Rumah Angker

Rumah Angker
14. Melengkapi Penderitaan


__ADS_3

"Ya Tuhan, apa-apaan si Arya, hantu bau anyir, yang benar saja,"


Boni ngap-ngapan nafasnya, serasa mau pingsan saja,


Ia lupa jika tadi ia juga ngacir dari dalam rumah karena melihat hantu di sana,


Boni duduk di kursi meja makan, dia tampak mengelus dadanya yang rasanya jantungnya sudah nyaris copot macam kepala hantu perempuan,


"Gila emang Arya, tadi di jembatan Ancol dia berdoa bisa lihat hantu, sekarang giliran ada aroma anyir dia bilang ada hantu berdarah, gila, bener-bener gila,"


Boni bergumam-gumam sendirian,


"Hantu penuh darah, yang bener saja, jangan sampe lah, amit... amit aku tidak mau lihat,"


Boni menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Iya Bang, bener, mending jangan lihat, aku saja takut,"


Kata sesosok gadis yang berada di atas meja makan,


Sosok gadis yang tadi tampak asik menikmati aroma sate dengan khusuk terpaksa menghentikan kegiatannya yang menyenangkan dan menggantinya dengan menemani Boni ngobrol,


"Iyalah, yang bener saja, lihat hantu berdarah-darah, hantu cantik aja ogah,"


Kata Boni menyahut,


Tapi...


Ting!


Boni tiba-tiba tersadar,


Pemuda itu mematung tak berani melakukan apapun,


Dadanya kini berdetak sangat cepat hingga rasanya nyaris meledak,

__ADS_1


Siapa itu tadi yang bicara?


Suara gadis?


Siapa?


Kaki Boni pun rasanya lemas luar biasa, saking lemasnya serasa baru keluar dari panci presto hingga sebentar lagi nama panjang Boni yang semula adalah Boni Hendrawan Sucipto, akan segera berganti Boni tulang lunak dipresto,


"Tadi juga aku takut lihat dia bolak-balik terus diteras, mana kepalanya mau putus, rambutnya panjang sampai melebihi mata kaki, baunya darah, ah ngeri lah Bang,"


Suara itu terdengar lagi, membuat Boni kali ini benar-benar ingin mengompol,


"Tapi dia sepertinya tidak jahat sih, cuma nakutin aja, itu lehernya kayaknya harus dilakban supaya tidak sampai copot,"


Suara itu terdengar lagi,


Dan karena Boni tetap saja tak menyahuti si gadis bicara, maka hantu gadis itu dengan setengah kesal memukul kepala Boni dengan satu tusuk sate,


Tung!


Karena satenya sudah dicampur kecap, maka kecap dan irisan bawang yang terbawa pun jadi menempel di rambut kepala Boni,


Dan...


"As... As... Astaga,"


Boni saking kagetnya terjatuh dari kursi meja makan,


Ia mengurut pantatnya yang sakit karena jatuh, sementara hantu gadis yang semula sempat melongokkan kepalanya mendekat ke wajah Boni, tampak kini menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Kenapa Bang, atraksi?"


Tanya si hantu gadis menyebalkan,


Bertepatan saat si hantu gadis akan turun dari meja untuk menghampiri Boni,

__ADS_1


Arya tampak masuk ke dalam rumah,


Melihat Arya masuk rumah, Boni pun langsung sigap melompat melarikan diri dari si hantu gadis,


"Ar... Ar... hantunya di sini,"


Boni memegangi lengan Arya sambil berusaha bersembunyi di belakang tubuh Arya,


"Apa sih Bon?"


Tanya Arya bingung,


"Han... hantu itu, ad... ada di dalam Ar,"


Kata Boni seraya menunjuk ruang dalam menggunakan isyarat matanya,


Melihat Boni matanya mengarah ke ruang makan yang hanya dibatasi lemari dengan ruang tamu, Arya pun jadi spontan melihat ke sana juga,


Dan...


Pet!


Mati lampu,


Sial!!


Boni langsung jongkok sambil menutup telinga dan matanya dipejamkan,


Sedangkan Arya terlihat terdiam mematung, tatkala tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak sosok gadis cantik dengan rambut panjang tergerai melayani dari ruang makan,


Gadis itu berdiri mengambang di udara, matanya menatap Arya,


Siapa dia?


Kenapa aku sepertinya tidak asing?

__ADS_1


Batin Arya yang kini tampak menatap hantu gadis itu, di mana di tengah gelapnya ruangan, hantu gadis itu terlihat seperti ubur-ubur yang bersinar,


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2