
Gordi tengah sibuk di depan komputer di kampusnya. Niatnya hanya ingin menyelesaikan sebuah cerita untuk salah satu penerbit dan tanpa ia sadari hari telah menjelang sore. Buru–buru ia mengemasi peralatannya. Gordi segera memasukkan proposal ke dalam tas. Power komputer segera ia matikan. Bergegas ia keluar dari ruangan komputer, tapi mendadak saja bulu kuduknya merinding tiada terkira. Gordi mendengar seseorang sedang merintih pilu. Entah darimana asalnya suara itu. Tiba–tiba saja ia terkejut ketika seseorang menegurnya.
“Nak, Gordi, belum pulang?“ tanya orang itu. Seketika saja Gordi berpaling menatap orang itu.
“Eh, Pak Damsit,” selanya sambil mengatur detak jantungnya yang semula berdebar kencang sekali. “Saya kira siapa tadi, Pak,” kata Gordi menenangkan pikirannya. Pak Damsit hanya tersenyum tipis.
“Memangnya nak Gordi belum pulang?“ tanyanya lagi.
“Belum, Pak. Ini juga saya baru mau keluar,” jawab Gordi singkat.
“Ya, sudah, hari sudah menjelang magrib. Nak Gordi harus segera pulang.”
Gordi mengangguk sekenanya sambil tersenyum tipis.
“Kalau begitu saya pulang duluan, Pak,” kata Gordi seraya melambaikan tangan.
“Hati-hati, Nak Gordi...” kata Pak Damsit menasehati. Gordi mengangguk sekenanya dan terus berlalu dari Pak Damsit. Baru beberapa langkah Gordi melalui koridor ruang komputer tiba–tiba saja ia mendengar suara rintihan itu lagi.
Gordi terhenti. Seketika saja bulu kudu nya merinding! dan suara–suara itu semakin jelas nyaring di telinganya. Dengan bergegas ia mempercepat langkahnya. Suara itu semakin mendekati Gordi. Jantungnya mulai berdebar kencang sekali. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ingin ia berteriak memanggil pak Damsit. Tapi itu tidak dilakukan. Bibirnya terasa keluh dan tidak dapat berbicara.
Tiba–tiba saja Gordi melihat bayangan putih melintas di depannya. Gordi terkesiap. Bayangan putih itu seorang perempuan. Buram. Gordi berusaha memberanikan diri. Ia melewati koridor ruang komputer. Di lantai dua ia terhenti. Ruang laboratorium. Gordi menarik nafas sejenak. Kemudian ia menghembuskan nya perlahan.
Di laboratorium Gordi masih melihat beberapa mahasiswa. Mereka asyik dengan alat pembesar. Gordi merasa lega. Masih ada mahasiswa lain, pikirnya. Mereka ada tiga orang. Memakai seragam berwarna putih. Satu diantara mereka mahasiswi. Bayangan dari kaca laboratorium terlihat jelas di mata Gordi.
Gordi terpaku sejenak. Menatap ketiga orang itu. Ia melihat keanehan di sana. Mereka bergerak amat lambat dari detik jarum jam. Tanpa berbicara sepatah pun. Gordi terkejut ketika seorang mahasiswi memergoki matanya. Sorot mata gadis itu tajam seakan menembus jantung Gordi. Dengan cepat ia memalingkan wajah. Tiba–tiba saja mereka menghilang entah kemana. Tentu saja Gordi terkejut setengah mati! Ketiga orang itu meninggalkan alat pembesar dengan segumpal gading yang masih berdarah! Dengan kalud Gordi melangkah melewati ruang laboratorium.
‘Astagfirullah..’ batinnya berucap. Gordi terkejut untuk beberapa kali. Ia melihat sosok tubuh tanpa kepala di ruang laboratorium. Darah mengalir dari batas leher. Gordi menjerit dan berteriak histeris. Ia berlari dengan tergesa-gesa. Ia menarik nafas dengan berat. Menuruni anak tangga.
__ADS_1
“Ada apa, Nak Gordi?“ tanya pak Damsit keheranan saat melihat Gordi ketakutan.
