RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 13, KASTIL BERDARAH


__ADS_3

Sore itu Pak Rengat, seorang kepling berkunjung ke rumah kediaman Bintara. Dia banyak bercerita tentang


kejadian masa lalu. Apalagi tentang bangunan tua yang sangat fenomenal. Dia bercerita


panjang lebar tentang tragedi yang terjadi di bangunan tua itu.


“Bangunan


tua itu memang sangat angker,“ tuturnya bercerita. “Konon kastil tua itu ada


penunggunya. Setiap malam lima belas purnama selalu meminta tumbal seorang


bocah. Kejadian–kejadian aneh itu pun terus menghantui warga desa di


sekitarnya. Banyak yang mati mengenaskan di sana. Itu sebabnya bangunan itu


disebut kastil berdarah,“ sambung Pak Rengat.


“Kastil


berdarah?“ Riri terbelalak. Gordi mengangguk Dia mengernyitkan keningnya


beberapa kali.


“Lantas, mengapa warga tidak


memilih pindah saja?” tanya Gordi sambil memperhatikan kepala desa dengan


tajam.


“Entahlah, saya juga tidak tahu, mengapa mereka masih


betah menempati rumah-rumah di sekitar sini. Seperti ada kekuatan gaib yang


menyuruh mereka tetap tinggal sampai hayat menjemput mereka disini. Walau


sebenarnya saya ingin sekali pindah dari kota ini, tapi hati saya merasa lain,” selah Pak Rengat dengan suara parau.


“Bagaimana dengan bocah cilik


itu, Pak?“


tanya  Riri agak ragu.


Pak Rengat menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan ceritanya. Dia menatap Gordi dan


Riri dengan tajam. Matanya bergantian menatap mereka. Kemudian dia berusaha


mengingat kembali peristiwa itu.


“Kejadian itu sudah cukup lama,


sudah hampir dua puluh tahun yang lalu,“  kata kepala


kepling dengan nada sendu. ”Saat ayah dan ibu saya masih ada.”


“Kejadian apa, Pak?”  tanya Gordi  semakin penasaran.

__ADS_1


“Peristiwa yang sangat tragis


sekali,“ suara Pak


Rengat mendadak saja menjadi parau dan sedih. Dia menarik nafas sesaat.


Kemudian melanjutkan ceritanya.


“Seorang perempuan yang dibakar


hidup-hidup dan dibuang di bangunan itu. Anak perempuannya juga dibantai warga


dengan keji dan sadis.“


Riri tertegun mendengar cerita Pak Rengat. Tutur bicaranya begitu


hidup menceritakan kejadian itu. Kejadian tragis yang sangat mengerikan.


Menjelang senja, Pak Rengat pamit pulang. Sudah panjang


lebar dia  menceritakan kejadian yang


mengerikan itu. Gordi sesekali menarik nafas kegelisahan dan Riri terus terpaku


sambil sesekali melirik ke arah bangunan tua.


“Sudah, Ri. Jangan melamun terus. Nanti


kamu kesurupan,“ tegur Gordi sedikit cemas.


beranjak menuju kamar mandi. Riri  terhenti. Pintu kamar mandi terbuka sendiri.


Kriek….


Deg! Jantung Riri berdegup kencang. Ia


mendegut ludah. Ingin berteriak memanggil Gordi. Namun bibirnya terasa tertutup.


Perlahan Riri mencoba memberanikan diri melihat kamar mandi. Bulu kuduknya makin


merinding. Riri terkejut. Ia  melihat sepenggal


kepala muncul dari bak mandi. Wajahnya menyeringai.  Matanya melotot tajam. Merah. Giginya hitam.


Runcing. Lehernya terputus. Darah segar membanjiri bak mandi.


‘Aaaaakkkkhhh!


Akhirnya Riri berteriak histeris. Gordi


yang mendengar teriakan itu kontan berlari tergopoh-gopoh menghampiri kamar


mandi. Riri tergeletak di kamar mandi. Gordi mengangkat Riri ke tempat tidur.


“Ri, bangun, Ri. Kamu kenapa?“ pekik


Gordi sambil mengguncang tubuh adiknya. Keringat dingin mengucur deras.  Angin di luar sana menawarkan wewangian aneh. Gordi

__ADS_1


merinding. Suara lolongan anjing terdengar sangat mengiris hati. Arwah dari


liang kubur seakan bangkit ke bumi.


Gordi tercekat. Daun jendela mengepak


tertutup tertiup angin.


‘Jeduerrrr!! ‘


Seuara dentuman keras membahana.


***


Gordi menengadahkan kepala. Ia duduk di


ruang tamu. Menghisap rokok. Riri berjalan terhuyung keluar dari kamar.


Pandangannya masih nanar dan membayang.


“Kak Gordi? Sudah bangun?“ sapa Riri. Ia duduk


di kursi. Gordi mematikan rokok dan melumatkan di asbak.


“Kamu kenapa, Ri? Tadi malam kamu


pingsan di kamar mandi. “


Riri menatap Gordi sambil mencoba


mengingat kejadian kemarin.


“Riri takut, Kak. Kemarin Riri melihat potongan kepala


dengan wajah mengerikan,“ tutur Riri. Gordi mengernyitkan kening.


“Kepala? Kepala siapa?“


“Tidak tahu. Rambutnya panjang terurai,


berlumuran darah!“


Gordi bergidik. Menatap tajam ke Riri.


Kemudian mengingat kejadian yang menimpa janda beranak satu itu. Kejadian itu


bermain-main di matanya. Meski ia tidak ikut menyaksikan kejadian tragis yang


merenggut nyawa seseorang. Namun malam tadi ia melihat seorang wanita baya


dengan baju penuh darah. Wajahnya hangus terbakar.


“HHH, sudahlah tidak usah dipikiri.“


ucap Gordi. Ia berusaha menenangkan kerisauan Riri.


***

__ADS_1


__ADS_2