
Burung-burung bersahutan. Matahari pagi bersinar terang. Di ruang makan tampak Bintara, mama Gordi dan Riri. Bintara menyantap sarapan pagi. Riri hanya mengurak-arik piringnya.
”Ayo dong, Ri. Dimakan nasinya,”
”Bosen, Ma. Nasi goreng mulu tiap pagi,”
”Ri... mama belum sempat belanja ke kota. Mungkin besok,”
Riri manyun. Bintara hanya memperhatikan sekilas.
”Sudahlah, Ri. Papa dan mama belum sempat belanja. Dimakan saja apa yang ada,” ujar papa.
”Ughh...” Riri cemberut.
Setelah sarapan papa mengantar Riri ke sekolah. Naik mobil lama milik kakek.
Riri memperhatikan gedung sekolah di depannya. Gedung bercat putih mulai terkelupas. Berdiri angkuh dengan halaman yang cukup luas. Sebuah gedung sekolah yang sudah ketinggalan zaman.
‘Ini sekolah apa kuburan sih?‘ gumam Riri kesal. Keningnya berkerut. Ia menggigit bibir, kemudian melangkahkan kaki tidak semangat. Berjalan diantara siswa-siswi yang sama sekali tidak bersahabat.
“Hai, anak baru, ya?“ tiba-tiba saja seseorang menyapa dari belakang. Riri terhenti sambil menoleh ke arah orang itu. Riri menaikan alisnya. Seorang cowok cute beralis tebal.
‘Gila, kok ada juga mahluk cakep di sekolahan begini?’ batinnya.
“Aku Adam, kamu?“ Orang itu memperkenalkan diri.
“Riri,“ sahut Riri pendek.
“Kamu pindahan dari mana?“ tanya Adam mengikuti langkah Riri.
“Jakarta. Kamu?“ Riri balik bertanya.
“Aku dari Bandung,“
“Ooohhh,“ Riri manggut. “Kok kamu tahu kalau aku siswi baru?”
Adam tersenyum. “Kamu beda banget dari yang lain,”
“Beda apanya?” Riri menaikan alisnya.
“Cara berpakaian kamu, gerak-gerik kamu yang masih asing dan kamu beda sama yang lain,”
Riri tergelak. “Kamu bisa saja, Dam.”
Beberapa saat kemudian mereka jalan berbarengan memasuki gedung sekolah. Melewati beberapa koridor yang tidak terawat. Banyak lumut dan lumpur karena musim hujan.
“Kenapa kamu pindah ke sini, Dam?“ tanya Riri.
“Papaku dipindah tugaskan ke kota kecil ini. Mau tidak mau, mama dan aku ikut papa pindah. Kalau kamu?“
“Papa lebih cinta kampung halamannya. Katanya banyak kenangan yang tertinggal di kota ini,“
“Jadi ini kampung halaman papamu?“
Riri mengangguk. “Iya. Dulu kakekku orang sini,“ jawab Riri singkat.
”Kalau begitu kita sama. Ini juga kampung halaman papaku,”
”Oh, ya?”
__ADS_1
Adam mengangguk. Riri berjalan melihat ruangan kelas yang kotor.
“Sekolah ini tidak pernah dirawat ya?“ tanya Riri ragu.
“Bukan, tapi tukang bersih dan jaga kuncinya lagi sakit. Jadi ruangan sekolahnya agak berantakan,“
“Oohhhh, begitu, ya. Kenapa kepala sekolah tidak menyuruh murid-murid untuk membersihkan?“
“Entahlah... Itu urusan kepala sekolah,”
Riri manggut memperhatikan toilet yang juga sama joroknya. Riri menelan ludah dengan merasa jijik. Bau pesing.
“O, ya. Kamu sudah ketemu kepala sekolah?“ tanya Adam lagi. Riri menggeleng.
“Belum,“
“Aku harap kamu satu kelas denganku,“
“Mudah-mudahan saja,“ Riri tersenyum
“Aku masuk duluan, ya,“ kata Adam seraya masuk ke ruangan kelasnya.
Riri mengangguk sambil memasuki ruang kepala sekolah. Riri satu kelas dengan Adam. Perkenalan pertama biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang antusias atas kedatangan Riri.
***
Riri membuka kulkas. Mengambil sebotol air dingin. Kemudian menenggaknya dengan perlahan. Menggelontorkan tenggorokan dengan air mineral.
‘Itu sekolah apa-an sih, kok nggak ada kantinnya?’ Riri bekali-kali menggerutu. Melihat keadaan sekolah yang sangat memprihatinkan.
Kriek!
Riri kembali mendengarkan decit suara pintu. Terbuka dan tertutup sendiri, seperti ada seseorang yang menggerakkan. Riri berjalan perlahan. Mengintai ke arah pintu. Pintu terayun lagi dengan pelan. Riri mengernyitkan kening. Tidak ada angin dan badai, kok pintu bisa terbuka? Apa ada kucing?
“Assalammualaikum!“ sapa Gordi dari luar. Riri kaget dibarengi hentakan tubuhnya dengan spontan. Sambil mengatur pernafasan dia berlari menuju pintu depan.
