RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 8, SUARA-SUARA ANEH


__ADS_3

Riri bete, Ma. Tinggal di rumah seperti ini. Sepi, gak ada hiburan lagi,“


“Sudahlah, Sayang. Itu karena kamu masih pertama sekali ke kota ini. Lama-lama juga kamu betah.“


Riri manyun. Ngedumel sendiri.


“Papa dan mama mau menyelesaikan urusan tanah di Jakarta. Jadi kamu dan kakakmu jaga rumah ya,“


“Apa? Papa dan mama mau pergi? Trus ninggalin Riri dan kak Gordi di tempat seperti ini? Mama ini gimana sih?“ Riri tidak terima keputusan mama.


“Mama pergi sebentar kok. Nggak lama-lama. Lagi pula bukan sekarang,“


“Iya, tapi bagi Riri sehari itu seperti setahun, Ma,“


“Jangan begitu dong, Ri. Mama pergi kan untuk urusan keluarga juga. Kalau mama dan papa tidak hadir, nanti tanah kita bisa lenyap. Trus apa kata saudara mama?“


“Tanah lagi, tanah lagi. Papa dan mama sibuk ngurusi tanah melulu. Bagaimana dengan Riri, Ma. Riri bosan banget di tempat asing seperti ini,“


“Sudahlah, Sayang. Kamu kan sudah gede,“ kata mama lagi. “Mama janji deh, kalau urusan tanah ini selesai mama tidak akan pergi-pergi lagi,“


Riri sewot, memerot kan bibirnya ke kanan.


“Ya, sudah. Kamu mandi dulu sana, nanti terlambat ke sekolah,“


Riri beranjak dengan malas. Meraih handuk di gantungan dan menuju kamar mandi dengan bermalasan. Mama pun segera berlalu dan menutup kembali pintu kamar Riri.


Di kamar mandi Riri membuka baju dan menggantinya dengan basahan. Mendadak saja dia terkejut begitu mendengar gemericik air di wastafel. Dahinya berkerut seraya mendengarkan gemericik air yang sangat aneh. Perlahan Riri membuka tirai yang membentang antara tempat mandi dan shower. Tangannya menggapai dengan gemetar. Perlahan menyibakkan tirai hingga ke sisi sebelah kiri. Ia tidak ditemukan siapa-siapa. Gemericik air pun mendadak berhenti.


Kali ini jantung Riri bergemuruh kencang tak menentu. Segera ia membasuh wajah dan mengguyur tubuhnya secepat mungkin. Tanpa memakai sabun, Riri segera berhamburan keluar. Ia mengenakan handuk dengan asal. Kemudian terengah-engah di kamarnya.


‘Kriek!’ Suara pintu kamar mandi terbuka dan tertutup sendiri. Riri terbelalak kaget dengan bola mata membulat. Keringat mengucur deras dari keningnya. Riri mengatur pernafasannya dan degup jantungnya yang terus memburu. Barangkali saja angin yang meniupkan pintu hingga terdengar aneh. Buru-buru Riri mengenakan seragam sekolahnya dan meraih tas di atas meja belajar. Kemudian keluar dengan gerakan panik tanpa menyisir rambutnya. Menutup pintu kamar dan segera menuju meja makan.


“Kamu kenapa, Ri? Rambut kamu kok berantakan begitu?“ tanya mama sedikit heran.


“Eee… Riri belum sisiran, Ma. Takut telat ke sekolah,“


“Kamu ini ada-ada saja. Masa menyisir rambut saja tidak sempat,“


Riri duduk di meja makan dengan wajah tegang.


“Riri lagi buru-buru, Ma,“


Mama menggeleng pelan. Papa hanya memperhatikan putri bungsunya dengan sekilas. Sedangkan Gordi asyik dengan santapannya.


Dengan tangan gemetar Riri memotong roti bakar buatan mama. Ia meneguk segelas susu hangat.


“Riri pergi dulu, Ma, Pa,“ pamit Riri sambil beranjak. Mencium pipi mama dan papa. Ia beranjak keluar dengan buru-buru. Mama menggeleng pelan memperhatikan Riri yang semakin aneh.


***


Riri menemui Adam di taman sekolah.


“Dam, kamu tahu tentang penampakan di toilet sekolah?” tanya Riri pagi itu.


“Aku belum pernah lihat, tapi kata anak-anak lain sih ada sosok mengerikan di sana. Memangnya kenapa?”


