
Bintara cemas di dalam pesawat. Mama
memperhatikan papa lekat-lekat. Mama juga
cemas memikirkan anak-anaknya. Papa sesekali memegang kepalanya.
“Tenang, Pa...” ujar mama.
“Mereka dalam bahaya, Ma,”
“Kita serahkan saja sama Allah.
Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka.”
Mama menghela berat. Papa masih
bingung. Pikirannya kacau. Suara-suara jeritan itu memenuhi gendang telinganya.
“Apa yang harus kita lakukan, Pa?” tanya mama. Ikutan panik.
Pesawat mendarat di Bandara Polonia Medan. Sudah pukul sebelas
malam. Buru-buru papa dan mama naik taksi.
Suasana masih tegang. Riri, Adam dan Gordi masih berada di
bangunan usang. Suara-suara mendesis terdengar mengerikan.
“Apa yang harus kita lakukan, Ri?” tanya Adam. Ia ketakutan.
“Kita cari jalan keluar,” Gordi memberi usul.
“Tapi kemana, Kak?” wajah Adam terlihat takut.
Angin
mengepak jendela. Petir menyambar di luar. Sosok perempuan
berwajah hitam terus mengejar. Nafas mereka memburu. Langkah Riri tergesa. Adam
terjatuh. Kakinya menendang tengkorak manusia. Adam menjerit. Ia menendang
tulang itu dari kakinya.
Tiba-tiba Boby muncul di koridor. Riri terkejut.
“Boby…?Kamu kok ada disini?”
“Kalian
harus keluar dari bangunan ini, Ri,” Boby menarik
tangan Riri. “Lewat sini,”
Mereka berlari memasuki
ruang gelap. Kursi-kursi kayu berantakan. Tembok-temboknya hitam. Banyak sarang
laba-laba.
Sosok mayat hidup mencakar-cakar keluar dari lantai. Lantai keramik pecah. Sosok
mengerikan dengan tangan melepuh. Kepala pecah. Mata berlubang. Tubuh berwarna
kehijauan.
Riri terkejut. Menjerit histeris. Sosok mengerikan di depannya menjulurkan
tangan. Tangan-tangan hitam dengan kuku yang tajam. Tiba-tiba saja arwah warga
desa bangkit dari liang kubur. Wajah-wajah mereka pucat.
Adam semakin kalut. Ia berlari kencang ke ruang-ruang gelap. Tak perduli
pecahan genteng menusuk sepatunya. Riri menggenggam jemari tangan Boby. Erat. Ia berlari sekencang-kencangnya. Mencari pintu
terlarang. Tangan Boby mendadak saja bersimbah darah. Tubuhnya
terasa ringan seperti kapas.
”Boby, kamu kenapa...?” pekik Riri histeris. Pergelangan
tangan Boby terlepas. Boby pun
terhenti. Memperhatikan Riri, Adam dan Gordi. Riri sempat melihat air mata darah
mengalir di mata Boby.
”Boby..!!!’ jerit Riri histeris. Ia menangis.
Gubraaakkk...
Tiba-tiba saja Riri tersungkur. Ia tersandung sesuatu. Riri terjatuh. Ia
melihat tubuh seorang laki-laki tergeletak di sana. Sudah mengeluarkan bau tak
sedap. Riri terkejut saat melihat wajah laki-laki itu. Itu wajah Boby. Boby tewas
beberapa hari yang lalu. Lantas siapa sosok yang disana?
”Akhh....” Riri menjerit. Adam memapah Riri.
”Cepat, Ri. Kita harus menemukan pintu itu,”
Riri menangis. Menggigit bibirnya. Angin terus bertiup kencang. Sosok-sosok
mengerikan itu mengejar mereka. Akhirnya merek keluar dari bangunan tua itu.
__ADS_1
Mata ketiganya menatap dengan tertegun. Bangunan itu terlihat menghitam.
Nafas Riri tersengal.
”Kita harus mencari tulang-belulang perempuan itu, Kak,” ucapnya terbata.
Riri mengatur pernafasannya. Adam terkulai lemas. Ia duduk dengan nafas
tidak teratur.
Arwah Mariani melesat. Desis an suaranya terus memburu.
”Kalian harus mati...!” desisnya.
Ketiganya terkesiap. Arwah-arwah itu membabi buta. Arwah Faridah, Andien, Prapto,
Fahmi dan arwah-arwah lainnya. Arwah mereka seolah tidak terima atas kematian
yang tragis. Riri ketakutan. Pintu itu tidak mereka temukan.
Bintara tiba di rumah. Panik. Membuka pintu dengan tergesa. Mama ikutan
panik. Buru-buru mengikuti langkah papa. Mereka menuju ruang bawah tanah.
Bintara melihat pintu itu sudah terbuka.
”Ambilkan senter, Ma...”
Mama berlari mengambil senter di laci. Lalu memberikannya ke papa.
”Mama disini aja. Jangan ikut masuk. Biar papa yang menyelesaikan masalah
ini,”
”Tapi, Pa...”
