Romansa Cinta

Romansa Cinta
bab. 12


__ADS_3

Setelah pembawa acara mengambil alih acara, semua acara berjalan lancar dan sesuai runtutan. Kini Rong Yan juga telah berganti pakaian. Ia memakai kemeja formal berwarna krem dan memakai rok span berwarna coklat tua dan di padukan dengan ikat pinggang berwarna putih gading. Ia memakai sepatu hells berwarna emas yang semakin menambah keanggunan dan juga menambah keindahan kakinya yang mulus dan jenjang.


Ketika ia memasuki ruangan, ternyata orang – orang tengah menikmati hidangan dan berbincang – bincang dengan sesama bisnis. Saat ini adalah saat yang bagus untuk menambah relasi dan juga mencari para investor untuk mengembangkan bisnis mereka.


Di panggung, sudah terdengar para penyanyi yang menyanyikan lagu – lagu dengan indahnya.


Rong Yan pun melangkah menuju Rong Sen dan juga Wong Feng. Mereka berdua kini tengah duduk bersama beberapa orang penting yang mungkin akan menjadi investor mereka.


Senyum samar pun terpampang di wajahnya yang cantik. Namun sebelum kakinya berhasil mendekat ke arah Rong Sen dan yang lainnya suara dari belakangnya pun berhasil menghentikan jalannya.


“Nyonya Mo,, hari ini penampilanmu terlihat anggun”, suara berat dan dingin membuat Rong Yan membeku.


Ia berbalik dan hanya melihat sosok luar biasa dengan tinggi sekitar 180 cm, perawakan tegap, wajah yang luar biasa tampan seperti diukir, aura yang agung, benar – benar membuat Rong Yan terkesiap. Di wajahnya yang menawan itu, terselip sebuah senyuman yang dapat meleburkan semua hati para wanita yang melihatnya.


“Mo...”, sebelum ia berhasil melanjutkan perkatannya sebuah suara dari arah belakang kembali terdengar.


“Nona Yan,,, kaukah itu?”, ucap seorang pria. Ketika berbalik Rong Yan melihat Luo Sun berdiri di depannya sembari tersenyum kepadanya.


”Tak ku sangka, ternyata memang benar Nona Yan. Dan.... Presdir Mo,, apakah anda baru saja berbincang dengan nona Yan?”, tanya Luo Sun yang terdengar oleh orang – orang sekitar yang menyebabkan mereka bertiga di tatap oleh semua orang yang hadir disana.


Hal yang baiknya adalah para wartawan telah di keluarkan dari tempat itu, dan disana hanya ada para tamu undangan saja. Meski begitu, para tamu disana bukanlah orang – orang yang bisa dianggap remeh.


Melihat Rong Yan di apit oleh dua pria entah mengapa Wong Feng menjadi kesal. Dengan mata merah ia pun bangkit dan mendekati Rong Yan. Lalu mengambil tangannya dan berkata “Permisi Tuan Sun dan Tuan Mo,, saya akan mengajak tunangan saya untuk duduk di sebelah sana. Kalian silahkan berdiskusi lebih lanjut”, ucapnya yang sembari menarik tangan Rong Yan untuk duduk ke tempat duduknya.

__ADS_1


Awalnya Rong Yan kaget dengan pegangan tangan yang di berikan Wong Feng padanya. Entah mengapa ia langsung menatap wajah Mo Jing yang ada di sampingnya tanpa sadar.


Namun alih – alih nampak marah, Mo Jing hanya menatap Wong Feng datar dan tidak menunjukkan riak apapun. Meskipun begitu, entah mengapa jantung Rong Yan memompa lebih cepat, aura dingin di sekitar Mo Jing benar – benar membuatnya menggigil.


“Apakah... Dia marah?”, ucapnya dalam hati lalu berjalan bersama Wong Feng.


Awalnya Rong Yan langsung ingin menolak Wong Feng, namun melihat reaksi Rong Sen yang seakan ingin memakannya hidup -hidup entah mengapa ia pun bergerak maju dan mengikuti permainan yang ada.


Ketika telah di tempat duduknya, Rong Yan berbalik ke belakang dan menatap ke arah Mo Jing dan Luo Sun.


