Romansa Cinta

Romansa Cinta
Bab.13


__ADS_3

“Huh.. pada akhirnya kau tidak mampu lagi memakai topengmu di hadapanku? Siapa yang berhasil diakhir masih belum di tentukan”, ucap Rong Yan dalam hati lalu pergi darisana.


Saat keluar Rong Yan melihat sebuah mobil mewah yang tadi pagi mengantarnya. Ia berjalan ke arah mobil tersebut, lalu sekretaris Mo Jing langsung membuka pintu mobil ketika melihat Nyonyanya datang.


“Terimakasih”, ucap Rong Yan sembari tersenyum.


Di dalam mobil Mo Jing pun menoleh, lalu Rong Yan berkata,”Terimakasih Mo”, ucapnya.


“Bukan masalah besar. Kau ingin diantar kemana?”, Tanya Mo Jing.


“Aku sudah tidak ada pekerjaan.”, ucap Rong Yan.


“Hari masih sore, dan juga hari ini adalah hari pernikahan kita. Apa kau ingin makan malam bersamaku sebagai tanda peresmian pernikahan kita?”, ucap Mo Jing menatap kedua mata Rong Yan yang sejernih air.


“Baiklah. Ayo.. tapi bajuku?”, ucapnya sembari melihat baju yang dipakainya.


“Kalau begitu, bagaimana kita pergi untuk melihat rumah yang akan kita tinggali?”, tanya Mo Jing mengusulkan.


“Baiklah”, ucap Rong Yan.


Mobil pun melaju dengan baik, Rong Yan hanya menatap pemandangan sepanjang jalan. Mereka juga tidak terlalu banyak berkata ataupun berbincang.


Lalu tanpa sadar Rong Yan melihat ke arah jalan yang ia lewati. Itu adalah perumahan elite yang sangat terbatas dan juga memiliki keamanan yang sangat bagus. Hanya ada 20 unit disana, dan perumahan itu tidak bisa sembarang orang yang memilikinya meski memiliki banyak uang pun bukan menjadi patokan untuk dapat memiliki perumahan disini.


“Perumahan Argen Regency? Bukankah harga rumah disini sangat mahal?”, tanya Rong Yan tak percaya.


“Nyonya,, Tuan adalah pemilik perumahan ini. Jadi beliau tentu sangat bisa untuk memilih unit disini?”, ucap sang sekertaris dari bangku kemudi.


Rong Yan membeku dan menatap ke arah Mo Jing. Mo Jing pun hanya menatap ke arah depan mengacuhkan reaksi Rong Yan saat ini.

__ADS_1


Lalu sampailah mereka ke rumah yang di tuju. Meski terkagum namun Rong Yan tidak terlalu menampilkan raut wajahnya. Ia langsung di pandu untuk memasuki rumah, disana ada seorang pelayan wanita yang berusia sekitar 50 tahun. Raut wajahnya hangat, ia tersenyum ramah ke arah Rong Yan dan juga memberi salam, ”Selamat datang Nyonya”, ucapnya tersenyum.


Rong Yan pun tersenyum dan berkata “Halo bibi”, ucapnya.


“Ia adalah bibi Yun, orang yang merawatku sejak aku kecil.”, ucap Mo Jing.


“Saya tidak menyangka bahwa Tuan akan membawa pulang nyonya secepat ini. Saya bahkan tidak sempat menyiapkan hidangan untuk kalian berdua”, dengan nada bersalah.


“Tak apa bi, saya dan Mo Jing berniat makan malam di luar nanti. Sembari untuk memperingati hari pernikahan kami”, ucap Rong Yan.


“Ayo Aku antar ke kamar kita”, Mo Jing pun menuntut Rong Yan ke lantai atas.


Ia memberitahukan ruangan – ruangan yang ada disana, dan terakhir adalah kamar yang akan ditinggali oleh mereka berdua.


Ketika memasuki ruangan tersebut, Rong Yan disuguhkan dengan kamar bernuansa hitam dengan perpaduan warna emas. Terlihat dingin khas Mo Jing. Furniture disana terlihat berkualitas terbaik, perpaduan antara mewah juga elegan nampak di ruangan tersebut.


Jendela yang ada disana, jendela transparan dengan pintu geser. Di luar balkon, kita dapat melihat pemandangan luar biasa, ada juga pohon – pohon yang menjulang, serta taman yang indah. Dari balkon ini juga terlihat kolam renang, dan para tukang kebun yang tengah memangkas beberapa ranting pohon.


