
Gadis yang berada di sampingnya pun menyadari hal tersebut dan bertanya dengan nada menggoda “Tuan,, mengapa kau tersenyum seperti itu? Seperti tengah mendapatkan hadiah yang berharga”, ucapnya.
Pria tersebut pun tersenyum ke arah gadis tersebut, memeluk pinggangnya dan berkata “Ada kau di sampingku saat ini, kebahagiaan apa lagi yang lebih baik dari itu”, ucapnya sembari berbisik di telinga gadis itu dan menggigit telinga gadis tersebut. Sontak,, perlakuannya ini membuat gadis yang berada di sisinya begitu malu dan wajahnya pun memerah akibat tersipu.
Saat ini Rong Yan pun berjalan untuk mencari kamar yang di maksud pria misterius itu. Setelah beberapa kali ia bertanya kepada petugas, akhirnya ia telah menemukan kamar tersebut. Saat ini Rong Yan tengah berdiri di depan kamar tersebut dan menatap nomor kamar yang tertera di atas. 406 adalah benar nomer yang sesuai dengan nomer yang ada kunci yang saat ini ia pegang.
Hatinya berdegub kencang, entah mengapa ia merasa jika ia membuka pintu tersebut ia akan kehilangan sesuatu.
Namun ketika ia ingin membuka pintu tersebut, sebuah pemikiran pun terlewat. “Apa yang kau pikirkan saat ini Rong Yan?kekasihmu bekerja keras demi dirimu namun kini kau malah meragukannya?”, ucapnya dalam hati.
“Tidak,, ini tidak benar. Lebih baik aku kembali ke tempat awal tadi. Bagaimana jika Wong Feng mencariku namun malah aku tidak ada disana. Bagaimana jika ia menjadi khawatir?”,gumamnya.
Ia pun berbalik dan melangkah maju. Namun beberapa langkah ia berjalan ia mendadak berhenti.
Ia akhirnya berbalik dan memutuskan untuk membuka pintu kamar tersebut. Ia akan membuktikan bahwa yang dikatakan oleh pria misterius itu tidaklah benar. Ia ingin membuktikan bahwa tidak ada yang tidak ia ketahui perihal kekasihnya.
Dengan perlahan ia menempelkan card tersebut, dan pintu pun terbuka.
Ia mengintip ke dalam, ternyata ruangan tersebut mirip seperti kamar hotel dengan kelas president suite. Ia pun perlahan masuk dan melihat sekitar, lampu remang – remang pun menambah suasana elegan ruangan tersebut.
Awalnya ia berfikir bahwa ruangan tersebut mungkin adalah ruang rapat tempat dimana kekasihnya tengah mendiskusikan pekerjaan dengan kolega nya. Namun justru yang ia dapati hanyalah sebuah kamar besar yang memiliki beberapa ruangan.
Rong Yan berfikir mungkin pria tersebut memang hanya mengerjainya saja, atau bahkan sengaja untuk mempermainkannya, jadi dengan bergegas ia pun berbalik dengan tekad ingin memberikan pelajaran kepada pria misterius itu.
Namun ketika ia berbalik ada sebuah suara erangan yang memasuki gendang telinganya.
__ADS_1
Entah mengapa suara tersebut nampak familiar. Beberapa saat ada juga terdengar suara seorang pria tengah bergumam dan juga tawa cekikian seorang wanita kembali terdengar.
Rong Yan pun kembali berbalik, untuk memenuhi rasa penasarannya ia pun melangkahkan kakinya untuk menelusuri dari mana suara tersebut berasal. Selangkah demi selangkah ia melangkah dengan perlahan, hingga ia mendapati sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka. Suara hentakan dan juga suara erangan serta ******* terdengar dari sana.
Karena samar,, Rong Yan pun mencoba untuk mendekatkan dirinya ke pintu tersebut, dan melihat apa yang terjadi. Mengapa suara – suara itu terdengar mirip dengan kekasihnya dan suara sepupunya.
Ketika ia berhasil mengintip dari celah pintu yang terbuka itu, ia melihat apa yang terjadi di dalam kamar tersebut, dan betapa kagetnya dia. Ia bahkan merasa kedua kakinya lemas, ia benar – benar berpegangan dengan kusen pintu kamar tersebut dan di satu sisi menutup mulutnya mencoba untuk tidak sekitipun menimbulkan suara yang nantinya akan terdengar oleh mereka berdua.
