Rumah Angker

Rumah Angker
52. Rumah Angker


__ADS_3

"Nona Monica kenapa?"


Tanya Arya, hantu Monica pun jadi ikut menempelkan telinganya ke dekat hp Arya,


"Nona Monica akhirnya meninggal Ar, korban percobaan pembunuhan yang kita tangani akhirnya meninggal,"


Kata Boni meneruskan beritanya yang bagi Arya tentu saja bukan hal baru lagi,


"Oh itu, ya aku sudah tahu,"


Jawab Arya lirih, sambil kemudian matanya memandang ke arah Monica yang kini tertunduk lemah, dan melayang menjauh dari sisi Arya,


"Kamu tahu dari mana? Ah... apa..."


Kalimat Boni kembali menggantung, seolah ia suka sekali bergelantungan,


"Baiklah, kamu tangani saja semuanya, aku akan kembali ke kantor dua jam lagi,"


Ujar Arya,


"Ya baiklah,"


Sahut Boni, sebelum akhirnya ia menutup sambungan telfonnya,


"Mon, Monica..."


Arya memanggil Monica, yang berpindah duduk kembali di sofa ruang tamu,


Ia tampak menangis sedih di sana, membuat Arya yang melihatnya menjadi iba,


Arya lantas beranjak dari tempatnya melihat TV, meskipun tetap membiarkan saja TV nya menyala,


"Kenapa nasibku begitu tragis? Kenapa sepertinya aku sama sekali tak boleh bahagia? Kenapa?"


Rintih Monica dalam tangisannya,


Arya melangkah pelan mendekati Monica,


Sebagai anak yang juga mengalami banyak sekali kesulitan sejak masih kecil, Arya memang mudah sekali iba melihat kesulitan orang lain,


"Aku sejak kecil dibuang di panti asuhan oleh Ibuku, lalu aku dibesarkan dan dirawat oleh kedua orangtua angkat, sekian lama aku selalu merasa mereka adalah orangtua angkat yang sangat berjasa dalam hidupku, tapi tiba-tiba kini semua berubah,"


Tutur Monica sambil masih terus terisak,


Arya pun mengambil tempat di sebelah Monica, ia duduk di sana sambil menatap hantu gadis berwajah sangat cantik itu,


"Tuan Danu Hartanto, kau tahu Bang, jika dia ternyata adalah Ayahku, Ayah kandungku, ia menjalin hubungan terlarang dengan pegawainya yang itu adalah Ibuku, lalu saat hubungan mereka tak bisa dilanjutkan karena Ayah harus memilih isteri syahnya, aku dilahirkan lalu aku dibuang di depan panti asuhan,"


Monica menutupi wajahnya, menangis pilu ia membayangkan nasibnya saat masih bayi harus dibuang di depan panti,


Arya pun lantas mengulurkan tangannya untuk kemudian merangkul bahu Monica,


"Ayah mengambilku karena isterinya tak kunjung hamil, berpura-pura aku bukanlah anak kandungnya selama ini, menutupi kenyataan jika aku adalah anak kandung yang dibawa dari panti,"


Monica suaranya tergetar, sebagaimana tubuhnya yang Arya tahu ia berusaha untuk menahan sekuat hati agar tak sampai histeris meluapkan seluruh emosinya,


"Ibuku... Ibuku, dia..."

__ADS_1


Monica seolah tak sanggup mengucapkannya, ia semakin menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya,


"Syela... Dia Ibuku Bang, hantu yang kepalanya nyaris putus itu adalah Ibuku, dia bunuh diri setelah membuangku, Syela..."


Monica rasanya tak sanggup lagi meneruskan, membuat Arya akhirnya memutuskan memeluk Monica dalam pelukannya,


Dingin tubuh Monica macam es loli membuat Arya merinding, namun ia sungguh-sungguh bisa merasakan betapa beban hantu itu begitu berat, dan Arya ingin meringankan beban itu sedikit saja,


"Aku tidak melihatnya sejak tadi, mungkin ia masih di suatu tempat,"


Kata Arya lirih saat setelah sekian menit berlalu dan tangisan Monica mulai sedikit mereda,


Monica melepaskan diri dari pelukan Arya pelahan, tampak ia menggelengkan kepalanya,


Arya menatap Monica yang tampak menyeka air matanya yang merah bercampur darah,


"Ia sudah pergi,"


Lirih Monica,


Arya mengerutkan kening,


Monica balas menatap Arya sambil menganggukkan kepalanya,


"Pergi ke mana?"


