
Di kampus Gordi cerita ke Afgan, teman barunya.
”Kamu harus percaya dengan ceritaku, Fan. Aku tidak berhalusinasi. Aku benar-benar menyaksikan kejadian mengerikan itu dan sebagian tugas kampusku basah karena darah,” tutur Gordi serius.
”Kamu jangan mengada-ada, Dy. Bukannya selama ini kamu tidak percaya dengan hal begituan? Aku tidak mau terpancing dengan cerita konyol mu itu. Itu hanya ada dalam ceritamu saja,”
”Tidak, Fan. Untuk yang satu ini aku tidak berbohong. Aku serius,”
”Sudah ah. Aku benar-benar bosan mendengar ceritamu. Apa tidak ada bahan lain yang harus kita ceritakan. Misalnya tentang cewek cakep yang ada di kampus kita, atau tentang dosen cantik yang genit godain mahasiswanya?”
”Dasar, kamu ke kampus cuma mau cari cewek?”
”Huusstt... aku lagi pedekate nih...”
”Ughh...” Gordi mengeluh. Afgan tidak menanggapi cerita konyolnya. Gordi menarik nafas dengan berat. Dia teringat dengan cerita-cerita Riri yang menakutkan. Apa benar rumahnya berhantu?
Lagi–lagi Gordi terlambat pulang. Sore menjelang dan magrib pun tiba. Suara azan berkumandang. Jantung Gordi mulai berdenyut kencang. Ia berharap sosok–sosok mengerikan itu tidak memergokinya.
Gordi berjalan melintasi koridor dan ruang laboratorium. Pak Damsit yang biasanya menutup pintu, sore itu tengah berhalangan. Ia tidak masuk karena menjenguk seorang famili. Sepintas Gordi mencium wewangian bercampur kemenyan menyengat di hidungnya.
Suara rintihan-rintihan pilu membahana. Sosok tubuh tanpa kepala berjalan di ujung koridor. Lehernya terputus dan mengeluarkan darah berwarna kehitaman. Bau busuk. Amis menusuk tajam. Tubuh itu mencari kepalanya yang terpenggal. Gordi tak sadarkan diri. Tiba-tiba saja ruangan hitam gelap. Pak Damsit menemukannya sedang tergeletak lemas di koridor.
”Ada apa lagi, Nak Gordi?” tanya pak Damsit keheranan.
“Dia datang lagi, Pak,” kata Gordi dengan suara parau.
“Sudahlah, sekarang nak Gordi istirahat dulu. Besok nak Gordi jangan terlalu sore keluar dari ruangan itu,“ kata pak Damsit menasehati. Gordi mengangguk pelan.
Arwah gentayangan itu akan muncul dikala magrib tiba. Arwah mereka saling mencari, tetapi waktunya belum tepat untuk mereka bertemu. Gordi terpaku untuk kesekian kali. Seolah sosok-sosok mengerikan itu masih menghantuinya.
Sejak kejadian itu Gordi tidak pernah keluar ruangan menjelang magrib. Ia tidak ingin kejadian mengerikan itu semakin menghantui kehidupannya. Ia hanya berharap untuk arwah gentayangan itu agar ia segera bertemu dengan kekasihnya di alam baqa.
Pagi itu Gordi buru-buru melewati koridor, hingga ia hampir saja menubruk seseorang di depannya
“Oppss...” Gordi menyela. Orang itu kaget juga. “Maaf, aku gak sengaja,” ucapnya. Orang itu tersenyum tipis.
“Gak apa-apa. Aku yang salah tidak melihatmu,”
“Aku benar-benar minta maaf. Kamu mau kemana?” tanya Gordi basa-basi.
“Laboratorium,” sahutnya.
“Hmm... oh ya, aku Gordi. Kamu?”
“Andien...”
“Andien? Kamu mahasiswi baru?” tanya Gordi ragu.
Andien mengangguk. “Ya,”
__ADS_1
“Sama. Aku juga baru beberapa minggu di sini,” ujar Gordi.
“Oh...” Andien mengangguk. Kemudian mereka ngobrol ala kadarnya sebagai perkenalan pertama. Gordi bercerita tentang pengalamannya menjadi mahasiswa baru di kampus itu.
***
Kriiiing.... Suara handphone berdering. Andien terdiam di kamar kostnya. Kemudian ia beranjak dengan tidak semangat. Ia meraih hp di atas meja belajar.
“Halo...” sapanya dengan suara berat.
“Halo, Sayang... Bagaimana kabar kamu?” tanya seorang perempuan bernama Faridah dari seberang sana.
“Andien baik-baik saja, Ma,” jawab Andien sekenanya. Ia menyeruput teh hangat di mugnya.