Suara erangan dan ******* pun semakin kuat, mereka benar – benar menikmati aktivitas yang saat ini tengah mereka kerjakan.
“Mengapa bisa jadi seperti ini?”, ucap Rong Yan di dalam hati.
“ah..ah...ah.... Feng,, lebih cepat lagi.. ah.. Feng.. lebih dalam lagi. Aa..aaku ingin lebih cepat. Ah..ah..”, rancauan dari mulut Rong Sen pun terdengar.
“Apakah seperti ini? Apakah lebih cepat lagi seperti ini, ini..!!apakah seperti ini cukup!!”, sembari ia semakin meningkatkan pola gerakannya. Tentu Rong Sen yang di pompa tubuhnya seperti itu semakin menjerit menahan kenikmatan yang dirasakannya. Ia benar – benar kehilangan kendali akan dirinya.
Suara dan juga aktifitas yang kini tengah mereka kerjakan benar – benar sangat panas.
Namun di tengah – tengah aktifitas mereka, Rong Sen berkata dengan suara terbata – bata karena menahan kenikmatan yang tengah di terimanya “Feng,, bagaimana jika Rong Yan mencari kita? Bukan kah ini sudah terlalu lama?”, tanya nya dengan terengah – engah.
“Biarkan saja,,, untuk apa membahas wanita sial itu. Jika bukan karena harta kekayan kakeknya aku benar – benar tidak sudi untuk berada di dekatnya. Wong Feng tetap menjawab pertanyaan Rong Sen di tengah – tengah kesibukannya yang kini sedang menikmati tubuh Rong Sen.
Mendengar hal ini air mata Rong Yan pun tak terbendung lagi. Hatinya benar – benar sakit, tak kuasa menahan tangis.
“Feng,, aah..ah. aa. Aapakah kau akan sungguh – sungguh menikah besok?”, tanya Rong Sen.
__ADS_1
“Percayalah sayang, aku berjanji bahwa hanya akan menikahi dia di atas hitam dan putih. Aku tidak akan menyentuhnya meski seujung jaripun” ucapnya masih tetap memompa tubuh wanita yang ada di bawahnya.
“hah..hah... Kau.. kau berjanji bukan?”, ucap Rong Sen.
“Aaaah..... aku berjanji. Apakah kenikmatan tubuhmu dapat dibandingkan dirinya? Aku benar – benar merasa candu dengan tubuhmu ini”, ucap Wong Feng yang semakin mempercepat gerakannya dan kembali menutup mulut Rong Sen dan **********.
Rong Yan saat ini hanya bisa mati – matian menahan untuk tidak jatuh. Ia mati – matian untuk tetap dapat menopang tubunya yang saat ini benar – benar lemas.
Rong yan perlahan keluar dari tempat itu dan menutup pintu dengan hati - hati. Ia berdiri dengan langkah gontai memaksakan dirinya agar dirinya tidak terjatuh.
Yang tidak ia sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya ketika keluar dari kamar tersebut. Seriangaian licik penuh tipu muslihat pun terpampang di wajah pria tersebut. Pria itu adalah pria misterius yang di temui oleh Rong Yan beberapa saat lalu.
Saat ini Rong Yan keluar dari klub tersebut. Karena ia dijemput oleh Rong Sen maka ia tidak membawa mobil.
Dia kembali menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangannya, dan waktu telah menunjukkan pukul 04.00 dini hari.
Tentu di jam seperti ini taksi ataupun bus pun sudah sangat jarang. Ia pun memutuskan untuk berjalan kaki.
Saat ini tengah hujan, di tengah hujan Rong Yan pun tetap berjalan dengan tatapan bagaikan mayat hidup. Tidak ada lagi kegembiraan disana.
Tak berselang lama ia pun mengambil ponselnya yang berada di tasnya dan menelfon seseorang yang selama ini selalu ada untuknya.
“Halo... “, ucap orang tersebut dari sebrang telfon.
“Kau.. bisa menjemputku sekarang?”, tanya Rong Yan.
__ADS_1