Rumah Angker

Rumah Angker
Aku Mencintaimu, Larilah Adel.


__ADS_3

Aku Mencintaimu, Larilah Adel!


Galih membuka buku diary Sasha halaman demi halaman.


"01 Juni 2000,


Hari ini aku les piano pertamaku.


25 Juni 2000,


Ada orang yang meneror adikku.


9 Juli 2000,


Ayah pergi bersama temannya seminggu yang lalu, sampai sekarang gak ada kabar.


4 Agustus 2000,


Ayah pulang, tapi aku merasa dia tak seperti Ayahku."


"Apa yang sebenarnya terjadi saat kau pergi William?" Batin Galih


"10 Agustus 2000,


Ayah mulai berubah dan sering marah-marah.


11 Agustus 2000,


Ibu menghilang dari rumah, Ayah bilang akan mencarinya, Dia memberikanku sebuah kamera video sebagai penghibur lalu menyuruhku dan Nick untuk tenang.


Galih menghela nafasnya, dia semakin yakin kalau terror yang terjadi selama ini adalah ulah sang Ayah.


"Aku yakin kamera video yang kami temukan saat itu akan mengungkap semuanya" Batin Galih.


"Adel apa kamu masih ingat film Pengabdi Setan yang kita tonton dikelas saat itu?" Lanjut Galih menanyai Adel.


"Ya aku masih ingat Galih, tentang sekte-sekte gitu kan?"


"Ya benar, setelah membaca diary ini aku berpikir bahwa si William ini mengikuti sekte tertentu yang mengharuskannya membunuh orang lain termasuk keluarganya"


"Kamu yakin?"


"Seratus persen yakin Del"


Setengah jam berlalu, tak ada tanda-tanda dari sosok hitam meneror mereka. Arwah Sasha masih mematung di ruangan itu. Anehnya masih saja hanya Galih yang melihatnya.


"Kenapa sosok hitam itu tak menggedor-gedor pintu seperti sebelumnya ya?" Batin Galih


"12 Agustus 2000,


Ibu masih belum ada, aku rindu Ibu. Ibu selalu bilang Sasha anak pertama dan selalu menjadi yang spesial dikalangan teman-teman Ibu dan Ayah. Saat merindukannya, kata-kata Ibu selalu terngiang dipikiranku.


"Sasha itu spesial? Apa maksudnya?"


Lalu Galih menatap arwah Sasha, jarinya menunjuk ke setiap sudut ruangan. Galih mendekati sudut ruangan dan menyorotinya dengan senter, dia melihat simbol-simbol aneh disana. Mungkin lebih terlihat seperti segel.

__ADS_1


"Adel lihat simbol-simbol ini, apa kamu pernah melihat simbol ini sebelumnya?"


"Rasanya aku pernah melihatnya" Jawab Adel


"Dimana?"


"Orang tuaku sering keluar kota, Aku ditinggal sendiri dirumah, padahal Aku itu orang yang sangat penakut, jadi waktu itu aku iseng-iseng mencari di internet tentang apa saja yang bisa menjauhkan setan dan sebagainya dari rumah, dan rasanya emang ada dengan menggambar simbol itu deh salah satu caranya" Adel menceritakan pengalamannya.


"Kamu percaya?"


"Enggak sih hehe, makanya Aku tak pernah menggambar apapun dirumah"


"Tapi mungkin simbol ini emang bekerja Del, buktinya sosok hitam itu tak bisa masuk kesini"


"Loh bukannya sosok itu adalah manusia? Bukannya itu sang Ayah yang masih hidup? Bagaimana cara kerja simbol itu sampai bisa menjauhkan sosok itu dari sini?" Kata Adel penasaran.


"Mungkin sekte yang dia ikuti menjadikannya Iblis, manusia beraura Iblis" Jawab Galih sambil mencubit-cubit bibirnya sendiri.


"Eh, kalau gitu kenapa Sasha bisa ada disini ya?" Batin Galih.


"Oh dia spesial, tidak, bukan hanya dia, aku rasa arwah Nick dan Ibu nya pun bisa masuk kesini, karena mereka bukan Iblis yang jahat, Adel bilang simbol ini jadi salah satu cara menjauhkan gangguan setan, ya mungkin setan atau iblis yang jahat" Lanjut Galih.


"Adel kita harus bertahan disini sampai pagi nanti, lalu kita pergi saat matahari sudah muncul!"


"Aku setuju Galih"


Jam menunjukan pukul 04.00 wib, Galih dan Adel tertidur dan saling memeluk. Angin berhembus entah darimana, hembusannya membuat buku diary Sasha terbuka sampai halaman terakhir.


"20 Agustus 2000,


(Cuiiit cuiiit cuiit)


Kicauan burung pagi itu membangunkan Galih dan Adel dari tidurnya. Jam menunjukan pukul 06.00 wib, cahaya matahari mulai terpancar di ufuk timur, kini semua yang ada dirumah itu kelihatan jelas.


"Adel aku punya rencana, kamu harus siap!" Kata Galih.