“Gak apa-apa. Aku cuma tanya saja,”


“Oh...” Adam mengangguk.


Riri memperhatikan toilet sekolah yang terletak di ujung bangunan. Terlihat suram memang. Apalagi di dekatnya tumbuh pohon yang rindang.


“Kemarin Ajeng cerita ke aku. Aku takut, Dam,”

__ADS_1


“Ah, jangan percaya cerita begituan,”


“Tapi Ajeng serius menceritakan ke aku,”


“Sudahlah, Ri. Cerita itu tidak usah diungkit lagi,”


Riri diam sejenak, lalu cerita tentang rumahnya. “Rumahku itu aneh, Dam. Banyak kejadian-kejadian di luar nalar manusia,“ tutur Riri kemudian.


“Gaib, maksudmu?“


Riri mengangguk pelan. ”Iya..”


“Riri-Riri... Kamu jangan aneh deh. Di zaman sekarang ini kamu masih percaya sama yang begituan? Kenapa sih kamu cerita masalah itu? Tadi tentan penampakan di sekolah, sekarang penampakan di rumahmu,“


“Tapi aku ngalamin sendiri, Dam. Seperti bahu kemenyan, pintu terbuka sendiri, wastafel mengalir dan berhenti sendiri, trus aku bermimpi sangat menyeramkan. Aku melihat sosok-sosok mayat hidup keluar dari liang kubur. Trus aku melihat seorang gadis kecil berambut pirang. Aku tidak tahu siapa dia. Apa itu nggak aneh?“


“Mungkin itu hanya halusinasi mu saja, Ri,“


“Aku bukan seperti itu, Dam. Aku bukan tipe orang yang suka berhalusinasi. Aku menemukan ruang bawah tanah. Aku juga sampai ke bangunan tua menakutkan,“


“Sudahlah, jangan ngomongin itu terus. Mending kita cari bahan cerita lain aja. Kita ke perpustakaan yuk!“ ajak Adam kemudian. Riri mengangguk pelan seraya mengikuti langkah Adam.


Riri masih mematung dengan pandangan semu. Mengingat kejadian-kejadian aneh yang sering dialami.


“Sudah, jangan melamun terus. Nanti kamu bisa kesurupan loh,“


“Ah, kamu ada-ada saja, Dam,“


“Kamu minum apa, Ri?“


“Teh botol aja, deh,“


“Sebentar ya, aku beliin,“


“Di kantin sebelah,“


“Oohhhh,“ Riri mengangguk.


Tak berapa lama Adam menyodorkan teh botol dan beberapa makanan kecil. Kemudian duduk di hadapan Riri sambil menyeruput teh botolnya dengan hati-hati. Mereka ngobrol tentang sekolah. Hobi dan tentang perasaan.


Bel sekolah berdentang beberapa kali. Sudah masuk. Adam bergegas menghabiskan minumannya. Mereka beranjak dari perpustakaan. Riri melangkahkan kaki tidak semangat. Mengikuti langkah Adam yang bergegas masuk ke ruang kelas.


***


Senja merambat jauh. Suara adzan magrib sudah berkumandang. Riri bangkit dari duduknya. Melihat daun jendela yang masih terbuka. Kemudian berjalan dengan malas seraya menutup jendela. Riri menuju kamar mandi. Langkahnya tertahan ketika menangkap bayangan seorang anak kecil. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya.


Penampakan!!!


Riri buru-buru keluar kamar. Menuruni anak tangga. Jantungnya bergemuru tidak beraturan. Suara jangkrik mulai terdengar menyayat hati. Suara-suara perih itu membuat bulu kuduknya merinding.


Riri menutup gorden jendela ruang keluarga. Ia terpaku memperhatikan gedung tua yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Melihat keangkuhan bangunan itu seakan memancarkan suasana misteri tersendiri. Pohon-pohon besar yang bertengger angkuh dengan akar-akar yang menjuntai ke bawah. Bangunan itu sangat angker.


Riri mendesah beberapa kali. Papa dan mama tidak berada di rumah. Riri terkesiap. Sekelebatan bayangan hitam melintas di depannya. Tiba-tiba saja angin bertiup menerpah. Teramat dingin, namun sesaat.


