RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 23, SEMUANYA SELESAI


__ADS_3

Bintara cemas di dalam pesawat. Mama


memperhatikan papa lekat-lekat. Mama juga


cemas memikirkan anak-anaknya. Papa sesekali memegang kepalanya.


“Tenang, Pa...” ujar mama.


“Mereka dalam bahaya, Ma,”


“Kita serahkan saja sama Allah.


Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka.”


Mama menghela berat. Papa masih


bingung. Pikirannya kacau. Suara-suara jeritan itu memenuhi gendang telinganya.


“Apa yang harus kita lakukan, Pa?” tanya mama. Ikutan panik.


Pesawat mendarat di Bandara Polonia Medan. Sudah pukul sebelas


malam. Buru-buru papa dan mama naik taksi.


Suasana masih tegang. Riri, Adam dan Gordi masih berada di


bangunan usang. Suara-suara mendesis terdengar mengerikan.


“Apa yang harus kita lakukan, Ri?” tanya Adam. Ia ketakutan.


“Kita cari jalan keluar,” Gordi memberi usul.


“Tapi kemana, Kak?” wajah Adam terlihat takut.


Angin


mengepak jendela. Petir menyambar di luar. Sosok perempuan


berwajah hitam terus mengejar. Nafas mereka memburu. Langkah Riri tergesa. Adam


terjatuh. Kakinya menendang tengkorak manusia. Adam menjerit. Ia menendang


tulang itu dari kakinya.


Tiba-tiba Boby muncul di koridor. Riri terkejut.


“Boby…?Kamu kok ada disini?”


“Kalian


harus keluar dari bangunan ini, Ri,” Boby menarik


tangan Riri. “Lewat sini,”


Mereka berlari memasuki


ruang gelap. Kursi-kursi kayu berantakan. Tembok-temboknya hitam. Banyak sarang


laba-laba.


Sosok mayat hidup mencakar-cakar keluar dari lantai. Lantai keramik pecah. Sosok


mengerikan dengan tangan melepuh. Kepala pecah. Mata berlubang. Tubuh berwarna


kehijauan.


Riri terkejut. Menjerit histeris. Sosok mengerikan di depannya menjulurkan


tangan. Tangan-tangan hitam dengan kuku yang tajam. Tiba-tiba saja arwah warga


desa bangkit dari liang kubur. Wajah-wajah mereka pucat.


Adam semakin kalut. Ia berlari kencang ke ruang-ruang gelap. Tak perduli


pecahan genteng menusuk sepatunya. Riri menggenggam jemari tangan Boby. Erat.  Ia berlari sekencang-kencangnya. Mencari pintu


terlarang. Tangan Boby mendadak saja bersimbah darah. Tubuhnya


terasa ringan seperti kapas.


”Boby, kamu kenapa...?” pekik Riri histeris. Pergelangan


tangan Boby terlepas. Boby pun


terhenti. Memperhatikan Riri, Adam dan Gordi. Riri sempat melihat air mata darah


mengalir di mata Boby.


”Boby..!!!’ jerit Riri histeris. Ia menangis.


Gubraaakkk...


Tiba-tiba saja Riri tersungkur. Ia tersandung sesuatu. Riri terjatuh. Ia


melihat tubuh seorang laki-laki tergeletak di sana. Sudah mengeluarkan bau tak


sedap. Riri terkejut saat melihat wajah laki-laki itu. Itu wajah Boby. Boby tewas


beberapa hari yang lalu. Lantas siapa sosok yang disana?


”Akhh....” Riri menjerit. Adam memapah Riri.


”Cepat, Ri. Kita harus menemukan pintu itu,”


Riri menangis. Menggigit bibirnya. Angin terus bertiup kencang. Sosok-sosok


mengerikan itu mengejar mereka. Akhirnya merek keluar dari bangunan tua itu.

__ADS_1


Mata ketiganya menatap dengan tertegun. Bangunan itu terlihat menghitam.


Nafas Riri tersengal.


”Kita harus mencari tulang-belulang perempuan itu, Kak,” ucapnya terbata.


Riri mengatur pernafasannya. Adam terkulai lemas. Ia duduk dengan nafas


tidak teratur.


Arwah Mariani melesat. Desis an suaranya terus memburu.


”Kalian harus mati...!” desisnya.


Ketiganya terkesiap. Arwah-arwah itu membabi buta. Arwah Faridah, Andien, Prapto,


Fahmi dan arwah-arwah lainnya. Arwah mereka seolah tidak terima atas kematian


yang tragis. Riri ketakutan. Pintu itu tidak mereka temukan.


Bintara tiba di rumah. Panik. Membuka pintu dengan tergesa. Mama ikutan


panik. Buru-buru mengikuti langkah papa. Mereka menuju ruang bawah tanah.


Bintara melihat pintu itu sudah terbuka.


”Ambilkan senter, Ma...”


Mama berlari mengambil senter di laci. Lalu memberikannya ke papa.


