
Mendengar hal ini selain tertegun Rong Yan juga merasa amat bersyukur. Ia benar – benar berterimakasih kepada Tuhan karena telah menghadirkan seseorang yang memiliki visi sama dengannya. Meski pertemuan dan perkenalan mereka baru saja, namun anehnya Rong Yang tidak pernah befikir bahwa Mo Jing akan meniipu dirinya. di sorot mata
yang tajam dan gelap itu, ia merasa bahwa laki- laki yang ada di sisinya adalah
pria yang patut ia percayai.
“Lu Feng, jalan”, perintah Rong Yan.
“Tuan Mo,,, mobilku ada di parkiran.”, ucap Rong Yan.
“Perintahkan orang untuk membawa mobil Nyonya”, perintah Mo Jing ke pada Lu Feng.
“Baik Tuan”, jawab Lu Feng yang di sertai dengan anggukan.
Di sepanjang perjalanan baik Rong Yan maupun Mo Jing tidak ada yang memulai pembicaraan hingga suara Lu Feng terdengar dari sisi kemudi.
“Tuan,,, tujuan kita kemana?”, tanyanya sembari mengemudikan mobil.
“Kau mau kemana?”, Tanya Mo Jing kepada Rong Yan.
“Aku ingin ke HJ Entertainment, ada urusan yang perlu ku urus disana”, jawab Rong Yan.
“Pergi ke sana”, ucap Mo Jing.
“Baik Tuan”, jawab Lu Feng.
“Kapan kau akan pindah ke rumah? Kau tidak berniat untuk pisah rumah bukan?”, ucap Mo Jing.
Rong Yan pun menggeleng. “Tidak Tuan Mo, mungkin lusa aku akan pindah ke rumahmu”, jawab Rong Yan..
“Baiklah. Bawalah barang seperlunya saja, Mo Jing tidak semiskin itu untuk tidak dapat
menyediakan kebutuhan istrinya sendiri”, ucap Mo Jing dengan suara dalam.
Entah mengapa Rong Yan tiba – tiba tersenyum menatap Mo Jing. Entah mengapa,, setelah sekian lama ia benar – benar merasa hangat hanya mendengar apa yang dikatakan suainya itu.
Meski mereka baru di pertemukan beberapa
waktu, namun Rong Yan benar – benar bersyukur bahwa ia telah mengajukan lamaran
kepada pria di depannya ini.
Tanpa ia sadari senyum di wajahnya pun mengembang ketika menatap pria yang saat ini telah menjadi
suaminya ini.
“Kau tersenyum?,”,Tanya Mo Jing yang entah mengapa telah menatap Rong Yan saat ini.
Melihat di tatap seperti itu dan menyadari bahwa ia telah melakukan hal bodoh di depan suami yang baru dinikahinya ini mendadak wajahnya memerah, dengan segera ia membuang muka dan menatap ke jendela.
__ADS_1
Lama mereka terdiam dan hanya terdengar suara deru mesin mobil yang kini tengah melaju dengan stabil.
“Aku berterimakasih karena kau sudah memperlakukan ku dengan baik. Aku akan menjadi istri sebaik mungkin untuk kedepannya”, ucap Rong Yan dengan tersenyum lembut ke arah Mo
Jing.
Mo Jing pun terkesiap melihat senyum wanita yang ada di hadapannya ini. Belum sempat ia pulih dari lamunannya suara Lu Feng pun menyadarkannya “Tuan,, kita telah sampai”.
Mo Jing pun melihat di sekitar, lalu mengangguk dan melihat wanita di sampingnya. Wanita itu berkata.“Aku pergi dulu Tuan Mo”, ucapnya sembari kembali menampilkan senyumnya yang
memperlihatnya kedua lesung pipi di kiri dan kanannya.
“Jing…”, gumam Mo Jing.
Rong Yan yang hendak bangkit dari tempat duduknya pun berhenti dan menoleh ke arah pria yang ada di sisinya yang juga kini tengah menatapnya.
Dengan kembali tersenyum Rong Yan berkata “Aku akan kembali Jing”, ucapnya dengan wajah yang merah merona hingga ke telinganya yang tanpa ia sadari hal ini juga tidak luput dari
pandangan Mo Jing.
Seulas senyum pun terlukis di wajah Mo Jing. Matanya tetap menatap pada wanita yang kini telah menghilang dari pandangannya.
Lu Feng yang melihat ini pun sempat beberapa kali mengucek kedua matanya. “Apakah aku salah lihat? Benarkah Tuan tadi tengah tersenyum?”, ia melihat juga ke arah dimana Nyonya barunya pergi hingga siluetnya menghilang, dan kembali menatap pandangan
Tuannya yang tetap melihat ke arah tersebut bahkan meski bayangan Nonya telah
pergi.
Lu Feng. Ia kini menyadari satu hal, bahwa Tuannya ternyata perduli dengan
Nyonyanya.
“Datang”, ucap Mo Jing datar setelah beberapa saat berfikir.
