Romansa Cinta

Romansa Cinta
Bab. 11


__ADS_3

Suasana hening seketika, bahkan semua orang dapat mendengar jika ada jarum terjatuh. Setiap orang tengah menunggu jawaban yang keluar dari mulut Luo Sun. Luo Sun saat ini menatap datar ke arah wartawan yang mengajukan pertanyaan tajam tersebut. Dari ekspresi Luo Sun, tidak terlihat dia marah atau tidak. Semua ekspresinya dapat menutupi apa yang saat ini tengah di pikirkannya.


Wartawan itu pun menelan ludah dengan susah payah ketika di tatap seperti itu oleh pria yang ada di hadapannya. Meski begitu ia tidak bisa menarik kembali pertanyaan yang telah ia ajukan bukan.


Kini di sisi Rong Yan, ia tetap berdiri tegak acuh tak acuh. Ia sebenarnya tidak terlalu memikirkan apa jawaban yang akan keluar dari mulut Luo Sun. Karena bagaimanapun, ,intinya langkah pertama yang ia buat pun sudah seperti apa yang ia perkirakan.


Tiba – tiba di tengah keheningan, suara Luo Sun pun terdengar,”Bagus tidaknya penampilan nona Yan bukankah kalian dapat menilai sendiri?. Dan juga menurutku dibandingkan aku, ada orang yang lebih berkualifikasi lagi untuk menilai penampilan nona Yan malam ini”, ucapnya sembari menatap ke arah depan.


Semua orang melihat ke arah mana Luo Sun melihat. Pada akhirnya semua orang menatap sosok pria luar biasa yang tengah duduk dengan santai di tempat duduk vip disana. Aura nya begitu luar biasa sehingga membuat orang – orang di sekitarnya nampak biasa saja.


“Tuan Mo, menurut anda bagaimana dengan penampin nona Yan malam ini? Apakah anda setuju dengan pilihan saya ini?”, ucap Luo Sun dengan masih tersenyum.


Kembali suasana hening terlihat. Semua mata dan perhatian tertuju dengan Mo Jing. Bahkan Rong Yan saat ini berdiri membeku melihat sosok yang dikenalinya sebagai suaminya dalam waktu 2 jam itu. Ia tidak menyangka acara ini akan dihadiri oleh suaminya. Setelah beberapa saat Rong Yan pun mengingat bahwa dirinya juga mengundang sosok Mo Jing saat itu. Meski ia tidak menyangka bahwa sosok luar biasa itu akan datang dan menyempatkan waktu untuk acara seperti ini.


Seperti yang diketahui oleh orang – orang. Sosok Mo Jing adalah sosok berkuasa, pria dingin yang penuh ambisi yang hanya dengan tatapan tidak sukanya saja dapat membuat hancur seorang model , artis, atau bahkan sebuah perusahaan.


Presdir atau juga CEO yang sangat di takuti dan di segani di kalangan industri hiburan.


Para wartawan juga ikut berdiskusi, meski lirih suara mereka masih terdengar ke telinga orang – orang yang ada disana.


“Waaah.. akhirnya aku dapat melihat wajah CEO Star Entertainment”.


“Wah,,, mimpi apa aku semalam, dapat bertemu langsung dengan presdir luar biasa ini?”.

__ADS_1


“Acara ini bahkan di hadiri oleh Mo Jing,, sungguh luar biasa dan diluar ekspektasi”.


“lihatlah aura luar biasanya,, begitu membuat orang disekitarnya seperti semut.”, para wartawan pun berdiskusi dan berbisik – bisik.


Rong Yan yang mendengar dengan jelas pun kembali menatap pria yang adalah suaminya itu.


Jika dilihat, memang bukan berlebihan jika ia seperti Raja. Aura disekitarnya benar – benar agung. Tatapan mata tajam dan raut wajah dingin. Membuat aura nya semakin terpancar .


Pada akhirnya ia membuka mulutnya dan menatap Rong Yan. Rong Yan yang di tatap pun tertegun. Entah mengapa hatinya sedikit berdebar, dan ia juga sedikit penasaran dengan apa yang akan di katakan suaminya tersebut.