‘Ririiiiiii…’ Terdengar suara nyaring memanggil namanya. Riri terkejut untuk kesekian kali. Suara nyaring entah darimana. Riri bangkit dari duduknya.


‘Riiii, kemarilaaah….’ Suara itu terdengar semakin nyaring. Degup jantungnya tidak teratur. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh.


‘Grebyaaaanng!!’


Kaleng roti jatuh dari atas lemari. Seekor kucing menendang dengan tidak sengaja. Riri tersentak sambil mengalihkan pandang ke benda itu.


‘Astagfirullah...‘ ucapnya pelan. ‘Kucing sialan! Ngagetin aja!‘ umpatnya kesal. Malam itu Gordi belum pulang. Riri menunggu dengan hati cemas. Ia duduk di sofa. Tidak tenang. Angin malam berhembus pelan. Menawarkan bebauan yang aneh.

__ADS_1


‘Bau kemenyan,‘ gumamnya pelan. Kemudian matanya memperhatikan jam kuno yang terletak di sudut ruangan. Jam antik abad pertengahan.


Riri menghela nafas dengan berat. Bulu kuduknya mendadak saja merinding.  Suara-suara aneh memenuhi gendang telinganya. Suara-suara percakapan orang di ruang tamu. Suara burung hantu berkoak perih. Suara cangkrik menyayat-nyayat. Riri ingin menjerit.


“Akkhhh....”


“Assalamuaalaikum!!“ tiba-tiba saja dia mendengar seseorang mengucapkan salam. Suara ketukan pintu membuat Riri merasa lega. ‘Huuu, syukurlah,’ batinya sambil menghembuskan nafas.


“Waalaikusallaam,“ sahut Riri dengan bibir gemetar. Riri segera membukakan pintu. Pintu terayun terbuka. Gordi menatap Riri dengan penuh keheranan.


“Kamu kenapa, Ri? Kok tegang begitu?“


“Hhh, Riri takut, Kak. Kak Gordi lama banget sih,“ rengek Riri seraya cemberut.


“Sudah-sudah, jangan cemberut begitu. Memangnya ada apa?“


“Ada suara memanggil Riri dari pintu belakang, Kak,“


“Siapa?“


“Ya, tidak tahu,“


“Mmm, mungkin kamu lagi mengigau?“


“Mengigau gimana. Jelas-jelas Riri di alam sadar,“


Gordi tercenung sambil memperhatikan Riri.  “Kamu serius, Ri?“


Riri mengangguk sambil menatap bola mata kakaknya dengan lekat. Gordi berusaha menanangkan pikiran Riri yang kian kalud. Riri menceritakan kalau dia sudah membuka pintu terlarang itu dan masuk kedalamnya.


“Astagfirullah, Ri... Itu sebabnya kamu selalu dikejar-kejar arwah mereka,”


“Apa yang harus Riri lakukan, Kak?”


Gordi diam. Berpikir bagaimana mengembalikan arwah-arwah yang sudah terlepas. Tidak ada jawaban.


“Kita cari orang pintar aja, Kak,” usul Riri.


“Siapa? Kamu tahu ada orang pintar di sini?”


Riri menggeleng. “Besok Riri tanya ama temen sekolah,”


Gordi menghembuskan nafas. Malam terus menggelayut pekat. Suara lolongan anjing terdengar di kejauhan.


***


Keesokan hari, Riri dan Adam mendatangi rumah orang pintar. Karso, lelaki berperawakan misterius. Tubuhnya gempal. Kulitnya sawo matang. Memakai cincin batu. Umurnya masih empat puluhan. Tatapan matanya tajam.


”Banyak energi negatif di rumah itu,”


”Maksud, Bapak?”


”Arwah gentayangan yang mati penasaran,”


Riri menatap Adam.


”Bagaimana mengatasinya, Pak. Saya takut terjadi apa-apa,”


”Saya akan memberikan penangkalnya untukmu. Rumah itu juga harus dibersihkan,”


”Tolong saya, Pak. Saya tidak mau setiap malam dihantui arwah-arwah itu,”


Riri terlihat tegang. Beberapa bunga taman dibungkus daun pisang. Lima jenis jeruk dipotong berbeda. Riri bergidik melihat sajian itu. Bau minyak duyung.

__ADS_1


Setelah menerima beberapa bungkusan, Adam dan Riri pamit pulang. Karso juga memberikan penangkal arwah berupa buntelan kain putih.


__ADS_2