“Bagaimana kampus barumu?” tanya Faridah ingin tahu.
Andien terdiam sejenak. “Yah, lumayan, Ma,”
“Hmm... Baiklah. Yang penting itu pilihanmu, Sayang. Mama akan ke Medan menjengukmu. Sudah lama sekali mama tidak mudik, sejak mama menikah dengan papamu dan tinggal di Pekan Baru,”
“Ya, sebaiknya begitu, Ma,”
“Kamu sudah bertemu dengan kakekmu?”
“Belum... Kebetulan Andien cari tempat kostan...
“Ayolah, Sayang... Jangan jadikan kakekmu seperti orang lain...”
“Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat dulu. Mama mau menyelesaikan pekerjaan mama dulu. Masih banyak pasien. Dag, Sayang...”
“Dag, Maa...”
Andien meletakkan hp nya di atas meja, lalu pandangannya tertuju pada secarik kertas yang sudah kusam.
***
Faridah meninting kopernya. Tak sengaja dia bertemu dengan Fahmi di persimpangan jalan.
“Faridah...?” sapa Fahmi terkejut.
Faridah menoleh, melihat orang yang menyapanya. “Fahmi?” sahut Faridah sedikit kaget. “Kamu ada di sini?” tanyanya dengan alis berkerut.
“Yah, aku tinggal di kota ini. Kamu tinggal dimana?” Fahmi balik bertanya.
“Aku di Pekan Baru. Setelah menikah, aku ikut suamiku, Mi,”
“Kenapa kamu ada di Medan?”
“Anakku. Anakku mau kuliah di Medan,”
__ADS_1
Fahmi mengangguk. “Aku mau ngobrol sama kamu, Da. Bagaimana kalau kita cari tempat yang enak?”
“Aku buru-buru mau menemui anakku, Mi...” potong Faridah, seraya menolak ajakan Fahmi.
“Sebentar saja Faridah,” ujar Fahmi memohon.
“Baiklah... Tapi aku nggak bisa lama-lama,”
“Ya... aku janji.”
Faridah mengikuti langkah Fahmi ke sebuah cafe dekat persimpangan. Faridah masih bertanya-tanya apa gerangan yang ingin dibicarakan Fahmi.
“Sebenarnya ada apa, Mi?” tanyaknya setelah duduk di kursi. Fahmi mengatur detak jantungnya yang berdebar kencang.
“Begini, Da... Akhir-akhir ini aku dihantui mimpi buruk. Mimpiku itu selalu mengarah kejadian masa lalu. Aku khawatir,”
“Kejadian masa lalu?” Faridah mengerutkan keningnya.
“Ya...”
“Bukankah kejadian itu sudah lama berlalu, Mi? Sebenarnya ada apa?”
“Aku tidak tahu, Da. Sepertinya ada yang membuka pintu terlarang itu,”
“Membuka pintu itu? Siapa?” Faridah terkejut.
Fahmi menggeleng. “Tidak tahu,”
Faridah terdiam. Dia juga tahu peristiwa tragis itu dan Faridah salah satu pelakunya. Waktu itu mereka memang masih anak remaja, namun penyiksaan yang mereka lakukan sangat kejam.
“HH... sebaiknya kita tidak usah membahas masalah itu, Mi. Aku tidak mau mengingatnya. Aku akui aku memang salah waktu itu. Aku masih terlalu muda dan membunuh perempuan itu dengan sadis,” suara Faridah terdengar parau. Fahmi menelan ludahnya dengan getir. Matanya menatap wajah Faridah dengan lekat. Ada pengharapan yang terpancar di bola matanya. Pengharapan agar tidak terjadi apa-apa dengan keluarganya.
“Bintara juga kembali ke kota ini, Da,”
“Bintara?” gumamnya dengan suara berat.
“Ya. Aku juga tidak tahu apakah ini pertanda baik atau pertanda buruk untuk kita,”
Mata Faridah menerawang jauh. Itu kesalahan yang sangat fatal. Dia benar-benar menyesal.
“Berdoa saja, Da. Semoga kita selalu dilindungi yang Maha Kuasa,”
“Pikiranku jadi kacau, Mi. Mengapa aku tidak menyadarinya dari awal. Mengapa aku harus kembali ke kota ini dan menuruti keinginan putriku,”
“Aku berharap semuanya baik-baik saja,”
“Yah...”
Faridah masih terus membayangkan kejadian dua puluh tahu lalu. Rembesan airmata membasahi pipinya. Sepanjang perjalanan ia hanya diam dan terpaku. Melamun hingga ia tidak sadar taksi yang ia tumpangi telah tiba di rumah ayahnya. Pikiran-pikiran kacau menjadi sebuah kemelut di hatinya.
__ADS_1
***