Romansa Cinta

Romansa Cinta
Bab. 3


__ADS_3

“Saat ini juga? Dimana posisimu?”, ucap orang tersebut.


“Aku tengah di jalan xxxxxx”, Rong Yan pun menjelaskan lokasinya saat ini.


“Baiklah,,, kau tunggu aku disana. Jangan kemana – mana. Aku akan segera datang”, ucap orang tersebut dan menutup telfon.


Rong Yan masih menggenggam ponselnya, dan terduduk di tempat orang biasa duduk di pinggir jalan.


Ia menunggu sembari menatap ke atas langit. Langit malam yang gelap, dan bulir – bulir air yang jatuh membasahi wajahnya. Karena hujan yang membasahi wajahnya ia dapat menyamarkan air mata yang saat ini berjatuhan dari kelopak matanya.


Sorot wajahnya terlihat benar – benar terpukul dan seperti tidak ada daya untuk hidup. Ia berfikir,, mengapa ini bisa terjadi?


“Apa salahku? Dari kapan mereka berselingkuh di belakangku? Jika teman Wong Feng saja mengetahui hal ini, bukankah seharusnya teman yang lain mengetahui hal tersebut. Bisa – bisanya aku tertipu dengan mereka berdua.”, Berbagai pikiran dan juga pertanyaan muncul di benak Rong Yan saat ini. Pertanyan – pertanyaan yang ia sendiri tidak mampu untuk menjawab satu pun dari pertanyaan tersebut.


Perasaan sakit hati, dendam dan juga kecewa semua bercampur menjadi satu. Ia bahkan telah merelakan untuk menyerah di industri model meski namanya tengah naik daun hanya karena untuk menaikkan nama sepupunya yang saat itu tengah baru saja memasuki dunia modeling. Ia bahkan rela meninggalkan rumah dan diusir oleh kakeknya hanya karena lebih memilih hidup dengan tunangan yang ia percayai selama ini. Ia bekerja dari pagi hingga pagi lagi untuk membantu perusahaan tunangannya yang merupakan sebuah perusahaan agensi di industri hiburan agar dapat stabil ketika perusahaan tersebut masih belum memiliki namanya sendiri. Ia bahkan juga telah mengeluarkan banyak uang dari tabungannya untuk dapat membuat perusahaan agensi yang kecil menjadi berkembang pesaat saat ini juga. Dan kini, setelah semua yang ia lakukan, jerih payah yang ia korbankan, keberhasilan perusahaan dan juga ketenaran yang dimiliki oleh sepupunya benar – benar membuahkan hasil yang manis ternyata ia dibuang begitu saja seperti hama.


“Jadi selama ini mereka memanfaatkanku?”, gumam Rong Yan sembari menundukkan wajahnya. Pipinya terasa hangat akibat air mata yang jatuh dari kedua matanya, begitu kontras dengan air hujan yang terasa dingin di kulit pipinya.


Ia termenung hingga sebuah mobil pun berhenti di depannya. Ia menoleh dan melihat bahwa seorang pria dengan wajah yang ia kenali meski baru beberapa jam lalu tengah berdiri di depannya.


Rong Yan tertegun melihat pria tersebut, lalu Rong Yan pun bertanya “Apa alasanmu memberi tahuku? “, ucap Rong Yan.


Rong Yan mengerti bahwa tentu bukan tanpa alasan ia memberi tahu nya . Di tambah Wong Feng adalah temannya, meski karena jasa pria tersebut Rong Yan mengetahui hal ini, namun tentu Rong Yan semakin waspada dengan pria tersebut.

__ADS_1


Ia bahkan memberikan jasnya kepada Rong Yan dan memakaikannya. Rong Yan juga tidak mengatakan apapun, ia hanya termangu dan menatap ke bawah.


Pria tersebut memantikan korek dan menyalakan rokoknya, menghisap putung rokoknya beberapa kali, lalu berkata “ Aku memiliki hutang kepada almarhum orang tuamu.”.


Pria tersebut memberikan sebuah kartu nama dan menyerahkan nya kepada Rong Yan. “Hubungi aku jika kau memerlukan sesuatu. Meski bukan orang tua kandung, namun orang tuamu juga adalah orang tuaku. Tentu sebagai kakak aku tidak akan membiarkan apapun menyakiti adikku bukan?”, Lalu pria tersebut melihat kejauhan dan ia berjalan menjauh menuju mobilnya.


