
Sorot mata
Maroto terlihat tajam. Riri berdiri di samping Adam.Marioto terlihat tidak bersahabat.
Ia tidak suka dikunjungi. Apalagi ada orang bertanya-tanya.
“Kalian mau apa
kemari?!” tanyanya tidak dingin.
“Saya hanya ingin tahu cerita itu, Pak,” Riri berkata takut-takut.
Mata Maroto memerah. “Saya
tidak tahu menahu cerita itu!Lebih baik kalian pergi sekarang?!”
“Pak... saya mohon...”
“Kalian harus menanggung akibatnya! Kau yang membuka pintu itu!”
Deg… Jantung Riri
bergemuruh. “Pak... saya minta maaf. Saya benar-benar tidak tahu,”
“Kalian sama saja. Tidak bisa membiarkan orang tenang!”
Maroto terdiam dengan wajah sinis. Kejadian dua puluh tahun itu kembali
bermain di matanya. Panasnya api masih dirasakan dan membekas di hati.
Perempuan baya itu kakaknya yang difitnah. Subroto menuduh perempuan itu
berzinah. Maroto tidak dapat berbuat apa-apa. Dia juga tidak bisa mencegah
amukan warga.Kedua
anaknya juga termakan isu murahan. Mereka ikut-ikutan menghakimi Mariani.
“Kalian keluarga pembunuh!” pekiknya. Mata Maroto memerah. “Pergi!!”
“Pak… tolong saya. Saya
dihantui arwah-arwah itu,”
“Itu bukan urusan saya.
Saya sudah peringatkan ke Bintara. Jangan membuka pintu terlarang itu! Kini pintu itu terbuka! Kau harus menutupnya!”
“Apa tidak ada jalan
lain?”
“Ada!”
Riri mendegut ludahnya.
Menatap wajah Maroto yang sinis.
“Apa, Pak?”
“Kau harus mati!”
Mata Riri terbelalak. Wajah
Riri berubah pucat. Adam terkejut dengan penuturan Maroto. Riri menatap Adam
lekat-lekat. Matanya merebak.
“Dam…” gumamnya parau.
“Kita cari jalan lain,
Ri,”
“Aku takut,”
Maroto bangkit dari
duduknya.
“Kalian tidak bisa
mencegah arwah itu.” ucapnya, sambil berlalu meninggalkan Adam dan Riri di ruang tamu.
“Bagaimana ini, Dam…”
“Sudahlah, Ri. Jangan
takut,”
“Kita masih punya cara
lain untuk mengusir arwah-arwah itu. Kamu harus yakin dan percaya kepada Allah.
Kita berdoa kepada Nya dan mohon keselamatan,”
Riri terisak lagi.
Ia menghapus air mata. Beranjak meninggalkan kediaman Maroto. Di halaman
__ADS_1
belakang ia terhenti. Melihat keangkuhan bangunan tua yang mereka tempati.
Terlihat menyeramkan. Adam berusaha menenangkan kegelisahan Riri.
Gordi kembali menatapi bangunan tua itu dalam-dalam. Ia menyesali kepergian Andien. Andien tewas dengan mengenaskan. Setelah
kematian mamanya, Faridah. Faridah tewas di ruang jenazah. Dadanya
terkuak lebar. Darah bercucuran di lantai.
Gordi meneguk secangkir teh hangat. Ia terdiam sesaat memperhatikan seisi rumah. Sepi. Gordi mengernyitkan kening sesaat. Sekelebat bayangan putih melintas di depannya. Gordi tersentak seketika. Dengan berat dia
beranjak dari sudut jendela. Gordi ingin memastikan apakah yang dilihatnya
tadi benar-benar mahluk gaib?
Desai angin sore itu terasa semakin dingin. Suara bisikan–bisikan aneh mulai terdengar di telinga. Bisikan aneh itu seperti bisikan orang asing. Dengan bahasa Belanda yang kental.
Jendela mengepak tertiup angin.
Gordi menatap ke arah daun jendela dengan tajam. Dia terpaku, terdiam sesaat.
Tak berapa lama kepakan jendela terhenti.
“Assalammualaikum…”
Tiba-tiba saja terdengar suara Riri dari depan pintu. Gordi
menghela nafas.
“Waalaikumsallam…” sahutnya seraya
membukakan pintu.
“Sudah pulang, Ri?“ tanya Gordi
ketika pintu dibuka. Riri mengangguk .
“Sudah, kak. O iya, ini Adam,
temen Riri. Adam ingin melihat–lihat kita,”
“Oooo.” Gordi mengangguk–angguk pelan. Adam hanya tersenyum tipis.
