RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN

RUMAH BELANDA DI ATAS KUBURAN
Episode 14, TABRAK LARI


__ADS_3

Faridah berdiri terpaku


sambil menatap halaman depan. Ia teringat lagi cerita Fahmi dan sudah mendengar


berita kematian Fahmi yang tragis. Ada rasa takut, cemas dan gak karuan di


hatinya. Berkecamuk seperti hujatan halilintar yang setiap hari menyambarnya.


”Faridah...” seorang perempuan tua menyapanya. ”Ada apa?


Kamu melamun sedari tadi,”


Faridah menoleh dengan berat. ”Faridah takut, Bu,”


gumamnya pelan.


”Takut?” perempuan tua itu mengernyitkan keningnya, lalu


duduk di kursi. Faridah pun duduk dengan pelan. Pandangannya masih kosong


menatap halaman. Lekat mata perempuan tua itu memperhatikan Faridah, anak


perempuannya.


”Ada apa sebenarnya, Faridah?” perempuan itu bertanya


dengan rasa penasaran.


Faridah menghela nafas dengan berat.


”Kejadian dua puluh tahun lalu, Bu. Faridah takut


kejadian itu menghantui kehidupan Faridah dan Andien,”


Perempuan tua itu terdiam sambil menerawang jauh. Matanya


berkaca-kaca di pipi keriputnya. Dia juga ingat kejadian itu yang terus


membekas di memori tuanya. Tiba-tiba saja tubuhnya terguncang. Perempuan tua itu


menangis sesenggukan.


”Itu semua kesalahan ibu dan bapakmu, Faridah. Ibu begitu


kejam menyiksa perempuan itu,” perempuan tua itu menunduk dan menangis.


”Buu... sekarang apa yang harus kita lakukan? Pintu


terlarang itu telah terbuka. Seseorang membukanya,”


Perempuan itu terdiam. Tiba-tiba saja suasana berubah


gelap. Angin bertiup kencang,menerbangkan daun-daun kering di halaman. Faridah


panik dan ketakutan.


”Buu.... saya takut...”


”Sudahlah, Faridah. Ini memang kesalahan kita. Kita


pantas mendapatkan balasannya.


”Tidak, Bu. Ini harus dihentikan...”


Faridah semakin panik. Daun jendela mengepak dan


membentur keras. Faridah bergegas menutup jendela-jendela yang telah terbuka.


Tak berapa lama angin berhenti dengan dibarengi hujan rintik-rintik. Faridah


terduduk lemas sambil menangis.


Mobil Andien melaju kencang di jalan hitam. Malam


menjadi pekat. Angin berhembus tipis. Mendung, dengan suara gemuruh di langit


hitam. Membiarkan musik dari MP3 mobilnya menyentak gendang telinga. Andien mengganti persneling, lalu berbelok ke kiri. Jalanan terlihat lengang, tapi


mendadak saja Andien menginjak rem hingga ban mobil berderit


menghentakkan tubuh Andien. Dia merasakan ada sesuatu yang di


tabrak nya. Seseorang yang melintas di samping jalan.


Andien berhenti dengan jantung terus berdegup. Kemudian


memperhatikan sekeliling jalan yang pekat. Jalan kelihatan lengang. Andien membuka


pintu mobilnya dan melangkahkan kakinya keluar. Lalu berjalan ke depan mobil


dan mencari sesuatu yang ditabraknya tadi. Tidak ada.


‘Aneh!’ batinnya. Hembusan angin menghentakkan nya dari sebuah malam yang


gelap. Buru-buru Andien masuk ke mobilnya dan menyalakan dengan


panik. Mobil melaju kencang di jalan hitam. Sesaat Andien mengatur detak jantungnya. Setibanya di rumah, Andien buru-buru masuk ke kamarnya sambil menghela berat.


“Andien... Andien...” panggil


mama dari luar. Andien terkejut sesaat.


“Iya, ma...”


“Ada telpon nih dari temanmu.”


Andien beringsut membuka pintu kamarnya. Kemudian mengangkat


gagang telepon dengan tangan masih gemetar.


“Halo...” sapa Andien gugup.


“Kamu sudah sampai di rumah, Andien?” tanya Gordi dari


seberang. Andien duduk di kursi sambil melilitkan


telunjuknya di kabel telepon.”Sudah, Dy,” sahut Andien dengan


suara berat.


