
Jam sudah menunjukan pukul 01.00 wib, sudah satu jam berlalu sejak apa yang terjadi pada Fany. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda keberadaan Fany.
"Rik, ayo makan dulu, kita belum makan apapun sejak datang kemari" Ajak Adel. Namun Erik diam seribu bahasa.
"Iya Rik, kita butuh tenaga selama disini, 5 jam lagi matahari akan muncul, kita cari Fany saat itu, sekarang penerangan sangat kurang, susah menelusuri tempat seluas ini kalo hanya mengandalkan senter kita" Kata Galih. Erik tak menggubris sedikitpun.
Erik terlihat melamun, pikirannya jauh melayang ke hari saat dia bersama Fany di sekolahan.
(terlihat Fany sedang menyuapi Erik makan bakso mba Ayu kesukaan Erik)
(Erik dan Fany sedang foto selfie di acara Study Tour ke Jogja)
(Erik memeluk Fany yang menangis karena takut Badut jalanan)
Air matanya tak terasa mengalir, membasahi pipinya. "Maafkan Aku Fany" Batin Erik.
*
Jam menunjukan pukul 01.15 wib, Erik bangkit dari duduknya.
"Mau kemana lo?" Tanya Bery, mulutnya dipenuhi makanan ringan. Bery, Adel dan Galih sedang mencicipi beberapa perbekalan mereka, guna menambah tenaga selama bertahan di rumah itu.
__ADS_1
"Nyari Fany" Kata Erik singkat. "Kalian lanjut makan aja!" Lanjutnya.
"Erik, kamu benar-benar mencintai Fany dengan sangat tulus" Batin Adel
Hal berbeda dirasakan oleh Galih saat melihat punggung Erik pergi meninggalkan mereka, meskipun masih dalam satu rumah, tapi dia merasa akan kehilangan temannya itu.
"Erik, aku temenin! Kata Galih
"Gak usah!"
"Tapi Rik...." Galih belum selesai berbicara.
"GAK USAH!" Bentak Erik
*
"FANY....." Teriak Erik
Ketiga temannya yang mendengar teriakan Erik serentak lari dan naik ke lantai atas. Namun karena saking luasnya rumah itu, ketiga temannya tidak langsung menemukan Erik di balkon, mereka harus menelusuri setiap ruangan dengan cahaya yang minim.
Erik mencoba merangkul tubuh Fany, saat dia berusaha menurunkan tubuh Fany, Dia melihat sekilas sosok anak kecil laki-laki dengan tambang yang terikat di lehernya, berada di lantai bawah dan melihat juga kearahnya. Kedua mata bertemu, jari sosok anak laki-laki itu menunjuk Erik. Tidak, bukan menunjuk Erik, tapi sosok hitam dibelakang Erik.
__ADS_1
Sosok hitam itu mendorong Erik dari balkon.
"Arrrrrrrrrh" Teriak Erik. Erik terjatuh dengan sangat keras, tulang lehernya patah, mengakibatkan Erik tewas seketika.
Galih berlari menuju balkon mengikuti suara teriakan Erik. Sosok hitam sudah tidak ada, tubuh Fany tergeletak di balkon, saat Galih mendekat dan melihat kebawah, tubuh Erik terlihat menggeletak, disampingnya berdiri sosok anak laki-laki.
"Erik.........."
*
Kedua jasad Erik dan Fany, di tidurkan di ruang utama, ditutupi beberapa kertas koran bekas.
Adel menangis, Bery merenung. Galih terdiam seribu bahasa.
Saat melihat jasad kedua temannya, Galih menyadari sesuatu dari koran yang menutupinya, berita utama di koran itu adalah berita dari rumah yang sedang mereka tempatin sekarang.
"Satu Keluarga Tewas Ditangan Sang Ayah" Batin Galih membaca judul koran itu.
"Van Der William" Lanjutnya.
*
__ADS_1
See You Next Chapter "Pada Akhirnya Kalian Adalah Temanku"