“Mari silahkan masuk, Dam,” ucap Gordi mempersilahkan. Adam
mengangguk seraya memperhatikan seisi rumah.Bangunan lama yang banyak di renovasi.
“Rumah kamu cukup artistik, Ri,” puji Adam sambil terus
memperhatikan sudut-sudut ruangan.
ini?“ tanya Adam ingin tahu.
“Seorang kapten Belanda,”
Adam manggut-manggut.
“Bangunan ini sudah lama, Dam. Kakekku hanya merombaknya sedikit. Katanya bangunan ini sudah berusia puluhan tahun,“
“Puluhan tahun? Pasti bersejarah dong,“
“Jangan bercanda, Dam,” tukas
Riri.
Sesaat saja Riri dan Gordi
berpandangan. Tatapan wajah mereka seakan menyimpan sebuah misteri yang tidak bisa
diungkapkan.
“Ya sudah, kamu istirahat saja
dulu, Dam.” ucap Gordi seraya memotong pembicaraan. Adam manggut-manggut sambil duduk di ruang
tamu. Matanya kembali memperhatikan interior yang ditata apik di ruang tamu.
Pajangan-pajangan yang juga bernilai seni serta lukisan-lukisan tua abad
pertengah. Mata Adam menatap tajam ke arah lukisan buram dengan background
seorang gadis berambut pirang.
“Aku buatkan minuman ya, Dam,“ tawar Riri. Adam mengangguk pelan, kemudian
matanya beralih lagi ke lukisan tua di depannya. Memperhatikan garis-garis
wajah lukisan itu dengan lekat.
‘Seperti aslinya,‘ batinnya. Lukisan itu seperti timbul dari
kanvas. Menonjolkan wajah seorang gadis. Matanya berlinang. Adam terkesiap. Airmata itu menetes
jatuh di tangannya. Adam mengerutkan dahuinya. Memperhatikan lebih deteil lagi
lukisan itu. Tiba-tiba saja air matanya berubah menjadi kemerahan. Dan…
“Astagfirullah…” selah Adam
__ADS_1
terkejut. Lukisan itu menangis darah!
Gordi kaget mendengar pekikan
Adam. “Ada
apa, Dam?“ tanyanya penasaran.
“HHH, nggak ada apa-apa, Kak,“ ucap Adam.
Tak berapa lama Riri keluar dari
dapur membawakan minuman untuk Adam. Setelah terkesiap beberapa saat Adam
segera duduk di kursi. Gordi berlalu masuk ke kamarnya.
“Silahkan diminum, Dam,“ tawar Riri.Adam mengangguk pelan dengan ekspresi
masih tegang.
“Lukisan itu darimana, Ri?“ tanya Adam ingin tahu.
Riri melirik lukisan itu dengan sekilas. Lukisan itu sudah ada dari dulu. Peninggalan kakekku yang berserjarah,”
“Ooo,“ Adam manggut-manggut.
“Memangnya kenapa, Dam kamu tanya
lukisan itu?“
“Ah, enggak. Aku cuma ingin tahu
aja. Lukisan itu seperti aslinya. Benar-benar
hidup,“
“Konon lukisan itu terbuat dari
darah ayam,“
“Darah ayam?“ Adam terbelalak kaget.
“Iya. Ayam cemani. Kok kamu kaget sih, Dam?“
“Ee, ee..enggak apa-apa kok, Ri,“
Adam memperhatikan Riri dengan
lekat. Kemudian mengingat kejadian barusan. Lukisan itu berdarah.
“Baiklah, Ri, aku pulang dulu ya.
Hari sudah semakin sore,” ucap Adam seraya beranjak dari duduk nya.
“Kenapa buru- buru, Dam. Apa
nggak sebaiknya kamu bermalam saja di sini?“
“Nggak usah, Ri. Mama sendirian di rumah,“
“Oo,“
“Aku pamit, Ri. Sampaikan pamitku
pada kakakmu,” ucap Adam seraya melangkahkan kakinya keluar. Riri tersenyum
tipis.
“Hati –hati di jalan, Dam.”
Adam melambaikan tangan. Motor Adam mengeluarkan suara berisi. Gordi keluar dari
kamar.
“Adam sudah pulang?“ tanya Gordi.
“ Sudah, Kak. Adam titip salam. Tadi kakak masih asyik di kamar,“
“Kenapa dia tidak
menginap saja, Ri. Inikan sudah hampir malam,”
“Adam nggak mau
merepotkan kita, Kak,”
“Tapi pirasat kakak tidak enak,”
“Ah, kak Gordi
jangan mengada–ada ah…”
Riri menuju ke
dapur.Buru-buru ia mencuci piring dan membenahinya
kembali ke rak piring. Setelah itu Riri kembali duduk di ruang tamu bersama
Gordi.
__ADS_1