“Kamu kenapa, Andien. Seperti baru dikejar setan aja?”


Andien menarik nafas dengan panjang. Mengatur jantungnya yang

__ADS_1


berdetak kencang. “Dy, sebenarnya aku...” Andien menghentikan kata-katanya.


“Kamu kenapa?” tanya Gordi penasaran.


“Tadi aku nabrak orang, Dy,”


“Hahk!!!” Gordi mendelik kaget. “Ya, ampun, Andien. Kamu


ini gimana sih?Kamu sudah lapor polisi?”


“Gila kamu, Dy. Kalau aku lapor polisi, aku bisa


dipenjara. Bisa-bisa aku dihukum gantung,”


“Terus orang yang kamu tabrak itu kamu tinggal begitu saja?”


Andien menelan air liurnya. “Aku tidak melihat orang itu, Dy.


Sepertinya dia masuk ke selokan. Dy, bantu aku dong...”


“Bantu apa-an?”


“Temani aku balik ke jalan itu.”


“Ngapain, Andien,”


“Aku takut ketangkap sama polisi? Trus


kalau orang yang aku tabrak meninggal bagaimana? Aku bisa dihantui, Dy,”


“Sudahlah, Andien. Kamu tenang saja. Besok kita lihat


sama-sama,”


“Iya, deh. Tapi kamu janji ya jangan bilang siapa-siapa.”


Gordi  mengangguk.


Kemudian mematikan teleponnya dari sebarang. Sedangkan Andien masih


mematung dengan pandangan semu dan ketakutan. Dia sama sekali tidak melihat


orang yang ditabraknya malam itu. Bekas goresan atau benda apa saja yang


membekas pun tidak ada. Malam melambung jauh bersama sang hujan


yang tak henti.


***


Keesokan harinya, Gordi dan Andienmenuju


lokasi kecelakaan.


“Kamu yakin ini tempatnya, Andien?” tanya Gordysambil


mencari-cari bekas tabrakan, tapi tidak sedikitpun rumput yang ada di sana


ambruk atau semacamnya.


“Aku yakin di sini, Dy,” tutur Andienmasih


ketakutan.


tunggu beberapa hari lagi. Sampai polisi menemukan ada mayat di sekitar sini?” usul Gordi kemudian. Andien langsung saja menyetujui usul itu.


Buru-buru mereka masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan jalanan. Andienmasih


tidak tenang di dalam mobil. Pikirannya mendadak saja kacau balau.


“Sudahlah, Andien. Jangan dipikirkan. Mungkin itu hanya


perasaan kamu saja,” kata Gordi menghalau


pikiran-pikiran kacau Andien.


“Aku bingung, Dy. Aku takut....”


“Apa yang kamu takutkan, Andien? Kita sudah


mencari orang yang kamu tabrak kemarin, tapi tidak ada kan..?”


“Bagaimana kalau dia ditemukan seseorang dan ternyata dia meninggal? Arwah


itu pasti menuntutku, Dy,”


“Andien, kamu jangan mengada-ada dong... Sekarang


kamu konsetrasi dengan mata kuliah kamu. Jangan terpancing dengan hal-hal yang


begituan,”


“Dy... bagaimana kalau polisi menemukan mayat itu dan


menyelidiki sampai detil yang jauh? Aku bisa dipenjara kan, Ren?”


Gordi menarik nafas dalam-dalam. “Andien, sejauh


ini kita tidak menemukan mayat atau seseorang yang kamu tabrak. Mendengar


berita di televisi juga tidak, apalagi radio. Kamu jangan khawatir begitu


dong...”


Andien tertuduk. “Kamu percayakan sama aku, Dy?”


Gordi mengangguk, kemudian merengkuh Andien yang ketakutan. “Aku


percaya sama kamu, Andien....”


Andien rebah di dada Gordi.


***


Di kamar yang cukup rapi, Andien duduk di atas tempat


tidur. Dia masih ketakutan. Kenapa sampai saat ini dia tidak mendengar ada


sosok mayat yang ditemukan polisi di tempat kejadian. Padahal ini sudah hari


ketujuh dan mungkin jika orang yang ditabraknya meninggal pasti akan menebarkan


bau bangkai yang memuakkan.

