
Faridah berdiri terpaku
sambil menatap halaman depan. Ia teringat lagi cerita Fahmi dan sudah mendengar
berita kematian Fahmi yang tragis. Ada rasa takut, cemas dan gak karuan di
hatinya. Berkecamuk seperti hujatan halilintar yang setiap hari menyambarnya.
”Faridah...” seorang perempuan tua menyapanya. ”Ada apa?
Kamu melamun sedari tadi,”
Faridah menoleh dengan berat. ”Faridah takut, Bu,”
gumamnya pelan.
”Takut?” perempuan tua itu mengernyitkan keningnya, lalu
duduk di kursi. Faridah pun duduk dengan pelan. Pandangannya masih kosong
menatap halaman. Lekat mata perempuan tua itu memperhatikan Faridah, anak
perempuannya.
”Ada apa sebenarnya, Faridah?” perempuan itu bertanya
dengan rasa penasaran.
Faridah menghela nafas dengan berat.
”Kejadian dua puluh tahun lalu, Bu. Faridah takut
kejadian itu menghantui kehidupan Faridah dan Andien,”
Perempuan tua itu terdiam sambil menerawang jauh. Matanya
berkaca-kaca di pipi keriputnya. Dia juga ingat kejadian itu yang terus
membekas di memori tuanya. Tiba-tiba saja tubuhnya terguncang. Perempuan tua itu
menangis sesenggukan.
”Itu semua kesalahan ibu dan bapakmu, Faridah. Ibu begitu
kejam menyiksa perempuan itu,” perempuan tua itu menunduk dan menangis.
”Buu... sekarang apa yang harus kita lakukan? Pintu
terlarang itu telah terbuka. Seseorang membukanya,”
Perempuan itu terdiam. Tiba-tiba saja suasana berubah
gelap. Angin bertiup kencang,menerbangkan daun-daun kering di halaman. Faridah
panik dan ketakutan.
”Buu.... saya takut...”
”Sudahlah, Faridah. Ini memang kesalahan kita. Kita
pantas mendapatkan balasannya.
”Tidak, Bu. Ini harus dihentikan...”
Faridah semakin panik. Daun jendela mengepak dan
membentur keras. Faridah bergegas menutup jendela-jendela yang telah terbuka.
Tak berapa lama angin berhenti dengan dibarengi hujan rintik-rintik. Faridah
terduduk lemas sambil menangis.
Mobil Andien melaju kencang di jalan hitam. Malam
menjadi pekat. Angin berhembus tipis. Mendung, dengan suara gemuruh di langit
hitam. Membiarkan musik dari MP3 mobilnya menyentak gendang telinga. Andien mengganti persneling, lalu berbelok ke kiri. Jalanan terlihat lengang, tapi
mendadak saja Andien menginjak rem hingga ban mobil berderit
menghentakkan tubuh Andien. Dia merasakan ada sesuatu yang di
tabrak nya. Seseorang yang melintas di samping jalan.
Andien berhenti dengan jantung terus berdegup. Kemudian
memperhatikan sekeliling jalan yang pekat. Jalan kelihatan lengang. Andien membuka
pintu mobilnya dan melangkahkan kakinya keluar. Lalu berjalan ke depan mobil
dan mencari sesuatu yang ditabraknya tadi. Tidak ada.
‘Aneh!’ batinnya. Hembusan angin menghentakkan nya dari sebuah malam yang
gelap. Buru-buru Andien masuk ke mobilnya dan menyalakan dengan
panik. Mobil melaju kencang di jalan hitam. Sesaat Andien mengatur detak jantungnya. Setibanya di rumah, Andien buru-buru masuk ke kamarnya sambil menghela berat.
“Andien... Andien...” panggil
mama dari luar. Andien terkejut sesaat.
“Iya, ma...”
“Ada telpon nih dari temanmu.”
Andien beringsut membuka pintu kamarnya. Kemudian mengangkat
gagang telepon dengan tangan masih gemetar.
“Halo...” sapa Andien gugup.
“Kamu sudah sampai di rumah, Andien?” tanya Gordi dari
seberang. Andien duduk di kursi sambil melilitkan
telunjuknya di kabel telepon.”Sudah, Dy,” sahut Andien dengan
suara berat.