Setelah membuka mobil ia berbalik badan dan menatap Rong Yan. “Aku menunggumu untuk menghubungiku”, ucapnya lalu memasuki mobil.


Mobilnya pun pergi menjauh darisana. Rong Yan menatap sebuah kartu nama di tangannya. Terlihat desain kartu nama tersebut tidaklah biasa, bukan hanya itu namun ia terkejut melihat nama yang ada di kartu tersebut.


“ Jing Feng”, ucap lirih Rong Yan yang membaca nama tersebut, lalu ia menatap ke bawah. Sebuah sepatu wanita pun terlihat di kedua matanya.


Rong Yan mendongak dan mendapati sahabatnya Lin Mei tengah bernafas dengan tidak beraturan. Terlihat ia berlari sekuat tenaga hingga terlihat wajahnya yang kemerahan.


“Lihatlah penampilanmu ini? Bahkan pengemis di pinggir jalan saja bisa lebih baik dari keadaanmu saat ini”, ucap Lin Mei yang memarahi Rong Yan.


Bukan merasa kesal Rong Yan malah merasa hangat di dalam hatinya. Melihat mata sahabatnya yang seakan mengkhawatirkan dirinya entah mengapa air mata Rong Yan kembali meleleh.


“Huhuhu..huhu.huhuhuhu”, kembali tangis Rong Yan pun pecah.


Lin Mei yang melihat keadaan sahabatnya yang seperti ini semakin tidak tega. Dengan tidak berdaya ia pun memeluk sahabatnya itu dan menenangkannya.


Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Tidak ada yang bertanya mengapa ataupun yang menjelaskan tentang apa yang terjadi saat ini. Keduanya hanya diam.

__ADS_1


Mereka hanya berpelukan seakan untuk saling menguatkan. Butuh beberapa waktu untuk mereka melepaskan pelukan mereka.


Setelah melihat sahabatnya itu tidak lagi menangis, Lin Mei pun berkata dengan lembut “Hari akan semakin terang. Sebentar lagi tentu akan ada banyak orang yang berlalu lalang. Lebih baik kita kembali ke apartemen ku dulu, lagi pula kau butuh untuk membersihkan dirimu saat ini”, ucap Lin Mei.


Rong Yan pun mengangguk lalu pergi dari sana dan menuju ke dalam mobil yang dibawa Lin Mei.


Di sepanjang jalan mereka tidak mengatakan apapun hingga mereka sampai di apartemen Lin Mei.


Lin Mei langsung membiarkan Rong Yan duduk dikursi sementara Lin Mei lari ke dalam kamar untuk mengambil handuk.


“Bersihkanlah tubuhmu. Aku telah menaruh pakaian ganti di kamar mandi dan aku akan membuatkan coklat hangat untukmu”, sembari menyodorkan sebuah handuk di depan Rong Yan.


Dengan patuh Rong Yan menerima handuk tersebut dan pergi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai mandi, Rong Yan kembali ke tempat duduknya dan memegang sebuah gelas dengan coklat di dalamnya. Ia tengah menghangatkan badan. Tatapan matanya masih terlihat tidak ada gairah disana. Melihat rambut yang masih menetes milik sahabatnya itu, Lin Mei pun hanya dapat menghela nafas, lalu mengambil sebuah hair dryer dan mulai mengeringkan rambut sahabatnya yang basah itu.


Karena melihat sahabatnya yang masih tidak mau mengatakan tentang apa yang di alaminya, pada akhirnya Lin Mei pun mencoba untuk bertanya perlahan tentang kejadian apa yang menimpa sahabatnya hingga membuatnya seperti ini.


“Apa kau merasa baik sekarang? ”, tanyanya memulai topik pembicaraan.


Rong Yan pun mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


“Apa kau mau menceritakan apa yang tengah terjadi? Tentu, aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau menjawab pertanyaanku. Lakukan senyamanmu saja”, ucap Lin Mei yang kini mengambil duduk di sebelah Rong Yan sembari memegang tangan Rong Yan.

__ADS_1


__ADS_2