__ADS_1


Andien menggigit bibirnya sambil mengingat kejadian malam


itu. Sepertinya ia memang benar-benar menabrak seseorang di sana. Tapi mengapa


orang yang ia tabrak  tidak kelihatan.


Bahkan sampai tujuh hari pihak polisi tidak menemukan mayat atau bauh bangkai


disekitarnya. Namun pikiran-pikiran Andien terus terusik dengan bisikan-bisikan


aneh yang mewarnai tidurnya. Seperti suara rintihan yang sangat memilukan,


suara tangisan sedih dan teriakan kesakitan yang entah berasa dari mana.


Andien uring-uringan di kamar. Ketakutan sendiri dengan


rambut acak-acakan. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Mengigit


bibirnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia seperti melihat


bayangan putih menghampirinya. Sekelabatan bayangan itu seakan menghantuinya


siang dan malam.


”Andiiiien...” panggil Faridah dari luar. Andien tercekat


sambil menatap pintu kamarnya. ”Ayo bangun, Andien. Kamu tidak ke kampus?” tanya


mama lagi.


”Iya, Ma...” sahut Andien dengan suara berat. Dengan


malas dia beranjak dari tempat tidurnya. Mengambil handuk dari gantungan dan


menuju kamar mandi. Andien mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


Setelah selesai ia mengenakan handuk. Menatapi wajahnya


di depan cermin. Andien terkejut melihat cermin. Itu bukan wajahnya, tapi wajah


perempuan tua mengerikan.


”Aghhkkk...” Andien menjerit. Ia bergerak mundur.


Bibirnya bergertar. Faridah masuk ke kamar Andien.


”Ada apa, Andien?” tanya Faridah. Andien menangis di


pelukan Faridah.


”Andien takut, Maa..” tangisnya sesenggukan.


”Kamu takut apa, Sayang... Tidak


ada apa-apa kok.”


”Andien melihat dia, Ma... uuu..”


”Dia siapa?” Faridah mengerutkan dahi. Menghapus wajah


Andien yang masih ketakutan.


”Perempuan itu, Ma...”


”Perempuan yang mana? Sudahlah, sayang. Kamu mengigau


kali. Tidak ada siapa-siapa kok.”


”Tapi, Maa...” Andien masih terisak.


”Sudahlah, sayang. Kamu ganti baju dulu ya. Kamu harus ke


kampus.” kata Faridah melepaskan rengkuhan Andien.


”Mama tunggu di meja makan ya. Kita sarapan sama-sama.”


Andien mengangguk. Kemudian ia bangkit dan menuju lemari


bajunya. Setelah mengenakan pakaian, Andien buru-buru keluar kamarnya. Menemui Faridah


di meja makan.


”Andien... Besok mama harus kembali ke Pekan Baru. Kamu


jaga diri baik-baik ya, Sayang...”


”Tapi, Ma... Andien takut sendirian,”


”Apa yang kamu takutkan toh. Kamukan cucu kakek dan


nenek. Nenek akan menjagamu,”


”Iya, Sayang. Tugas mama di Pekan Baru masih banyak.


Pasien-pasien disana membutuhkan mama. Kakek dan nenekmu kan ada?”


Andien menghela berat, mengorak-arik sarapan paginya.


Hari ini nafsu makannya berkurang. Bayangan-bayangan menakutkan masih bermain


di benaknya.


Di kampus Andien duduk termenung. Gordi menghampirinya.


”Kamu kenapa, Andien? Bengong aja,” tegur Godry.


Andien menghela berat. ”Aku takut, Dy. Sosok mengerikan itu menghantuiku,”


”Maksudmu?”


”Arwah gentayangan,”


”Arwah siapa?”


Andien menggeleng. Matanya berkaca-kaca. ”Aku gak tahu, Dy. Wajah itu


menakutkan,”


”Sudahlah, Andien. Lupakan bayangan-bayangan itu dari benakmu,”


”Aku gak bisa, Dy. Setiap malam wajah itu menghantuiku,”


Gordi terdiam. Menatap Andien dengan lekat. Ia berusaha menghibur Andien.

__ADS_1


Mereka jalan-jalan ke taman.


__ADS_2