RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 19, KELUARGA PEMBUNUH


__ADS_3

Sorot mata


Maroto terlihat tajam. Riri berdiri di samping Adam.Marioto terlihat tidak bersahabat.


Ia tidak suka dikunjungi. Apalagi ada orang bertanya-tanya.


“Kalian mau apa


kemari?!” tanyanya tidak dingin.


“Saya hanya ingin tahu cerita itu, Pak,” Riri berkata takut-takut.


Mata Maroto memerah. “Saya


tidak tahu menahu cerita itu!Lebih baik kalian pergi sekarang?!”


“Pak... saya mohon...”


“Kalian harus menanggung akibatnya! Kau yang membuka pintu itu!”


Deg… Jantung Riri


bergemuruh. “Pak... saya minta maaf. Saya benar-benar tidak tahu,”


“Kalian sama saja. Tidak bisa membiarkan orang tenang!”


Maroto terdiam dengan wajah sinis. Kejadian dua puluh tahun itu kembali


bermain di matanya. Panasnya api masih dirasakan dan membekas di hati.


Perempuan baya itu kakaknya yang difitnah. Subroto menuduh perempuan itu


berzinah. Maroto tidak dapat berbuat apa-apa. Dia juga tidak bisa mencegah


amukan warga.Kedua


anaknya juga termakan isu murahan. Mereka ikut-ikutan menghakimi Mariani.


“Kalian keluarga pembunuh!” pekiknya. Mata Maroto memerah. “Pergi!!”


“Pak… tolong saya. Saya


dihantui arwah-arwah itu,”


“Itu bukan urusan saya.


Saya sudah peringatkan ke Bintara. Jangan membuka pintu terlarang itu! Kini pintu itu terbuka! Kau harus menutupnya!”


“Apa tidak ada jalan


lain?”


“Ada!”


Riri mendegut ludahnya.


Menatap wajah Maroto yang sinis.


“Apa, Pak?”


“Kau harus mati!”


Mata Riri terbelalak. Wajah


Riri berubah pucat. Adam terkejut dengan penuturan Maroto. Riri menatap Adam


lekat-lekat. Matanya merebak.


“Dam…” gumamnya parau.


“Kita cari jalan lain,


Ri,”


“Aku takut,”


Maroto bangkit dari


duduknya.


“Kalian tidak bisa


mencegah arwah itu.” ucapnya, sambil berlalu meninggalkan Adam dan Riri di ruang tamu.


“Bagaimana ini, Dam…”


“Sudahlah, Ri. Jangan


takut,”


“Kita masih punya cara


lain untuk mengusir arwah-arwah itu. Kamu harus yakin dan percaya kepada Allah.


Kita berdoa kepada Nya dan mohon keselamatan,”


Riri terisak lagi.


Ia menghapus air mata. Beranjak meninggalkan kediaman Maroto. Di halaman

__ADS_1


belakang ia terhenti. Melihat keangkuhan bangunan tua yang mereka tempati.


Terlihat menyeramkan. Adam berusaha menenangkan kegelisahan Riri.


Gordi kembali menatapi bangunan tua itu dalam-dalam. Ia menyesali kepergian Andien. Andien tewas dengan mengenaskan. Setelah


kematian mamanya, Faridah. Faridah tewas di ruang jenazah. Dadanya


terkuak lebar. Darah bercucuran di lantai.


Gordi meneguk secangkir teh hangat. Ia terdiam sesaat memperhatikan seisi rumah. Sepi. Gordi mengernyitkan kening sesaat. Sekelebat bayangan putih melintas di depannya. Gordi tersentak seketika. Dengan berat dia


beranjak dari sudut jendela. Gordi ingin memastikan apakah yang dilihatnya


tadi benar-benar mahluk gaib?


Desai angin sore itu terasa semakin dingin. Suara bisikan–bisikan aneh mulai terdengar di telinga. Bisikan aneh itu seperti bisikan orang asing. Dengan bahasa Belanda yang kental.


Jendela mengepak tertiup angin.


Gordi menatap ke arah daun jendela dengan tajam. Dia terpaku, terdiam sesaat.


Tak berapa lama kepakan jendela terhenti.


“Assalammualaikum…”


Tiba-tiba saja terdengar suara Riri dari depan pintu. Gordi


menghela nafas.


“Waalaikumsallam…” sahutnya seraya


membukakan pintu.


“Sudah pulang, Ri?“ tanya Gordi


ketika pintu dibuka. Riri mengangguk .


“Sudah, kak. O iya, ini Adam,


temen Riri. Adam ingin melihat–lihat kita,”


“Oooo.”  Gordi  mengangguk–angguk pelan. Adam hanya tersenyum tipis.


