
Rong Yan pun lama masih menatap sahabatnya itu, lalu ia pun akhirnya mengatakan semua yang ia lalui tadi malam. Bermula dari dia yang di antar ke klub tersebut, lalu bertemu dengan pria misterius dan berakhir dengan apa yang ia lihat sewaktu di kamar 406.
Tentu Lin Mei yang mendengar hal ini amarah nya memuncak.
“Braaaaaakkkk!”, tangannya membanting meja di hadapan mereka.
“Benar – benar tidak tahu diri! Bajingan,, !!! Lelaki brengsek!”, ucap Lin Mei sembari mengamuk mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
Ia benar – benar kesal setengah mati, apalagi mengingat apa yang sudah di lakukan sahabatnya untuk Wong Feng dan juga Rong Sen.
“Apa hati mereka hanya dibuat pajangan? Bisa – bisanya mereka memperlakukan kau begitu kejam. Tidak bisa...tidak bisa! Aku akan pergi dan menghajar mereka berdua”, ucap Lin Mei yang kini bangkit dan bergegas pergi.
Tentu Rong Yan langsung menghalangi Lin Mei. Dengan cepat ia menarik tangan Lin Mei agar Lin Mei tidak bisa melangkahkan kakinya lagi.
Lin Mei hanya menoleh dan menatap Rong Yan.
“Kau masih membela mereka? Dengan apa yang kau terima saat ini apakah masih belum cukup? Dengan penghianatan yang mereka berikan apakah masih tidak dapat membuka hatimu itu? Aku sudah berulang kali mengatakan bahwa mereka berusaha memanfaatkanmu, namun kau tidak pernah percaya padaku! Bahkan hingga saat ini kau masih mencoba membela mereka??”, teriak Lin Mei.
Rong Yan tetap menahan dan juga mendekap Lin Mei. Ia menahan sekuat tenaga hingga akhirnya Lin Mei pun ikut menangis meraung. Menunggu setelah Lin Mei mulai tenang Rong Yan pun mendudukan Lin Mei, dan dengan menggenggam tangan sahabatnya itu, Rong Yan berkata “Aku tidak akan tertipu oleh mereka lagi. Tidak lagi dan tidak akan pernah. Namun aku juga tidak mau kau melampiaskan amarahmu kepada mereka. Aku ingin membalaskan rasa sakit yang aku terima. Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya aku miliki. Aku telah bertekad. Kau sahabat yang selalu berada di sisiku,, aku butuh bantuanmu Mei. Maukah kau untuk tetap menjadi asistenku dan membantuku untuk kembali naik?”, Tatapan Rong Yan kini berbeda dari biasanya. Mungkin ini adalah kali pertama ia memiliki keyakinan seperti ini. Lin Mei yang melihat ini pun tertegun. Butuh waktu beberapa detik untuk ia terbangun dari keterkejutannya.
Lin Mei pun mengangguk dan berkata “Aku akan selalu bersamamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu”, ucap Lin Mei sembari mencengkeram erat tangan Rong Yan.
Rong Yang menangis dan memeluk sahabatnya ini. Ia begitu tersentuh dan sangat bersyukur memiliki sahabat yang selalu di sisinya.
Rong Yan mengingat saat – saat dimana ia tengah di hujat oleh semua orang akibat skandalnya yang sebenarnya itu bukanlah kesalahan darinya, namun karena Rong Sen yang menjebaknya, membuat para fans dan juga para hatters mencaci makinya. Ketika ia sangat begitu terpuruk hanya sahabatnya ini yang ada di sisinya. Yang selalu menguatkannya, dan satu – satunya orang yang tidak pernah berpaling darinya.
Rong Yan benar – benar sadar bahwa dirinya begitu bodoh hanya karena termakan rayuan ataupun ucapan manis dari sepupu dan juga kekasihnya.
__ADS_1
Keesokan harinya Rong Yan pun mandi dan juga memakai baju formal. Ia melihat kaca, wajahnya yang cantik kini semakin bertambah cantik akibat make up tipis yang ia gunakan saat ini. Ia biasanya tidak pernah memakai make up karena alasan Wong Feng tidak menyukai dirinya yang menggunakan make up, hal itu disampaikan oleh sepupunya Rong Sen. Namun dengan bodohnya Rong Yan mempercayai apa yang dikatakan oleh sepupunya itu.
Jika dipikirkan kembali, mungkin semua itu hanyalah alasan Rong Sen untuk membuat Rong Yan terlihat kumuh dan tidak terurus.