“Waallaikumsallam…” sahutnya. Ia membuka pintu. “Huh, kak Gordi ngejuti saja. Riri pikir siapa?“ sungutnya.
“Kamu ini aneh, Ri. Kakak sendiri pulang sudah prasangkanya macem-macem.” Gordi segera masuk ke ruang tamu.
“Habis Riri heran, Kak. Sejak kemarin ada saja kejadian-kejadian yang bikin bulu kudu Riri merinding,“ Riri mengikuti langkah Gordi ke ruang tamu.
“Ahh, kamu ini kebanyakan nonton film horor. Mana ada hantu di rumah sendiri.“ Gordi membuka sepatunya.
Riri menghela kesal. “Tapi ini benar, Kak. Kemarin Riri mencium bunga melati, setelah itu wangi melati berganti menjadi amis seperti darah. Memuakkan dan menjijikkan. Kemarin pintu kamar mandi terbuka sendiri. Trus Riri bermimpi berada di sebuah tempat anta-berantah. Riri gak tahu dimana? Kali ini pintu tengah terbuka dan tertutup sendiri. Iiii…“ Cerita Riri sambil bergidik.
“Kamu lupa mengunci pintu kali, Ri,“ kata Gordi seraya penatap Riri.
“Tapi Riri tidak ke kamar mandi, Kak. Pintu tengah juga tidak pernah dikunci,”
“Mungkin papa, atau mama barangkali,“ ucap Gordi memastikan. Riri menghela lagi mendengar keputusan kakaknya.
”Mama dan papa tidak ada, Kak,” tegas Riri.
“Sudah ah, jangan menghayal terus. Nanti kamu sendiri yang ketakutan,“ kata Gordi memastikan. “Bagaimana sekolahmu?” tanya Gordi mengalihkan pembicaraan.
“Biasa saja, Kak. Lebih banyak betenya,”
“Loh kok bete?”
__ADS_1
“Bagaimana gak bete, Riri seperti memasuki gedung tua yang penuh dedemitnya. Tidak ada kantinnya apalagi café.”
“Yah, dibuat enak saja, Ri. Kamu kan belum beradaptasi dengan orang-orang di sana. Atau kamu belum berkenalan dengan mereka secara dekat?” Gordi beringsut. “Kakak ke kamar dulu ya, mau ganti baju,” lanjut Godry seraya berlalu menuju kamarnya. Riri masih mematung dengan pikiran-pikiran kalud. Kemudian beringsut masuk ke kamarnya. Memperhatikan kamar yang semakin membuat Riri bergidik.
Suasana aneh mulai menyergapnya. Hawa dingin tiba-tiba saja menyusup ke persendiannya. Kamar semakin terlihat aneh.
***
Keesokan hari. Riri duduk sambil terpaku di bangku sekolah. Ia membuka bukunya. Beberapa murid terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Di sudut terlihat seorang siswi menyendiri sambil membaca novel remaja. Di pinggir kanan beberapa siswi ngerumpi sambil cekakak-cekikik. Riri yang melihat tingkah mereka jadi bete.
“Hai... Aku Ajeng,” tiba-tiba saja seorang siswi menyapanya. Refleks Riri menoleh ke orang itu. Riri tersenyum tipis.
“Aku Riri,” ucap Riri.
Ajeng duduk di samping Riri. “Kok bengong?” tanyanya.
“Gak apa-apa. Aku lagi banyak pikiran aja,”
“Kamu ada masalah?” tanya Ajeng menyelidik. Riri terdiam lalu menoleh ke arah Ajeng. Ia mengedipkan matanya, namun tak memberikan jawaban ke Ajeng.
“Atau kamu tidak biasa melihat keributan di kelas?”
Riri menggeleng. “Sama aja. Di sekolahku juga begitu,”
“Lantas, kenapa kamu termenung?”
Riri menghela nafas berat. “Ada masalah di rumahku. Masalahnya sangat rumit sekali,”
“Papamu berantem sama mamamu?” tebak Ajeng asal.
Riri menggeleng lagi. “Ini lebih tragis lagi,”
Ajeng terkejut. “Apa? Keluargamu berantakan?”
“Bukan. Aku harap kamu orang yang bisa mempercayai ceritaku,”
Ajeng mengerutkan keningnya. “Aku tidak mengerti. Apa ceritamu?”
Riri mendesah. “Ini berawal dari rumah yang kami tempati. Rumah kami ada penunggunya,”
“Maksudmu?”
“Mahluk halus,”
“Hantu?”
“Ya. Aku melihatnya dengan mata dan kepalaku sendiri,”
Ajeng bergidik. “Jangan cerita itu lagi lah... Aku takut. Aku juga pernah melihat penampakan,”
“Oh, ya?” Riri menatap Ajeng. “Dimana?”
“Di toilet sekolah. Makanya aku gak berani ke toilet sendirian,”
“Memangnya ada hantu apa di sana?”
“Iiighh... mengerikan, Ri. Aku gak bisa membayangkannya,”
Riri menarik nafas perlahan. Jadi sekolah ini juga berhantu? bathin Riri. Ajeng kembali ke tempat duduknya. Riri jadi penasaran. Ia ingin tahu cerita penampakan itu. Bell berbunyi beberapa kali. Adam baru nongol di depan pintu.
__ADS_1
***