
“Pagi Lunfeng, semoga harimu juga menyenangkan”, timpal Rong Yan dengan tersenyum dan menarik kursi di samping Mo Jing.
Mo Jing yang melihat bahwa istrinya telah datang pun, menutup laporan – laporannya dan memandang istrinya yang sangat cantik itu.
Pertama melihat Rong Yan menuruni tangga, sejujurnya Mo Jing tengah termangu.
Wajah yang kecil, hidung yang mancung, dengan kulit seputih porselen ditambah dengan kaki jenjangnya yang membuat Mo Jing sangat enggan berpaling. Sinar cahaya pagi yang memasuki ruangan, memancar ke wajah dan tubuhnya yang membuat Rong Yan terlihat seperti peri yang keluar dari sebuah hutan.
“Jing,, mengapa kau tidak membangunkanku?”, tanya Rong Yan setelah duduk di samping jsuaminya.
”Aku tidak tega membangunkanmu”, ucap Mo Jing yang menatap mata hazel milik Rong Yan.
Ketika Rong Yan ingin mengatakan sesuatu, suara hp nya terdengar.
“Ya... Mei.. “.
“Kau ada di mana? Mengapa kau tidak kembali semalam? Apakah kau tahu seberapa khawatirnya aku? Coba jelaskan kau kemana saja? Kau bahkan tidak mengaktifkan ponselmu selaman. Gila... Kau benar – benar membuatku gila semalaman”, teriak Lin Mei yang dari sebrang telfon.
Mendengar hal ini Rong Yan pun terdiam. Sejujurnya ia sangat melupakan perihal sahabatnya itu. Peristiwa yang terjadi kemarin sangat lah cepat hingga ia tidak sempat berpikir untuk memberikan kabar kepada sahabatnya itu.
“Hei... Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apa kau baik – baik saja? Apa Wong Feng keparat itu melakukan hal yang melukaimu lagi?”, teriakan Lin Mei sontak membangunkan lamunan Rong Yan.
Rong Yan menatap suaminya yang kini juga tengah menatapnya. Ada rasa penasaran yang terukir di kedua matanya.
Rong Yan pun berkata, “Apakah kau hari ini masuk kerja?”.
“Hah!!! Mengapa kau malah bertanya tentang kerja atau tidak. Apakah itu hal yang penting untuk di bicarakan saat ini?”, tanya Lin Mei yang terdengar semakin berteriak kesal.
“Baiklah. Baiklah. Bagaimana jika kita bertemu di kantor saja? Aku berjanji akan menceritakan semuanya padamu”, mengerti bagaimana perangai sahabatnya itu akhirnya Rong Yan pun mencoba mengambil jalan tengah. Bagaimanapun cepat atau lambat hal tentang pernikahannya ini pasti akan tersebar. Daripada mengetahui dari orang lain, lebih baik ia yang menjelaskannya sendiri kepada sahabatnya itu.
“Kau tidak mencoba untuk membohongiku bukan?”, tanya Lin Mei kembali.
__ADS_1
“Mei,, kau mengerti aku bukan?”, tanya Rong Yan.
“Baiklah.. aku menunggumu di kantor. Aku juga sudah mau bersiap berangkat sekarang”, ucap Lin Mei di seberang telpon.
“Baiklah. Sampai bertemu lagi”, jawab Rong Yan.
“Bye”, ucap Lin Mei dibarengi dengan suara ponsel yang terputus..
Melihat suaminya kini masih menatapnya dan seakan meminta untuk diberi penjelasan akhirnya Rong Yan pun menjelaskan.
“Dia adalah Lin Mei. Sahabatku sejak SMA.”.
Mo Jing pun hanya mengangguk dan berkata “Makanlah. Aku akan mengantarmu”, ucapnya sembari memberikan steak yang telah di potong – potong.
Awalnya Rong Yan berniat untuk menolak, karena ia berpikir ia akan kembali ke dunia model, jadi ia harus mulai mengatur berat badannya. Namun melihat steak yang ada di hadapannya kini telah di potong rapi oleh suaminya mau tidak mau ia pun memakan steak tersebut.
Sembari mengunyah Rong Yan bertanya kepada Mo Jing,” Jing, kau tidak sarapan?”, tanyanya.
