
Sore itu Pak Rengat, seorang kepling berkunjung ke rumah kediaman Bintara. Dia banyak bercerita tentang
kejadian masa lalu. Apalagi tentang bangunan tua yang sangat fenomenal. Dia bercerita
panjang lebar tentang tragedi yang terjadi di bangunan tua itu.
“Bangunan
tua itu memang sangat angker,“ tuturnya bercerita. “Konon kastil tua itu ada
penunggunya. Setiap malam lima belas purnama selalu meminta tumbal seorang
bocah. Kejadian–kejadian aneh itu pun terus menghantui warga desa di
sekitarnya. Banyak yang mati mengenaskan di sana. Itu sebabnya bangunan itu
disebut kastil berdarah,“ sambung Pak Rengat.
“Kastil
berdarah?“ Riri terbelalak. Gordi mengangguk Dia mengernyitkan keningnya
beberapa kali.
“Lantas, mengapa warga tidak
memilih pindah saja?” tanya Gordi sambil memperhatikan kepala desa dengan
tajam.
“Entahlah, saya juga tidak tahu, mengapa mereka masih
betah menempati rumah-rumah di sekitar sini. Seperti ada kekuatan gaib yang
menyuruh mereka tetap tinggal sampai hayat menjemput mereka disini. Walau
sebenarnya saya ingin sekali pindah dari kota ini, tapi hati saya merasa lain,” selah Pak Rengat dengan suara parau.
“Bagaimana dengan bocah cilik
itu, Pak?“
tanya Riri agak ragu.
Pak Rengat menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan ceritanya. Dia menatap Gordi dan
Riri dengan tajam. Matanya bergantian menatap mereka. Kemudian dia berusaha
mengingat kembali peristiwa itu.
“Kejadian itu sudah cukup lama,
sudah hampir dua puluh tahun yang lalu,“ kata kepala
kepling dengan nada sendu. ”Saat ayah dan ibu saya masih ada.”
“Kejadian apa, Pak?” tanya Gordi semakin penasaran.
__ADS_1
“Peristiwa yang sangat tragis
sekali,“ suara Pak
Rengat mendadak saja menjadi parau dan sedih. Dia menarik nafas sesaat.
Kemudian melanjutkan ceritanya.
“Seorang perempuan yang dibakar
hidup-hidup dan dibuang di bangunan itu. Anak perempuannya juga dibantai warga
dengan keji dan sadis.“
Riri tertegun mendengar cerita Pak Rengat. Tutur bicaranya begitu
hidup menceritakan kejadian itu. Kejadian tragis yang sangat mengerikan.
Menjelang senja, Pak Rengat pamit pulang. Sudah panjang
lebar dia menceritakan kejadian yang
mengerikan itu. Gordi sesekali menarik nafas kegelisahan dan Riri terus terpaku
sambil sesekali melirik ke arah bangunan tua.
“Sudah, Ri. Jangan melamun terus. Nanti
kamu kesurupan,“ tegur Gordi sedikit cemas.
beranjak menuju kamar mandi. Riri terhenti. Pintu kamar mandi terbuka sendiri.
Kriek….
Deg! Jantung Riri berdegup kencang. Ia
mendegut ludah. Ingin berteriak memanggil Gordi. Namun bibirnya terasa tertutup.
Perlahan Riri mencoba memberanikan diri melihat kamar mandi. Bulu kuduknya makin
merinding. Riri terkejut. Ia melihat sepenggal
kepala muncul dari bak mandi. Wajahnya menyeringai. Matanya melotot tajam. Merah. Giginya hitam.
Runcing. Lehernya terputus. Darah segar membanjiri bak mandi.
‘Aaaaakkkkhhh!
Akhirnya Riri berteriak histeris. Gordi
yang mendengar teriakan itu kontan berlari tergopoh-gopoh menghampiri kamar
mandi. Riri tergeletak di kamar mandi. Gordi mengangkat Riri ke tempat tidur.
“Ri, bangun, Ri. Kamu kenapa?“ pekik
Gordi sambil mengguncang tubuh adiknya. Keringat dingin mengucur deras. Angin di luar sana menawarkan wewangian aneh. Gordi
__ADS_1
merinding. Suara lolongan anjing terdengar sangat mengiris hati. Arwah dari
liang kubur seakan bangkit ke bumi.
Gordi tercekat. Daun jendela mengepak
tertutup tertiup angin.
‘Jeduerrrr!! ‘
Seuara dentuman keras membahana.
***
Gordi menengadahkan kepala. Ia duduk di
ruang tamu. Menghisap rokok. Riri berjalan terhuyung keluar dari kamar.
Pandangannya masih nanar dan membayang.
“Kak Gordi? Sudah bangun?“ sapa Riri. Ia duduk
di kursi. Gordi mematikan rokok dan melumatkan di asbak.
“Kamu kenapa, Ri? Tadi malam kamu
pingsan di kamar mandi. “
Riri menatap Gordi sambil mencoba
mengingat kejadian kemarin.
“Riri takut, Kak. Kemarin Riri melihat potongan kepala
dengan wajah mengerikan,“ tutur Riri. Gordi mengernyitkan kening.
“Kepala? Kepala siapa?“
“Tidak tahu. Rambutnya panjang terurai,
berlumuran darah!“
Gordi bergidik. Menatap tajam ke Riri.
Kemudian mengingat kejadian yang menimpa janda beranak satu itu. Kejadian itu
bermain-main di matanya. Meski ia tidak ikut menyaksikan kejadian tragis yang
merenggut nyawa seseorang. Namun malam tadi ia melihat seorang wanita baya
dengan baju penuh darah. Wajahnya hangus terbakar.
“HHH, sudahlah tidak usah dipikiri.“
ucap Gordi. Ia berusaha menenangkan kerisauan Riri.
***
__ADS_1