Rumah Angker

Rumah Angker
22. Takdir Yang Menuntun


__ADS_3

"Berarti aku harus menunggu sendirian di sini?"


Tanya Monica mengikuti Arya yang bersiap akan pergi meninggalkan rumah barunya,


Ia akan pulang ke rumah Umi pagi ini untuk benar-benar bisa istirahat, setelah itu ia akan ke kantor sorenya untuk piket, esok paginya ia akan pulang lagi ke rumah Umi agar bisa berangkat bersama menuju rumah barunya,


Seperti yang Umi inginkan dan Tante Kanaya inginkan, jika mereka akan mengantar Arya pindahan,


"Tinggalah di sini, tapi jangan lagi-lagi mengganggu orang jualan yang lewat di depan rumah,"


Kata Arya,


"Aku tidak menggangu,"


Monica berusaha mengelak,


"Kamu jelas-jelas membuat pedagang mie tek tek lari tunggang langga sampai dia pingsan dan masuk klinik, gerobaknya juga sampai ia tinggal,"


Marah Arya,


Tampak Monica mengerucutkan bibirnya,


"Aku tidak ada niat menakuti, dianya saja yang penakut,"


Monica bersikeras tak mau disalahkan, membuat Arya akhirnya hanya bisa menghela nafas,


Sementara itu, Boni yang sejak tadi sudah menunggu Arya di dalam mobil sambil duduk di balik kemudi tampak memandangi Arya yang tak juga beranjak dari teras rumahnya,


Arya tampak seperti sibuk bicara sendirian, membuat Boni entah sampai berapa kali menggelengkan kepalanya,


"Parah bener ni anak atu, lama-lama gila yang ada,"


Gumam Boni sambil memandangi Arya dari tempatnya,

__ADS_1


"Si Umbi sepertinya sudah tidak sabar mau pergi,"


Kata Monica seraya melihat ke arah mobil,


Arya ikut melihat ke arah yang sama sekilas lalu, dan kemudian memandang Monica lagi,


"Baiklah, aku harus pergi, pastikan kamu jangan ke mana-mana, tetap di sini, tunggu aku datang lagi, mengerti!"


Kata Arya wanti-wanti,


"Kita akan cari tahu sama-sama, siapa pelakunya, siapa yang mencoba membunuhmu dan ada motif apa dari percobaan pembunuhan itu,"


Tambah Arya lagi,


Monica pun mengangguk,


"Ya aku akan tetap di sini,"


Arya mengangguk,


Tampak kemudian Arya membawa langkahnya menuju mobil,


"Sudah?"


Tanya Boni begitu Arya masuk ke dalam mobil menyusul Boni dan kemudian duduk di sampingnya,


Tampak Arya duduk menyandarkan diri, wajahnya terlihat lelah, matanya juga merah karena sama sekali belum tidur,


"Antar aku pulang ke rumah Umi, lalu kamu bawalah mobilnya pulang, sorenya kamu jemput aku Bon,"


Kata Arya,


"Okeh,"

__ADS_1


Sahut Boni yang kemudian menyalakan mesin mobilnya,


Arya sejenak menatap ke arah teras rumahnya lagi, di mana di sana tampak masih ada Monica berdiri mengambang memandangi mobil Arya yang pelahan keluar dari halaman rumah,


"Entah apa tepatnya ini, takdir atau apa,"


Ujar Arya tatkala Boni akhirnya membawa mobilnya keluar dari halaman rumah,


Boni akan keluar dari mobil, manakala Arya menahannya agar tidak usah pergi dan lebih baik meneruskan perjalanannya,


"Pagar rumahmu har..."


Boni baru akan menjelaskan kenapa ia harus keluar dari mobil, saat tiba-tiba pintu pagar rumah Arya menutup sendiri, dan juga menggembok sendiri,


"A... A... Ar, itu,"


Boni menunjuk ke arah pagar yang kini menutup sendiri,


"Sudah Bon, aku ngantuk dan ingin cepat istirahat,"


Kata Arya yang lantas memejamkan matanya untuk tidur,


Boni pun menurut melajukan mobil yang kali ini ia yang diminta Arya untuk mengemudikan mobilnya karena Arya matanya ngantuk berat,


"Monica, dia anak Danu Hartanto, yang kasusnya kita tangani, takdir menuntunnya datang ke rumah ku,"


Lirih Arya sambil menyandarkan kepalanya ke kaca jendela sampingnya, dan hanya sekian detik Arya langsung tertidur pulas,


"Haissh, baru saja aku mau tanya."


Kesal Boni begitu melihat Arya sudah langsung tidur saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2