
Langit kota pelahan mulai disapu warna lembayung senja, Arya dan Boni meluncur menuju mall Alpha Centauri,
Tujuan Arya adalah bertemu dengan Tuan Zion yang kata Bang Dave, beliau tengah berada di mall miliknya hari ini,
Namun, sayang beribu sayang, baru sampai area parkiran depan saja sudah menyemut para ABG yang berduyun masuk karena ada acara,
"Sepertinya makin sore semakin rame karena puncak acara biasanya diisi bintang tamu utama,"
Kata Boni,
"Dari tadi sudah ramai?"
Tanya Arya,
Boni mengangguk,
"Sejak aku tadi pulang, sudah terlihat ramai, tapi belum seramai sekarang,"
Kata Boni pula,
Mobil diberhentikan di seberang jalan, menepi di kiri jalan, di depan sebuah rumah makan Padang,
Arya tampak menatap kerumunan ABG yang memenuhi parkiran,
"Gimana? Mau tetap ke sana?"
Tanya Boni,
Arya menghela nafas,
"Apa Gisela juga termasuk pengisi acaranya?"
Tanya Arya seperti bergumam,
Boni lantas mengambil hp nya, mencoba mencari berita soal acara di mall Alpha Centauri hari ini,
"Gisela, ya dia ada jadwal mengisi acara juga tadi siang, bintang utamanya sih penyanyi dari negeri ginseng, itu kayaknya cuma jumpa fans apa gitu,"
Kata Boni membaca berita online,
"Hmm, berarti nanti lebih baik kita tunda saja, kita langsung ke kantor saja Bon, aku mau ambil kasus itu, dan langsung saja malam nanti kita ke jembatan ancol lagi ya?"
Arya menoleh ke arah Boni yang langsung terlihat mematung di tempatnya, tentu saja ia enggan bilang iya, tapi tak enak bilang tidak,
"Aku penasaran ingin langsung ke TKP,"
"Kenapa harus malam, siang saja,"
Kata Boni kemudian, mencoba menawar macam emak-emak beli bawang cabe tomat,
Arya tampak kembali menyalakan mesin mobilnya, kali ini Arya kembali berada di belakang kemudi,
"Tidak apa, nanti malam saja, semakin cepat semakin baik, aku juga akan ke rumah sakit untuk melihat apakah dia benar Monica,"
Kata Arya,
"Dia siapa?"
Tanya Boni,
Arya menoleh ke arah Boni,
"Hantu di rumahku,"
Mendengar kata hantu, Boni jadi bergidik lagi,
Ah dia hanya sempat melihatnya sekilas-sekilas saja sudah seram rasanya,
Tak peduli seberapa cantiknya dia, hantu tetaplah hantu, tetap membuat bulu kuduk berdiri tegap, dan Boni sama sekali tak menyukai itu,
Arya melajukan mobilnya kembali, meluncur di atas aspal ibu kota dengan kecepatan sedang,
Jalanan cukup ramai seperti biasa, tapi untungnya tak terlalu macet parah,
__ADS_1
"Harusnya tadi kamu jangan cerita pada Umi dan Tante Kanaya soal ada hantu di rumah,"
Kata Arya di perjalanan menuju kantor polisi,
"Lah, kenapa? Itu kan memang alasanmu menginap di rumah baru semalam,"
Ujar Boni sambil main hp,
"Ya tapi harusnya tetap jangan bilang, aku khawatir Umi akan membawa air doa atau semacamnya untuk mengusir hantu, dia bukan hantu yang harus diusir,"
Kata Arya,
"Maksudnya dia hantu yang harus ditampung? Rumahmu mau jadi penampungan hantu?"
Haiiish... Arya mendesis,
"Bagaimanapun dia adalah korban dari kasus yang kita tangani, jadi dia harus dalam perlindungan kita Bon,"
Kata Arya,
"Jangan percaya begitu saja Ar sama hantu, katanya hantu itu bisa menyerupai apapun yang dia mau, bahkan mereka kalau misal niat, menyerupai kue pancong juga bisa,"
Kata Boni,
Haiiish... Arya mendesis lagi,
Yang benar saja hantu berubah jadi kue pancong, tidak sekalian saja jadi batagor biar berlumur sambal kacang, bukan berlumuran dosa.
...****************...
