
Rong Yan pun yang terkesiap hanya bisa membisu. Meski ia sudah memutuskan untuk menikahi Mo Jing, namun ia masih membutuhkan waktu untuk menerima semuaanya. Sakit hati yang ia lalui masih terlalu basah dan sejujurnya ia masih sukit membuka hatinya saat ini. Namun ia juga tidak mau mengecewakan Mo Jing. Bagaimanapun Mo Jing dan dirinya saat ini adalah suami istri yang sah, tidak ada salahnya jika Mo Jing memang meminta hak nya.
Di tengah pergolakan pikirannya, Rong Yan pun tersadar ketika Mo Jing berkata kembali, “Aku berjanji tidak akan menyentuhmu sebelum kau berniat untuk membuka hatimu. Aku akan memberimu waktu, aku juga bukan laki – laki yang suka memaksakan kehendak. Bagaimanapun kau memiliki hak untuk menerima ataupun menolak diriku.”, ucap Mo Jing yang membalikkan badan Rong Yan agar mereka berhadapan.
Jarak mereka saat ini sangatlah dekat, bahkan Rong Yan dapat merasakan nafar Mo Jing yang menerpa wajahnya saat ini.
“Tunggulah sebentar lagi”,, ucap Rong Yan perlahan.
Mo Jing menatap mata jernih Rong Yan disana. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya, meski begitu Mo Jing mencoba untuk menahan dirinya sendiri. Namun dorongan itu pun begitu kuat hingga ia tak kuasa untuk ******* bibir istrinya tersebut.
Rong Yan yang menerima ciuman mendadak ini hanya bisa terbelalak. Meski ia berpikir bahwa memang mungkin sudah seharusnya malam ini hal itu terjadi, namun anehnya Mo Jing tidak melakukan hal yang lebih. Bibir kedua nya hanya menempel satu sama lain beberapa saat. Bahkan mereka bisa merasakan nafas satu sama lain.
Setelah sesat Mo Jing melepaskan kecupannya dan menatap Rong Yan yang saat ini menunduk malu menatap ke bawah. Wajah nya yang memerah hingga ketelinga itu menghibur Mo Jing. Ada sebuah senyum tipis yang terlukis di bibir Mo Jing tanpa Rong Yan sadari.
“Nampaknya malam ini kita lebih baik mandi sendiri – sendiri dulu”, ucapnya sembari mengecup puncak kepala Rong Yan sembari berbalik membuka pintu kamar mandi dan pergi darisana.
Rong Yan saat ini jatuh terduduk lemas di pinggiran bak mandi. Ia tengah menenangkan hatinya yang saat ini nyaris keluar dari tempatnya. Ia benar – benar tidak menyangka tentang perlakuan lembut Mo Jing.
Mo Jing yang terkenal dingin dan memiliki sifat angkuh dengan statusnya yang bukan main - maint ternyata memiliki perlakuan romantis yang hanya di lakukan kepada istrinya. Jika dunia luar tahu bagaimana perlakuan lembut Mo Jing kepada istrinya, mungkin dunia luar saat ini akan heboh.
Meski begitu, rasa hangat namun juga terasa manis terasa di dalam hati Rong Yan. Meski ia memiliki status dengan Wong Feng bertahun – tahun, namun sejujurnya ia tidak pernah melakukan hal seperti ini dengannya. Mereka hanya bergandengan tangan ketika mereka tengah bersama.
Setelah mandi, ternyata Mo Jing masih mengerjakan kerjaannya. Ia masih tampak serius, sejujurnya keseriusannya saat ini entah mengapa sangat memukau Rong Yan.
“Apakah suamimu begitu tampan hingga membuat kau bahkan tidak bisa berpaling saat ini?”, tanya Mo Jing yang bahkan tidak berpaling dari sisi laptop nya.
__ADS_1
Mendengar celetukan Mo Jing, Rong Yan pun agak kikuk, namun dengan segera ia dapat mengatasi sikapnya.