Saat ini Rong Yan telah memasuki bagian kantornya. Perusahaan yang selama ini telah membuatnya begitu bekerja keras, namun alih – alih mendapatkan penghargaan, justru ia hanya di pandang sebelah mata oleh para karyawan. Mereka hanya memandang bahwa dirinya bekerja karena statusnya yang menjadi kekasih dari pemilik perusahaan tersebut, tanpa mereka ketahui bahwa kunci kesuksesan mereka adalah buah dari kerja kerasnya.
Awalnya ia hanya berusaha mengacuhkan karena berfikir bahwa tidak semua yang ia lakukan perlu untuk mendapatkan penghargaan. Ia merasa yang terpenting adalah Wong Feng
mengetahui kerja kerasnya dan itu sudah lebih dari cukup.
Namun ternyata alasan ini benar – benar konyol. Ia benar – benar merutuki kesalahan dan kebodohannya sendiri saat ini.
Ia melangkahkan kakinya ke lift, saat ini berbeda dengan kemarin. Ia berjalan dengan penuh percaya diri, ia menampilkan penampilan yang memang sesuai dengan seleranya. Ketika
pintu lift terbuka ia keluar dari sana.
Di lorong ia sempat bertemu dengan beberapa karyawan yang menatap remeh dirinya. alih – alih merasa terganggu, kali ini Rong Yan hanya berlalu begitu saja tanpa menatap balik
mereka atau apapun. Perilakunya kini menggambarkan keanggunan dan keacuhan.
__ADS_1
“Heii,, bukankah itu Rong Yang?”, ucap salah satu karyawan.
“Ia,, kau benar. Mengapa aku merasa ia merasa berbeda hari ini?”, sambung yang lainnya.
“Aku kira itu hanya perasaanku saja. Ternyata kau juga melihat itu”.
“Aku melihat ia sewaktu di lobby kantor, dari kejauhan ia terasa seperti peri. Pakaiannya hari ini pun terlihat sangat cocok untuknya dari pada biasanya. Entah mengapa aku juga
merasa ia seperti orang yang baru”.
“Mengapa kalian ada disini! Jika kalian masih memiliki waktu untuk berbincang lebih baik kalian mengerjakan pekerjaan kalian. Perusahaan tidak menggaji kalian untuk mengatakan hal – hal yang tidak masuk akal!’, sebuah suara dari belakang mereka pun
membuat para karyawan yang saat ini tengah berbincang tentang Rong Yan pun membeku. Ketika mereka berbalik mereka tengah melihat seorang wanita muda menampilkan wajah garang.
“Baik Ibu Wang. Kami pamit”, ucap mereka yang langsung bubar darisana.
Wanita yang di sebut Ibu Wang pun hanya menggeleng dan menatap ke arah Rong Yan yang sudah pergi menjauh. Entah mengapa ada senyum tipis yang timbul di bibirnya. Ia pun
berbalik dan kembali keruangannya.
Rong Yan terus melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan. Saat ini ia menjadi salah satu panitia penyelenggara untuk acara fashion show yang diadakan oleh para desainer ternama dan juga akan dihadiri oleh para petinggi dan para pemegang saham. Banyak orang yang akan datang baik dari kalangan artis maupun kalangan papan atas untuk mendatangi acara ini.
Tentu jika sebelumnya,, pasti Rong Yan sangat anstusias dengan pekerjaannya saat ini, namun untuk kali ini tidak lagi. Ia akan melakukan hal
yang mungkin membuat perusahaan HJ menderita kerugian besar.
Setelah melewati lorong ia akhirnya kembali memasuki ruangan. Ruangan tersebut adalah ruang ganti bagi para model dibawah naungan HJ Entertainment yang saat ini akan berpartsipasi untuk fashion show kali ini.
Rong Yan mengingat bagaimana kerjasa sama antara HJ dengan para desaigner untuk fashion show hari ini berhasil. Itu karena ia yang menangani proyek tersebut. Ia memutar otak
untuk dapat berhasil menjalin kerjasama dengan para designer ternama tersebut.
Kerjasama itu adalah pihak HJ yang menyediakan tempat dan juga model papan atas, sedangkan para designer merancang desin – desain mereka. tentu hal ini juga akan membuat citra HJ Entertainment naik
berkali – kali lipat. Bahkan kabarnya karena hal ini saham HJ naik sangat drastis
hari ini.
Dan tidak cukup sampai disitu saja, ini
merupakan awal HJ Entertaiment akan merambah ke pasar Internasional dan jika
acara ini berhasil tentu pihak HJ bukan hanya dapat berhubungan dekat dengan
para desaigner ternama namun juga akan semakin dikenal di berbagai kalangan di
tambah hal ini untuk menarik minat investor yang akan menanamkan modal di HJ
Entertainment.
__ADS_1
“drrrttt,,,drttt,,drttt”, hp Rong Yan mendadak bordering.
“ kau dimana?”