”Mama disini aja. Jangan ikut masuk. Biar papa yang menyelesaikan masalah


ini,”


”Tapi, Pa...”


”Sudah. Mama tunggu saja disini. Jaga pintu ini agar tidak tertutup,”


”Iya, Pa...”


Bintara masuk sambil menghidupkan senter. Angin berhembur dari


lorong-lorong gelap. Mata Bintara berkedip-kedip. Terkena serpihan debu.


Suasana


makin tegang. Marioto muncul dari balik pohon. Arwah Mariani membabi buta.


Menghembuskan angin kencang.


“Mariani…!


Hentikan…!! Kau jangan membunuh lagi. Hapuskan dendam di hatimu!! Aku mohon,


Mar…”


“Tidaakkk…


“Aku


tahu, Mar. Tapi aku tak ingin arwahmu terus menerus gentayangan,” suara Marioto


terdengar memelas dan parau. “Maafkan mereka, Mar. Mereka tidak tahu apa-apa,”


Arwah


Mariani marah.


“TIDAAKKK..!”


pekik arwah itu. Riri dan Adam terbelalak dengan pandangan perih. Dari pintu


depan Bintara keluar. Ia melihat Riri, Adam dan Gordi dihadang sosok Mariani.


“Jangan


sakiti mereka, Mar…” teriak Bintara kalut. Arwah Marani semakin marah. Matanya


melotot tajam. Bintara menghapiri Riri.


“Aku yang


salah. Lebih baik kau bunuh aku, Mar…”


Mata


Mariani menghitam. Ia ingat betul kelakuan Bintara. Bintara yang menyayat perut


Mariani hingga orok di dalam keluar. Tangan Mariani menyapu daun-daun kering.


Berserakan. Angin semakin kencang.


Mata


Marioto beraca-kaca.


“Aku


mohon, Mar… Biarkan aku hidup dengan tenang… Sudah begitu banyak yang kau


bunuh,” Marioto menangis.


“Mereka


telah membunuhku, Marioto…” suara desisan Mariani terdengar perih.


“Tapi aku

__ADS_1


tidak mau kau selalu tersiksa di bangunan itu. Kembalilah kau ke alammu, jangan


ganggu kehidupan mereka,”


“Mereka


harus menerima pembalasanku,”


“Cukup,


Mar…. Cukup…! Aku selalu berdoa agar arwahmu diterima di sisi Tuhan,”


Sosok


Mariani terdiam. Dendam berpuluh tahun itu kini diredamnya.


“Baik…”


ucapnya. “Aku akan mengampuni mereka, asal mereka mengubur tulang-tulangku. Tabur kuburanku dengan bunga


melati….”


“Akan ku


lakukan, Mar…”


“Dan kau…


Bintara. Kau harus menjiarahiku setiap jum’at malam… Membersihkan makamku dan


memeliharanya,”


Bintara


masih ketakutan. “Baik, Mar. Akan kulakukan perintahmu,”


Tiba-tiba


angin bertiup kencang. Daun-daun berterbangan. Sosok Mariani menyeringai dan


melesat ke angkasa. Suasana mendadak hening. Angin berhenti. Pintu terlarang


itu terbuka di bagian samping. Memantulkan cahaya. Mereka berlari


tergesa. Masuk ke pintu dan menutupnya rapat-rapat. Lorong-lorong gelap


runtuh. Seperti gempa bumi. Mereka terus berlari. Menuju rumah Bintara.


Mereka


selamat dengan nafas tersengal. Mama menantikan kedatangan papa dan


anak-anaknya. Riri memberikan giok itu ke papa. Papa mengunci kembali pintu


terlarang. Terowongan itu kini tertutup.


Riri


menangis di ruang tamu. Ia tidak menduga kalau Bobysudah meninggal dunia. Marioto tak


lagi menunjukan wajah sinisnya.


“Sudahlah,


Nak. Bobysudah tenang di


sana,” ucapnya ke Riri.


Bintara


menghela nafas lega. Esok mereka akan mencari tulang-belulang Mariani dan


menguburkannya. Tulang-tulang itu ada di bangunan tua.


Bangunan


itu telah runtuh. Riri dan keluarga menaburi bunga melati ke makam Mariani dan Boby. Dan semua yang mati di bangunan tua


itu. Adam memapah Riri.


“Semua


sudah berakhir, Ri…” ucapnya.


Riri


tersenyum tipis.


“Ya. Kita


akan memulai kehidupan yang baru, Dam,”


Adam


mengangguk. Ia mengamit jemari tangan Riri. Mereka tersenyum bahagia.


Papa dan


mama juga tersenyum bahagia. Arwah-arwah gentayangan itu tak lagi muncul di


rumah Bintara. Pintu itu sudah terkunci dengan gembok besi. Marioto tersenyum


bahagia melihat keluarga Bintara. Wajahnya tak lagi menakutkan. Ia menatap


bangunan tua itu seraya berdoa.


“Semoga

__ADS_1


arwahmu diterima di sisi-Nya, Mar…”


TAMAT


__ADS_2