
Sontak Rong Yan berbalik dan melihat pria dengan balutan jas berwarna navi yang senada dengan celananya. Rambutnya agak ikal di sisir rapi ke belakang menambah kesan elegan yang ada pada dirinya. Wajah yang sempurna bagaikan di pahat, benar – benar membuat Rong Yan tertegun sesaat.
Setelah kembali ke akal sehatnya Rong Yan pun tersenyum, “ Tuan Mo, maaf membuatmu menunggu”, ucapnya dengan tersenyum
“Tidak lama, aku juga baru sampai. Ayo masuk”, ucap Mo Jing yang diikuti oleh Rong Yan.
Sebuah ruangan mewah yang benar – benar bagus untuk memanjakan diri dan lidah.
Beberapa saat pintu ruangan di ketuk lalu. Seorang membawa mendorong meja kecil yang berisi makanan – makanan komplit dengan penutupnya.
“Selamat malam Tuan Mo dan Nyonya Mo, sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat menghidangkan makanan bagi anda berdua malam ini”, lalu ia meletakan makanan – makanan tersebut di atas meja di bantu dengan beberapa pelayan.
Rong Yan sendiri tidak mengira bahwa Cheff Wang sendiri yang akan mengantarkan makanannya kali ini.
Seperti yang diketahui orang, Cheff Wang adalah Cheff yang luar biasa. Makanan yang disajikan tidaklah main – main. Dia berkali – kali berhasil menciptakan resep yang luar biasa.
Bahkan meski beberapa kali Rong Yan makan di tempat ini ia tidak pernah berhasil untuk bertemu secara langsung dengan Cheff tersebut.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Cheff Wang sangat tidak suka untuk menemui seseorang yang dianggapnya tidak penting. Ia bahkan berkali – kali menolak panggilan untuk tayang atau wawancara yang diberikan padanya. Meski terkesan sombong dan misterius, namun masakan – masakan yang dibuat dari tangannya adalah sebuah rasa yang memang sangat dan layak untuk di puji.
Sesaat Rong Yan melirik Mo Jing dan berkata dalam hati, “Memang,,, memiliki suami dengan latarbelakang yang luar biasa adalah sebuah anugerah”, ucapnya.
“Silahkan dinikmati, dan panggil saya jika ada yang dibutuhkan” setelah selesai menyajikan makanan pun Cheff Wang dan para pelayan pun pamit pergi.
__ADS_1
“Terimakasih Cheff Wang”, balas Mo Jing dan diangguki oleh Cheff Wang.
Setelah semua telah keluar, Mo Jing menepukkan tangan dua kali. Terdengar alunan musik yang membuat suasana sedikit agak romantis. Di tambah dengan lilin – lilin yang ada di atas meja, entah mengapa membuat Rong Yan agak tersipu..
Mo Jing sendiri mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ternyata itu sebuah kotak kecil berwarna navy, ia membuka kotak tersebut dan terlihat disana sebuah cincin berlian yang sangat indah.
Berlian tersebut terlihat sangat indah dan juga mewah. Meski tidak terlalu besar namun dapat dilihat bahwa pengerjaannya sangat hati – hati dan teliti.
Mo Jing menyodorkan kotak yang berisikan cincin tersebut ke depan Rong Yan seraya berkata,”Hari ini adalah hari pernikahan kita. Maaf aku baru bisa memberikanmu cincin. Meski tidak terlalu mewah, namun untuk sementara bisakah kau menerimanya. Cincin untuk pernikahan kita masih saja dibuat dan akn selesai minggu depan. Aku harap kau tidak keberatan akan hal ini”, Mo Jing pun setengah berlutut di hadapan Rong Yan.
Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Rong Yan di mimpi terliarnya. Seorang Mo Jing, orang yang dingin, angkuh, kejam, namun juga sangat jenius yang sukses bahkan memiliki kekayaan yang tak terhingga suatu hari justru berlutut untuk memberikan cincin kepadanya yang hanyalah seorang yang di telah di telantarkan oleh kekasih nya.
Seketika Rong Yan merasa terharu, entah mengapa hatinya terasa hangat. Dia pun mengangguk dengan perlahan tanda menyetujui apa yang dikatakan oleh Mo Jing.
