
Mendengar usulan Mo Jing tentu Rong Yan tertegun beberapa saat. Ketika ia tersadar ia pun tersenyum dan berkata,”Tuan Mo,, aku tak menyangka kau memiliki selera humor yang lucu. Tapi ,, aku lebih menyukai keberadaannya disini. Bagaimanapun memberikan pelajaran dengan tangan ku sendiri tentu akan lebih memuaskan”, ucapnya.
Mo Jing pun tersenyum dan berkata, “Ikuti maumu saja”, mereka pun melanjutkan makan malam mereka dengan harmoni.
Tiba - tiba suara ponsel Rong Yan pun berdering. Ketika ia melihat tentu yang memanggilnya saat ini adalah Wong Feng.
Awalnya Rong Yan ingin menghiraukan panggilan itu, namun di sampingnya Mo Jing mengatakan untuk mengangkat telfon tersebut.
“halo...”, Rong Yan pun mengangkat telfon tersebut.
“Yan,, kau ada dimana? Mengapa aku sangat sulit menghubungimu?”.
“Ada apa”, tanya Rong Yan yang masih acuh.
“Ahk,, tidak. Aku hanya rindu padamu. Sebelumnya aku ingin mengatakan berkat penampilanmu malam ini penjualan dan juga rating yang di tayangkan televisi sangat bagus.
Tidak hanya itu, respon masyarakat juga sangat bagus. Ini membuat citra HJ entertainment dalam mengadakan acara terbilang sukses besar. Dan tidak hanya itu, saham HJ saat ini naik dengan pesat. Ini semua karenamu. Aku benar – benar sangat berterimakasih”. Ucap Wong Feng dari sebrang telfon.
“Tidak perlu berterimakasih. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan”, masih terdengar datar Rong Yan mencoba menanggapi perkataan Wong Feng.
Sebenarnya Rong Yan sudah mengerti kemana arah pembicaraan Wong Feng akan berlanjut.
“Em.. aku melihat kau berhasil mengenal Tuan Luo Sun dengan baik. Kerja yang bagus. Aku juga melihat bahkan Tuan Luo Sun rela membelamu di tengah acara besar ini. Apakah kau bisa mencoba untuk mengenalkan Tuan Luo Sun ke Tang Sen? Seperti yang kau ketahui, karir Tang Sen pasti akan melejit jika ia berhasil memiliki hubungan dengan Tuan Sun”.
“Aku...”, belum sempat Rong Yan melanjutkan perkataannya, ucapan itu langsung di potong oleh Wong Feng.
__ADS_1
“Baiklah,, aku akan menunggumu di restoran favoritmu. Sekaligus membicarakan perihal Tuan Luo Sun dan Tang Ren. Kebetulan kita berdua sudah jalan ke restoran itu, kau cepatlah menyusul. Kita berdua akan menunggumu”, ucap Wong Feng dan di akhiri suara sambungan telfon yang terputus.
Rong Yan juga tidak mengekspresikan apapun di wajahnya. Bagaimanapun ia sudah tahu bagaimana jalan pikiran mereka berdua. Mereka hanya berusaha memanfaatkannya lagi dan lagi. Kali ini tentu Rong Yan tidak akan masuk ke dalam perangkap mereka lagi.
“Apakah semua baik?”, tanya Mo Jing.
“Wong Feng ingin menemuiku untuk membahas mengenai hubunganku dengan Tuan Sun. Dan juga mereka berdua ingin aku memperkenalkan mereka berdua dengan Luo Sun”, ucapnya.
“Apa langkah yang akan kau ambil?”, tanya Mo Jing kembali.
“Biarkan saja. Lagi pula aku berniat untuk memulai balas dendam sekarang. Lalu,, aku berniat untuk kembali ke dunia hiburan. Apakah kau menyetujuinya?”, ucap Rong Yan.
“Jangan terlalu memaksakan dirimu sendiri. Jaga dirimu baik – baik, selama itu tidak membuatmu lelah dan kau menyukainya lakukan saja. Bagaimanapun kau masih punya suami yang hebat di belakangmu”, ucap Mo Jing dengan tetap menyantap makanannya..