Mendengar hal ini Rong Yan terkejut. Ia menatap Mo Jing yang saat ini masih mengamatinya makan,”Jadi, ia hanya menemaniku untuk sarapan? Bukankah ia adalah orang yang sangat sibuk”, gumamnya dalam hati.
“Jika kau sibuk, aku bisa meminta sopir lain untuk mengantar. Kau tidak perlu menungguku selesai sarapan”, ucap Rong Yan yang merasa tidak enak hati.
“Pelan – pelan saja. Kau tak perlu memikirkan hal lainnya”, ucap Mo Jing yang mengambil tisu dan mengelap sudut mulut Rong Yan yang saat ini terkena noda saus steak.
Melihat perlakuan suaminya saat ini, lagi dan lagi Rong Yan terkejut. Meski ia tahu bahwa suaminya memang orang yang hangat, namun ia tidak menyangka bahwa akan secermat ini. Sontak wajahnya mulai kembali memerah dan buru – buru menyelesaikan sarapannya.
****
Akhirnya mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil yang sama. Mo Jing bertanya kepada Rong Yan, ”Kau kembali pukul berapa?”.
“Aku tidak tau, karena aku juga ada janji untuk menjelaskan hubungan kita kepada sahabatku. Ada apa?”, tanya Rong Yan kembali.
__ADS_1
“Aku telah memasukkan nomor ponselku dan Lunfeng di ponselmu. Kabari ia jika kau sudah selesai. Ia akan pergi menjemputmu”, ucap Mo Jing.
”Sebenarnya tidak perlu,, aku bisa naik taksi”, ucap Rong Yan dengan gumaman.
Meski dengan hanya bergumam, Mo Jing yang memiliki indera pendengaran yang tajam pun masih tetap mendengar gumaman tersebut.
“Yan,, kau sudah menjadi Nyonya Mo saat ini. Kau harus lebih berhati – hati. Kau tahu bukan, musuhku diluar sana tidaklah sedikit. Sudah banyak orang yang mencoba untuk mencari kelemahanku. Dan saat ini kaulah satu – satunya kelemahanku. Aku harap kau menggaris bawahi hal ini”, ucap Mo Jing yang menatap lekat – lekat wajah cantik Rong Yan.
Rong Yan pun mengangguk seakan terkesima dengan pesona yang dimiliki oleh suaminya.
“Baiklah,, berangkatlah. Kabari aku jika kau ada waktu”, ucapnya sembari mengecup puncak kepala Rong Yan.
Rong Yan pun tersadar, kini ia telah berada di kantornya. Dan ia pun turun tanpa melihat lagi kebelakang.
Mo Jing melihat kelakuan istrinya yang malu – malu saat ini pun hanya tersenyum.
Saat ini Rong Yan pun sampai di aula kantor. Ketika ia ingin menuju lift, tiba – tiba tangannya di cengkeram dengan kuat oleh seseorang.
Orang itu tak lain adalah Wong Feng. Dengan terburu – buru ia menarik Rong Yan dan menuju ke lift yang memang dikhususkan untuk Presdir dan para pemegang saham HJ Entertainment.
Awalnya Rong Yan ingin melepaskan cengkeraman tersebut, namun ternyata terlalu sulit baginya. Akhirnya ia hanya dapat pasrah dan mengikuti kemauan Wong Feng saat ini.
Setelah sampai di ruangannya Rong Yan langsung di lempar ke sofa yang memang sudah tersedia di ruang kantornya.
Dengan pandangan kesal yang memang tak lagi di tutupi, Wong Feng pun berkata sembari menunjuk Rong Yan yang saat ini duduk dengan baik di sofa.
“Kau... Kau ... Kau sengaja bukan untuk mengacuhkanku?”, tanyanya dengan nada tidak terima.
Rong Yan yang memang sudah mati rasa dengan Wong Feng pun tidak merasakan sakit hati atau apapun itu. Bahkan dirinya sempat bertanya – tanya, apa yang membuat dirinya yang sebelumnya begitu mencintai laki – laki yang ada di hadapannya ini.
“Kau tidak mau mengatakannya? Apa karena kau merasa sudah sedikit mengenal Tuan Sun kau berpikir bahwa kau sudah terlihat hebat?”, tanyanya dengan nada tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1