Tanya Arya,


"Pergi ke tempat yang seharusnya ia pergi, ia sudah bertemu aku, dia selama ini tertahan karena aku, dia belum tahu aku di mana,"


Arya yang mendengar hal itupun hanya bisa menghela nafas,


Monica menangis lagi,


Arya pun menepuk-nepuk bahu Monica agar hantu gadis cantik itu kembali tenang,


"Kini aku sudah tiada, aku tak bisa kembali ke tubuhku, aku akan seperti ini terus, lalu aku harus ke mana? Aku harus tinggal di mana? Aku..."


"Tetap saja tinggal di sini, tidak apa, aku ijinkan,"


Ujar Arya,


Monica menatap Arya,


"Aku tidak akan menempati rumah ini, supaya kau tak terganggu, aku akan pulang ke sini sesekali saja, tak apa,"


Kata Arya pula,


"Tinggalah hingga nanti kamu juga akan menemukan sesuatu yang bisa membuatmu terlepas bebas dari dunia ini, mungkin masih ada yang mengganjal dalam hati hingga kamu masih tertahan, tak apa Mon, semua memang butuh waktu,"


Lanjut Arya, membuat Monica memeluk Arya lagi,


"Kenapa kita bertemu setelah aku seperti ini? Tak bisakah waktu diulang? Tak bisakah?"


Lirih Monica penuh penyesalan.


...****************...

__ADS_1


Satu Bulan Kemudian,


Sebuah keluarga suami isteri tampak turun dari mobil van hitam di depan sebuah rumah dengan pagar yang cat nya sudah agak mengelupas,


Sang Isteri yang baru turun dari mobil van tersebut tampak berdiri sejenak memandangi bangunan rumah barunya yang dibeli sang suami sebagai kejutan ulang tahun pernikahan mereka yang ke sepuluh,


Anaknya yang usianya sekitar delapan tahunan juga ikut memandangi bangunan rumah baru mereka,


"Masih bagus, hanya butuh dicat sedikit, ya kan?"


Tanya sang suami pada isterinya,


Bersamaan dengan itu dari dalam rumah sebelah terlihat seorang polisi muda keluar lalu tersenyum ramah,


Mereka suami isteri mengangguk memberi salam, membalas senyuman ramah polisi muda yang tampan, yang merupakan tetangga baru mereka,


Arya, polisi muda itu berjalan keluar pagar rumah untuk sebentar berbasa-basi menyapa,


"Kami akan pindah ke rumah ini, senang sekali bertetangga dengan seorang polisi,"


Ujar si suami,


Arya tampak tersenyum,


"Saya lebih sering di kantor, kadang beberapa hari sekali saja tidur di rumah, kalau saya di rumah, jangan sungkan ngopi-ngopi di rumah saya Bang,"


Kata Arya,


Si suami mengangguk cepat,


"Tentu... tentu saja,"


Sementara itu, sang isteri yang sejak tadi hanya diam saja terlihat tersenyum ke arah teras rumah Arya, di mana di sana ia melihat sosok perempuan cantik berdiri menatap mereka,


Tentu saja sang isteri mengira perempuan cantik itu adalah isteri si polisi tampan.


"Oke, saya harus kembali ke kantor ini Bang, ada kasus munculnya makhluk aneh di sekitar Ibu kota dan juga kawasan puncak yang sudah memakan korban, jadi maaf tidak bisa bantu-bantu,"


Ujar Arya, tepat saat itu mobil barang yang membawa barang-barang pasangan suami isteri itu datang,


Suami isteri itupun mengangguk,


"Isterinya cantik sekali, salam kenal,"


Kata isteri dari tetangga baru Arya pada Arya,


Arya yang mendengar sejenak tampak terdiam, agak kaget dibilang punya isteri, tapi kemudian saat ia melihat ke arah teras ada Monica berdiri di sana, barulah ia mengerti,


Arya pun tampak tersenyum saja, lalu mengangguk,


"Ya nanti saya sampaikan, tapi... maaf, dia bukan isteri saya, dia pemilik rumah itu, Nyonya asli rumah yang saya tempati,"


Kata Arya, membuat suami isteri tetangga baru Arya tersenyum.


Entah mungkin berpikir aneh-aneh, tapi Arya tak begitu peduli, karena nyatanya Monica sekarang adalah Nyonya rumah yang sebenarnya.


Hantu penunggu rumah barunya.

__ADS_1


...T A M A T...


__ADS_2