Ia tersenyum dan berjalan duduk di kasur nya yang empuk. Dengan salah satu tangannya yang menopang dagunya, ia berkata “Bagaimana aku tidak terpesona? Suamiku sangatlah memukau. “, ucapnya sembari tersenyum.
Mendengar hal ini Mo Jing langsung menoleh dengan tersenyum menatap Rong Yan. “Apa kau ingin istirahat?”, tanya setelah beberapa detik kemudian.
“Iya. Besok aku masih harus bekerja”, ucapnya.
“Baiklah, mari kita beristirahat”, ucap Mo Jing sembari menutup laptopnya dan berjalan ke arah ranjang.
“Kemarilah, biarkan aku memelukmu.”, ucapnya sembari menepuk tempat tidur di sampingnya.
Melihat hal ini Rong Yan kembali tertegun, “Bukankah ia berkata untuk memberiku waktu?”, ucap Rong Yan di dalam hati.
Mendengar janji yang diucapkan Mo Jing, tentu tidak ada alasan lain bagi Rong Yan untuk menolak tawaran suaminya.
Dengan menurut ia berbaring di sisi Mo Jing dengan lengan Mo Jing sebagai bantalan kepalanya.
Ia menatap ke atas, dan seketika pandangan mereka pun bertemu.
Mo Jing yang melihat bibir tipis istrinya yang merah menggoda itu pun tidak kuasa untuk menahannya. Ia kembali mengecup bibir tersebut, namun kali ini ia tidak hanya mengecup bibir tersebut, namun malah **********. Rasa manis dan harus mint pun menyeruak terasa di bibir dan lidahnya.
Rong Yan yang memang tidak pernah melakukan hal seperti ini pun hanya bisa terdiam dan pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. Mo Jing pun butuh waktu beberapa saat untuk melepaskan bibir Rong Yan. Sejujurnya, ia tidak akan melepaskan bibir itu jika ia tidak melihat Rong Yan tengah kehabisan nafas saat ini.
“Tidurlah, aku akan menjagamu”, ucap Mo Jing dengan suara beratnya sembari mengecup puncak kepala Rong Yan dan menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1
Keesokan harinya Rong Yan bangun pukul 6 pagi. Di sisinya sudah tidak ada sosok suaminya. Ia melihat sekeliling dan tidak menemukan sosok suaminya tersebut.
Rong Yan pun menuju ke kamar mandi berniat untuk membersihkan diri sebelum masuk kerja.
Setelah selesai mandi dan bersiap, tiba – tiba pintu kamar di ketuk oleh seseorang dari luar, “Nyona, apakah anda telah bangun?”, suara itu ternyata dari bibi Yun.
“Masuklah bibi. Aku tengah bersiap”, ucap Rong Yan.
Pintu terbuka dan menampilkan sosok bibi Yun. “Nyonya,, Tuan masih menunggu anda untuk makan pagi bersama. Apakah Nyonya sudah siap?”.
Mendengar hal itu, tangan yang saat ini memakai anting – anting pun terhenti, Rong Yan kaget bahwa suaminya ternyata masih menunggunya untuk sarapan bersama.
Dengan cepat, ia mempercepat apa yang ia lakukan dan lalu beranjak darisana.
“Nyonya, Tuan berkata untuk tidak perlu terburu – buru”, ucap bibi Yun. Ia merasa bahwa karena perkatannya membuat nyonya mudanya terburu - buru sehingga ia mengatakan hal tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Tidak bi. Aku memang sudah selesai bersiap”, ucap Rong Yan yang berbalik ke belakang menjawab bibi Yun dengan tersenyum. Ia kemudian berbalik dan berjalan ke lantai bawah untuk makan bersama suaminya.
Di meja makan, Mo Jing tengah membaca beberapa laporan pekerjaannya. Ada Lunfeng sang asisten yang berdiri di sisinya yang juga tengah menatap Rong Yan dan membungkuk memberi hormat.
“Selamat pagi Nyonya. Semoga hari anda menyenangkan”, ucap Lunfeng.
“Pagi Lunfeng, semoga harimu juga menyenangkan”, timpal Rong Yan dengan tersenyum dan menarik kursi di samping Mo Jing.
__ADS_1