“Huft... Sepertinya tadi hanya perasaanku saja”, ucap Rong Yan dalam hati ketika melihat Mo Jing dan Luo Sun telah berbincang kembali seperti tidak ada apapun yang terjadi.


Tapi yang mengagetkan Rong Yan adalah, ketika Rong Yan tengah melihat ke arah Mo Jing, Mo Jing mendadak melihat ke arahnya. Lalu terlihat tersenyum tipis seperti mengejek dan kembali berpaling berbincang ke arah Luo Sun.


“Ck.. apa – apaan senyum mengejek itu”, gerutunya dalam hati meski tanpa sadar wajahnya telah memerah.


Dari awal Wong Feng tengah mengamati gerak – gerik Rong Yan. Bahkan ketika Rong Yan terlihat beberapa kali melirik ke arah Mo Jing. Ini membuat Wong Feng kesal.


“Bisa – bisanya ia melirik laki – laki lain selain diriku!”, ucapnya dalam hati sembari menggenggam tangan Rong Yan yang tanpa sadar ia genggam semakin erat.


Rong Yan yang terkejut merasakan rasa sakit dari tangannya pun dengan cepat menghempaskan tangan yang kini memegang tangannya.


Ia menatap Wong Feng tanpa rasa takut, lalu menatap Rong Sen dengan tatapan dinginnya. Sementara orang – orang calon para investor pun kembali membahas rencana kerja mereka, Wong Feng pun kembali fokus dan mencoba menyingkirkan perasaan kalutnya pada Rong Yan.

__ADS_1


Dan begitulah acara tersebut sudah berakhir. Rong Yan langsung ke kamar ganti untuk mengambil tasnya, dan ketika ia membuka tas tersebut suara dering hp nya berdering.


Ketika Rong Yan membuka pesan yang masuk ternyata itu dari nomor yang tidak dikenal. “Aku tunggu di bawah, di tempat tadi”, pesan ini langsung mengingatkan Rong Yan dengan suaminya.


Rong Yan pun bergegas, sebelum mencapai pintu ia dikejutkan dengan kedatangan Rong Sen yang tiba – tiba masuk. Dengan berlagak seperti nyonya bos, ia duduk dan berkata pada Rong Yan.


”Rong Yan,, aku dan Wong Feng akan kembali dulu. Kau ingin aku panggilkan taksi?”, tanyanya.


”Tidak perlu. Aku akan kembali sendiri”, ucapnya datar. Lalu berjalan melangkah.


Namun sebuah tangan menghadang di depannya. “Rong Yan,,, apa maksudmu mengambil pekerjaanku?”, tanyanya tanpa basa – basi.


”Mengambil pekerjaanmu? Pekerjaan yang mana?”


“Jangan berpura bodoh! Menurutmu,, dengan citramu saat ini kau pantas menjadi model untuk gaun Tuan Sun?”, ucap Rong Sen sinis.


“Apa kau tuli? Apa kau tidak mendengar jawaban dari tuan Sun sendiri tadi? Dan juga kau bisa bertanya pada Wong Feng untuk penggantianmu menjadi model. Karena apapun itu keputusan ada di tangan Wong Feng”, ucap Rong Yan.


Rong Sen tertegun sesaat. Bagaimana ia bisa lupa bahwa Kekasihnya itu yang memegang kendali atas semuanya. Meski Rong Sen yang mengganti hal ini namun jika bukan karena persetujuan Wong Feng tentu hal ini tidak akan terjadi.


Meski begitu, Rong Sen tidak ingin melepaskan Rong Yan begitu saja. Melihat Rong Yan yang mendapatkan sorotan dan juga mendapat perhatian dari media masa, dan juga para investor tentu membuat Rong Sen semakin membenci Rong Yan.


“Kau pikir dengan citramu itu kau dapat kembali ke dunia model? Kau harus tahu diri dan sadar dimana harusnya dirimu berada. Kau akan tetap jadi bayangan diriku yang akan selalu aku injak kemanapun aku mau. Sadarlah itu Rong Yan”, lalu Rong Sen pun pergi dari sana tanpa memperdulikan Rong Yan dan bahkan tanpa menoleh kebelakang.

__ADS_1


__ADS_2