
Riri berjalan dengan wajah murung. Ia duduk
termenung di kelasnya. Memperhatikan beberapa siswi yang tengah ngerumpi.
Kemudian pandangannya beralih pada sebuah dinding sekolah. Kelihatan
kusam. Ada sedikit bercak darah menempel di sisinya.
Tiba-tiba saja Riri tersentak kaget. Dia mendengar sebuah jeritan histeris
dari kamar mandi. Bergegas Riri bangkit dari duduknya dan berlari melihat kamar
mandi. Di sana sudah
berbondong-bondong siswa yang ingin melihat kejadian. Ternyata Tari
yang tergeletak di sudut kamar mandi. Riri segera menghampiri tubuh Tari sambil
meminta bantuan pada siswa lainnya.
“Bantu aku mengangkatnya ke ruang BP,“ kata
Riri antusias. Beberapa siswi mengipas tubuh Tari sambil membuka kancing
bajunya. Sedangkan beberapa orang lagi berusaha melaporkan hal ini ke guru
kelas.
“Ada apa, Ri?“ tanya Adam sedikit panik.
“Tari pingsan di kamar mandi, Dam. “
Adam terbelalak kaget.
“Pingsan?“
Riri menatap Adam dengan lekat.
“Ada apa, Dam. Kok kamu tegang begitu?“
“HH, nggak ada apa-apa, Ri. Kita di luar aja yuk,“ ajak
Adam kemudian. Riri mengikuti langkah Adam menuju taman. Kemudian duduk di
pojokan. Adam menghela nafas dengan berat.
“Ada apa sih, Dam kamu ngajak aku kesini?“
Adam menoleh memperhatikan Riri.
“Kemarin aku juga melihat bayangan itu, Ri.“
“Bayangan apa?“ Riri mengernyitkan kening.
“Selama ini bayangan itu tidak pernah muncul, tapi
mengapa akhir-akhir ini menghantui sekolah? Pelajar SMU yang gantung diri.
Bajunya penuh bercak darah. “
“Hah!!“ Riri terkejut sambil memperhatikan wajah Adam.
“Mungkin Tari juga melihatnya.“
Riri terpaku sejenak.
“Kenapa sekolah ini menjadi angker, Dam?“
“Entahlah. Konon sekolah ini dibangun oleh seorang warga
belanda dan entah kejadian apa sekolah ini jadi angker.“
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita tanya dengan penjaga sekolah. Mungkin dia tahu asal-usul kejadian
itu.”
“Tapi, pak Syafii pulang kampung, Ri.“
“Pulang kampung? Kampungnya dimana?“
“Desa Rampah.“
“Kita kan bisa ke kampung pak Syafii hari minggu.“
Adam berfikir sejenak. Kemudian mengiyakan usul Riri.
“Sebentar,
Dam. Jam tanganku ketinggalan di laci.“
“Ya, ampun Riri. Kenapa kamu jadi pelupa.“
“Sorry deh, Dam. Tadi aku melepas jam tanganku karen mau
ke kamar mandi. Biar aku ambil dulu ya.“
“Aku temenin deh,“
“Tidak usah. Aku berani kok,“
Riri segera beranjak dan berlari menuju ruangan
kelasnya. Memang kelihatan sepi. Baru beberapa meter Riri berada di koridor,
pikiran-pikiran lain kembali mengusiknya. Sorot matanya tajam memperhatikan
ruangan-ruangan yang telah kosong. Memang kelihatan menyeramkan.
Riri memberanikan diri berjalan menyelusuri beberapa
menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan dengan perlahan. Beberapa meter
lagi ia tiba di ruangan kelasnya. Dengan buru-buru dia masuk ke ruangan
kelasnya dan menuju laci mejanya. Mencari jam tangan yang tertinggal di sana.
Dengan tangan gemetar dan perasaan kalud Riri terus mencari jam tangannya.
Meski beberapa kali dia tidak menemukan jam itu di sana. Seingatnya dia
meletakkan jam itu di ujung laci.
Hembusan angin kembali menerpa rambutnya. Kencang namun
sesaat. Riri terkesiap. Perlahan dia memperhatikan pintu depan. Dari sudut
ruangan dia melihat seorang sisiwi berjalan dengan menundukkan kepalanya.
Keluar ruangan dengan langkah perlahan. Riri seakan terhipnotis dan terbengong
***** melihat keanehan itu. Tiba-tiba saja pelajar SMU itu menoleh ke arahnya.
Menatap tajam penuh kemarahan. Riri buru-buru menutup matanya dengan penuh
ketakutan. Dia menundukkan kepalanya agar tidak terlihat pelajar tersebut.
Namun mendadak saja dia terkejut ketika pundaknya ditepuk hingga Riri menjerit
kecil.
“Aakkkhh!“
“Kamu kenapa, Ri?“ Tiba-tiba saja suara Adam meluruhkan
__ADS_1
hatinya. Riri bangkit dan mendongak lega. Bibirnya masih bergetar.
“Dam,“ selahnya pelan.
“Kamu kok lama banget sih? Ketemu jam tangannya?“
“Belum,“ Riri menggeleng dengan bergetar.
“Kamu kenapa lagi, Ri. Kok wajah kamu pucat begitu?“
“Hhh, nggak apa-apa kok.“ tepis Riri menutupi.
“Ya sudah, kita keluar yuk,“
“Tapi jam tanganku belum ketemu, Dam,“
“Besok saja deh. Sudah sore, Ri. Nanti keburu gelap
sampai di rumah. “
Riri menaikkan bahunya. Kemudian mengikuti langkah Adam
ke luar sekolah.
Senja Riri tiba di rumahnya. Dengan penuh kelelahan yang
menyita semua tenaganya. Riri duduk di sofa sambil meneguk segelas air putih.
“Ri, kamu sudah pulang?“ sapa Gordy dari dalam. Riri
mendongak melihat Gordy. Di matanya masih terlihat kelelahan yang mendalam.
“Tadi ada temen kamu yang mengembalikan jam tangan ini,“ kata
Gordy sambil menyodorkan jam tangan Riri. Riri spontan bangkit dari duduknya.
“Temen aku?“ ucapnya sambil terbelalak. Rasanya tidak
mungkin temennya tahu alamat Riri selain Adam. Sedangkan Adam tadi ada
bersamanya.
“Siapa?“ tanyanya heran.
“Ya, kakak tidak tahu. Dia cuma mengembalikan jam ini
saja. Lagi pula dia tidak menunjukan mukanya.”
Riri mengerutkan keningnya. Mengingat siapa temennya itu,
tapi sudahlah, yang penting jam tangannya sudah kembali.
Keesokan harinya Riri menemui teman-temannya di sekolah.
Menanyakan siapa yang mengembalikan jam tangannya ke rumah. Namun tak seorang-pun yang
mengakuinya dan memang tidak seorang-pun dari
teman Riri yang mengembalikan jam itu. Melainkan arwah seorang pelajar SMUyang
pernah ia lihat di kamar mandi.
Riri tercenung. Berpikir sejenak seraya berjalan di
koridor. Melihat pintu kamar mandi yang terayu-ayun terbuka. Padahal pagi itu
nggak ada angin kencang yang berhembus. Riri memperhatikan kejadian itu
berkali-kali. Sampai bel sekolah berdentang dan Riri segera masuk ke ruangan
kelasnya.
__ADS_1
***