Melihat wanita di depannya menganggui, Mo Jing lalu memakaikan cincin tersebut ke jari manis Rong Yan, lalu ia menghapus air mata yang berjatuhan di pipi Rong Yan.
Rong Yan yang saat ini di perlakukan begitu lembut pun akhirnya makin mengeluarkan tangisnya. Meski ia berusaha untuk menghentikan air mata yang terjatuh di pipinya, namun entah mengapa ia tidak bisa menghentikan tersebut.
Dengan sabar Mo Jing pun memeluk wanitanya dan menepuk perlahan punggung wanitanya tersebut.
Saat ini tepukan dan Mo Jing, di tambah suasana yang sepertinya dan lagi masih terdengar suara musik yang romantis, entah mengapa membuat hati Rong Yan begitu sesak. Kebaikan dan juga ke lembutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup benar – benar membuatnya terharu.
Setelah beberapa saat, tangis Rong Yan pun mereda. Melihat wanitanya sudah selesai menangis, Mo Jing pun berkata,”Bisakah kita melanjutkan makan malam kita?”, tanyanya.
__ADS_1
“Iya, maafkan aku yang malah menangis di saat seperti ini”, ucap Rong Yan dengan nada bersalah.
“Asal tangisan itu tanda kebahagiaan. Aku tidak masalah”, dengan senyum memuja Mo Jing menatap Rong Yan.
Sejujurnya, tatapan Mo Jing saat ini berhasil membuat Rong Yan tersipu dan membuat jantungnya berdebar.
“Prok..prok”, suara tepuk Tangan Mo Jing pun kembali terdengar.
Kini pintu ruangan tersebut kembali dibuka. Seorang pelayan pun masuk, dan membuka penutup makanan yang masih tertutup di atas meja.
Rong Yang kaget melihat makanan – makanan yang tersaji di atas meja. Entah hanya kebetulan atau tidak, kebanyakan semua makanan yang saat ini tersaji adalah makanan favoritnya ketika ia datang ke restoran ini.
Mereka berdua makan dengan tenang sembari menikmati alunan musik yang masih mengalun. Sesekali Rong Yan melirik Mo Jing yang juga tengah menatapnya.
Di tengah makan malam mereka akhirnya Rong Yan pun berkata, “Tuan Mo, ada yang ingin aku sampaikan pada anda. Apakah anda ingin mendengarnya?”, tanyanya.
Rong Yan merasa, meski Mo Jing tidak menanyakan apapun tentangnya namun tentu Mo Jing pasti ingin tahu apa yang terjadi mengenai dirinya, dan terlebih ada kejadian tadi siang. Rong Yan merasa, sebagai suami istri ia harus bersikap terbuka agar tidak ada kesalahpahaman kedepannya.
“Yan,, sejujurnya aku tidak peduli kau mau memakai topeng seperti apa di luar sana. Yang aku inginkan adalah, jadilah dirimu sendiri ketika bersamaku. Kau bebas untuk melakukan apapun jika di depanku. Kau bisa bersandar atau bergantung padaku jika kau ingin, dan tentu aku sebagai priamu tentu akan merasa sangat bahagia jika kau melakukan hal itu”, ucapnya dengan sungguh – sungguh.
Rong Yan tertegun, ia menatap kedua mata yang segelap malam tersebut. Anehnya,, tidak ada kepura-puraan ataupun kebohongan disana. Yang ada hanyalah tatapan hangat dan juga ketulusan yang jelas terukir di kedua matanya.
Pada akhirnya Rong Yan pun menceritakan apa yang telah ia lalui dan juga apa yang ia rencanakan kedepannya. Selama Rong Yan berbicara, Mo Jing tidak pernah menyela. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan juga keseriusan.
__ADS_1
Setelah selesai menjelaskan apapun yang terjadi, Rong Yan pun merasa lega. Bagaimanapun ia telah menceritakan semuanya kepada pria yang ada di depannya, ia percaya bahwa suaminya saat ini akan mendukung apa yang ia lakukan. Namun ternyata jawaban suaminya itu membuat Rong Yan terkesiap.
“Jadi,, apa aku perlu melenyapkan dan menghancurkan HJ Entertainment, atau aku perlu menghilangkan Wong Feng dari muka bumi ini? Mungkin akan lebih baik untuk mengirim dia ke negara X dan menjualnya untuk dijadikan gigolo?”, ucapnya sembari menggertakkan gigi.