Sebuah senyum manis pun terbit di wajahnya yang cantik dan mempesona. “Terimakasih Mo”, ucapnya.
Tertegun mendengar kata – kata dari istrinya Mo Jing pun menatap wajah Rong Yan. Lalu mengangguk dan melanjutkan kembali makan malam mereka.
Beberapa saat, pintu terbuka. Asisten Mo Jing pun membisikkan kata – kata ke telinga Mo Jing. Mo Jing hanya mengangguk sebagai balasan.
“Layani seperti biasa saja”, ucap Mo Jing yang diangguki oleh sang asisten dan berbalik untuk keluar dari ruangan tersebut.
Setelah asisten itu pergi, Mo Jing berkata kepada Rong Yan, “Wong Feng dan sepupumu sudah ada di tempat ini. Lihatlah”, ucapnya sembari melihat ke arah luar jendela.
Dari ruangannya Rong Yan dapat melihat Wong Feng dan juga Rong Sen tengah duduk. Mereka tengah memesan makanan, tangan mereka terpagut dan tidak pernah lepas sepanjang mereka duduk. Sejujurnya mereka memang terlihat seperti sepasang kekasih jika dibanding dengan dirinya yang saat ketika bersama Wong Feng.
__ADS_1
“Apa kau tak apa? ”, tanya Mo Jing untuk memastikan perasaan Rong Yan saat ini. Ia takut bahwa istri nya akan merasakan patah hati dan semakin merasa sakit hati
Rong Yan hanya menggeleng, ia bersender di bahu Mo Jing sembari menatap ke dua orang tersebut dari atas dan berkata,”Aku sudah memiliki suami luar biasa sepertimu. Di hidup ini kau adalah hal luar biasa yang pernah aku miliki”, ucapnya.
Mendengar hal ini tentu Mo Jing memiliki perasaan yang berdebar. Ia menggenggam erat tangan istrinya itu, dan memeluk pundaknya. Ia juga mengecup puncak kepala istrinya, mereka bersama tengah melihat dua orang yang saat ini tengah duduk dan memakan makanan mereka.
“Drt...drt..”, suara ponsel Rong Yan kembali terdengar.
Lagi dan lagi itu dari Wong Feng. Namun untuk kali ini Rong Yan tak menghiraukannya. Alih – alih menjawab Rong Yan pun justru menonaktifkan ponselnya.
Terlihat dari ruangannya bahwa wajah Wong Feng sangat kesal. Dari caranya menatap ponselnya dan mulutnya yang bergumam, terlihat bahwa Wong Feng tengah sangat marah.
Rong Sen pun mencoba untuk menghubungi Rong Yan, namun karena ponsel Rong Yan tidak aktif mau tidak mau ia hanya dapat menahan kesal.
Beberapa kali terlihat Rong Sen tengah mencoba menenangkan Wong Feng saat ini. Bukan tenang, justru terlihat mereka bahkan bertengkar. Terlihat saat wajah keduanya begitu merah menahan amarah yang membeludak di hati mereka. Entah apa perdebatan diantara mereka ,Rong Yang tidak tertarik untuk mengetahuinya.
Rong Yan pun merangkul lengan Mo Jing dan berkata,”Mari kita kembali pulang”.
Mendengar hal ini pun Mo Jing mengangguk dan menuntun Rong Yan keluar darisana.
Sesampainya mereka di rumah, Bibi Yun pun membukakan pintu. Mungkin karena lelah Rong Yan tidak terlalu banyak bicara dan langsung masuk ke kamar mereka.
Ia memasuki kamar mandi, ketika ia mulai melepaskan baju – bajunya, Mo Jing tiba – tiba membuka pintu kamar mandi. Dengan kaget dan malu Rong Yan pun berbalik mencoba menutupi bagian tubuh yang bisa ia tutupi.
Alih – alih merasa malu, Mo Jing justru masuk dan mendekati Rong Yan. Ia memeluk dari belakang tubuh Rong Yan dan berbisik di telinga Rong Yan dengan perlahan, “Ingin mandi bersama?”
__ADS_1