“Benar – benar bodoh”, gumam Rong Yan sembari menatap dirinya yang terlihat elegan dengan rok span dibawah lutut berwarna putih dan kemeja panjang berwarna hijau elegan. Rambutnya ia kucir kuda memperlihatkan leher nya yang jenjang dan ramping.
Tiba – tiba suara pintu di ketuk dari luar “tok..tok..tok”.
Pintu terbuka “Kau yakin tidak ingin aku mendampingimu?”, tanya Lin Mei.
“Tidak perlu, lagi pula kau memiliki kesibukanmu sendiri”, ucap Rong Yan
Lin Mei mengangguk dan menepuk pundak sahabatnya lantas berkata “Kabari aku nanti oke?”, ucap Lin Mei.
Rong Yan mengangguk perlahan, menampakkan raut wajah keteguhan dan kepercayaan dirinya.
Rong Yan kini tengah mengendarai mobil menuju tempat pendaftaran untuk menikah.
Di korea pernikahan hanya perlu mendaftarkan pernikahan dengan sebuah dokumen, dan setelah mereka mendapatkan sebuah surat pernikahan mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.
“drrrt... Drrrttt. dddrrrt..”, tiba – tiba suara telfon Rong Yan pun berdering. Rong Yan melihat sekilas layar heandphone nya, lalu mengangkat telfon tersebut.
“Sayang,,, kau berada dimana?”, tanya orang dari sebarang telfon.
“Masih di jalan, dan menuju kesana “, ucap Rong Yan.
“Baiklah,, aku sudah sampai dan menunggumu. Rong Sen juga ada disini juga” ucap Wong Feng.
__ADS_1
“Baiklah”, ucap Rong Yan langsung menutup telfon.
Setelah sampai disana Rong Yan pun melihat dari dalam mobil, Wong Feng dan Rong Sen yang tampak selayaknya sepasang kekasih.
Jika diingat – ingat lagi, Rong Yan pun menyadari, mereka memang lebih terlihat seperti pasangan kekasih. Sering memakai baju untuk sepasang kekasih.
“Huh !! Bukankah itu baju yang tempo hari aku pilih untuk aku pakai dengan Wong Feng di hari ini. Tidak hanya merebut calon suami namun kau juga merebut baju yang telah ku rancang khusus di hari bahagiaku”, ucap Rong Yan yang menatap datar ke arah mereka.
“Drrt... Drttt...drttt.”, suara heandphone Rong Yan pun berbunyi kembali.
Rong Yan melihat heandponnya dan mengangkat telfon tersebut.
“Rong Yan,, apakah masih lama. Rong Sen saat ini merasakan sakit di perutnya. Apakah kita bisa menunda pernikahan kita. Aku sangat khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Rong Sen “, ucap Wong Feng dari sebrang telfon.
Rong Yan sudah mengetahui bahwa pernikahan kali ini akan gagal lagi. Pasalnya sudah 2 kali ia mendapati hal yang serupa. Alasannya selalu sama, karena Rong Sen yang mendadak sakit.
“Tidak apa”, ucap Rong Yan.
“Baiklah kalau begitu. Aku tau kau adalah wanita yang sangat pengertian. Aku sangat beruntung memiliki pacar yang pengertian sepertimu. Aku akan mengantar Rong Sen untuk ke rumah sakit. Nanti aku akan menghubungimu lagi”, ucap Wong Feng di sertai dengan suara telfon yang di putus secara sepihak.
Meski Rong Yan sudah memprediksi hal ini, namun ia tetap saja masih merasa perih. Berkali – kali ia dipermainkan seperti ini, dan bodohnya ia baru menyadari hal ini setelah di tipu bertahun – tahun dari pasangan bajingan itu.
Sebenarnya kedatangan Rong Yan kali ini bukan untuk menikah, namun untuk melihat drama di depan matanya sendiri. Ia ingin menguatkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang akan ia ambil adalah keputusan yang tidak akan ia sesali seumur hidup. Kini malah dirinya yang menyesal karena baru sadar saat ini.
Ia melihat mobil Rong Sen dan Wong Feng telah pergi darisana. Untuk menangkan emosinya, Rong Yan pun keluar dari mobil. Ia benar – benar butuh untuk menenangkan diri.
Tak selang lama sebuah mobil mewah edisi terbatas Rolls Royce melintas di depannya dan parkir di samping mobilnya. Ia melihat seorang pria dengan pakaian hitam dengan setelan jas dan kacamata yang senada. Tubuhnya tinggi tegap, raut wajahnya dingin namun memiliki ketampanan bak dewa. Wajahnya sangat mempesona bagaikan diukir dan di pahat sempurna.
__ADS_1
“Tuan,, silahkan”, ucap pada bodyguardnya.