”Sudah. Mama tunggu saja disini. Jaga pintu ini agar tidak tertutup,”
”Iya, Pa...”
Bintara masuk sambil menghidupkan senter. Angin berhembur dari
lorong-lorong gelap. Mata Bintara berkedip-kedip. Terkena serpihan debu.
Suasana
makin tegang. Marioto muncul dari balik pohon. Arwah Mariani membabi buta.
Menghembuskan angin kencang.
“Mariani…!
Hentikan…!! Kau jangan membunuh lagi. Hapuskan dendam di hatimu!! Aku mohon,
Mar…”
“Tidaakkk…
“Aku
tahu, Mar. Tapi aku tak ingin arwahmu terus menerus gentayangan,” suara Marioto
terdengar memelas dan parau. “Maafkan mereka, Mar. Mereka tidak tahu apa-apa,”
Arwah
Mariani marah.
“TIDAAKKK..!”
pekik arwah itu. Riri dan Adam terbelalak dengan pandangan perih. Dari pintu
depan Bintara keluar. Ia melihat Riri, Adam dan Gordi dihadang sosok Mariani.
“Jangan
sakiti mereka, Mar…” teriak Bintara kalut. Arwah Marani semakin marah. Matanya
melotot tajam. Bintara menghapiri Riri.
“Aku yang
salah. Lebih baik kau bunuh aku, Mar…”
Mata
Mariani menghitam. Ia ingat betul kelakuan Bintara. Bintara yang menyayat perut
Mariani hingga orok di dalam keluar. Tangan Mariani menyapu daun-daun kering.
Berserakan. Angin semakin kencang.
Mata
Marioto beraca-kaca.
“Aku
mohon, Mar… Biarkan aku hidup dengan tenang… Sudah begitu banyak yang kau
bunuh,” Marioto menangis.
“Mereka
telah membunuhku, Marioto…” suara desisan Mariani terdengar perih.
“Tapi aku
__ADS_1
tidak mau kau selalu tersiksa di bangunan itu. Kembalilah kau ke alammu, jangan
ganggu kehidupan mereka,”
“Mereka
harus menerima pembalasanku,”
“Cukup,
Mar…. Cukup…! Aku selalu berdoa agar arwahmu diterima di sisi Tuhan,”
Sosok
Mariani terdiam. Dendam berpuluh tahun itu kini diredamnya.
“Baik…”
ucapnya. “Aku akan mengampuni mereka, asal mereka mengubur tulang-tulangku. Tabur kuburanku dengan bunga
melati….”
“Akan ku
lakukan, Mar…”
“Dan kau…
Bintara. Kau harus menjiarahiku setiap jum’at malam… Membersihkan makamku dan
memeliharanya,”
Bintara
masih ketakutan. “Baik, Mar. Akan kulakukan perintahmu,”
Tiba-tiba
angin bertiup kencang. Daun-daun berterbangan. Sosok Mariani menyeringai dan
melesat ke angkasa. Suasana mendadak hening. Angin berhenti. Pintu terlarang
itu terbuka di bagian samping. Memantulkan cahaya. Mereka berlari
tergesa. Masuk ke pintu dan menutupnya rapat-rapat. Lorong-lorong gelap
runtuh. Seperti gempa bumi. Mereka terus berlari. Menuju rumah Bintara.
Mereka
selamat dengan nafas tersengal. Mama menantikan kedatangan papa dan
anak-anaknya. Riri memberikan giok itu ke papa. Papa mengunci kembali pintu
terlarang. Terowongan itu kini tertutup.
Riri
menangis di ruang tamu. Ia tidak menduga kalau Bobysudah meninggal dunia. Marioto tak
lagi menunjukan wajah sinisnya.
“Sudahlah,
Nak. Bobysudah tenang di
sana,” ucapnya ke Riri.
Bintara
menghela nafas lega. Esok mereka akan mencari tulang-belulang Mariani dan
menguburkannya. Tulang-tulang itu ada di bangunan tua.
Bangunan
itu telah runtuh. Riri dan keluarga menaburi bunga melati ke makam Mariani dan Boby. Dan semua yang mati di bangunan tua
itu. Adam memapah Riri.
“Semua
sudah berakhir, Ri…” ucapnya.
Riri
tersenyum tipis.
“Ya. Kita
akan memulai kehidupan yang baru, Dam,”
Adam
mengangguk. Ia mengamit jemari tangan Riri. Mereka tersenyum bahagia.
Papa dan
mama juga tersenyum bahagia. Arwah-arwah gentayangan itu tak lagi muncul di
rumah Bintara. Pintu itu sudah terkunci dengan gembok besi. Marioto tersenyum
bahagia melihat keluarga Bintara. Wajahnya tak lagi menakutkan. Ia menatap
bangunan tua itu seraya berdoa.
“Semoga
__ADS_1
arwahmu diterima di sisi-Nya, Mar…”
TAMAT