“Kamu kenapa, Andien. Seperti baru dikejar setan aja?”
Andien menarik nafas dengan panjang. Mengatur jantungnya yang
__ADS_1
berdetak kencang. “Dy, sebenarnya aku...” Andien menghentikan kata-katanya.
“Kamu kenapa?” tanya Gordi penasaran.
“Tadi aku nabrak orang, Dy,”
“Hahk!!!” Gordi mendelik kaget. “Ya, ampun, Andien. Kamu
ini gimana sih?Kamu sudah lapor polisi?”
“Gila kamu, Dy. Kalau aku lapor polisi, aku bisa
dipenjara. Bisa-bisa aku dihukum gantung,”
“Terus orang yang kamu tabrak itu kamu tinggal begitu saja?”
Andien menelan air liurnya. “Aku tidak melihat orang itu, Dy.
Sepertinya dia masuk ke selokan. Dy, bantu aku dong...”
“Bantu apa-an?”
“Temani aku balik ke jalan itu.”
“Ngapain, Andien,”
“Aku takut ketangkap sama polisi? Trus
kalau orang yang aku tabrak meninggal bagaimana? Aku bisa dihantui, Dy,”
“Sudahlah, Andien. Kamu tenang saja. Besok kita lihat
sama-sama,”
“Iya, deh. Tapi kamu janji ya jangan bilang siapa-siapa.”
Gordi mengangguk.
Kemudian mematikan teleponnya dari sebarang. Sedangkan Andien masih
mematung dengan pandangan semu dan ketakutan. Dia sama sekali tidak melihat
orang yang ditabraknya malam itu. Bekas goresan atau benda apa saja yang
membekas pun tidak ada. Malam melambung jauh bersama sang hujan
yang tak henti.
***
Keesokan harinya, Gordi dan Andienmenuju
lokasi kecelakaan.
“Kamu yakin ini tempatnya, Andien?” tanya Gordysambil
mencari-cari bekas tabrakan, tapi tidak sedikitpun rumput yang ada di sana
ambruk atau semacamnya.
“Aku yakin di sini, Dy,” tutur Andienmasih
ketakutan.
tunggu beberapa hari lagi. Sampai polisi menemukan ada mayat di sekitar sini?” usul Gordi kemudian. Andien langsung saja menyetujui usul itu.
Buru-buru mereka masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan jalanan. Andienmasih
tidak tenang di dalam mobil. Pikirannya mendadak saja kacau balau.
“Sudahlah, Andien. Jangan dipikirkan. Mungkin itu hanya
perasaan kamu saja,” kata Gordi menghalau
pikiran-pikiran kacau Andien.
“Aku bingung, Dy. Aku takut....”
“Apa yang kamu takutkan, Andien? Kita sudah
mencari orang yang kamu tabrak kemarin, tapi tidak ada kan..?”
“Bagaimana kalau dia ditemukan seseorang dan ternyata dia meninggal? Arwah
itu pasti menuntutku, Dy,”
“Andien, kamu jangan mengada-ada dong... Sekarang
kamu konsetrasi dengan mata kuliah kamu. Jangan terpancing dengan hal-hal yang
begituan,”
“Dy... bagaimana kalau polisi menemukan mayat itu dan
menyelidiki sampai detil yang jauh? Aku bisa dipenjara kan, Ren?”
Gordi menarik nafas dalam-dalam. “Andien, sejauh
ini kita tidak menemukan mayat atau seseorang yang kamu tabrak. Mendengar
berita di televisi juga tidak, apalagi radio. Kamu jangan khawatir begitu
dong...”
Andien tertuduk. “Kamu percayakan sama aku, Dy?”
Gordi mengangguk, kemudian merengkuh Andien yang ketakutan. “Aku
percaya sama kamu, Andien....”
Andien rebah di dada Gordi.
***
Di kamar yang cukup rapi, Andien duduk di atas tempat
tidur. Dia masih ketakutan. Kenapa sampai saat ini dia tidak mendengar ada
sosok mayat yang ditemukan polisi di tempat kejadian. Padahal ini sudah hari
ketujuh dan mungkin jika orang yang ditabraknya meninggal pasti akan menebarkan
bau bangkai yang memuakkan.