"Dengarkan Aku" Lanjutnya


*


Adel berlari sekuat tenaga menuju ruang utama tempat awal mereka berkumpul, mendekati jasad Erik dan merogoh sakunya, mengambil kunci mobil, tak lupa dia mengambil ransel milik Galih, lalu memecahkan kaca jendela dengan balok yang tergeletak disana, ada sedikit noda darah di balok itu. Adel terus berlari ke halaman rumah tanpa melihat kebelakang. Adel memasuki mobil, beruntung mobil Erik tidak diapa-apakan oleh si sosok hitam itu. Adel melihat kearah balkon, air matanya menetes. Adel menstarter mobilnya, tancap gas, menabrak gerbang rumah itu sampai hancur. Mobil melesat menjauhi rumah angker itu, rumah yang mengubah kehidupan lima orang sahabat dalam satu malam. Liburan berdarah, menghadapi manusia iblis dan mencoba bertahan dalam kondisi menegangkan. Siapapun tak pernah menyangka akan hal yang terjadi malam itu. Adel menangis dalam mobil.


"Maafkan Aku Galih, aku akan berjuang untuk selamat, akan kutepati janjiku.


**


Adel menangis, dia takut akan apa yang mereka hadapi saat mencoba kabur dari ruangan itu.


"Adel fokus dan dengarkan aku!" Kata Galih berbisik.


"Jadi gini rencananya, saat aku membuka pintu itu anggap saja si sosok hitam itu ada didepan sana ok, Aku akan berlari ke arah balkon, aku yakin dia akan mengejarku, saat dia mencoba mengejarku, kamu lari sekuat mungkin ke lantai bawah.."


"Tapi Galih...." Adel memotong pembicaraan Galih.


"ADEL! Dengarkan saja aku!"

__ADS_1


Adel semakin terisak, namun sebisa mungkin dia mencoba tegar dan mendengarkan rencana Galih.


"Kamu bisa bawa mobil kan?"


"Iya aku bisa" Jawab Adel


"Bagus, saat dilantai bawah nanti ambil kunci mobilnya, pasti ada disaku celana Erik lalu jangan lupa bawa ranselku, disana ada kamera video yang kita temukan kemarin, bagaimanapun caranya kamu harus bisa mengungkap semuanya, kamu harus janji, ok?" Galih menjelaskan rencananya.


"Jangan berbicara seolah kamu akan mati Galih"


"Aku tak tahu, tapi aku juga akan berusaha berlari kelantai bawah saat kamu berhasil menghidupkan mobilnya, tapi jika aku tak berhasil lolos dari kejaran sosok itu, kamu harus pergi sendiri dari sini Adel!" Kata Galih.


"Aku akan berusaha, aku janji!"


Adel menahan sakit di ulu hatinya, namun bola mata itu tak sanggup menahan bendungan air matanya.


Galih memegang gagang pintu itu. Dia menguatkan tekad, dia harus terlihat tegar didepan Adel agar tak membuat Adel ragu dan rencananya berjalan dengan baik. Galih menatap Adel, ada perasaan aneh yang muncul.


"Hehe, kenapa sekarang kamu terlihat begitu cantik?" Batinnya


"Kamu siap Adel?"


"Iya aku siap!"


Saat pintu ruangan itu terbuka, benar saja sosok itu ada disana, Galih langsung berlari ke arah balkon. Sosok itu mengejar Galih. Adel berlari sekuat tenaga ke arah tangga menuju lantai bawah.


"Adel lari!" Teriak Galih


Adel berhasil menuju lantai bawah, namun sayang nasib Galih, sebuah pisau yang dilempar sosok itu tepat menancap di betisnya. Galih tersungkur, namun sekuat tenaga ia berusaha menuju balkon, meskipun harus merangkak. Sosok hitam mengekor di belakang Galih yang sudah tak bisa berjalan. Galih berhasil sampai di balkon, tangannya memegang erat pagar balkon itu, dia menundukan kepala di balkon itu. Galih tersenyum karena Adel terlihat berhasil menghidupkan mobil, dan pergi dari rumah itu.


(Braaak)


Terdengar keras benturan mobil saat menabrak gerbang.


"Maafkan aku Adel, aku tak bisa menyusulmu" Batin Galih.


Galih tertunduk lesu, kakinya terus mengeluarkan darah.


"Adel Permata yaa? Hehe" Galih berbicara dalam hatinya dan sedikit tersenyum.


"Akhirnya cuma kamu yang selamat, tapi aku senang"


"Kenapa baru sekarang Aku Mencintaimu?"


Air mata Galih mengalir membasahi kedua sisi pipinya.


Sosok hitam itu meraih leher Galih, mencoba mencekiknya, Galih melawan sekuat tenaga, namun apa daya dia tak kuasa. Saat perlawanan Galih melawan sosok itu, keduanya saling menatap. Galih terkejut.


"Kamu...?"


(Kreeeek)


Sosok hitam itu berhasil mencekik Galih. Galih tewas seketika.


*

__ADS_1


See You Ending Chapter "Video Sasha, Kenangan Adel"


__ADS_2