembali mengatakan sesuatu “Kau akan menemukan pria mu disana, dan kau juga akan mengetahui apa yang seharusnya kau ketahui. Sampai saat itu kau harus menguatkan hati dan dirimu”.
Ucapan tersebut membuat Rong Yan mendadak beku. Ia akhirnya mengerti dengan arah pembicaraan pria tersebut.
Pria itu tersenyum dan berkata “Semua tergantung keputusanmu”, ucap pria tersebut. Lalu pria itu pergi dan pindah ke tempat duduk lain.
Melihat kunci yang ada di tangannya Rong Yan sempat ragu. “Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui, hal apa yang sebenarnya tidak aku ketahui?”, tanya Rong Yan di dalam hati sembari mengingat apa yang di sampaikan oleh pria tersebut.
“Haruskah aku percaya? Bagaimana jika ia menjebakku? Namun... “, kembali Rong Yan berkelut dengan pikirannya dan juga ia melihat jam yang ada di tangan kirinya, waktu telah menunjukkan pukul 02.45 dini hari.
Entah mengapa Rong Yan benar – benar penasaran dengan pekerjaan apa yang di lakukan oleh tunangannya hingga sampai sepagi ini. Dan lagi,, mengapa telfon mereka berdua tidak ada yang dapat dihubungi lagi, jelas – jelas sebelumnya mereka mengatakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Dan itu tidak butuh waktu lama.
Rong Yan memikirkan berbagai skema. Bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi dan menimpa kekasih dan juga sepupunya itu.
__ADS_1
Lalu dengan pemikiran itu, Rong Yan berdiri dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Ketika Rong Yan telah keluar dari ruangan tersebut pria yang memberikan kunci kepada Rong Yan pun tersenyum. Senyum penuh kelicikan dan juga tipu daya terpampang jelas di wajahnya.