"Aww,"
Gisela memekik saat luka bekas cakaran emak-emak saat ia akan tampil kini sedang diobati asistennya,
"Yakin tidak perlu ke dokter?"
Tanya si asisten,
Gisela menggeleng,
Apartemen yang letaknya cukup strategis itu memang kerap menjadi incaran banyak artis karena akses untuk ke mana saja mudah,
Mereka yang selalu diburu waktu, terutama yang syuting kejar tayang, kadang bahkan tak punya energi lebih lagi jika ingin pulang meski cuma sebentar jika rumahnya terlalu jauh,
Selain artis, di apartemen tersebut juga terdapat beberapa pegawai kantor besar, termasuk juga pegawai yang bekerja di kantor-kantor kementerian,
"Besok ada jadwal apa saja Ta?"
Tanya Gisela ada Juwita, asisten artis yang bersamanya,
Gadis manis berambut ikal panjang itu tampak kemudian berjalan menuju tas miliknya, mengambil ponsel dan mulai membuka catatan,
"Besok pemotretan gaun pengantin koleksi terbaru rumah mode Ardina Belian,"
Ujar Juwita, lalu...
"Setelah itu ada jadwal temu dengan orang rumah produksi FTV, ada tawaran dua judul, mungkin kamu bisa ambil dua-duanya atau salah satu,"
Tambah Juwita lagi,
Gisela membaringkan tubuhnya di atas sofa,
"Kapan aku kaya ya Ta?"
Gumam Gisela tiba-tiba,
Juwita menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Gisela yang mulai bicara tak jelas,
Akhir-akhir ini dia selalu begitu,
"Kamu sudah ada apartemen, mobil, rekening juga sudah lebih dari seratus juta, masih kurang?"
Kata Juwita sembari berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman soda kaleng,
__ADS_1
"Apalah arti semua itu dibandingkan mereka yang hidup macam princess tanpa harus capek,"
Kata Gisela,
"Lebih baik capek, hasil halal, daripada yang aneh-aneh, kamu jangan mau kalau ada yang nawarin aneh-aneh Gisela,"
Juwita wanti-wanti sambil berjalan ke arah sofa di mana Gisela berbaring,
Juwita lantas duduk di sofa kecil, membuka kaleng untuk kemudian meminum soda dingin yang menyegarkan,
"Mau pesan makan?"
Tanya Juwita pula,
Gisela menatap Juwita dari posisinya berbaring,
"Makan apa?"
Tanya Gisela,
"Apa saja, kamu mau makan apa? Udang saus tiram? Atau sate sapi? Atau ayam bakar madu?"
Mendengar ayam bakar madu, cepat Gisela menggeleng,
"Jangan, aku tidak suka ayam bakar madu,"
Kata Gisela,
Juwita mengerutkan kening,
"Lho, bukannya itu makanan kesukaanmu dengan sahabatmu, Nona Monica?"
Juwita terheran-heran,
Gisela bangkit dari berbaringnya, duduk malas di sofa yang sama,
Kakinya naik ke atas sofa,
"Jangan bahas Monica, aku tidak mau bahas dia dulu,"
Lirih Gisela,
Juwita menatap heran Gisela,
Kenapa dia?
Selama ini mereka sudah macam amplop dan perangko, tapi tiba-tiba saja sejak Monica dikabarkan ditemukan di jembatan ancol menjadi korban percobaan pembunuhan Gisela malah seperti tak menunjukkan simpati sama sekali,
Bahkan saat Juwita mengajaknya membesuk Monica yang kabarnya koma di rumah sakit pun, dengan tegas Gisela menolak sama sekali,
Alasannya juga tak jelas, katanya ia sedang tidak ingin, nanti saja kalau sudah ingin membesuk,
Jiaaah alasan macam apa itu?
Inikah seorang sahabat?
Juwita bahkan sempat menyindir begitu, tapi toh Gisela tak bergeming,
Dan...
"Bima, apa kau benar-benar bersamanya Gisela?"
Tanya Juwita hati-hati, takut Gisela akan bereaksi histeris karena marah,
Tapi...
Gisela hanya tampak menghela nafas,
Lalu,
"Untuk apa menerima cinta laki-laki buaya darat macam dia, Monica saja yang bodoh,"
Sahut Gisela tanpa menatap ke arah Juwita sama sekali.
__ADS_1
...****************...