__ADS_1
Andien menggigit bibirnya sambil mengingat kejadian malam
itu. Sepertinya ia memang benar-benar menabrak seseorang di sana. Tapi mengapa
orang yang ia tabrak tidak kelihatan.
Bahkan sampai tujuh hari pihak polisi tidak menemukan mayat atau bauh bangkai
disekitarnya. Namun pikiran-pikiran Andien terus terusik dengan bisikan-bisikan
aneh yang mewarnai tidurnya. Seperti suara rintihan yang sangat memilukan,
suara tangisan sedih dan teriakan kesakitan yang entah berasa dari mana.
Andien uring-uringan di kamar. Ketakutan sendiri dengan
rambut acak-acakan. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Mengigit
bibirnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia seperti melihat
bayangan putih menghampirinya. Sekelabatan bayangan itu seakan menghantuinya
siang dan malam.
”Andiiiien...” panggil Faridah dari luar. Andien tercekat
sambil menatap pintu kamarnya. ”Ayo bangun, Andien. Kamu tidak ke kampus?” tanya
mama lagi.
”Iya, Ma...” sahut Andien dengan suara berat. Dengan
malas dia beranjak dari tempat tidurnya. Mengambil handuk dari gantungan dan
menuju kamar mandi. Andien mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Setelah selesai ia mengenakan handuk. Menatapi wajahnya
di depan cermin. Andien terkejut melihat cermin. Itu bukan wajahnya, tapi wajah
perempuan tua mengerikan.
”Aghhkkk...” Andien menjerit. Ia bergerak mundur.
Bibirnya bergertar. Faridah masuk ke kamar Andien.
”Ada apa, Andien?” tanya Faridah. Andien menangis di
pelukan Faridah.
”Andien takut, Maa..” tangisnya sesenggukan.
”Kamu takut apa, Sayang... Tidak
ada apa-apa kok.”
”Andien melihat dia, Ma... uuu..”
”Dia siapa?” Faridah mengerutkan dahi. Menghapus wajah
Andien yang masih ketakutan.
”Perempuan itu, Ma...”
”Perempuan yang mana? Sudahlah, sayang. Kamu mengigau
kali. Tidak ada siapa-siapa kok.”
”Tapi, Maa...” Andien masih terisak.
”Sudahlah, sayang. Kamu ganti baju dulu ya. Kamu harus ke
kampus.” kata Faridah melepaskan rengkuhan Andien.
”Mama tunggu di meja makan ya. Kita sarapan sama-sama.”
Andien mengangguk. Kemudian ia bangkit dan menuju lemari
bajunya. Setelah mengenakan pakaian, Andien buru-buru keluar kamarnya. Menemui Faridah
di meja makan.
”Andien... Besok mama harus kembali ke Pekan Baru. Kamu
jaga diri baik-baik ya, Sayang...”
”Tapi, Ma... Andien takut sendirian,”
”Apa yang kamu takutkan toh. Kamukan cucu kakek dan
nenek. Nenek akan menjagamu,”
”Iya, Sayang. Tugas mama di Pekan Baru masih banyak.
Pasien-pasien disana membutuhkan mama. Kakek dan nenekmu kan ada?”
Andien menghela berat, mengorak-arik sarapan paginya.
Hari ini nafsu makannya berkurang. Bayangan-bayangan menakutkan masih bermain
di benaknya.
Di kampus Andien duduk termenung. Gordi menghampirinya.
”Kamu kenapa, Andien? Bengong aja,” tegur Godry.
Andien menghela berat. ”Aku takut, Dy. Sosok mengerikan itu menghantuiku,”
”Maksudmu?”
”Arwah gentayangan,”
”Arwah siapa?”
Andien menggeleng. Matanya berkaca-kaca. ”Aku gak tahu, Dy. Wajah itu
menakutkan,”
”Sudahlah, Andien. Lupakan bayangan-bayangan itu dari benakmu,”
”Aku gak bisa, Dy. Setiap malam wajah itu menghantuiku,”
Gordi terdiam. Menatap Andien dengan lekat. Ia berusaha menghibur Andien.
__ADS_1
Mereka jalan-jalan ke taman.