Mo Jing berkata “Menurutku, penilaian Luo Sun tidak pernah meleset”, ucap Mo Jing singkat.


Mendengar jawaban Mo Jing mendadak ledakan suara di ruangan pun terdengar.


“Waaaaaahhhh.. Presdir Mo setuju dengan penilaian Tuan Sun”, ucap salah satu wartawan.


“Hei... Apanya yang bagus. Penampilannya memang luar biasa. Lihatlah itu,, kaki jenjang yang luar biasa, dan juga gaun yang ia pakai ini, membuat dirinya semakin terlihat cantik”.


“Kau benar,,, gaun ini semakin terlihat indah ketika di pakai oleh Nona Yan”.


“huh,,, meski begitu. Memang pada dasarnya karya Tuan Sun memanglah bukan main- main”, ucap para wartawan saat ini.


Rong Yan yang mendengar apa yang diucapkan suaminya itu entah mengapa hatinya berdebar kencang. Ia menatap suaminya yang kini juga menatapnya, mendadak wajah Rong Yan pun memerah.

__ADS_1


“Nona,, kau baik – baik saja?”, ucap Luo Sun dari samping.


“Aku baik – baik saja. Terimakasih Tuan Sun atas semuanya”, ucap Rong Yan tersenyum kepada pria di sampingnya.


Luo Sun pun mengangguk, “Tak perlu, lagi pula aku juga tak ingin jika pemasaran karyaku terkendala”, ucap Luo Sun.


“Meski begitu, saya tetap ingin mengucapkan terimakasih”, lalu Rong Yan melirik ke arah sang pembawa acara dan karena sudah menyadari arti tatapan Rong Yan, kembali sang pembawa acara pun mencoba mengambil alih acara tersebut. Dan Rong Yan pun mundur dari acara tersebut.


Saat ini hati Rong Sen begitu tercekik. Ia benar – benar sangat marah.


“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ****** itu melalui hal ini dengan begitu mudah?”, ucapnya di dalam hati. Lalu melihat Rong Yan yang berjalan pergi darisana.


Ia menatap Luo Sun yang kini juga tengah menatap dirinya. Dengan cepat Rong Sen mengalihkan pandangannya. Tiba – tiba suara Wong Feng terdengar dari sampingnya.


“Bagaimana bisa itu Rong Yan?”, ucapnya lirih.


”Sayang,,, apa maksudnya ini? Bukankah kau telah berjanji untuk memberikanku pekerjaan ini. Saat ini kenapa jadi Rong Yan yang mendapatkan nya?”, ucap Rong Sen yang mengingat hal ini harusnya menjadi miliknya. Semua perhatian orang – orang harusnya tertuju padanya bukan untuk Rong Sen si ****** itu.


Mendengar kemarahan kekasih nya itu Wong Feng pun mencoba menenangkan kekasihnya, ia berbisik dan berkata,” Sayang,, aku juga tidak tahu akan hal ini. Aku tidak mengerti mengapa bisa seperti ini. Aku berjanji aku akan memberikan jawaban yang memuaskan untukmu. Kau tunggu disini dulu ya?”, ucap Wong Feng yang hendak bangkit dari tempat duduknya.


“Para tamu masih disini. Jangan biarkan mereka mencari presdir HJ. Urusan ****** itu, bagaimana jika nanti saja kita urus?”, ucap Rong Sen.


“Kau benar,, kau memang sangat cerdas. Berbeda dari Rong Yan yang hanya dapat membuat kesalahan dan biang masalah”, ucap Wong Feng dengan penuh kebencian.

__ADS_1


Mendengar ucapan Wong Feng oun , senyum tipis terlihat di bibir Rong Sen yang tidak diketahui oleh orang lain.


“Cari tahu apa yang terjadi antara Nyonya dengan wanita yang tadi naik ke atas panggung. Dan juga cari tahu apa yang terjadi pada Nonya tentang pekerjaan, karir dan juga percintaannya”, Mo Jing pada akhirnya memerintahkan sekertarisnya untuk menyelidiki tentang masa lalu Rong Yan.


__ADS_2