Halamannya sangat luas, bahkan terdapat kolam ikan dan air mancur yang tertata rapi disana. Tidak jauh dari sana ada sebuah kebun yang tengah di tumbuhi sayur mayur yang juga tertata rapi tumbuh disana.


“Bagaimana? Kau menyukainya?”, ucap suara dari belakangnya.


“Aku menyukainya. Kapan kau membeli rumah ini tuan Mo?”, tanya Rong Yan yang menatap pria yang kini tengah berdiri di sampingnya.


Mo Jing tidak lantas menjawab. Alih – alih menjawab ia hanya melihat ke jauhan. Lalu sesaat kemudian ia berkata “Jangan lupa bersiap, kita akan pergi pukul 7 malam. Dan juga ruang ganti ada di sebelah sana”, ucapnya sembari menunjuk salah satu ruangan.


“Baiklah”, ucap Rong Yan.


“Kalau begitu aku ke bawah untuk melanjutkan pekerjaan yang ditunda”, ucap Mo Jing yang berjalan dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Rong Yan yang menatap kepergian Mo Jing pun masih terpaku dengan melihat pintu yang tertutup.


“Jadi, apakah ini adalah rumah yang akan kau pakai dengan calon istrimu sebelumnya?”, ucap Rong Yan berbisik.


Lalu ia berbalik dan melihat ke arah halaman. Menarik nafas dan mencoba menata hatinya, “Ayolah Rong Yan, jangan berfikir macam – macam”, ucap Rong Yan dalam hati.


Ia berjalan menuju ruang ganti dan mencoba bersiap – siap untuk makan malam nanti.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Pintu kamar di ketuk dan Rong Yan pun membuka pintu. Ketika pintu dibuka ia melihat bibi Yun yang berdiri didepannya berkata, “Nyonya,, Tuan mengutus pelayan lain untuk mengantar anda ke tempat makan malam. Apakah anda sudah siap?”


”Kemana Tuan bi?”, tanya Rong Yan


“Beliau telah pergi dari tadi, tuan berpesan bahwa akan ada sopir lain yang mengantar anda. Beliau juga berkata bahwa beliau ada pekerjaan yang harus di selesaikan dan meminta anda untuk menunggu di tempat makan malam yang telah di siapkan”, ucap bibi Yun


“Baiklah, aku sudah siap.”.


Ketika Rong Yan memasuki mobil, ponselnya berdering, lalu Rong Yan melihat ke arah layar ponselnya. Tertera nama Wong Feng disana.


Rong Yan sengaja mengacuhkan panggilan dari Wong Feng. Entah mengapa, semakin kesini hatinya semakin terasa dingin ketika mengingat perlakuan Wong Feng tadi siang.


Butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai di restoran tersebut. Melihat restoran ini, entah mengapa Rong Yan merasa getir. Dulu restoran ini adalah restoran favoritnya dengan Wong Feng. Tempat inilah yang menjadi saksi dimana Wong Feng melamar dirinya. Saat itu Rong Yan merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia saat itu, namun yang baru ia sadari betapa bodoh dirinya. Bahkan di saat Wong Feng melamar dirinya tidak lepas dari sosok Rong Sen.


Ia tidak meragukan bahkan tidak pernah berfikir bahwa kedekatan Rong Sen dengan kekasihnya adalah jenis kedekatan perselingkuhan, dengan bodohnya ia berfikir bahwa Rong Sen dan juga Wong Feng adalah orang yang berarti baginya bahkan hari saat ia dilamar pun hanya sebatas itu saja, ketika pulang dari restoran ini ia tetap kembali menggunakan taksi, dan mereka berdua tetap bersama dengan dalih ada pekerjaan.


Rong Yan juga mengingat, sejak saat itu tempat ini berarti baginya. Entah saat merayakan ulang tahunnya atau ulang tahun Wong Feng, atau untuk merayakan hari jadi mereka sebagai pasangan kekasih, Rong Yan akan selalu menyewa tempat dan menghiasi tempat tersebut untuk memberikan kejutan bagi Wong Feng. Namun sayangnya Wong Feng tidak pernah sekalipun datang. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya sibuk dan tidak ada waktu untuk menemui Rong Yan.


Saat Rong Yan memasuki tempat yang sudah di pesan oleh Mo Jing. Ternyata itu adalah ruang vip yang sangat mewah. Entah sudah berapa kali ia mencoba untuk mereservasi tempat ini, namun ia tidak pernah berhasil.


“Kau baru sampai?”, tiba-tiba suara dalam seorang pria pun terdengar dari arah belakang.

__ADS_1


__ADS_2