“Mari silahkan masuk, Dam,” ucap Gordi mempersilahkan. Adam


mengangguk seraya memperhatikan seisi rumah.Bangunan lama yang banyak di renovasi.


“Rumah kamu cukup artistik, Ri,” puji Adam sambil terus


memperhatikan sudut-sudut ruangan.


ini?“ tanya Adam ingin tahu.


“Seorang kapten Belanda,”


Adam manggut-manggut.


“Bangunan ini sudah lama, Dam. Kakekku hanya merombaknya sedikit.  Katanya bangunan ini sudah berusia puluhan tahun,“


“Puluhan tahun? Pasti bersejarah dong,“


“Jangan bercanda, Dam,” tukas


Riri.


Sesaat saja Riri dan Gordi


berpandangan. Tatapan wajah mereka seakan menyimpan sebuah misteri yang tidak bisa


diungkapkan.


“Ya sudah, kamu istirahat saja


dulu, Dam.” ucap Gordi seraya memotong pembicaraan.  Adam manggut-manggut sambil duduk di ruang


tamu. Matanya kembali memperhatikan interior yang ditata apik di ruang tamu.


Pajangan-pajangan yang juga bernilai seni serta lukisan-lukisan tua abad


pertengah. Mata Adam menatap tajam ke arah lukisan buram dengan background


seorang gadis berambut pirang.


“Aku buatkan minuman ya, Dam,“ tawar Riri. Adam mengangguk pelan, kemudian


matanya beralih lagi ke lukisan tua di depannya. Memperhatikan garis-garis


wajah lukisan itu dengan lekat.


‘Seperti aslinya,‘ batinnya. Lukisan itu seperti timbul dari


kanvas. Menonjolkan wajah seorang gadis. Matanya berlinang. Adam terkesiap. Airmata itu menetes


jatuh di tangannya. Adam mengerutkan dahuinya. Memperhatikan lebih deteil lagi


lukisan itu. Tiba-tiba saja air matanya berubah menjadi kemerahan. Dan…


“Astagfirullah…” selah Adam

__ADS_1


terkejut. Lukisan itu menangis darah!


Gordi kaget mendengar pekikan


Adam. “Ada


apa, Dam?“ tanyanya penasaran.


“HHH, nggak ada apa-apa, Kak,“ ucap Adam.


Tak berapa lama Riri keluar dari


dapur membawakan minuman untuk Adam. Setelah terkesiap beberapa saat Adam


segera duduk di kursi. Gordi berlalu masuk ke kamarnya.


“Silahkan diminum, Dam,“ tawar Riri.Adam mengangguk pelan dengan ekspresi


masih tegang.


“Lukisan itu darimana, Ri?“ tanya Adam ingin tahu.


Riri melirik lukisan itu dengan sekilas. Lukisan itu sudah ada dari dulu. Peninggalan kakekku yang berserjarah,”


“Ooo,“ Adam manggut-manggut.


“Memangnya kenapa, Dam kamu tanya


lukisan itu?“


“Ah, enggak. Aku cuma ingin tahu


aja. Lukisan itu seperti aslinya. Benar-benar


hidup,“


“Konon lukisan itu terbuat dari


darah ayam,“


“Darah ayam?“ Adam terbelalak kaget.


“Iya. Ayam cemani. Kok kamu kaget sih, Dam?“


“Ee, ee..enggak apa-apa kok, Ri,“


Adam memperhatikan Riri dengan


lekat. Kemudian mengingat kejadian barusan. Lukisan itu berdarah.


“Baiklah, Ri, aku pulang dulu ya.


Hari sudah semakin sore,” ucap Adam seraya beranjak dari duduk nya.


“Kenapa buru- buru, Dam. Apa


nggak sebaiknya kamu bermalam saja di sini?“


“Nggak usah, Ri. Mama sendirian di rumah,“


“Oo,“


“Aku pamit, Ri. Sampaikan pamitku


pada kakakmu,” ucap Adam seraya melangkahkan kakinya keluar. Riri tersenyum


tipis.


“Hati –hati di jalan, Dam.”


Adam melambaikan tangan. Motor Adam mengeluarkan suara berisi. Gordi keluar dari


kamar.


“Adam  sudah pulang?“ tanya Gordi.


“ Sudah, Kak. Adam titip salam. Tadi kakak masih asyik di kamar,“


“Kenapa dia tidak


menginap saja, Ri. Inikan sudah hampir  malam,”


“Adam nggak mau


merepotkan kita, Kak,”


“Tapi pirasat  kakak  tidak enak,”


“Ah, kak Gordi


jangan mengada–ada ah…”


Riri menuju ke


dapur.Buru-buru ia mencuci piring dan membenahinya


kembali ke rak piring. Setelah itu Riri kembali duduk di ruang tamu bersama


Gordi.

__ADS_1


__ADS_2