”Eee... tidak ada apa-apa, Pak,” ucap Gordi gugup.
”Sebaiknya nak Gordi cepat keluar,” ujar Pak Damsit. Ia tahu apa yang tengah dialami Gordi.
”Baik, Pak,”
Buru-buru Gordi meninggalkan tempat itu dengan perasaaan lega.
Gordi melemparkan tas ranselnya di sisi tempat tidur. Kemudian merebahkan tubuhnya. Ia memandang langit-langit kamar. Kejadian di kampus membuat pikirannya semakin kacau balau. Gordi bangkit dari rebahan. Ia mengambil tugas-tugas kampus dari dalam tasnya. Ia tercekat dengan raut terpaku. Tugas-tugas kampusnya terasa basah dan lengket. Padahal sama sekali ia tidak menyimpan air mineral atau semacamnya ke dalam tas. Lama ia terpaku dalam sebuah tanda tanya besar. Lengket dan licin. Perlahan Gordi menarik tugas-tugas kampusnya, mendadak saja ia terkejut setengah mati.
”Astagfirullah...” ucapnya. ”Darah!!” pekiknya dengan mata tajam.
”Kenapa ada darah?” batinnya lagi. Buru-buru ia beranjak ke kamar mandi. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan benda aneh terpijak di kakinya. Sebuah potongan tangan yang masih berdarah.
Agghkk..!! jerit Gordi. Ia bergerak mundur. Gordi membersihkan tangan dengan pikiran kalut. Jantungnya terus bergemuruh. Gordi merogo tas ranselnya dengan ragu. Tangannya menyentuh benda lunak dan cairan kental. Ia membelalak. Perlahan ia mengeluarkan benda itu. Gordi tercekat saat ia melihat sebuah jantung manusia yang masih berdegub berlumuran darah.
Riri terlelap di kamarnya. Kali ini mimpinya tak lagi menyeramkan. Riri tidur dengan tenang.
***
Gordi terbangun saat matahari menjilati jendela kamar. Ia bangkit dengan berat. Sebuah ketukan terdengar dari luar.
“Kak, Gordi... Bangun... sudah siang nih...”
Gordi menghela sesaat.
__ADS_1
“Iya-iya... Kakak sudah bangun nih,”
Riri membuka pintu kamar Gordi dan melihat keadaan kamar yang masih berantakan. Riri memerhatikan kakaknya yang tidak seperti biasa. Matanya kuyu seperti kurang tidur.
“Kak Gordi kenapa? Sakit?” tanya Riri penasaran.
Gordi menghela nafas dengan berat. “HHH... enggak. Kakak cuma kecapean aja. Banyak tugas-tugas kampus yang belum selesai,”
Riri mengangguk. “Oh... Kalau begitu bantuin Riri masak yuk...”
“Masak? Memangnya kamu bisa masak? Sejak kapan?”
“Yee... selama ini kan Riri selalu bantuin mama. Jadi sedikit banyaknya Riri tahu memasak, walau tidak semahir mama,” Riri beranjak keluar dari kamar Gordi. Gordi kembali duduk, lalu menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya dan menemui Riri di dapur.
“Kamu masak apa, Ri?”
“Omelet, Kak. Untuk sarapan,”
“Apa yang bisa kakak bantu?”
“Irisin bawang aja deh, Kak,”
Gordi mengambil beberapa bawang dari dalam lemari es, lalu mengirisnya tipis-tipis. Riri sibuk mengadon telur dengan campuran sosis, udang dan bakso. Maklum mereka harus mengerjakannya sendiri. Mama belum sempat mecari pembantu.
“Omelet buatanmu enak, Ri,” kata Gordi ketika menggigit potongan pertama omelet buatan Riri. “Gak kalah sama chef handal,”
“Hmm... makanya percaya deh ke Riri,”
__ADS_1
Gordi terenyum. Ia menyantap habis omelet ala Riri. Setelah selesai sarapan, Gordi dan Riri membersihkan meja makan, lalu berangkat ke sekolah.
***